LELAKI IMPIAN

LELAKI IMPIAN
DOKTER RIKO BERTAMU?


__ADS_3

Nandin terbangun dari tidurnya. Ini adalah hari yang ditunggu Nandin selama seminggu akhirnya datang juga. Liburan sekaligus honeymoon nya ke Britania.


Gadis itu masih berada di atas ranjangnya, mengerjap-ngerjapkan mata cantiknya. Namun memang tidak ada suaminya disana.


"Sayang, sayang kamu dimana?" ucap Nandin dengan sedikit bersuara tinggi, lalu duduk dan mengikat rambutnya, dengan ikat rambut yang selalu bertengger di meja samping ranjang itu.


Ia pergi ke kamar mandi tapi tidak mendapati suaminya juga disana, begitupun ruang ganti baju. Dan memutuskan keluar dari kamarnya.


Begitu membuka pintu, Nandin mendengar dua pria sedang mengobrol. Namun suara keduanya sangat tidak asing.


Menuruni anak tangga adalah keputusan yang ia ambil, untuk mengetahui siapa tamu suaminya itu.


Benar saja lelaki yang dikenalnya duduk disana. Lelaki itu bangkit dari duduknya, menggeser koper yang bertengger di dekat kakinya begitu melihat Nandin mendekat. Sepertinya lelaki itu akan pergi ke suatu tempat, melihat Coat hitam yang dikenakannya. "Mas Riko." ucap Nandin.


"Naik keatas." Suara teriakan membuat langkah Nandin terhenti.


"Dit." Suara lain tak kalah keras, begitu Aditya membentak istrinya. Ya lelaki itu adalah Dokter Riko.


Nandin yang tidak tahu apa-apa mendapat bentakan dari suaminya, untuk pertama kalinya. "Kenapa, sayang?." jawab Nandin.


"Aku bilang naik, kembali ke kamarmu. Kamu tidak mendengar ucapan suamimu?." teriak Aditya kembali.


Kegaduhan diruang tamu membuat Tama keluar dari kamarnya. "Ada apa kak?" tanya Tama.


Nandin yang menerima bentakan kedua dari Aditya tak kuat menahan airmatanya. Gadis itu berlari kembali menuju kamarnya. Tama melihat kakaknya yang menangis, pergi menapaki tangga rumah itu.


"Tam, kakak mohon, kembali ke kamarmu." ucap Aditya tanpa melihat wajah Tama.


Melihat kakak iparnya yang memiliki pandangan marah, Tama kembali ke kamarnya.


"Rik Lo gak perlu kaya gini." ucap Dokter Riko.


"Gak perlu? gue lakuin ini karena Lo bertamu pagi-pagi buta." jawab Aditya.


"Gue cuma mau pamit sama lo sama Nandin juga. Kalau Lo keberatan gue pamit sama Nandin karena omongan gue tadi, Lo gak perlu cerita ke Nandin tentang itu." jelas Dokter Riko.


"Gue gak pernah bentak Nandin sebelumnya. Gue juga gak berharap dia tahu tentang masalah Lo. Inget Rik, Nandin sekarang istri gue, dan gue harap Lo berhenti komunikasi sama kita." Aditya mengancam.


"Dit, gue gak pernah punya niat buat rebut dia dari Lo. Meskipun gue nikah karena di tipu Seila, gue juga gak berharap Nandin tahu tentang ini. Gue cuma mau sekedar pamit, mungkin gue bakal pergi selama 1 sampai 2 tahunan atau bahkan menetap di Australia. Gue cuma mau pamit sama sepupu gue." Riko yang kecewa atas sikap Aditya, langsung menggeret kopernya.


Aditya melihat kepergian sepupunya itu. Benar-benar tidak ada yang berjalan baik ketika Riko dan Aditya dipertemukan di tempat ini.


Aditya menaiki anak tangga menuju kamarnya, Nandin sedang menangis tersedu-sedu diujung ranjang.

__ADS_1


"Sayang?." panggil Aditya.


Nandin tak bergeming sedikitpun. "Maafkan aku." ucap Aditya kembali.


"Aku takut kamu marah, aku gak tahu aku salah apa." lirih Nandin di sela Isak tangisnya.


Melihat istrinya yang bahkan tidak menyalahkan dirinya, Aditya sangat merasa bersalah. Rasa takut kehilangannya membuatnya harus membentak gadis itu. "Tidak sayang, tidak. Maafkan aku, aku tidak mengontrol emosiku." Aditya menekuk lututnya, menggenggam tangan istrinya.


Nandin menatap wajah suaminya. "Jangan nangis lagi ya, ini salahku. Maafkan aku." Aditya menyentuh pipi istrinya, dan mengusap air matanya.


Nandin yang benar-benar tidak tahu masalahnya, langsung memaafkan suaminya.


Aditya merubah posisinya. Duduk disamping istrinya, dan mengecup keningnya. "Maafkan aku ya sayang?." ucap Aditya, yang langsung dibalas anggukan oleh Nandin.


"Jangan pikirkan hal lain ya. Tadi Riko datang hanya untuk pamitan karena ia mau pergi ke Australia. Melanjutkan sekolahnya." jelas Aditya.


Nandin yang mulai mengerti suaminya, tidak bertanya lagi.


***


***


"Sayang, hari ini aku akan membenahi pakaian yang akan kita bawa." ucap Nandin.


Ini adalah perjalanan pertama Nandin dan Aditya setelah menikah. Dan sekaligus akan menjadi perjalanan honeymoon nya.


"Sayang, bawa baju ini ya." Nandin menunjukan sebuah Coat tebal berwarna coklat, milik suaminya.


"Kamu juga bawa ini." Aditya mengambil Coat coklat juga, dari gantungan pakaian milik Nandin. Pakaian yang dibelikan mama mertuanya, memang semuanya tampak mahal dan juga baru!


Aditya senang melihat senyum istrinya, yang sangat excited untuk pergi liburan.


***


"Tama mama Bu." Tanya Nandin begitu turun dari lantai dua.


"Sebentar Non, saya panggilkan."


"Yun, Dan. Tolong turunkan koper dari lantai dua ya." titah Aditya.


"Baik, Den." jawab Rani dan Yuni.


"Kakak mau kemana?" tanya Tama, melihat kakaknya sudah memakai jaket begitupun kkak iparnya.

__ADS_1


"Kakak mau pergi. Kamu baik-baik ya dirumah." Nandin menjelaskan.


"Tadi pagi kakak kenapa nangis?" Ucapan Tama membuat Aditya melirik istrinya. Tama hanya khawatir tentang kakaknya.


"Tidak apa-apa. Hanya salah paham." jawab Nandin.


"Berapa lama kakak pergi?" Tama kembali bertanya.


" Satu mingguan. Kamu jangan nakal ya, nurut sama Bu Sari. Inget tiap hari pak Asep antar jemput kamu. Jangan bikin kakak khawatir ya." Nandin tetap khawatir meninggalkan adiknya. Selama ini ia tidak pernah pergi lama meninggalkan Tama.


"Kakak tenang aja, have fun ya?" ucap Tama.


"Terimakasih adiku." Nandin memeluk adik semata wayangnya itu.


Tama menyalami kakak dan kakak iparnya. "Kak Adit, titip kak Nandin ya. Ini pertama kalinya ia pergi bersama orang lain." ucap Tama.


"Tentu saja." Aditya menjawab dengan menyunggingkan senyumnya.


"Bu titip Tama ya." ucap Nandin.


"Baik Non, hati-hati ya. Semoga selamat sampai tujuan." jawab Bu Sari.


Kedua pasangan itu memasuki mobil. Dan siap diantar pak Asep ke bandara.


Sesampainya di bandara, Nandin dan Aditya langsung menunggu untuk jam keberangkatannya ke Britania. "Sayang, kenapa kamu pilih Britania?" tanya Aditya pada istrinya.


"Aku ingin pergi kesana, dari kecil. Aku banyak mengoleksi foto-foto bangunan disana dikamarku. Sepertinya pemandangannya menenangkan." jawab Nandin sederhana.


Aditya melontarkan senyumnya yang agak sinis, tapi tetap tampan.


"Disana memang menenangkan, tetapi jika sudah menyangkut aku dan kamu. Disan akan berubah menjadi panas cintaku." lirih Aditya dalam hati.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu?." tanya Nandin.


Aditya menggeleng kan kepalanya.


***


Sampai didalam pesawat. Aditya menengadahkan kepalanya dan mendengarkan musik. Sedangkan Nandin tak kuat ingin buang air kecil.


Karena suaminya yang terlarut dan memejamkan mata. Nandin pergi kebagian belakang pesawat, untuk mencari kamar mandi.


Seseorang di bangku kelas bisnis, membuat Nandin meliriknya. Pakaian yang dikenakannya mirip sekali dengan Dokter Riko tadi pagi, sayang wajahnya ditutupi oleh majalah. "Ah mana mungkin itu Riko, Aditya bilang kan ia akan ke Australia, ini kan pesawat ke Britania." pikir Nandin, dan melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


__ADS_2