
Aditya memijit dahinya sejenak, lalu keluar dari ruangan itu dan masuk ke kamarnya.
Ia membersihkan diri lalu berganti pakaian dan membawa pasport juga berkas-berkas yang ia butuhkan.
Aditya mengambil handphone nya lalu mengirim pesan pada istrinya, "Aku berangkat kerja ke Macau untuk 1 Minggu, tidak bisa ditunda. Aku tidak bisa mampir ke Rumah Sakit karena dadakan, jadi aku mengirim Bu Sari, maafkan aku." pesan itu melesat terkirim begitu ia menekan enter.
Pak Asep sudah berada didepan guna bersiap mengantarkan bosnya ke bandara.
***
***
Nandin mendengar dentingan handphonenya, pesan dari Aditya dengan teliti ia baca, namun ia kembali menaruh handphonenya tanpa membalas pesan itu.
Tidak lama Bu Sari tiba di rumah sakit, dan maauk ke ruangan Nyonya mudanya itu. "Non!" ucap Bu Sari, sebari mendekat ke ranjang istri Tuan mudanya.
"Bu Sari," jawab Nandin.
"Den Adit meminta saya menemani Non, karena dia ada pekerjaan mendadak ke luar negri jadi tidak sempat mampir dulu," jelas Bu saru.
Nandin menyunggingkan senyumnya. Lalu Bu Sari meletakan apa yang dibawanya tanpa bertanya apapun yang mungkin sensitif kepada nyonya mudanya. "Non, mau makan? bibi buatkan Sop kesukaan Non."
"Wah, aku sudah rindu makanan rumah memang, kebetulan lapar," kata Nandin.
Bu Sari pun mengeluarkan bawaannya dan segera menyiapkannya untuk Nandin.
***
***
Riko mengetuk kamar Nandin, dan melihat ada Bu Sari disana. "Bu, disini?" ucap Riko.
"Den Riko,ia disuruh den Adit karena dia pergi ke luar negri ada kerjaan. Bibi kira Aden sudah berangkat keluar negeri.
"Tidak bi, belum."
"Masuk Den," ucap Bu Sari.
Riko melangkahkan kakinya memasuki ruangan itu.
"Sudah mendingan?" pertanyaan kini ia tujukan pada perempuan didepannya.
Nandin mengangguk, "Sudah mood makan, karena dimasakin Bu Sari. Makanan disini tidak ada yang enak," jawab Nandin.
__ADS_1
"Makannya jangan sakit, biar bisa makan enak dan gak kesini lagi."
Gelak tawa pun terdengar dari keduanya.
"Yasudah makan dulu, aku ada urusan dulu sebentar," lanjut Riko.
"Aku mau mandi juga habis makan, sudah berapa hari aku lengket sekali. Habis itu mau menghirup udara segar diluar aku penat pemandangan ku hanya langit-langit ini," jelas Nandin.
Riko tersenyum simpul, "Ya udah, nanti aku bawa kamu ke tempat yang bagus di Rumah Sakit ini okeh, yang bisa membantu ngurangin stres akibat tembok ruanganmu," ucap Riko, yang lagi-lagi diikuti becandaan.
"Adakah tempat seperti itu di tempatnya orang sakit?" tanya Nandin.
"Tentu, untuk mempercepat pemulihan, sehingga metabolisme dia cepat netral." jawab Riko.
"Okay, ditunggu."
Riko kembali tersenyum lalu pamit undur diri dan keluar dari sana.
Nandin pun menyantap makanannya, Bu Sari tampak bahagia melihat istri Tuan mudanya akhirnya sedikit lebih baik raganya, walau ia tidak tahu porak poranda isi hatinya.
***
***
Riko memasuki ruangan itu dan duduk di kursi samping ayahnya.
Kini pak Mahardika yang memimpin acara di ruangan itu, semua staf penting sudah berkumpul.
"Selamat siang semuanya, hari ini saya tidak akan banyak basa basi. Seperti kalian ketahui umur saya sudah makin menua, kinerja saya juga kemungkinan ikut melambat, dengan ini saya menunggu waktu yang tepat untuk terus menjaga dan menstabilkan Rumah Sakit, dan akhirnya saya rasa hari inilah waktu itu tiba, saya CEO Rumah Sakit Platinum mengundurkan diri dari jabatan saya dan menunjuk putra semata wayang saya Dokter Riko Mahardika sebagai CEO baru Rumah Sakit ini." ucapan itu terlontar, dan tidak disangka-sangka mendapat sambutan antusias dari para staffnya.
Setelah disetujui dan gugusan anggota dirubah, semua staf Direksi sudah keluar dari ruangan rapat. Tinggal ada Dokter Riko sang CEO baru dengan ayahnya.
Mereka berdiri di depan kaca besar yang langsung menyajikan pemandangan keluar masuk mobil para pasien maupun Ambulance dari gerbang masuk itu.
"Rik, ayah sebenarnya menunggu waktu ini, waktu dimana ayah merasa sudah memenuhi keinginan ayah agar kamu meneruskan Rumah Sakit. Tapi kamu kenapa berubah pikiran? apa ini bukan karena gadis itu kan?" tanya ayahnya.
Dokter Riko menatap lelaki paruh baya di sampingnya, lalu memasukan tangannya ke saku celana yang dikenakannya. "Ayah, jangan khawatir tentang Rumah Sakit, jika itu membuat ayah berpikir aku akan merusak kestabilan Rumah Sakit ini, itu tidak akan terjadi. Aku akan dengan baik menjaganya."
"Ayah mengerti, kamu bekerja dengan baik dan lelaki pintar. Ayah juga percaya padamu, tapi selain sebagai seorang pejabat tinggi di Rumah Sakit, kamu tetap anak Ayah, kita tetap lelaki biasa yang juga mempunyai perasaan selain berusaha menyembuhkan pasien," jelas pak Mahardika.
Mendengar ucapan Ayahnya, Dokter Riko mengerti kekhawatiran ayahnya itu, ia tahu bahwa lelaki didepannya mencemaskan hubungannya dengan Nandin karena perasaan nya yang masih dalam.
"Ayah, sepertinya kita sudah lama tidak berenang bersama. Haruskah aku luangkan akhir pekan?" Dokter Riko mencairkan kecemasan ayahnya dengan becanda.
__ADS_1
"Hahahha," sepertinya harus jawab pak Mahardika.
"Yasudah ayah pergi dulu, jangan sampai perasaan kamu menguasai segalanya.
Dokter Riko mengangguk pelan dan tersenyum.
***
***
Nandin sudah selesai makan dan mandi, wangi sabun tercium dari badannya. Ia masih jalan dengan pelan karena rasa pegal di tubuhnya setelah berhari-hari berbaring.
Dokter Riko kembali ke ruangan Nandin dan membawa kursi roda, Nandin membelalakan matanya. "Ko bawa itu?" tanya nya.
"Ayo jalan-jalan pakai ini biar lebih mudah, kalau kamu jalan keburu matahari tenggelam Saking lamanya," goda Dokter Riko.
Nandin pun tersenyum dan izin pada Bu Sari untuk pergi keluar sebentar. Bu Sari mengangguk pelan, dia tahu bahwa pemikiran Dokter Riko adalah orang yang baik.
Nandin duduk di kursi roda dan Dokter Riko mulai mendorong nya.
"Mas?" ucap Nandin.
Sudah lama sekali mendengar Nandin memanggilnya dengan sebutan itu, membuat Dokter Riko kikuk. "Hem," jawabannya lirih.
"Apa aku berat? apa aku berjalan saja? aku malu!" Lanjut Nandin.
"Berarti kamu harus makan banyak banget," jawab Dokter Riko.
"Loh, kenapa?."
"Karena kamu sangat ringan, dan kurus," jawab Dokter Riko, Nandin pun tertawa.
Mereka memasuki Lift dan akhirnya tiba di lantai tertinggi Rumah Sakit itu, Dokter Riko membuka pintu disana, dan cahaya menyeruak menyinari Nandin begitu pintu itu dibuka. Taman di atas gedung Rumah sakit, banyak sekali bunga tumbuh disana, apalagi bunga matahari, udaranya segar sekali karena terdapat banyak tumbuhan.
Dokter Riko mendorong kursi roda yang dinaiki Nandin, "Gimana? bagus kan?" ucap Riko.
"Wah aku tidak menyangka ada tempat seperti ini disini," Nandin memperlihatkan tatapan takjub melihat pemandangan disekitarnya, setelah sekian lama berada di ruangan indoor.
Seulas senyum di bibir gadis itu, memperlihatkan mood nya yang membaik!
Untuk membantu Author berkreasi dan semangat UP nya, tolong Like dan komentar nya ya kakak, jika berkenan silahkan berikan Vote...
Aku mencintai kalian para pembaca novelkuπππππππ Sharangheππ₯π₯π₯
__ADS_1