
Sinar matahari mengintip dari ujung jendela besar kamar Aditya, dengan langkah gontay ia mengucek mata dengan kedua tangannya. Meraih remote diatas meja samping ranjangnya, lalu mengklik nya, dengan hitungan detik gorden itu terbuka sendiri.
Begitu sinar matahari leluasa masuk kedalam kamar itu, tubuh Nandin sedikit menggeliat, membuat Aditya kaget. Karena tidak ingat ia kini tidur bersama seorang perempuan idamannya.
Tatap Aditya tertuju pada gadis itu, yang menelungkup kan setengah wajahnya ke bantal, matanya sedikit mengkerut tetapi dalam keadaan masih tertutup.
Dengan sigap Aditya mendekat, menutupi wajah istrinya dengan tubuhnya. Sehingga sinar matahari langsung kena pada punggung lelaki itu.
"Cantik sekali, sungguh pemandangan yang indah." ucap Aditya, kecupan mendarat di kening gadis itu!
Rupanya kecupan itu membuat gadis itu tersadar. Matanya terbuka sedikit demi sedikit, dengan tatapan fokus pada Aditya, Nandin cukup lama memandang.
"Apa kita tidur bersama? siapa yang mengganti bajuku?." Nandin bertele-tele, membuat Aditya membalasnya dengan senyuman.
"Aku lah yang mengganti, masa Bu Sari. Kan aku juga ada hak sekarang!." jelas Aditya.
Nandin mengerutkan keningnya. "Beneran?" tanya Nandin,
Aditya mengangguk.
Nandin menutup wajahnya, laku bangkit dari tempat tidur. "Aku mau mandi dulu deh," ujar Nandin, tidak nyaman menatap lelaki yang kini sudah menjadi suaminya.
Nandin bangkit dari ranjang, lalu bwrjalan menuju arah toilet. "Sayang?" tanya Nandin, saat membalikan lagi badannya.
"Iya, kenapa?" jawab Aditya.
"Apa aku boleh memakai toilet mu?" Nandin memastikan izin dari Aditya.
Aditya tertawa keras. "Tentu sayang, kamu boleh lakukan apapun disini. Kamu nyonya muda sekarang anona Aditya,"
Nandin mengulum senyumnya, lalu melanjutkan langkah nya menuju kamar mandi.
Aditya menelpon ke lantai satu, dimana semua Asisten rumah tangga nya sudah siap melakukan pekerjaan.
"Hallo, saya mau teh tawar panas ya,tolong ya antar ke atas" ucap Aditya. Selalu dengan ucapan tolong.
"Baik tuan, nyonya muda mau juga tuan?" tanya Rani, kebetulan ia yang mengangkat telpon. Dan sekaligus menanyakan untuk nyonya muda barunya.
"Em, buatkan nyonya teh madu hangat ya, jangan panas," Lanjut Aditya.
"Baik tuan,"
Telpon pun ditutup.
"Aaahhhhh," teriakan terdengar dari kamar mandi.
Aditya langsung berlari begitu mendengar teriakan itu. Membuka pintu kamar mandinya. "Kenapa, kenapa sayang?" tanya Aditya panik.
__ADS_1
"Sayang, apa kemarin ada menu udang di parasmanan kita?" tanya Nandin.
Aditya berusaha memikirkannya, sepertinya memang ada. Lalu mengangguk, masih dengan tatapan panik.
"Kenapa sayang, kamu tidak makan udang kan?" tanya Aditya.
Nandin berusaha mengingat, bahwa ia memang kemarin tidak makan. "Sayang, dadaku merah-merah. Aku padahal gak makan udang atau apapun pemicu alergi." jelas Nandin.
Aditya mengernyitkan keningnya,"Astaga itu kan perbuatanku, kenapa bisa Semerah itu." lirih Aditya melihat dada atas Nandin penuh stempel merah tidak sengaja.
"Sayang, jangan dibahas ya. Itu tidak masalah. Lanjutkan mandinya ya." ucap Aditya.
Nandin pun mendengar ucapan suaminya itu.
"Aku padahal gak makan udang," lirih Nandin sambil melanjutkan mandinya.
Aditya tertawa melihat tingkah lucu istrinya itu.
Bu Sari mengetuk pintu kamar Aditya, dan masuk kedalam ruangan itu. "Den, ini minumannya, apa gak sekalian makan?" tanya Bu Sari, sambil menaruh gelas-gelas yang dibawanya dia meja makan kecil dikamar Aditya.
"Iya Bu, nanti aku tanya dulu Nandin mau makan apa." jawab Aditya.
Nandin keluar dari kamar mandi, dengan memakai handuk kimono putih milik Aditya, dan rambut digulung handuk, gadis itu sepertinya baru saja keramas.
Tanpa melihat siapa yang ada di kamarnya, Nandin sibuk membetulkan handuk yang dipakainya."Sayang, masa merah didadaku tidak hilang," ucap Nandin.
Aditya melirik Bu Sari yang juga sedang menatapnya. Bu Sari mengulum senyum, berpikir Aditya melakukan sesuatu tadi malam.
"Pagi Non, mau sarapan?" tanya Bu Sari.
"Nanti saja Bu, aku bingungung badan ku merah-merah padahal tidak makan udang."jelas Nandin.
Bu Sari kebingungan, barangkali memang nyonya muda nya itu sedang sakit, melihat dari tingkahnya yang tidak tahu apa-apa.
Aditya menggigit bantal melihat kepolosan istrinya itu.
"Apa bukan udang besar Non?" goda Bu Sari, dan melirik tuan mudanya itu.
Nandin membelalakan matanya, penuh pertanyaan maksud dari ucapan Bu Sari.
"Ya sudah, nanti bibi siapin sarapan ya, setelah itu Den sama Non turun ya. Dari kemarin belum makan kan?"
Aditya mengangguk, dan Bu Sari meninggalkan kamarnya.
Bu Sari berjalan sambil tersenyum, rupanya ada tragedi tadi malam. Tapi nyonya mudanya tidak tahu, membuat pikiran Bu Sari bergriliya.
"Sayang, sini duduk." Aditya menarik tangan istrinya sehingga duduk di sampingnya.
__ADS_1
Nandin duduk dan menatap istrinya itu.
"Kamu jangan bahas merah-merah itu lagi ya," ucap Aditya!
"Kenapa?" tanya Nandin penasaran.
"Itu perbuatanku, aku malu." jawab Aditya.
"Perbuatanmu?"
Nandin langsung menutup dadanya dengan kedua tangan, laku menutup wajahnya dan membalikan tubuh membelakangi suaminya.
"Jahat, aku kan malu." Nandin merengek dan masih menutup wajahnya.
"Sayang, tidak apa-apa." bujuk Aditya.
Nandin lalu membalikan tubuhnya. "Aku malu, kamu nakal. Mencuri kesempatan dalam kesempitan." gerutu Nandin.
Aditya malah tertarik dengan ocehan istrinya itu. "Kamu, itu kan hak ku sebagai suami. Dan seharusnya kamu melayaniku malam tadi," Aditya mendekatkan wajahnya pada istrinya itu.
Nandin dengan sigap mendorong wajah suaminya itu. "Masih pagi, sana mandi. Aku tetap tidak memaafkanmu." ancam Nandin.
"Haruskah aku melakukannya sekarang?" Aditya tambah menggoda. Wangi dari tubuh Nandin membuat jiwanya bergetar.
"Enggak, sayang mandi sana!"
"Eh, gak boleh nolak. Istri yang menolak melayani suami, akan di laknat oleh malaikat sampai subuh."
"Eh jangan lupa, ini pagi bukan malam. Jadi aku punya kesempatan menuntaskan nya nanti malam." jawab Nandin meruntuhkan ucapan suaminya.
"Bener ya sayang nanti malam," Aditya mengucapkan dengan penuh harap.
"Aku tidak janji, tergantung kamu memperlakukanku hari ini." Nandin memberi syarat.
"Tentu akan kulakukan, apapun itu." Aditya penuh semangat.
Nandin mengusap wajah suaminya,"Ia sayang."
Aditya menyunggingkan senyumnya. Kecupan manis mendarat di bibir gadis itu. Nandin pun hanya tersenyum begitu suaminya melakukan hal manis itu!
"Aku mandi dulu ya," ucap Aditya, sebari melangkahkan kaki ke kamar mandi.
Dia berbalik, dan dengan tatapan penuh menggoda melihat istrinya, berharap Nandin berubah pikiran. Dan akan mengajaknya bertempur, tetapi Nandin malah membenturkan tangannya menjadi bentuk hati, hanya itu tidak lebih.
Aditya memutuskan akan menahannya sampai malam, hanya malam ini itu Takan terasa lama, dibanding penantiannya selama bertahun-tahun.
Nandin mengganti bajunya, laku mengeringkan rambut, dan turun kebawah untuk menyiapkan sarapan untuk suaminya.
__ADS_1
Sementara Aditya sedang mandi.
Bantu like dan komen juga ya guys. Jika berkenan berikan vote juga guys. ILOVEYOUđź’•