LELAKI IMPIAN

LELAKI IMPIAN
LUKA TERTULIS!


__ADS_3

Langit-langit kamar rumah sakit, menjadi pemandangan yang menjadi saksi, dimana mata gadis cantik itu hanya menatapnya. Jika saja air matanya adalah tinta, sudah pasti dinding itulah kertas yang akan menerima curahan tulisannya.


Ya, Nandin tidak mengucapkan sepatah katapun selain air mata yang sering kali keluar dari sudut matanya, bawah matanya sudah terlihat hitam juga bibirnya yang pucat.


Melihat Nandin yang tidak bergeming, ibu Dokter Riko beranjak keluar ruangan itu. Suara geseran pintu ruangan itupun tidak sama sekali membuat Nandin meliriknya.


Setelah berada di lorong rumah sakit, ibu Dokter Riko itu merogoh handphone dari tas yang ditenteng di tangan kirinya.


Tampak dilayar handphone nya, nama Keira tertera disana! Ya, ia menghubungi kakak iparnya ituh yang tidak lain ibu Aditya.


Suara deringan terdengar dari balik telpon. Sampai akhirnya suara terdengar dari sana. "Hallo, Kei?" ucap ibu Dokter Riko.


"Hallo, ada apa dek, tumben telpon?" tanya balik ibu Aditya.


"Kamu enggak kesini?" jawab ibu Dokter Riko.


"Maksud kamu, kesini kemana?"


"Ke rumah sakit, Nandin kan dirawat disini rumah sakit mas Mahardika." jawab lantang istri pemilik rumah sakit itu.


"Nandin? kenapa dia?" nyonya Keira mulai panik.


"Dia keguguran, dia bahkan tidak mau makan dan bicara pada orang lain, dia hanya menangis diatas kasurnya."


"Keguguran" jawaban dari nyonya Sakseno itu sangat keras, tubuhnya yang sedang berdiri langsung terkulai ke atas kursi.


"Iya, kamu kesini sekarang kan Kei?"


Pertanyaan ibu Dokter Riko tidak mendapat jawaban dari nyonya Keira yang terkulai lemas.


"Hallo, kei? kamu gak kenapa-kenapa kan?", namun tetap tidak ada jawaban dari telponnya itu, ibu Dokter Riko pun mematikan telponnya.


"Pah, pah kemari cepat" teriak nyonya Keira.


Pak Sakseno berlari ke arah istrinya yang terkulai lemas, dengan khawatir."kenapa mah, ada apa?" ucap pak Sakseno tergesa-gesa.


"Nandin, Nandin keguguran. Dia di rumah sakit Mahardika." ucap nyonya Keira lemah.


"Keguguran? kita bahkan belum tahu dia hamil, Aditya juga tidak memberi tahu! Yasudah ayo kita kesana." jawab pak Sakseno, yang tetap santai, seperti adiknya yaitu pak Mahardika, pemimpin keluarga memang harus tegar.

__ADS_1


Nyonya Keira pun mengangguk dan segera berbenah untuk berangkat ke rumah sakit.


***


***


Aditya keluar dari ruangannya, langkahnya gontai. Bajunya tampak acak-acakan. Ia hampir saja terjatuh didepan para karyawannya, sehingga mereka berdiri dan tampak bingung dengan keadaan Bos nya itu.


Kakinya sepertinya tampak susah menahan tubuhnya, dengan sekejap mata lututnya jatuh bersamaan diatas lantai kantornya, dengan posisi bertumpu ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya! Ia berusaha menutupi airmata nya! Namun semua karyawan tampaknya tahu bahwa Bos nya memang menangis.


Aditya berusaha bangkit dari posisinya, pintu Lobby adalah sasarannya, supirnya sudah ada di depan lobby untuk menjemput bosnya itu.


"Pak, saya nyetir sendiri hari ini." ucap Aditya, dan langsung memasuki mobilnya, lalu melajukan nya.


***


***


Dokter Riko kembali ke rumah sakit, dan memasuki kamar Nandin. Ia mendekati ranjang gadis itu, Nandin memejamkan matanya, namun Dokter Riko tahu gadis itu tidak tidur, bibirnya bergetar menahan sesuatu yang menyeruak dari dalam hatinya.


Dokter Riko memberanikan diri menyentuh tangan gadis itu. "Din, makan ya, habis itu minum obat." ucap Dokter Riko.


Nandin membuka matanya, lalu menggeleng lemah.


Aditya sampai di rumah sakit, bebarengan dengan orang tuanya. Nyonya Keira yang melihat putranya itu langsung menghampiri.


"Dit, kamu kok gak bilang ke mana tentang kehamilan Nandin?" tanya nyonya Keira langsung ke intinya.


Aditya menundukan kepalanya. "Maaf ma, Adit salah, Adit bahkan enggak tau kalau Nandin hamil." ja ab Aditya.


Nyonya Keira yang mendengar itupun, bingung, begitupun pak Sakseno.


"Adit baru Dateng Ma, nanti Adit jelasin ya." lanjut Aditya.


Mendengar itu, nyonya Keira pun mengangguk, dan mereka melanjutkan langkahnya menuju ruangan Nandin dirawat.


Pintu ruangan itu kembali bergeser menandakan ada yang membukanya. Nyonya Keira memasuki ruangan itu, tampak pak Mahardika menyambut kakaknya yang datang "Mas, Sakseno" ucapnya dan menyalami.


"Mahardika, kamu disini" tanya pak Sakseno, dan diangguki pak Mahardika.

__ADS_1


Aditya bertatapan sinis dengan Riko yang juga sedang menatapnya.


Nyonya Keira mendekati ranjang menantunya."Sayang, Nak." ucap Nyonya Keira, dan langsung mencium kening menantunya itu, tak banyak yang ia ungkapkan.


"Mah" jawab Nandin, tangis gadis itu seakan tidak ada habisnya, airmata nya tetap saja keluar setiap ia membuka mulut untuk berucap sesuatu.


Nyonya Keira hanya mengangguk, pertanda paham.


Aditya mendekati ranjang istrinya. "Din," ucap Aditya.


Baru saja bibirnya kembali menutup, Nandin menjerit sejadi-jadinya. "Aku tidak mau bertemu denganmu, pergi dari sini, kamu membunuh bayiku, kamu melukainya." Teriakan Nandin membuat semua orang kaget dan khawatir, Nyonya Keira yang tidak mengerti keadaan hanya panik.


Aditya terpaku di posisinya, "Dit, ada apa ini? kenapa?" tanya nyonya Keira.


Aditya menutup wajahnya dengan satu tangan, suara tangisnya kini nyaris terdengar. "Maafkan aku Din, maafkan aku." lirihnya.


Nyonya Keira menenangkan menantunya. "Sayang, kenapa sayang tenang," ia memeluk gadis itu.


"Dia membunuh anakku Ma, aku tidak mau melihatnya, anakku bahkan baru mendetakan jantungnya, aku mohon Ma, aku tidak mau melihatnya, aku mohon." raungan tangis Nandin semakin menjadi.


"Dit, kamu keluar dulu sebentar, barangkali sampai Nandin tenang ya." ucap pak Mahardika.


Dokter Riko pun keluar duluan, karena merasa tidak tega melihat gadis itu, dan Aditya pun akhirnya mengikuti sepupunya itu.


Suara tangis Nandin kian mereda, matanya terpejam.


Nyonya Keira dan pak Sakseno yang belum tahu keadaannya pun bertanya pada Mahardika dan istrinya.


Ruangan VIP itu memang menyediakan kamar yang luas, juga kursi untuk tamu yang menjenguk. Sehingga jarak ke ranjang pasien sedikit jauh, dan nyonya Mahardika pun menceritakan kejadiannya.


Mendengar itu pak Sakseno berubah raut wajahnya, antara sedih dan marah, juga nyonya Keira yang tampak kecewa pada putranya. "Nasi sudah menjadi bubur, jiwa Nandin pasti terguncang, gadis baik itu melewati banyak sekali cobaan, ya tuhan." lirih nyonya Keira, air matanya keluar begitu saja.


***


***


Aditya duduk diluar ruangan, menundukan wajahnya, laki-laki itu tampak sangat kacau sekali.


Sedangkan Dokter Riko hanya terdiam, bahkan tidak menegur sepupunya itu, rasa kesalnya masih menguasai dirinya.

__ADS_1


Sakitnya memang nyata, luka itu sudah pasti jelas tertulis di catatan hidupnya, untuk Nandin maupun Aditya dan siapapun yang menyayanginya. Luka yang mungkin tidak akan terlupakan, karena memaksa ikhlas di keadaan ini adalah sesuatu yang tidak mungkin!


Tidak akan ada yang menyetarakan luka seseorang dengan orang lainnya, jika ia tidak merasakan nya sendiri, ketika fase bahagia ada standarnya, begitupun luka yang diterjemahkan menjadi penderitaan!


__ADS_2