
Nandin bangun dari tidurnya, ia meregangkan tubuhnya yang pegal akibat tidur hanya memakai alas selimut di lantai yang dingin, Bu Sari sudah mencoba membujuk Nyonya mudanya itu, namun gadis itu tetap dalam pendirian nya, untuk tidur diruangan itu.
Walau tidak enak badan ia tetap membersihkan dirinya dengan mandi memakai air dingin, sehingga membuat wajahnya sangat pucat.
Aditya transit di salah satu bandara negara lain, sebelum melanjutkan penerbangan nya ke Indonesia, ia terus melihat ponselnya, namun tidak ada tanda-tanda seseorang mengirimi nya pesan, pikirannya semakin merajalela, ia mengira bahwa Lisa telah berbicara tentang sesuatu pada Nandin! Hal itu membuatnya tidak tenang, dan terlihat risau.
Setelah perjalanan yang jauh, akhirnya Aditya sampai di Indonesia, ia bahkan tidak menelpon supir untuk menjemputnya! Ia langsung menaiki taxi airport yang berjajar tepat di pintu keluar!
Butuh waktu sekitar 1 jam untuk menempuh perjalanan nya menuju rumah, hal itu bahkan tidak membuatnya memejamkan mata! Rasa nya yang campur aduk sudah membuat lelahnya luntur.
Setibanya di rumah, Aditya langsung membuka pintu! Bu Sari yang melihat kedatangan Aditya pun terlihat kaget. "Den, susah pulang? bibi kira satu Minggu!" ucap Bu Sari.
Aditya membiarkan kopernya, begitu Bu Sari menghampiri nya. "Tidak Bu, Bu apa kemarin Lisa kemari?" tanya Aditya langsung, dengan nafas terburu-buru.
"Iya Den, tapi bibi hanya berbicara di depan! non Lisa belum sempat bertemu Non Nandin!" jelas Bu Sari.
Mendengar itu Aditya mengeluarkan nafas yang panjang. "Benarkah, Lisa tidak menemui Nandin? sekarang dimana istriku Bu?"
"Non Nandin di atas Den, dia lagi gak enak badan. Tadi sudah makan tapi sedikit. Non Nandin jugaa....." kata-kata Bu Sari terpenggal.
"Juga apa Bu?" Aditya penasaran.
"Non Nandin tidak mau tidur di kamar, dia tidur di ruangan sebelah kamar Aden dan hanya beralaskan selimut."
Mendengar itu Aditya langsung menaiki tangga rumahnya, ia langsung menuju tempat yang Bu Sari katakan.
Pintu kamar yang sedikit terbuka, membuat Aditya mudah masuk kesana! Nandin sedang tertidur ditengah ruangan itu. Tanpa pikir panjang ia langsung menghampiri istrinya itu dan memeluknya! Hal itu membuat Nandin terbangun. Dalam posisi duduk kini Aditya tetap memeluknya. "Sayang, aku minta maaf! Tolong jangan menyiksa dirimu."
Seketika perasaan bersalah juga menyeruak ke hatinya. Dia seharusnya mengerti bahwa Aditya juga kehilangan. Tangannya reflek menepuk-nepuk punggung Aditya yang sedang memeluknya.
"Aku juga minta maaf, mendiamkan mu terlalu lama, padahal kita seharusnya ada di titik saling menguatkan," lirih Nandin, air matanya mengalir begitu saja.
__ADS_1
Aditya yang mendengar ucapan istrinya benar-benar merasakan kehangatan! Ia pun mencium pipi Nandin dengan lembut. "Ayo istirahat dikamar kita!" Ajak Aditya.
Nandin pun mengangguk. Aditya rupanya dengan tegap mengangkat tubuh istrinya itu, Nandin pun mengalungkan tangannya ke leher suaminya.
Rani dan Yuni bekerja sama mengangkat koper milik Tuan mudanya itu melewati tangga, dan begitu mereka sampai di lantai dua pemandangan yang membuat mereka canggung terlihat. Aditya menggendong Nandin keluar dari ruangan kosong itu.
Mengetahui bahwa Aditya tidak suka jika ada orang yang naik kelantai dua begitu ada dia di rumah, membuat Rani dan Yuni merasa bersalah. "Maaf Den, saya kira Aden di dalam kamar. Kami mau menaikan koper!" Ucap Rani salah satu Asisten dengan terbata-bata.
Nandin yang terlanjur kaku juga merasa tidak enak dan dia hanya menepuk dada Aditya dengan pelan sebari menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya itu. "Tuhkan ketauan!" Lirih Nandin.
"Tidak apa-apa, tolong buka kan pintu kamar saya! koper bisa kamu taruh disitu," jawab Aditya kepada Rani.
Rani pun segera melakukan permintaan Aditya, Aditya pun segera masuk ke kamarnya dan menutup pintu itu dengan sebelah kakinya.
Begitu pintu kamar tertutup, Rani dan Yuni saling lirik lalu mereka saling menggoda karena melihat tingkah laku bos mereka itu.
Suara cekikikan mereka pun terdengar cukup keras. "Den Aditya soswiet ya! kapan ya kita bisa punya suami seperti dia?" ucap Rani pada Yuni sebari menuruni tangga.
Secara tidak sengaja Tama mendengar ucapan para Asisten rumahtangga nya itu, ia lewat dari dapur sehingga Rani dan Yuni tidak menyadari itu.
Tama berdiri menatap kedua Asisten rumah tangga yang masih berusia 20 tahunan itu, dan Rani juga Yuni terperanjat kaget begitu melihat Tama.
"Den Tama, em ko Aden disini. Itu den eu" kata-kata Yuni begitu terbata-bata karena tidak enak.
Tama hanya menaikan sebelah alisnya, dan satu tangannya dimasukan ke celananya sedangkan tangan satunya memegang gelas berisi air putih dan es. "Apa kak Adit sudah pulang?" tanya Tama.
Rani dan Yuni membelalakan matanya, mereka mengira Tama akan marah karena mereka membicarakan ketampanan nya. "Su sudah Den, barusan," jawabnya.
"Oh," kata-kata itu yang keluar dari mulut Tama, laku ia berjalan memasuki kamarnya.
Rani dan Yuni hanya sedikit menganga melihat remaja berusia 18 tahun itu berjalan dengan santai. "Tuhkan Ran, jalan nya ajah udah kaya model kelas kakap! Tubuhnya lurus, ini sih bagus banget buat memperbaiki keturunan!" Celetuk Yuni kembali.
__ADS_1
"Hus udah, ntar dia denger lagi. Mungkin yang pertama dimaafkan tapi yang selanjutnya kita bisa dipecat karena keterlaluan," Rani mengingatkan Yuni.
***
**
*
Aditya membaringkan istrinya dikasur, masih dalam posisi setengah membungkuk Aditya mengecup kembali kening istrinya. "Aku mandi dulu ya, kamu istirahat disini."
Nandin mengangguk lalu menyunggingkan senyumnya.
Baru saja satu langkah Aditya menjauh dari ranjang, tangan istrinya menariknya. "Maafkan aku, aku juga seharusnya tidak menyalahkan mu. Aku seharusnya memberi tahu mu secara gamblang." ucap Nandin.
Aditya kembali duduk di ranjang itu, "Sayang, kita mulai dari awal. Kita jadikan pelajaran dengan kejadian yang menyakitkan ini, aku tahu kamu sesakit apa, tapi aku juga merasakannya. Aku juga tidak pernah ingin kamu terluka."
Nandin mengangguk pelan, laku mendudukan dirinya dan memeluk suaminya itu sebentar,"Terimakasih," lirihnya.
Aditya hanya mengelus belakang kepala istrinya itu, lalu tersenyum. Dan diapun bangkit pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
***
***
Tama memasuki kamarnya, langkahnya terhenti didepan cermin. Lalu ia meletakan gelas yang dibawanya di atas meja! Ia berjalan lalu berbalik dan menatap wajahnya. "Apakah aku setampan itu?" dia mengajukan pertanyaan pada dirinya sendiri di depan cermin.
Anak laki-laki yang tidak pernah bergaul dan selalu Introvert ini, sedang memperhatikan tubuhnya juga wajahnya yang bagai dipahat.
Halo semuanya, mohon dukungannya ya, untuk like dan komennya agar author semangat Up nya. Makasih semuanya, yang sudah like dan komen semoga banyak rejeki dan sehat selalu ya. Sharanghe 💜💜💜💜💜💜💜 #lelakiimpian
#Novel #romantia @romance
__ADS_1