LELAKI IMPIAN

LELAKI IMPIAN
POINT MENCINTAI!


__ADS_3

JANGAN LUPA DUKUNGAN UNTUK AUTHOR YA LIKE, KOMEN DAN VITE...


TERIMAKASIH GUYS. I LOVE YOU


 Aditya membenamkan wajahnya di pundak gadis itu. Nandin memeluknya dengan erat, menghirup kehangatan dalam hubungannya, walau jelas-jelas hujan deras. Tubuh Aditya melemas, Nandin merasakan bebannya lebih berat."Ayo, kita pulang'' ucap Nandin, mendorong agar tubuh Aditya terangkat.


 Tubuh itu terkulai lemas,Nandin membelalakan matanya syok melihat tubuh lelaki itu tidak bergerak.''Dit, bangun Dit'' panggil Nandin,seraya menggoyangkan tubuh yang terkulai didepannya.


 Gadis itu panik dan menangis, walau aitmatanya tidak terlihat karena hujan. Namun suara paraunya sudah cukup menjelaskan.


 Nandin berteriak dan membuat mobil yang lewat berhenti, untunglah jarah rumah sakit dan posisinya sangat dekat, jadi yang menolongpun tidak keberatan untuk mengantar.


 Nandin tidak bisa fokus, sampai Aditya dipindahkan ke ruang perawatan, dan Dokter bilang jantungnya terlalu lelah juga kemungkinan Aditya tidak meminum obatnya.


 Nandin mendengar ucapan Dokter dengan seksama, namun tanpa ekspresi, ia memasuki ruangan rawat Aditya. Gadis itu berdiri cukup lama, bahkan setelah ia melangkahkan kakinya ke dalam ruangan itu. Tatapnya tertahan, pada tubuh yang terlentang dikasur pasien. Lelaki yang baru saja ia peluk, kini ia tertidur dengan selang dan jarum yang menusuk tangannya.


 Nandin melangkahkan kaki semakin dekat ke ranjang itu, dengan pasti namun juga airmata yang terus mengalir. Ia duduk di ranjang menatap wajah lelaki yang memikat hatinya itu, menataop rahang dan bibirnya yang lebih tampan dari biasanya.


 ''Aku baru sadar, ternyata kamu sangat tampan Dit. Aku bahkan belum pernah mengatakannya padamu.'' Lirih Nandin, membuat tangisnya lebih pilu.


 Nandin merasa sangat bersalah, atas sikap plinplannya selama ini, yang mungkin menyakiti Aditya! tidak, memang menyakitinya. Itulah yang sekarang membuat hatinya lebih kacau.


 ''Maafkan aku,'' ucap Nandin, menyentuh tangan Aditya.


 Nandin menangis tersedu-sedu, namun ia merasakan tangannya digerakan.''Aku baik-baik saja, jangan meminta maaf.Aku tidak apa jika yang menyakitiku adalah kamu, asal jangan sampai kamu yang tersakiti'' Aditya berusaha berbicara, walau tatap matanya masih sayu.


 Aditya menaruh tangan Nandin di atas dadanya,''Hatiku akan baik-baik saja, selama kamu ada disana. Bukan hanya hati, tapi hidupku'' Aditya menyunggingkan senyumnya. Hal itu membuat Nandin menghambur kepelukannya.


 Nandin meletakan telinganya di dada Aditya, meskipun Aditya masih lemas dan hanya terlentang diatas kasur pasien, ia mampu menggerakan tangannya yang terdapat selang infus. ia mengelus kepala gadis yang sedang menangis di dadanya.


 Suara tangis Nandin menggema di ruangan itu, Aditya kini tahu bahwa gadis itu benar-benar mengkhawatirkannya. Tangannya masih mengelus rambut Nandin dengan lembut.,


 Aditya menatap langit-langit ruangan itu, "ganti baju gih,'' ucap Aditya, menyadari Nandin masih memakai baju yang terkena air hujan.


 Nandin mengangkat tubunya,''Maaf, kamu jadi basah''


 Aditya tersenyum mendengar ucapan Nandin, mengingat itu hal yang selalu diucapkan gadis itu, saat memeluknya dalam keadaan basah.


 Seorang suster datang untuk menchek keadaan Aditya. ''Sus, saya boleh minta baju pasien perempuan, kekasih saya kedinginan'' pinta Aditya!

__ADS_1


 Nandin menatap Aditya, begitupun suster itu. Mengingat Aditya adalah pasien VVIP, Suster itupun mengiyakan. Bukan hal besar bagi Aditya membayar charge untuk sesetel baju.


Suster itupun keluar dari ruangan Aditya setelah memeriksanya. Nandin kembali memberikan tatapan tajan pada lelaki itu. ''Kamu seharusnya tidak perlu meminta baju untuku.'' ucap Nandin.


 ''Lalu, kamu akan kedinginan''


 ''Aku bisa pulang''


 ''Aku, tidsak bisa membiarkanmu pulang'' balas Aditya.


Nandin tahu apa yang ada dipikiran Aditya. ia hanya khawatir terhadapnya. Dan dalam posisi ini Nandin tidak mau membuat lelakinya itu kecewa.


Nandin mengangguk, "Baiklah, aku akan disini malam ini, aku telpon Tama dulu ya"


Aditya menyunggingkan senyumannya, setelah mendapat jawaban yang ia harapkan.


Nandin merogoh tas kecilnya untuk mengeluarkan handphone, dan menghubungi adiknya.


"Hallo, dek kamu sudah tidur?" tanya Nandin dibalik telpon.


"Belum kak, adek nunggu kakak, diluar hujan jadi pintu adek kunci" jawab Tama.


"Kenapa, kak?" Tama kaget mendengar penuturan Nandin.


"Besok kakak ceritakan. Kamu tidur saja, jangan lupa kunci pintu" tutur Nandin.


"ok kak"


Telpon adik kakak itupun ditutup.


Suster datang ke ruangan Aditya, membawa satu setel baju pasien. Memberikannya ke tangan Nandin, lalu pamit lagi keluar.


"apa aku benar-benar harus memakai ini?" Tunjuk Nandin pada baju yang dipegangnya.


"Tentu saja, cepat keburu masuk angin" jawab Aditya.


Nandin pun mengganti pakaiannya. Begitu selesai Nandin seperti Dejavu, memakai pakaian sama dengan Aditya, dan tepatnya setelah hujan turun.


Nandin merasa selalu ada kejadian disaat hujan, setiap hujan dengan jutaan tetesannya juga kenangannya.

__ADS_1


Nandin mendekat ke posisi Aditya yang sedang terlentang. "kamu istirahat ya, aku cukup lelah" jawab Nandin.


Baru saja Nandin akan melangkahkan kakinya menuju sofa, tangannya ditarik Aditya. "Tidurlah disini" Aditya menunjuk kasurnya yang cukup lebar.


"Aku tidur di sofa saja Dit"


"Baiklah aku juga akan tidur di sofa" gertak Aditya.


Nandin tahu, ucapan Aditya tidak pernah main-main.


Akhirnya Nandin mengalah dan naik ke kasur itu, karena perasaan tidak nyamannya, ia memiringkan tubuhnya. Aditya juga dengan cekatan memiringkan tubuhnya juga sehingga mereka berhadapan.


Nandin menahan nafas, begitu matanya berhadapan. Aditya mengelus kepala Nandin, Nandin merasakan cinta dan kehangatan, setiap Aditya menggerakkan tangannya.


Rasa nyaman itu membuatnya terlelap, Aditya masih terus mengelus kepala gadis itu, walau suara dengkuran keluar dari mulut wanita yang dicintainya.


"Kamu lelahkan, makannya kamu mendengkur. Jangan sampai hatimu lengah, aku tidak rela ada yang memasukinya lagi selain aku." Aditya berbicara dihadapan gadis yang sedang tidur itu, lalu mencium keningnya.


Ia menarik selimut untuk menyelimuti Nandin, tertidur di kamar rumah sakit dengan fasilitas VVIP, tetap tidak menjamin seenak tidur di kamar hotel.


Aditya tahu apa yang akan terjadi jika ia kelelahan, detak jantung nya yang lemah, mungkin akan selalu membuat Nandin mengkhawatirkan nya. Untuk itulah dia selalu terlihat biasa saja di depan gadis itu, walau sesekali ia tidak bisa menahan sakitnya.


"Terimakasih telah memutuskan bersamaku, tidak apa jantungku sakit, sekarang hatiku sudah lebih baik." Lirih Aditya, kemudian memejamkan matanya.


Mereka tertidur dengan posisi berhadapan.


***Jangan lupa like, komen ya guys.


jika berkenan vote juga. untuk mendukung Author berkarya.


aku mencintai kalian Sharanghe.


Andini_818**


Note dari author untuk pembaca setiaku.


Setiap orang pantas memperjuangkan perasaannya. Jangan buru-buru bilang itu tidak mungkin. Cobalah, kamu berhak bahagia.


Namun ingat, point' mu hanya mencintai, masalah dicintai itu point' lawan mainmu.

__ADS_1


Andini_818*


__ADS_2