
Aditya yang sedang berbincang diluar tamu begitu kaget melihat Nandin yang menangis berusaha menghapus air mata nya. Orang tua Dokter Riko juga tak kalah kaget melihat Nandin menangis sesenggukan.
"Sayang kamu kenapa?" Ucap ibu Dokter Riko, langsung menyentuh pundak Nandin menenangkan.
Nandin berusaha menghentikan air mata nya tapi jawaban nya terbata karena tangisan nya. "Tidak Ma, tidak apa apa"
Tiba tiba Riko datang dari pintu ruangan yang dipakai Nandin masuk tadi. "Jika sudah tidak ada yang mau dibahas kamu boleh pulang, jangan terlalu melebih lebihkan" Dokter Riko berucap tegas dan tangan nya menunjuk pintu keluar kepada Nandin.
Nandin menggelengkan kepalanya dan masih dengan tangis nya. "Aku memang kenapa mas? aku salah apa?"
"Riko" ibu Dokter Riko berteriak kepada anak nya setelah memperlakukan Nandin seperti itu.
Dokter Riko diam mematung melihat ibu nya bicara dengan nada tinggi, membuat tangis sesegukan Nandin juga berhenti tapi tetap air mata nya tetap mengalir, menandakan tangis nya amat jauh menyakiti dada nya.
"Mah enggak mah ini salah Nandin, mungkin memang Mas Riko mau istirahat." Nandin menenangkan ibu kekasih nya itu.
"Kamu pulang saja, besok tidak usah datang aku akan pergi pagi ke Australia kamu gak akan perlu aku selama aku tidak ada disini nanti ada Aditya yang akan jagain kamu, kamu gak perlu khawatir tentang pengeluaran kalau hutang kamu tinggal ngomong." Ucap Dokter Riko.
Nandin tak habis pikir dengan pemikiran Dokter Riko yang amat menyudut kan nya, lalu Nandin membuka tas nya dan mengeluarkan kotak kecil persegi panjang yaitu kartu ATM pemberian Dokter Riko 2 hari yang lalu. Dan menaruh nya di atas meja ruang tamu di saksikan Aditya dan juga orang tua Dokter Riko. "Maaf Mah, Ayah, Nandin tidak mau ada kesalah pahaman, ini kartu di berikan oleh Dokter Riko kemarin, aku sudah menolaknya tapi dia meyakin kan ku." Tangis gadis itu terdengar pilu.
"Tapi Nandin belum pernah pakai kartu ini, Nandin pulangkan saja pada pemilik nya, Nandin gak nyangka ajah mas Riko sampai berpikiran begitu," Nandin berucap seraya seraya mengepalkan tangan nya.
"Sayang tidak apa-apa Mama tahu kok tentang ini, ini memang Mama sarankan untuk membantu sekolah Tama" Jawab Ibu Dokter Riko.
__ADS_1
"Tidak Ma terimakasih atas niat baik Mama, Nandin sudah biasa berjuang untuk hidup kami sendiri, Nandin mohon Mama tidak perlu melakukan ini, sungguh ini bikin Nandin sangat tidak enak" Nandin bergetar mengucapkan kata-kata nya.
Riko dan Aditya tertegun di posisi nya masing masing dan menatap gadis itu lekat lekat. Ayah Dokter Riko yang bahkan jarang bicara pun angkat bicara. "Nak tak apa kami tidak mempersalahkan apapun, kami senang kamu berada di keluarga kami." Ucap laki laki paruh baya itu dengan nada yang menenangkan namun tegas.
Nandin mengangguk dengan pasti dan menggenggam tali tas nya menarik nafas. "Aku tau Mama dan ayah orang baik, tapi seharus nya Nandin banyak belajar, tidak seharus nya Nandin berurusan lagi dengan keluarga ini, Nandin yang terlalu menaruh harapan tinggi untuk tidak mudah sakit hati rasanya Nandin tidak bisa." Gadis itu tak mampu melanjutkan kata katanya lalu pamit dan keluar dari rumah Dokter Riko.
Aditya yang melihat gadis itu keluar Rumah langsung mengambil kunci mobil nya dan berlari mengikuti gadis itu.
"Din ayo ku antar pulang" Ucap Aditya ketika berhasil mengejar Nandin yang sudah terlanjur keluar dari pekarangan rumah besar itu.
Nandin berdiri mematung menutup wajah nya dengan kedua tangan nya, memastikan air mata nya tidak keluar lagi dan menahan sesenggukan nya agar tidak terdengar. "Aku salah apa sehingga Mas Riko bersikap seperti itu Dit?"
Mendapati gadis itu memikirkan lelaki lain Aditya hanya terdiam tak menjawab pertanyaan itu. "Kamu tunggu disini aku antar pulang, aku ambil dulu mobil ku."
Aditya berlari mundur lalu berbalik memastikan gadis itu tetap berdiri di tempat nya, dan bergegas mengambil mobil yang masih terparkir di rumah Dokter Riko.
"Masih peduli Lo?."
"Tolong jaga Dia, gue gak tau harus dengan cara apa gue pengen dia bahagia, gue minta sebagai sepupu jaga dia kaya Lo dulu yang selalu khawatir sama Dia."
"Dia dulu punya gue Rik, tapi lo ambil dia dari gue" Aditya menegaskan kata-katanya dengan muka merah padam.
"Lo tau kan apa yang terjadi sama gue, gue juga mau bahagiain dia tapi gue gak bisa kalo dia tahu dan harus ikut rapuh cuma karena gue, gue marah sama diri gue sendiri Dit." Riko tampak memendam emosi dan rasa kecewa disetiap perkataan nya.
__ADS_1
"Lo seharus nya gak perlu ngasih sikap kasar ke dia, harus nya Lo gak usah ngasih dia harapan." Aditya masuk ke mobilnya dan langsung pergi mengendarai kendararaan nya untuk menjemput Nandin yang sedari tadi iya tinggalkan.
Riko berdiri mematung melihat Aditya pergi mengendarai mobilnya, meremas rambut nya dengan kedua tangan lalu memukul dinding disebelahnya. Kecewa bisa datang pada siapa saja, entah itu penyesalan atau takdir, atau juga pada keadaan yang tidak ia inginkan, jika bisa memilih manusia juga ingin terus bahagia dalam cerita hidup nya bukan?.
Aditya sampai di tempat Nandin berdiri menunggu nya karena itu di daerah perumahan memang jarang ada Taxi lewat selain dipesan atau di jalan besar di luar komplek itu, jadi mau tidak mau Nandin hanya berdiri menunggu Aditya menjemputnya.
"Ayo naik." Ucap Aditya ketika mobilnya berhenti di depan gadis itu dan menurun kan jendela kaca mobilnya.
Nandin hanya mengangguk dan memasuki mobil mantan kekasih nya itu. "Boleh tidak aku minta di antar ke makam Ayah ku saja, jangan ke rumah?"
Aditya melirik Nandin tanpa berucap hanya mengangguk saja.
Sesampainya di pemakaman Nandin membeli sebuah bucket bunga untuk di taruh di atas nisan Ayah nya itu, Aditya juga tampak membeli bunga juga. "Apa ada makam keluarga mu disini? Nandin bertanya ketika Aditya membeli bucket bunga juga.
"Tidak, aku akan mengunjungi Ayah mu."
Aditya berjalan duluan tanpa menengok, dan langsung tahu posisi makam Ayah Nandin. "Kamu kenapa tahu letak makam Ayah ku?"
"Aku dulu beberapa kali kesini, tetapi aku tidak berani berkata apa apa selain hanya berdo'a dan memberi bucket bunga di atas nisan Ayah mu" Aditya menundukkan kepalanya.
Pantas Nandin pernah menemukan bucket bunga di atas makam Ayah nya.
"Hati ini aku akan minta maaf memberanikan diri karena aku bersama putrinya." Ucap Aditya.
__ADS_1
"Aku selalu ingin Ayah ku tahu aku hebat, aku jarang ingin menangis di depan nisan nya, tetapi aku lebih sering tidak bisa menahan nya" Nandin berucap lirih.
"Pak, hari ini aku bersama putri mu, maaf karena saya baru bisa mengakui kesalahan saya hari ini setelah bertahun tahun saya membuat anak-anak anda hidup menderita karena kecerobohan saya." Aditya tak mampu melanjutkan kata katanya terngiang di kepala nya kejadian yang menewaskan Ayah Nandin 6 tahun lalu.