LELAKI IMPIAN

LELAKI IMPIAN
Amnesia DISOSIATIF !


__ADS_3

Sebelum Aditya sempat mengucapkan sesuatu, Nandin buru buru berucap


"Jangan salah paham. Aku hanya ingin mendengarkan saja apa yang mau kamu ucapkan.


"Din aku sama sekali..."


"Sudahlah jangan ada lagi yang kamu sembunyikan," Nandin menyela ucapan aditya.


"Kamu kesal ya," Aditya sepertinya mengganti topik agar Nandin mau mengerti bahwa semua yang dia ucapkan tidak terdengar seperti alasan.


Aku sudah tidak mau lagi ada di bagian dramanya yang kamu atau siapapun mainkan aku juga manusia kak aku juga harus tau kendali dan peran yang aku mainkan," Ucap Nandin terang-terangan.


Keadaan sedikit memanas juga kaku, Aditya yang mematung mencerna apa yang akan dia ucapkan dan Nandin yang sepertinya sedikit bingung apa yang baru saja ia lontarkan.


"Aku tahu ini berat bagimu, sungguh aku tidak pernah mengabaikan tentang perasaan itu aku tahu kamu wanita tangguh dan aku sangat mengerti dalam hal ini kamu tak sanggup," Ucap Aditya


" Seharusnya aku tidak berusaha melupakan apa yang aku alami, aku jelas jelas lebih kebingungan saat ingatan demi ingatan datang hinggap dan membuat ku teringat," Jawab Nandin lirih.


" Aku juga sama sama terluka nya seperti dirimu, aku tahu apa yang aku rasakan tak mungkin sebanding dengan perasaan yang kamu alami," Aditya menundukkan kepala nya dan sesekali menggigit bibir bawah nya juga memegang bagian ranjang.


"Harus kah aku percaya? aku melewatinya sendirian kak, aku tidak tau apa yang terjadi dan dengan tanpa dosa aku masih hidup dengan rasa tanpa malu di perusahaan mu yang jelas jelas pelaku tabrak itu," Nandin mulai bernada suara agak tinggi.


"Maaf kan aku Din, marah lah marah semaumu silahkan padaku, hatiku lebih terkoyak ketika kamu baik padaku dan bahkan tak mengingat ku," Aditya menjelaskan dengan memandang mata Nandin.


Tidak ada perkataan setelah itu suasana hening , Aditya yang terpaku dan Nandin yang membisu menghasilkan sakit pilu

__ADS_1


Suara pintu tergeser mencairkan suasana, seorang perawat masuk untuk men chek keadaan Nandin .


"Siang mas jam besuk sudah habis jadi tolong biarkan pasien istirahat," Ujar suster yang kemudian keluar.


Tidak ada jawaban dari Nandin yang di harapkan Aditya hati nya memang keras memang karena sebuah pilu yang diderita nya.


"Aku pamit ya mungkin kamu belum bisa menerima maaf ku, besok aku akan kembali," Ucap Aditya.


Nandin tidak menjawab hanya sedikit menaikan selimut yang menutupi kaki jenjang nya, Aditya berlalu tanpa menengok.


Nandin mencoba menutup mata nya agar tertidur tetapi setiap ucapan dari mulut Aditya tadi seperti balik menyerang nya memaksa dia mengingat setiap inci yang pernah mereka lewati, membuat kepala nya sakit tak tertahan dan seperti ingin meledak teriakan dari mulut nya pun tak bisa dia tahan lagi dan membuat suster juga berlarian ke ruangan nya.


"Kenapa mba?," Suster langsung menanyai padahal sudah jelas Nandin memegang kepalanya kesakitan.


"Mbak tenang ya sus tolong panggil Dokter yang menangani pasien ini," Ucap suster satunya pada rekan nya itu.


"Kenapa sus," Dokter Riko langsung menanyai yang terjadi kepada suster lain nya karena menyadari tak mungkin jika harus bertanya pada pasien nya yang sedang seperti ini.


"Pasien berteriak Dok, seperti nya sakit kepala akibat sesuatu atau berhubungan dengan trauma nya," Ucap suster.


Menyadari yang di ucapkan suster padanya Dokter Riko menyadari nya, mungkin ada hubungan nya dengan kedatangan Aditya dan Nandin mencoba mengingat nya.


"Ya sudah saya yang tangani kalian bisa keluar," Ucap dokter Riko.


Karena melihat Nandin yang amat kesakitan dan memegang kepalanya dengan pasti dokter Riko menarik tubuh nya mendekap dada nya yang bidang, lalu mengelus kepala Nandin dengan lembut.

__ADS_1


Tampak nya langkah ini cukup membantu, tangan Nandin yang tadi nya memegang kepala sembari menarik rambut nya akhir nya terkulai lemas ke samping badan nya, tanpa merubah posisi muka nya masih dibenamkan di dada Dokter Riko.


Nandin mengalami Amnesia DISOSIATIF yang berarti agak susah mengingat kejadian di masa lalu, akibat trauma atau stres berlebih dan dampaknya memang akan sangat menyakitkan kepala apabila dipaksa mengingat yang dia lupa itu.


Dokter Riko sudah tau tentang ini karena dia yang menangani Nandin dari 6 tahun lalu, obat hanya bisa untuk menenangkan nya saja sementara.


Nandin tertidur di pelukan Dokter Riko yang masih mengelus kepala nya, menyadari itu Dokter Riko langsung membaring kan Nandin dan menyelimutinya.


"Kamu cantik, kamu baik aku tertarik padamu sejak dulu Aditya mengenalkan mu padaku bukan baru baru ini karena itu aku mengajukan diri sebagai doktermu jauh sebelum Aditya meminta bantuan ku," Ucap Dokter Riko lirih dalam hati, sebari memandangi wajah Nandin yang tampak pulas tertidur setelah menahan sakit kepala nya.


Sebelum meninggalkan Nandin Dokter Riko memberanikan diri memegang laku mencium punggung tangan Nandin.


"Cepat sembuh, hatiku sakit melihat mu sakit dengan selang selang ini," Lalu Dokter Riko meletakan kembali tangan Nandin di atas kasur nya.


Tapi rupanya Nandin menggenggam tangan yang baru saja memegang nya, lalu berucap lirih.


" Jangan pergi jangan pergi," Ucapan nya samar namun terdengar oleh dokter Riko, tetapi Nandin tetap menutup matanya hanya bibir nya saja yqng bergerak.


Menyadari apa yang telah di lihat dan di dengar nya, Dokter Riko meraih kursi di samping nya dengan tangan satu nya tanpa melepaskan tangan Nandin yang sedang memegangi nya, lalu dia duduk dan memandangi wajah wanita yang di sukai ya itu .


Ini manis, memandangi wajah seseorang yang disukai mu walau dia tertidur pulas.


Seperti memandangi ke indahan lautan yang tertimpa sinar matahari dan angin yang berhembus lembut, sungguh menenangkan.


Genggaman yang sedang menggenggam tangan nya membuat hati dokter Riko berdetak cukup kencang rasanya ingin terus seperti ini saja.

__ADS_1


"Aku akan menemani mu aku tidak akan pergi," jawab dokter Riko sayup sayup dari bibir nya.


__ADS_2