LELAKI IMPIAN

LELAKI IMPIAN
RASA BAHAGIA !


__ADS_3

Ibu Dokter Riko lalu duduk di ruang tamu menonton TV bersama Tama, entah bercengkrama apa sedangkan Nandin membenahi dapur yang sedikit berantakan tidak terlalu kotor karena ibu dokter Riko mengadon dengan rapih.


Saat sedang mengelap meja Dokter Riko tidak berhenti menatap Nandin membuat gadis itu salah tingkah di buat nya.


Nandin berniat mencuci peralatan yang sudah ia letakan tadi di wastafel, lalu Dokter Riko mendekatinya.


"Sini aku bantu," Ucap Dokter Riko seraya mengambil sabun dan spons pencuci.


"Gak usah mas aku aja," Jawab Nandin mengambil spons dari tangan Dokter Riko.


"Ayo kita kerjakan berdua saja agar cepat selesai, agar banyak waktu yang bisa kita habis kan membahas yang lebih penting di banding mencuci piring," Lanjut Dokter Riko menatap Nandin lalu menaikkan alis nya pertanda setuju atau tidak.


Nandin hanya tersenyum simpul pikiran nya sudah pergi kemana mana, ia diam diam mencuri pandang saat lelaki yang disamping nya fokus menyabuni piring kotor di wastafel.


"Jangan dilirik terus ayo bilas piring nya," Dokter Riko menyadari Nandin menatap nya.


Nandin memalingkan wajah nya ke rak, ke langit langit dapur untuk mengalihkan pandangan dan rasa malu nya karena terciduk sedang menatap Dokter Riko. Membuat Dokter Riko tersenyum menggigit bibir bawah nya.


Semua sudah beres, cucian sudah rapih.


Nandin dan Dokter Riko masih berada di dapur duduk di meja makan.


"Hari ini kamu sudah makan," Dokter Riko membuka pertanyaan.


"Sudah mas," Jawab Nandin.


"Kamu kenapa dari tadi marah diemin aku," Arah pembicaraan Dokter Riko langsung menjurus.


Nandin malu malu menjawab sudah sepertinya untuk membuka mulutnya, ya namanya juga perempuan.


"Enggak apa apa mas," Jawab Nandin simpel.


Kata tidak apa apa adalah kata paling horor di dunia bagi laki laki dimana mereka harus mencari asal masalah, bibit racun dan kesalahan yang mereka perbuat tanpa diberi clue yang pasti.


"Aku tau kamu lagi gak baik makan nya aku nanya, aku mau belajar buat gak nunda nunda lagi apa yang harus dijelaskan," Lanjut Dokter Riko.


"Kemarin aku kan WA Mas tapi Mass gak bales lagi, aku mikir nya mungkin Mas risih sama WA ku jadi aku mau biasa biasa saja," Akhir nya Nandin menjawab panjang lebar.


"Oalah jadi karena itu," Dokter Riko tersenyum manis sekali hampir saja ia akan loncat karena bahagia mendengar penuturan Nandin.

__ADS_1


"Aku kemarin bingung mau jelaskan apa aku malu jika saja pikiran ku benar," Jawab Dokter Riko.


"Pikiran apa?," Lanjut Nandin.


"Aku malu kamu tahu aku mencium tangan mu dan bilang aku sakit melihat mu jatuh sakit saat di rumah sakit," Dokter Riko berkata dengan mengusap wajah nya dengan kedua tangan nya.


"Wah sungguh kejujuran yang berat," Nandin berbicara polos menyipitkan matanya menatap Dokter Riko.


"Memang," Jawab Dokter Riko juga lemas.


Menyadari Nandin dengan ucapan nya Dokter Riko baru tersadar bahwa Nandin yang sedang menatap nya ternyata tidak mengetahui tentang kejadian di rumah sakit, dia membuka rahasia nya sendiri.


Mereka saling tatap, Nandin yang menyipitkan matanya dan Dokter Riko yang menahan malu.


"Jadi begitu,"Lanjut Nandin.


Keadaan di dapur sedikit canggung karena percakapan mereka berhenti akibat Riko melakukan stalk pada ucapan nya yang membuat dia bingung mau berbicara apalagi.


"Din, aku gak tau lagi harus bagaimana aku sudah menahan perasaan ku terhadapmu selama bertahun tahun aku sudah pernah mencoba dengan orang lain tapi aku tidak bisa," Dokter Riko kembali berucap kata kata yang mengandung unsur keberanian yang iya kumpulkan.


Nandin mematung tanpa berkedip melihat penuturan dari mulut Dokter Riko.


"Aku mencintaimu, aku tidak ingin pura pura dalam menjalani hubungan ini," Lanjut Dokter Riko seraya memegang tangan Nandin.


"Aku mau kamu jadi kekasih ku, entah kamu bisa melupakan Aditya atau Zain dari hati dan pikiran mu aku ingin mencoba dengan mu sungguh," Dokter Riko mantaf mengatakan nya dengan tulus.


Nandin hanya mengangguk dan tersenyum dengan pipi merah nya, tidak di sangka dengan mudah ia membuka hati lagi, semoga dia tidak merasakan sakit dan luka nya lagi.


Menyadari jawaban yang di harapkan nya selama ini Dokter Riko mengucap syukur dengan raut wajah sangat bahagia.


Keduanya saling bertatap dan Nandin juga salah tingkah dengan menggaruk kepala nya yang tidak gatal.


Hari ini hari pertama keduanya berpacaran.


Tidak lama terdengar suara Ting yang menandakan oven sudah selesai memanggang, Lalu Dokter Riko pun berdiri dan membuka oven lalu mengeluarkan kue yang dipanggang nya.


Wangi ruangan menjadi wangi hangat kue yang nikmat, membuat ibu Dokter Riko juga Tama datang menghampiri ke dapur.


"Wah sudah matang ya ko," Ucap ibu Dokter Riko.

__ADS_1


"Iya nih mah sudah matang," Jawab Dokter Riko.


"Wah wangi sekali, kapan ya kak terakhir ada yang memasak menggunakan oven di dapur kita," Ucap Tama pada Nandin.


Nandin hanya menggelengkan kepala nya, membuat dirinya di rangkul oleh Dokter Riko menguatkan.


"Tidak apa apa sayang nanti mama sering bikinin Tama kue ya," Ibu Dokter Riko menjawab.


Semua saling tersenyum, sungguh membuat haru.


"Ini sayang ayo cicipi dulu," Ibu dokter Riko menyodorkan potongan pertama pada Nandin.


"Wah terimakasih ma," Nandin mengambil potongan itu lalu menggigit nya


"Gimana rasanya," Ucap ibu Dokter Riko.


"Enak sekali ma, Nandin harus belajar banyak dari mana," Jawab Nandin.


"Nantinto aku aja yang ajarin ya," Dokter Riko menyela.


"aigo aigo hemmmm ," Tama dengan nada mengejek.


"Sit gak boleh gitu ya," Ucap ibu Dokter Riko memperingati Tama.


Membuat Nandin seperti di atas angin lalu menjulurkan lidah nya mengejek balik Tama.


Melihat kelakuan perempuan yang baru di pacarinya itu membuat suasana hati Dokter Riko sungguh nyaman dan bahagia.


Semua bahagia memakan kue yang masih hangat itu, dengan percakapan percakapan layak nya keluarga yang juga di selingi dengan ejek an yang membuat tertawa.


"Ma nanti dibawa juga buat Ayah ya," Ucap Nandin mengingat kan ibu Dokter Riko untuk membungkus kue nya.


"Wah calon menantu Mama pengertian sekali," Ucap Dokter Riko dengan mengedipkan sebelah matanya membuat Nandin tersipu malu.


"Iya sayang nanti Mama bawa sedikit, kamu simpan saja buat disini cemilan dengan Tama," Jawab ibu Dokter Riko.


"Wah Alhamdulillah rejeki anak soleh cemilan nya kue," Sela Tama membuat semua orang tertawa.


"Ma terimakasih ya sudah repot repot buatkan kami kue," Nandin berucap serius pada ibu Dokter Riko.

__ADS_1


"Iya sayang sama sama jangan sungkan ya," Jawab ibu Dokter Riko seraya memegangi tangan perempuan yang dicintai putranya itu.


Dokter Riko dan ibu nya pun izin pamit untuk pulang, dan tidak lupa pelukan untuk Nandin dan Tama dari ibunya juga kecupan manis di kening Nandin yang di torehkan Dokter Riko sekaligus lagi lagi membuat pipi Nandin memerah.


__ADS_2