LELAKI IMPIAN

LELAKI IMPIAN
BERTAMU KE RUMAH MERTUA!


__ADS_3

Panggilan dari Aditya tidak dihiraukan oleh Nandin, kata-kata panggilan sayang membuat semua karyawan dilantai itu tersenyum sendiri. Begitupun Tika, teman Nandin dulu. "Ah ternyata jodoh memang tak salah alamat, pak Aditya tetap berjodoh dengan gadis humble itu." Lirih Tika.


Dahulu Tika keras terhadap Nandin, karena perasaan kagumnya pada bos nya itu. Sehingga membuat pertemanan mereka agak renggang, begitu mengetahui Aditya menyukai Nandin.


***


Nandin masuk kedalam lift executive, begitu lift akan tertutup tangan Aditya menahannya, membuat pintu lift itu terbuka kembali.


"Masa suaminya manggil enggak dijawab, marah boleh ko, tapi enggak boleh berlarut tidak baik." ucap Aditya, membuat Nandin menatap suaminya itu.


Mendengar ucapan lelakinya itu, Nandin akhirnya lirih, dan menurunkan pandangannya merasa bersalah. Aditya melangkahkan kakinya kedalam lift itu, membuat pintunya tertutup kembali.


Aditya memegangi kedua pipi istrinya, membuat gadis itu menatapnya. "Jangan marah berlarut-larut ya, aku enggak sanggup." kecupan mendarat dikening istrinya, dan mengusap lembut rambut bagian belakangnya.


Lift terbuka dan mereka berdua keluar, melewati lobby kembali. Semua karyawan berdiri memberikan hormat pada bos besarnya itu.


Nandin tanpa kata-kata memasuki mobilnya. Aditya melirik wajah istrinya yang merasa bersalah. "Sayang, are you okay?"


Nandin mengangguk dengan pasti. "Ya." jawab Nandin, lalu memalingkan kembali wajahnya ke luar jendela.


"Pak jalan, ke rumah Mama ya!" pinta Aditya pada pak Asep.


"Baik Den." jawab pak Asep, melakukan mobilnya.


"Hei, kita akan ke rumah Mama." ucap Aditya, memiringkan kepalanya di sandaran mobil. Tingkahnya bukan seperti seorang CEO saat berada berdua dengan istrinya, lebih seperti anak kecil yang merengek minta asi.


Nandin memiringkan wajahnya juga. "Iya aku dengar, aku minta maaf ya? atas sikapku yang kekanak-kanakan tadi dikantor." jawab Nandin.


"Aku maafkan." Aditya melempar senyumannya. Wajahnya mendekat pada Nandin, tapi Nandin langsung memalingkan wajahnya, karena merasa itu bukan tempat aman mengingat ada pak Asep yang menyetir.


Aditya menyentuh bibirnya, lalu tertawa keras. Menyadari kekonyolan nya itu. Nandin mengelus tangan suaminya.


Mobil yang ditumpangi pasangan itu, kini sudah sampai ditujuan. Nandin berdiri didepan rumah yang kini pemiliknya adalah mertuanya.


"Ayo! Kita masuk." Ajak Aditya. Tidak lupa menggenggam tangan istrinya.


Begitu bel pintu ditekan. Dua asisten rumah tangga membuka pintu besar itu. "Selamat datang Tuan muda." ucap salah satu Asisten rumah tangga itu.


"Selamat datang juga Nyonya muda." ucap Asisten lainnya.

__ADS_1


Nandin dan Aditya kompak mengangguk, dan melempar senyumannya.


Kedua orangtuanya sudah duduk di ruang tamu, begitu Aditya dan Nandin memasuki rumah itu.


Nyonya besar rumah itu berdiri dan memeluk menantunya. "Akhirnya kamu datang juga sayang." ucap ibu Aditya. Pelukan yang Nandin rasa lebih seperti seorang ibu sungguhan.


Nandin menyalami mama mertuanya, juga ayah mertuanya. Begitupun Aditya.


"Lama sekali setelah menikah baru kemari." celetuk pak Sakseno.


Membuat Nandin dan Aditya merasa tidak enak. pak Sakseno mendapat cubitan kecil di lengannya dari istrinya. "Sudah ah, tidak apa-apa. Biarkan mereka duduk dulu, baru datang langsung dicibir." ucap istrinya itu.


Aditya merasa lega malaikatnya itu membelanya. Nandin dan Aditya pun duduk.


"Sayang kamu belum pergi honeymoon kan?" tanya Mama mertuanya itu.


Nandin merasa malu mendengar pertanyaan itu. "Belum Ma." jawab Nandin malu-malu.


"Gimana sih. Masa CEO gak punya duit buat pergi liburan." Pak Sakseno kembali nyeletuk, menyindir putra semata wayangnya.


"Enggak ayah, Nandin yang belum tau mau pergi kemana." jawab Nandin, membela suaminya yang terpojok.


Mendengar jawaban Nandin pak Sakseno, batuk dan berdehem. Orang tua itu memang tidak akan menurunkan sikapnya. Tapi akhir-akhir ini Nandin mengerti bahwa itu memang sifatnya.


"Sayang, Minggu depan pergilah honeymoon. Mama sudah gak sabar mau cucu." lanjut Mama mertuanya itu.


Aditya mengulum senyumnya, melihat pipi istrinya yang berubah menjadi merah padam, setelah mendengar ucapan ibunya itu.


"Bikin cucu bisa di rumah ko Ma." Aditya menyela.


Nandin mencubit tangan suaminya itu. "Sayang, ih." ucap Nandin.


Pak Sakseno dan istrinya saling melirik. "Haha, honeymoon itu bukan semata-mata untuk apa. Tapi untuk merilekskan pikiran kalian setelah resepsi kemarin." jawab nyonya Keira.


"Aku gak punya reverensi Ma."


"Kamu mau pergi kemana sayang?" tanya ibu Aditya pada Nandin.


Nandin memandang jauh, lalu melirik suaminya. "Britania?." Nandin tiba-tiba menjawab, tetapi pandangannya menandakan bahwa ia menunggu persetujuan suaminya.

__ADS_1


"Of course." jawab Aditya langsung, begitu Nandin mengajukan Britania sebagai tujuan honeymoon mereka.


Nandin dengan pikiran polosnya yang ingin liburan, dan merilekskan pikiran sesuai ucapan mertuanya. Tapi Aditya dengan pikiran nya yang akan bermanja-manja dikamar hotel dengan istrinya.


Keduanya menyunggingkan senyuman yang sama, kebahagiaan tapi pikiran yang berbeda


"Wah, pilihan bagus sayang. Mama juga pernah ke Britania dulu sekali, banyak monumen dan pemandangan pantai yang indah disana. Menenangkan." jelas mertuanya.


Nandin mengangguk. Pak Sakseno hanya menaikan alisnya saja.


Asisten rumah tangga menghampiri mereka. "Nyonya, makanan sudah siap." ucapnya.


"Ok. Terimakasih." jawab nyonya Keira.


"Sayang ayo makan, ayo makan semuanya." Ajak nyonya Keira. Yang mendahulukan menantunya.


Nandin pun berjalan dengan dituntun oleh ibu mertuanya, Aditya dan pak Sakseno hanya menatap para wanita itu. "Begitulah wanita, suami mereka ditinggalkan." ucap pak Sakseno.


Aditya yang mendengarnya hanya tersenyum melihat kedekatan ibunya dengan Nandin. Dan bahagia karena ayahnya juga sudah menerima Nandin sepenuh hati.


Semua orang berkumpul di meja makan. Tidak lupa Aditya yang memimpin do'a. Kebahagiaan dan ke akraban menantu dengan mertuanya langsung terlihat.


Aditya beberapa kali menyuapi istrinya. Padahal menu yang mereka makan sama dipiring masing-masing.


Setelah makan selesai. Aditya izin pulang pada orangtuanya. Juga Nandin yang kembali dipeluk oleh mertuanya. "Sayang, lain kali nginap disini ya?." pinta mertuanya.


"Iya Ma. Terimakasih untuk hari ini, lain waktu Nandin akan menginap disini." jawab Nandin, membuat Mama mertuanya tersenyum.


Mendengar jawaban putrinya itu, membuat ibu Aditya senang. "Jaga istrimu baik-baik. Jangan sampai sakit apalagi nangis." ucap pak Sakseno, dengan gaya tegasnya.


"Siap bos." jawab Aditya dan mencium tangan ayahnya itu, diikuti Nandin.


Mereka pun pamit, dan memasuki mobilnya. Pak Sakseno dan nyonya Keira melambaikan tangan begitu mobil itu melaju.


Nandin menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya. "Kenapa sayang?" tanya Aditya.


"Hari ini luar biasa. Aku kira aku tidak bisa mengerti orangtuamu setelah menikah, ternyata mereka memahami ku lebih dulu. Ini luar biasa!" Jawab Nandin.


"Itulah sebabnya manusia akan berubah, jika ada kemauan. Mereka akan menjauhi sesuatu yang bahkan meruntuhkan keegoisan mereka, jika itu untuk orang tersayang." Ucap Aditya!

__ADS_1


Senyuman ketenangan di wajah keduanya terpatri cantik sekali.


__ADS_2