LELAKI IMPIAN

LELAKI IMPIAN
SALAH PAHAM :'(


__ADS_3

Setelah hari yang panjang dan menyakitkan, Nandin belum diperbolehkan tidur di rumah sakit. Mengingat Tama masih berada di ruang ICU.


Pihak rumah sakit meminta data berkas pasien, Nandin pun bergegas pulang ke rumah, kembali bersama Zain. Karena mobil lelaki itu ditinggal didepan rumahnya.


Saat sampai di depan rumah Zain lalu memarkirkan motor milik Nandin. Sedangkan Nandin berjalan menuju pekarangan rumah.


Belum sampai tangan nya menggapai gagang pintu badan nya terkulai lemas. Lalu jongkok dan menangis, Zain menghampiri dan memegang bahu Nandin untuk menguatkan, tidak banyak bicara dan mengerti posisi gadis itu.


"Din jangan menangis lagi Tama akan baik baik saja percaya" ucap Zain


Nandin memandang Zain dengan posisi masih menangis berusaha mempercayai ucapan Zain sekuat tenaga.


"Sungguh,aku takut Zain," Suara nya setengah parau menangis sejadi jadinya.


Zain memeluk nya dan mengelus rambut Nandin. Gadis itupun tidak menghindarinya. Bukan karna perasaan nya masih sama, tapi memang ini juga yang sedang di butuh kan. Perhatian di saat saat saat seperti ini. Teramat hancur bagaimana tidak, satu satunya harapan Nandin hidup sedang berjuang mempertahankan nyawanya.


Semalaman Nandin bahkan tidak bisa tidur ia masuk ke kamar Tama untuk mengambil surat surat penting, di atas meja Tama terdapat foto keluarga, hal itu membuat air mata nya mengalir lagi. Melihat senyum dan tawa semua anggota keluarga yang ada di foto itu. Nandin pun memutuskan untuk tidur di kamar Tama dengan keadaan yang masih pilu.


pukul 06.30 Nandin pergi ke rumah sakit membawa semua berkas yang diperlukan, ia tidak sempat masak dan tidak berselera makan.


Nandin mengurus surat ke bagian administrasi dan melakukan pembayaran. Pertama uang yang di pakai ini sebenar nya untuk biyaya kuliah Tama kelak, tapi mau bagaimana lagi ICU harus dibayar per 12 jam pakai.


Nandin pun kembali mengunjungi adik semata wayangnya itu. Baru saja ia melangkahkan kaki memasuki ruang ICU, Dengan menakai pakaian hijau agar terjaga ke sterilannya. Tubuhnya bergetar pilu, tak juat menahan sakit didadanya yang membuncah.


Nandin menarik sebuah kursi di samping ranjang tempat adiknya terlentang, lalu duduk diatasnya.


"De cepet bangun sayang kakak akan menemanimu jangan biarkan dunia kakak runtuh lagi. Jangan!Kakak tidak tau apa lagi yang harus kakak lakukan sayang," Nandin mengucap nya dengan baik ia memutuskan tidak ingin menangis lagi depan Tama ia memantapkan hati harus kuat.


Setelah sadar waktu sudah menunjukan jam 8.30 Nandin baru tersadar bahwa dia pasti akan kesiangan masuk kantor. ia memutuskan mengirim pesan pada Tika, teman kantornya.


" Tik tolong bilang aku datang agak siang sedikit, karena adiku sakit." tutur Nandin dalam pesan itu.


Pesan tersebut sudah terkirim dan centang biru dua yang menandakan si penerima sudah membaca nya.


Tetapi Tika tidak membalas,


"Ah mungkin Tika sibuk," Pikir Nandin.

__ADS_1


Lalu ia mengirim WA kepada Ellan dia pegawai admin dikantor.


"EL aku izin masuk agak siang ya sedikit, adiku soalnya sakit di Rumah Sakit kecelakaan," Pesan yang dikirim Nandin pada Ellan.


Tidak lama Ellan membalas


"Ok Din enggak papa semoga adikmu cepat sembuh," balas Ellan.


Nandin tiba sampai dikantor pukul 09.30.


"Din dipanggil pak aditya di ruangan nya," ucap Rima teman Nandin yang lainnya.


"oh begitu baik makasih ma," Jawab Nandin.


Nandin langsung bergegas ke ruangan Aditya, ia pun mengetok pintu dan dipersilahkan masuk.


"Maaf pak bapak manggil saya?," Ucap Nandin membuka pembicaraan.


"Menurut mu saya manggil siapa?,"jawab Aditya ketus.


"Kamu kira ini kantor nenek moyang kamu, kamu bisa datang seenak nya sesukamu se siang yang kamu mau,'" Ucap Aditya, lalu ia menggebrak meja.


"Maaf pak saya telat tapi saya tadi sudah minta izin pada Tika dan Ellan untuk datang agak siang," Jawab Nandin membela diri.


"Memang menurut mu bos nya mereka?," balas Aditya, tidak kalah garang dari sebelumnya.


Nandin terdiam bingung karena bentakan Aditya. Juga airmatanya yang tiba tiba menetes. Tersadar bahkan ia belum sempat tidur untuk berangkat ke kantor ini.


"Kamu harus profesional walau kamu habis berduaan sama calon suami orang, meskipun itu mantan kamu, kamu harus tetap masuk kerja tepat waktu," Lanjut Aditya.


Pernyataan bosnya itu, sontak membuat Nandin amat bingung.


"Maaf pak maksud bapak apa ya?," Nandin bingung.


"kamu semalem abis Nerima tamu kan aku semalam mau ngasih berkas buat rapat kita hari ini. Tapi karna aku liat momen itu aku balik lagi lagian itu urusan mu jadi aku kasih project nya ke Ellan," Tukas aditya.


"Maaf pak bapak salah paham saya tidak sengaja berpelukan dengan pacar orang bukan seperti itu," Jawab Nandin, berusaha meluruskan kesalahpahaman.

__ADS_1


"Terserah lah, jika kamu sudah tidak bisa profesional bekerja disini kamu silahkan keluar. Dan cari perusahaan lain yang bisa menerima kamu, agar kamu bisa puas dengan laki laki itu," Ucap Aditya yang emosi nya meluap luap.


Hati Nandin perih lebih perih dari sebelum nya, ucapan Aditya membungkam mulutnya. Dan tidak mampu membendung air mata nya yang keluar lebih deras dari sebelum nya.


"Apa yang harus aku lakukan, bagaimana biyaya rumah sakit Tama." Lirih Nandin dalam hati.


"Ya sudah pak,saya mengaku saya salah saya tidak profesional dalam pekerjaan, seharus nya saya bisa mengimbangi hal pribadi. Saya mengundurkan diri pak," Jawab Nandin.


Aditya tampak menatap Nandin dengan tatapan tajam yang diluar nalar.


"Saya terima pengunduran diri ini tapi saya harap semoga kedepan nya bapak bisa lebih logis lagi tentang apa yang di alami karyawan karyawan bapak," Lanjut Nandin


Ia keluar dari ruangan Aditya dengan menangis, karyawan lain melihat nya tapi Nandin tidak mempedulikan ia hanya membawa tas dan langsung pergi.


Dengan mengendarai motor nya Nandin memutus kan pergi ke Rumah sakit lagi.


***


***


Sesampai nya di rumah sakit, Nandin hanya berdiri di depan ruangan Tama tidak masuk.


"Dek kakak sungguh tidak kuat cepat lah bangun dan semangati kakak seperti biasa, seperti saat kamu menyemangati kakak saat akan melamar pekerjaan," ucap Nandin dibalik pintu.


Seketika bayangan bayangan itu datang menghampiri. Bayangan bahagia dulu bersama keluarga nya.


Nandin terkulai lemas dan menangis di depan pintu.


"Ini sungguh berat aku sekarang takut, takut semuanya," Lirih Nandin di dalam hati.


Semua tampak seperti mimpi tetapi nyata, hangat nya air mata, pedih nya keadaan, semua tampak lebih pasti tentang apa yang dialami.


Mungkin inilah yang orang sebut sakit tapi tidak berdarah. Dimana luka tidak tampak tapi Indra perasa mu bekerja lebih peka, selain rasa, yang mampu mengerti hanyalah air mata.


Jangan lupa like, komen dan vote ya.


untuk mendukung Author

__ADS_1


terimakasih semuanya iloveyou


Andini_818


__ADS_2