
Perjalanan menuju rumah sakit tampak lancar, hanya suasana hati Dokter Riko tampak sangat kacau. Nandin tidak memperlihatkan ia akan terbangun, sehingga Dokter Riko tidak konsentrasi saat menyetir!
Aditya menjatuhkan dirinya di atas kursi kerjanya, rasa menyesal sedikit mendorong istrinya itu, mengganggu pikirannya!
Ia bahkan tidak bergeming saat sepupunya itu menggendong istrinya yang tidak sadarkan diri. Berita besar itupun sudah sampai di telinga sang mantan Chairman dan istrinya, yang tidak lain adalah orangtua Aditya!
***
Setibanya di rumah sakit , Dokter Riko langsung menggendong Nandin menuju ruangan unit gawat darurat, seorang dokter tampak langsung mengambil alih Nandin dibantu dua orang suster, begitu sang putra pemilik rumah sakit itu datang.
Ya! Riko membawa Nandin ke rumah sakit milik ayahnya. Nandin dibawa masuk keruangan itu, dan Riko mematuhi peraturan, untuk duduk di ruang tunggu.
Dengan gelisah lelaki yang berprofesi sebagai Dokter itu tidak berhenti meremas rambutnya, melihat gadis yang pernah dicintainya, bahkan sampai sekarang terluka.
"Aku mohon tuhan, selamatkan dia. Aku mohon buat perasaanku tertata dan baik-baik saja. Bantu aku berprilaku sewajarnya." lirih Dokter Riko, di sela kegelisahannya.
Suara deringan telpon mengaburkan kegelisahan nya itu. Melihat nama ibunya tertera di layar handphone nya, Dokter Riko menghembuskan nafas panjang, lalu mengangkat panggilannya itu," Hallo, Ma?" ucap Dokter Riko.
"Rik, kamu dimana? mama dapet kabar dari om Sakseno kamu membawa Nandin dari kantor Aditya?" ucap ibunya.
Dokter Riko, menata perasaannya yang kacau, dan berusaha membuka mulutnya itu. "Ma, Nandin di rumah sakit! Aku akan jelaskan nanti. Dia belum keluar dari UGD!" jawab Riko. Kemudian telpon itu dimatikan.
pak Mahardika melirik istrinya, "Apa kata Riko Ma?" tanyanya.
"Nandin dibawa ke rumah sakit, masih dalam penanganan. Pasti ada yang salah, Mama tahu Riko tidak akan berbuat sejauh itu!" jawab ibu Dokter Riko.
Suster keluar berlari, tidak lama kembali dengan seorang Dokter perempuan dan memasuki ruangan itu lagi.
Satu setengah jam berlalu, Dokter pertama keluar diikuti Dokter perempuan dan dua Suster tadi dari ruangan itu.
Dokter Riko bangkit dan menghampiri Dokter itu. "Bagaimana Dok keadaannya?" suaranya getir, tampak kegelisahan diwajahnya.
__ADS_1
"Apa walinya Dokter Riko? atau mau menunggu keluarganya?" tanya Dokter itu, ia mengenal Dokter Riko karena memang sesama Dokter.
"Iya saya walinya, apa ada yang harus ditindak?" tanyanya kembali.
"Kami mohon maaf, namun terlalu banyak pendarahan sehingga janinnya tidak bisa diselamatkan." Ucap Dokter perempuan, yang ternyata adalah seorang Dokter kandungan.
"Dia hamil?" tanya Dokter Riko.
"Iya betul, keadaannya sekarang sangat lemah karena kehilangan banyak darah juga! Sebentar lagi pasien akan dipindahkan ke ruang inap." jawab Dokter satunya.
"Terimakasih Dok," jawab Dokter Riko lirih.
Tidak lama Nandin dipindahkan ke ruangan rawat inap. Dokter Riko memasuki ruangan itu. Begitu membuka pintu ia berjalan mendekati kasur bangsal itu. Nandin menatap jendela yang tembus pandang ke arah matahari, cuaca cerah menyinari wajah gadis itu, namun air mata tampak meleleh di sudut matanya.
Dokter Riko berjalan dan berdiri di sudut ranjang itu. "Din?" ucapnya pelan.
Nandin menatap wajah disampingnya. "Kenapa? kenapa tidak bisa diselamatkan?" ucapnya, tangannya mencengkram baju Dokter Riko dibagian dadanya.
Nandin menangis seketika begitu Dokter Riko membuka mulutnya. "Aku ingin mati juga, aku tidak sanggup." lirih Nandin disela tangisnya, ia kemudian membenamkan wajahnya begitu menekuk lututnya, ia juga menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Dokter Riko tak tahan, melihat penderitaan gadis itu. Tangannya mengusap rambut Nandin dengan lembut, namun raut wajahnya tak bisa menyembunyikan sakit, marah dan kecewa itu, sehingga air mata bergulir di pipinya.
Ia meninggalkan Nandin, berlari keluar dari ruangan itu. Mengendarai mobilnya kembali ke kantor Aditya.
Diperjalanan ia sempat menelpon orangtuanya, meminta orangtuanya datang ke rumah sakit untuk menjaga Nandin, dan menjelaskan keadaannya.
Sesampainya di Rumah Sakit, tanpa aba-aba ruangan Aditya menjadi sasarannya! tampak Aditya sedang menengadahkan kepalanya begitu Dokter Riko mendobrak pintunya!
"Aditya...." teriak Dokter Riko.
Aditya membelalakkan matanya. Dan Dokter Riko mengambil langkah tegap, begitu Aditya berdiri sebuah pukulan mendarat di pipinya, membuatnya terpental kebelakang. Membuat berkas yang ada di mejanya berhamburan di atas tubuhnya.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan, bukankah ini keterlaluan! Kamu memukulku karena kejadian tadi kan?" Aditya meracau kepada sepupunya itu, sebari menyeka ujung bibirnya yang berdarah!
"Bukankah ini belum sepadan dengan luka yang kini dirasakan Gadis itu! Dia menangis tidak berhenti, sampai dia berteriak dan membuat siapapun yang melihatnya iba, bagaimana kamu bisa membereskan itu, bagaimana kamu akan mengobati lukanya? Aku memberikan dia padamu agar dia bahagia, tapi sekarang! Aku tidak akan membiarkannya lagi." Teriak Dokter Riko.
"Apa maksudmu?" tanya Aditya, masih dalam posisi terduduk.
"Kamu melukainya, dan Lo membunuh anak Lo! Gue gak berpikir ini keterlaluan, Lo kejam" Nada suara Dokter Riko, lebih seram dari sebelumnya.
"Membunuh? Anak?" Aditya mengernyitkan dahinya.
"Dia lagi ngandung anak Lo, Lo ngedorong dia sampai pendarahan! Dokter gak bisa mertahanin bayinya, Lo tau kan seberapa rawan orang yang hamil muda, Lo gak pantes jadi suaminya, gue sadar sekarang tuhan ngambil kembali karena dia sayang, dan Lo gak pantes jadi bapaknya." Ucapan kejam Dokter Riko, membuat Aditya terdiam, dengan wajah yang sangat kacau dan kaget.
Dokter Riko keluar dari ruangan itu, sedangkan Aditya masih terduduk mencerna ucapan Dokter Riko.
Setelah memijit kepalanya sebentar, tatapannya tertuju pada selembar amplop kertas bertuliskan Rumah sakit, ia membukanya dengan seksama!
Tangannya seketika kaku, yang tertulis dari kertas amplop itu adalah hasil tes kehamilan Nandin, ia ingat Nandin memberikannya saat itu, saat ia sedang mendiamkan istrinya itu, dan langsung pergi untuk meeting, sehingga lupa dan tak sempat membukanya.
Ia meremas kertas itu, tangisnya menggema diruangan itu, ia tak berusaha menahannya! Tangisnya benar-benar bersuara.
"Maaf.. maafkan aku." lirihnya, disela-sela tangisnya yang semakin meraung di ruangan kerjanya yang megah itu.
***
***
Di Rumah Sakit, orangtua Dokter Riko mengunjungi Nandin. Begitu membuka kamar pasien itu, tampak Nandin yang sedang terduduk menatap ke arah Ibu Dokter Riko, "Mama" ucapnya, air matanya langsung mengalir.
Ibu Dokter Riko langsung memeluk Nandin, "Sayang, mama Takan mengucapkan apapun untuk menghiburmu, mama tahu tidak ada yang bisa menyembuhkan luka kehilangan seorang anak selain dirimu sendiri! Menangis lah, itu yang bisa kamu lakukan untuk meringankan penderitaanmu." ucap Ibu Dokter Riko, dan menepuk punggung Nandin yang sedang memeluknya.
Tangis gadis itu pun terdengar menggema di ruangan itu, dan Ibu Dokter Riko pun tidak kuat menahan air matanya! Tapi setidaknya ia akan berdiri tegak, agar gadis itu tidak semakin terpuruk.
__ADS_1
Pak Mahardika, hanya berdiri dan tampak sedih juga, namun karena ia lelaki ia tidak memperlihatkan seperti istrinya.