LELAKI IMPIAN

LELAKI IMPIAN
RIKO MENIKAHI SEILA?


__ADS_3

Kegusaran yang dialami Dokter Riko, tidak lepas dari nama gadis yang melekat di pikirannya.


Gadis itu menarik bukan karena dia cantik, dia hanya mampu menyulap hidup orang yang abu-abu menjadi warna lain yang lebih terang.


***


***


Nandin merebahkan tubuhnya diatas kasur kesayangannya. Setelah Aditya mengantarnya pulang!


Ia mengangkat tangannya, memperhatikan benda bulat yang kini melingkar di jari manisnya. Rasa sayang seorang Aditya, yang membunuh rasa malunya demi melamar dalam keromantisan.


Nandin menaruh tangannya di dadanya, memejamkan mata. Memastikan semuanya nyata. Lalu kemudian membuka matanya kembali, dan cincin itu tetap melingkar di jarinya. Senyuman pun tersungging di wajah gadis itu.


"Ayah, aku memilih Aditya untuk hidupku. Ayah! aku akan memaafkannya setulus hatiku sekarang. Aku harap ayah akan merestui kami." Lirih Nandin dalam hati.


***


***


Dokter Riko duduk di kursi samping ibunya, tatapannya kosong. Pikirannya tidak beraturan. Hatinya pilu.


Suara ketukan membuyarkan lamunannya. "Selamat siang Tante, Om," ucap wanita yang baru memasuki ruangan tempat ibu Dokter Riko dirawat.


"Seila, ngapain kamu kesini?" Riko bangkit dari duduknya.


"Aku mau minta maaf, sama semuanya. Om, Tante juga." lanjut Seila, matanya merah menahan air mata.


"Tante, maaf karena Seila Tante jadi sakit. Seila gak bermaksud begitu."


Ibu Dokter Riko hanya terdiam, tidak mengucap sepatah katapun.


"Seila juga tahu itu kecelakaan, dan tidak mungkin harus memaksa Riko bertanggung jawab. Seila bakal lupain semuanya dan berangkat lagi ke Australia." Seila menyampaikan maksud kedatangannya.


Semua orang memandang Seila, tidak terkecuali Riko.


"Tidak! Saya didik anak saya selalu untuk bertanggung jawab. Meskipun itu kesalahan yang tidak disengaja." Ayah Dokter Riko mengambil suara.


Tatap Dokter Riko, juga ibunya berpindah pada lelaki paruh baya itu.


"Riko, nikahi perempuan ini. Jangan membuat malu nama keluarga," tegas ayahnya!


"Tapi ayah," Dokter Riko menyela.


"Turuti kata ayah, atau kamu bukan anak kami lagi," Ayah Dokter Riko meninggalkan ruangan, dan menutup pintu dengan kasar.


Riko menahan amarahnya, tatapnya pada Seila berubah menjadi lebih garang. Ibunya yang menatap anak lelakinya, kini menjatuhkan air mata.

__ADS_1


Seila merasa bersalah dan pamit undur diri dari ruangan itu. Kini tersisa Riko dan ibunya, akhirnya air mata lelaki itu tumpah di depan wanita kesayangannya. "Ma, Riko tidak bisa menikah dengan wanita yang tidak Riko cintai, jelasnya Riko tidak bisa menikahi wanita lain," Riko semakin mengeratkan pegangannya pada ujung ranjang, dan membuat pembuluh darahnya terlihat.


"Mama tahu sayang! Maafkan Mama," ibu Dokter Riko membuka suara.


"Riko sudah berjanji akan menjaga Nandin, tapi kini Riko belum bisa mengiklaskan nya Ma."


"Tenangkan dulu pikiranmu nak, kamu harus bertanggung jawab, walaupun ini murni kesalahan. Seila mungkin juga tidak menginginkan ini."


"Riko akan bicara pada ayah Ma, aku tahu ayah pasti kecewa. Tapi Riko akan meyakinkan ayah." Dokter Riko menyusut air matanya, keluar mencari ayahnya.


Dokter Riko menyusuri semua area rumah sakit. Dan tidak menemukan ayahnya di ruang tunggu manapun. Sampai akhirnya ia keluar, dan tatapnya tertuju pada lelaki yang duduk di kursi taman.


Ia melangkahkan kakinya mendekat kesana. Dengan ragu Dokter Riko duduk disamping lelaki, yang tidak lain adalah ayahnya.


Tatapan ayahnya lurus kedepan. "Ayah, Riko tahu ayah kecewa. Tetapi itu benar-benar kesalahan," ucap Dokter Riko. Tetapi ayahnya tak bergeming.


Suasana cukup membuat Dokter Riko prustasi. "Ayah, Maafkan Riko. Tapi menikahi Seila bukan niat Riko. Riko tidak mencintainya."


"Apa harus ada cinta untuk menikahi gadis itu?" tukas ayah Dokter Riko.


"Ayah, Riko tidak ingin mencintainya, Riko ingin melindungi wanita yang Riko cintai," Dokter Riko tetap dalam pendiriannya.


"Ayah tahu kamu mencintai Nandin. Ayah juga tahu dulu kamu melindungi gadis itu karena merasa tanggung jawab dia pasienmu. Sampai baru akhirnya benih-benih cinta itu tumbuhkan?" jelas ayahnya!


"Apa maksud ayah?,"


"Nikahi Seila, untuk melindungi martabat nya sebagai wanita. Ini tetap kesalahanmu sebagai lelaki. Jika kamu tidak menikahinya, berarti ayah gagal mendidik mu menjadi anak yang baik,"


"Ayah, apa dengan menikahinya aku akan menjadi anak baik?"


Ayah Dokter Riko melirik putra semata wayangnya itu.


"Nak, jadilah pribadi yang bertanggung jawab dan tetap peduli. Kamu seorang Dokter. Mereka melindungi tanpa melihat siapa pasien mereka. Kamu ingat, kamu menangis berhari-hari karena gagal menyelamatkan nyawa seorang ibu-ibu yang sakit?" Tanya ayahnya membuat ia membayangkan kejadian itu.


Dokter Riko mengangguk.


"Kamu merasa bersalah bahkan saat kamu tahu nyawa sudah ada yang mengatur kan, lalu mengapa anak ayah tidak mau bertanggung jawab, walau ia tahu itu kesalahan yang dibuatnya?"


Dokter Riko menutup wajahnya dengan tangannya. Menumpahkan tangisnya dibalik tangan itu!


"Ayah, aku akan menikahi Seila," Kata-kata itu keluar dari mulut Dokter Riko.


Ayahnya memandang anak lelakinya, menepuk pundak anak lelakinya itu.


Dokter Riko memutuskan untuk bertanggung jawab pada Seila. Gadis yang dulu pernah ia sukai. Tetapi kali ini sikap yang Dokter Riko ambil tidak berdasar hati. Hanya menoleransi kesalahan.


***

__ADS_1


***


Nandin terbangun setelah tertidur saat merebahkan diri di kasurnya.


Suara dentingan handphone nya, menarik perhatian, saat ia baru membuka mata indahnya itu.


Hampir terdapat seratus pesan WhatsApp masuk kedalam telpon genggamnya itu.


Siapa lagi kalau bukan dari laki-laki yang baru saja melamarnya itu.


"*sayang?"


"Sayang?"


"Sayang kamu kemana?"


"Sayang*?"


Dan sisa pesan lainnya juga berisi sama, kata sayang! Membuat Nandin tersenyum. Karena Aditya tidak patah arang mengiriminya pesan. Melihat status di pesan chat itu online Nandin langsung menelpon kekasihnya itu.


Suara deringan mulai terdengar, sampai akhirnya dalam hitungan detik. Terdengar suara dari balik handphone itu. "Sayang, kamu kemana. Jawab telpon aku lama banget?" tanya Aditya dengan nada panik.


"Aku tertidur, maaf ya?" jawab Nandin,


"*oh begitu, aku kira kamu kemana atau kenapa,"


"Hem, ada apa? sampai pesanku banyak sekali. Membuat handphone ku blang sepertinya rusak ini saja panas*," tanya Nandin.


" Haruskah besok kita beli handphone baru?" Tanya Aditya membuat Nandin tak enak hati, ia tahu bahwa kekasihnya itu pasti akan memaksakan kehendak.


"tidak, handphone ku baik-baik saja. Aku hanya bercanda." jelas Nandin, agar tidak membuat lelaki itu membelikan handphone baru untuknya. Karena bagi Nandin itu adalah suatu pemborosan.


"hemmm, besok kita ke makam ayah kamu. Juga ke rumah orangtua ku okeh?," lanjut Aditya.


*Nandin tidak sedang bermimpi, Aditya benar-benar serius padanya. Dan berburu restu orangtuanya, bahkan ketika dia tahu itu Takan mudah.


Nandin sudah memantapkan hati untuk lelakinya itu. "iya," jawab Nandin singkat.


"kamu kok tidak exicted?"


"aku takut menghadapi orangtua mu*" jawab Nandin.


"Aku tidak akan mundur, sekeras apapun orangtua ku. Percayalah!" Aditya menegaskan.


Nandin tahu keteguhan lelaki itu. Dan mempercayakan padanya.


***Jangan lupa like, dan komen ya guys

__ADS_1


juga votenya.


salam cinta dari author ANDINI_818***


__ADS_2