
jangan lupa dukungannya ya guys, like, komen, vote. sharanghe Andini_818
Malam yang romantis kelihatannya itupun berlalu, digantikan pagi yang dingin menyapa. Aditya sudah terduduk di kursi samping ranjang, sedangkan Nandin masih dengan tidur lelapnya di atas kasur pasien itu.
Yang sakit siapa? yang bobo lama siapa ya?
ini jatohnya Aditya nungguin Nandin, padahal yang sakit Aditya. 😆 ok skip
Gadis itu tersenyum, entah apa yang sedang dimimpikannya. Seorang suster memasuki ruangan itu, Aditya sampai tidak menyadarinya, karena sibuknya dia menatap wanita yang sedang tidur didepannya.
Sampai akhirnya, Suster membuka gorden, membuat cahaya matahari masuk kedalam dan menyoroti mata indah Aditya. Nandin yang merasa tubuhnya menjadi hangat pun, akhirnya merubah posisi nya menjadi duduk.
Ia duduk dengan posisi mata tertutup, lalu meregangkan tubuhnya dan menggeliat. Nandin perlahan membuka matanya, melirik sumber cahaya dengan perlahan, lalu tersadar bahwa dia sedang tidak didalam kamarnya.
Nandin kaget sekali saat menoleh kepada Suster yang sedang menatap nya, lalu melirik lelaki di sampingnya yang sedang menatapnya juga. "Maaf, ini yang sakit siapa ya?" tanya Suster itu.
"Tidak ada yang sakit Sus, kami sehat. Semalam hanya numpang tidur saja" jawab Aditya, dengan senyum menggemaskan dan menopang pipinya dengan sebelah tangan, dilain itu matanya tetap menatap Nandin.
Nandin menggaruk kepalanya tak gatal. "Kamu kok gak bangunin aku, aku kan jadi malu" Nandin berbicara dengan Aditya sangat pelan sampai berbisik-bisik.
"Aku menikmati view ku pagi hari tadi," jawab Aditya.
Suster yang menatap mereka pun kebingungan. "jadi siapa yang mau di suntik vitamin, Mas nya atau Mba nya?"
"Kami berdua," jawab Aditya pasti.
Nandin kaget mendengar jawaban Aditya. "Dit, aku tidak usah ya?" jawab Aditya sebari mengigit bibir bawahnya.
"Tidak apa-apa, biar kita bagus daya tahan tubuhnya, biar kamu enggak sakit. Semalam kan habis hujan-hujanan." jelas Aditya!
Nandin memandang sorot matanya kepada Aditya, dengan tatapan iba untuk tidak usah disuntik vitamin. Tapi rupanya Aditya tetap pada ucapan pertamanya.
Suster menyiapkan suntikan Vitamin, dan menyuntikannya di pembuluh darah Aditya. Hal itu membuat Nandin berkeringat dingin.
Melihat Nandin ketakutan, Aditya melihatnya sebagai sebuah kegemasan. "Karena kamu gemas," Ucapan Aditya terpenggal.
Nandin akhirnya menyunggingkan senyumnya.
"Kamu harus tetap di suntik vitamin agar sehat, sayang" Lanjut Aditya.
Nandin melunturkan senyumannya, Aditya mendekat dan duduk di samping gadis itu, di ranjang pasien.
Nandin memegang tangan Aditya, begitu ia melihat Suster sudah selesai memindahkan cairan vitamin dari botol kecil ke suntikan.
Suster memegang tangan gadis itu, lalu mengolesinya dengan alcohol, keringat dingin mulai bercucuran, cengkraman tangannya di tangan Aditya semakin erat.
Suster mulai mencari pembuluh darah milik Nandin, dan setelah menemukannya suster langsung membenamkan jarum suntik itu,
Nandin berteriak, membuat Aditya kaget, Nandin membenamkan wajahnya di dada Aditya yang sedang duduk disampingnya, cengkraman tangannya kini lebih keras dari sebelumnya. "Sakit Adit, sakit " Suara itu diikuti dengan tangisan panjang.
__ADS_1
Suster selesai menyuntikan vitamin ke tubuh Nandin, namun tangisannya tidak berkesudahan, Aditya baru sadar kenapa Nandin meminta untuk tidak suntik vitamin.
Ternyata karena dia takut akan jarum suntik. Suster keluar setelah menyelesaikan pekerjaannya. Aditya mengelus kepala gadis itu dan khawatir akan membuatnya trauma.
"Sut... sutt... sudah ya, aku minta maaf ya." ucap Aditya, seraya mengelus kepala gadis itu.
"Aku takut disuntik Dit," Nandin berkata terbata-bata di antara tangisnya yang parau.
"Maaf ya, aku baru tahu."
"Sebelumnya aku gak pernah disuntik, kalaupun aku sakit dan di infus. Itu dalam keadaan aku pingsan dan tidak tahu" Suara Nandin terdengar lebih jelas dari sebelumnya!
Aditya memegang tangan Nandin yang baru selesai di suntikan vitamin, "Jangan sakit ya tangan, biar Nandin sehat" Aditya mencium tangan gadis itu.
Nandin menarik tangannya. "Sudahlah! Aku sudah lebih baik sekarang."
"Sungguh, itu membuatku senang." jawab Aditya.
Nandin turun dari kasur itu,"Aku malu belum cuci muka" aku akan ganti bajuku juga."
"Ya sudah, kamu mau makan apa. Ini sebagai permintaan maaf ku" Aditya menyogok agar Nandin tidak memperlihatkan muka kesalnya itu, walaupun masih menggemaskan.
Nandin menyunggingkan wajah senangnya. "Benarkah, serius?"
Aditya tersenyum."Ia sayang"
"Ia ,mulai sekarang aku akan memanggilmu sayang" jelas Aditya!
"Kenapa?"
"Aku sudah memutuskan, dan kamu cukup menuruti."
"Hih, ya sudah aku mau mandi! Aku juga mau ice cream strawberry"
"Ini masih pagi sayang, jangan makan ice cream"
"Ini juga masih pagi sayang, jangan goda aku dengan kelebayan mu." goda Nandin.
Aditya menyeringai, melihat gadis itu memasuki kamar mandi.
Aditya menelpon sekretaris nya, "Hallo pak *Gun?," ucap Aditya.
"Iya pak, bapak dimana? rapat sudah mau mulai" jawab sekretaris nya itu*.
Aditya lupa kalau hati ini ia ada meeting penting. "Hari ini saya tidak bisa masuk, saya percayakan pada pak Gun, okeh" lanjut Aditya ceria.
Pak Gun adalah sekretaris yang sudah lama ikut keluarga Aditya. mengurus PT. HOPE dari pertama ayahnya menjabat, sehingga Aditya juga mempercayainya seperti keluarga.
Kini pak Gun menjadi sekretarisnya, meskipun Aditya adalah CEO muda, ia tidak mau sekretarisnya seorang perempuan, karena menurutnya itu risih.
__ADS_1
"*Baik pak, saya akan bekerja keras, " jawab pak Gun.
"Terimakasih ya pak, oyah saya mau minta tolong." lanjut Aditya.
"Ia baik pak, akan saya kerjakan, apa yang bisa saya bantu"
"meeting pukul berapa? dan dimana?"
"Di mall Senay, pukul 13.00*"
Aditya termangu lama sekali. Melirik jam yang masih menunjukan pukul 08.30 pagi.
"*Baiklah, bisa jemput saya di rumah sakit platinum?"
"Siapa yang sakit, bapak sakit lagi" suara cemas terdengar dari suara pak Gun.
"Nanti saya jelaskan, jemput saya dulu ok pak"
"Baik pak" jawab pak Gun.
"okeh saya tunggu, terimakasih*."
Telpon pun ditutup. Aditya menunggu Nandin yang masih dikamar mandi. "Sayang, aku pergi dulu ya cari ice cream okeh"
"Kamu kan masih sakit, jangan! Kapan-kapan saja" Teriak Nandin! Dari dalam kamar mandi.
"Tidak, aku sudah sehat."
"Heemmm." hanya suara deheman yang terdengar, dari balasan ucapannya itu.
Aditya pun keluar dari kamarnya memakai baju pasien. Baru saja ia sampai lobby, pak Gun sudah datang. Karena jarak kantor dan rumah sakit tidak terlalu jauh. Aditya sebenarnya membutuhkan waktu 20 menit dari kamar inap VVIP nya itu, dia berjalan mengelilingi lantai demi lantai rumah sakit berlantai 5 itu, sehingga wajar jika saat dia sampai lobby, pa Gun sudah datang.
"Bapak sakit apa, kenapa tidak mengabari saya," Suara pak Gun terdengar khawatir.
"Tidak, saya sehat. Ayo kita pergi"
Pak Gun membukakan pintu mobil milik Aditya, dan Aditya memasukinya.
"Jadi kemana tujuannya pak"
"Toko perhiasan" jawab Aditya pasti.
Aditya mendapat ide dari pak Gun, saat pak Gun mengatakan akan meeting di mall Senay. Aditya memutuskan untuk membeli sesuatu disana.
Cus Aditya mau beli apa?
kepo enggak?
like dulu donk 💕💕💙💙💙
__ADS_1