
Aditya menatap Nandin penuh tanya. Rintik hujan di luar membuat isi rumah dingin karena angin yang menyeruak masuk. ''Sayang, kenapa matamu merah?'' tanya Aditya penasaran.
Nandin menghela nafas panjang,''Tadi mas Riko datang,'' jawab Nandin.
Aditya heran mengapa Nandin bahkan menangis ketika sepupunya itu datang, pikiran sudah menyergap isi kepala Aditya.''Sayang, jangan sampai kamu berpikir tidak-tidak,'' lanjut Nandin mengerti isi kepala Aditya.
Karena Aditya mengerti Nandin tipe orang yang tidak mau di di cemburui, ia pura pura menggeleng.''Aku tidak berpikir aneh-aneh'' jawab Aditya cepat.
''Mas Riko meminta izin padaku, lusa ia akan menikahi Seila. Dan meminta aku datang, baru ia akan melaksanakan ijab kabul.'' jelas Nandin !
Mendengar ucapan Nandin, hati Aditya meluluh. Ia sangat tahu bagaimana perasaan sepupunya itu terhadap Nandin, pasti sekarang Riko sedang sangat bingung. ''Datanglah, tidak apa. Aku juga akan datang, bagaimanapun Riko juga sepupuku.
''Sayang, temanilah Riko. Barangkali dia butuh teman untuk bercerita, datanglah padanya sebagai sepupu. Jangan pandang aku, aku tahu kamu mengerti posisinya sekarang kan?'' pinta Nandin!
Aditya mengangguk pelan, saat ini Riko adalah orang yang benar-benar butuh teman untuk bercerita.
''Yasudah, ayo kita berangkat ke rumah orangtuaku, karena hari ini hujan besok baru kita ke makam ayah oke?'' Ajak Aditya!
Nandin menyunggingkan senyumnya, mengambil tas kecilnya yang selalu setia kemanapun ia pergi. Nandin sedikit meninggikan suara Tama yang terlihat sedang makan di meja makan belakang, Sedari tadi setelah memanggil kakaknya Tama langsung duduk disana. Anak remaja itu, tidak pernah ikut campur saat kakaknya sedang ada tamu.
Tama hanya mengangguk, lalu melanjutkan makannya, ''Bagaimana bisa seorang gadis seperti dia, selalu diperebutkan dua laki-laki itu,'' ucap Tama, sebari berdiri lalu mencuci piring bekas makannya.
Saat mengendarai mobil Aditya kurang berkonsetrasi, tak ayal membuat Nandin beberapa kali menegur Aditya karena tidak memperhatikan jalan. ''Sayang, itu loh didepan ada mobil hati-hati dong,'' ujar Nandin begitu aditya hampir menyenggol mobil.
'Aditya memelankan laju kendaraannya. ''Sayang, ini semua gara-gara kamu,''jawab Aditya dan langsung mengalihkan pandangannya lurus kedepan.
''Kenapa aku yang disalahkan, kamu yang menyetir toh?'' Nandin bingung dengan alasan pembelaan Aditya atas dirinya sendiri.
''Siapa yang suruh kamu memakai lipstik merah terang seperti itu? aku jadi gak bisa konsentrasi kan.'' lanjut Aditya, tidak terima atas perkataan Nandin.
''Bagaimana bisa seseorang menyalahkan warna lipstik pacarnya, saat ia akan menabrak mobil orang lain.'' Emosi Nandin tersulut Aditya.
Aditya yang kesal karena Nandin tidak peduli yang ia rasakan langsung diam, dan hanya mengigit ibu jari tangan kanannya, sedangkan tangan lainnya memegang setir. Aditya sangat tergoda melihat bibir mungil kekasihnya yang dipoles lipstik merah, baginya itu sangat menggoda, Namun Nandin juga tidak menyadari ataupun bertanya mengapa sampai Aditya tidak fokus.
Mobil yang dikemudikan oleh Aditya kini berhenti didepan rumah mewah dengan penjagaan sekuriti pribadi. Nandin dan Aditya turun bersamaan setelah membuka keduapintu mobil itu.
Bayangan enam tahun lalu menyergap pikiran Nandin, begitu iya berdiri didepan rumah itu, tangannya mencengkram tali kecil tasnya. Aditya menghampiri kekasihnya itu, mengerti apa yang ada dipikirannya.
__ADS_1
''Sayang, maaf karena saat itu aku belum bisa memegangmu seperti ini, aku belum punya kekuatan untuk melindungimu saat itu,'' ucap Aditya sebari menggenggam tangan gadis itu dengan erat!
Nandin tidak mengatakan sepatah katapun, kakinya melangkah begitu saja menapaki dua anak tangga menuju pintu utama rumah itu. Pintu rumah Aditya rupanya selalu terkunci dari dalam, sehingga membuat siapapun yang berkunjung harus menekan bel terlebih dahulu.
Aditya menekan bel yang berada di samping pintu rumah itu, tanpa tunggu lama, Pintu kayu terbuat dari bahan pohon jati itu terbuka. Dua asisten rumah tangga memakai baju seragam warna hitam putih membukakakn pintu besar itu. ''Selamat datang Tuan Muda,'' ucap kedua Asisten rumah tangga itu bebarengan.
''Ayah sama Mama ada dirumahkan?'' tanya Aditya saat kakinya dan juga Nandin kini berada di area dalam rumah.
''Ada Tuan, di ruang keluarga lantai dua. Tadi sekuriti depan sudah telpon kesini. Tuan besar dan Nnyonya besar menyuruh Tuan muda naik keatas.'' jelas Asisten rumah tangga itu!
Dirumah itu semua terkoneksi lewat telpon, dan juga CCTV. Membuat pak Sakseno dan istrinya tahu siapa yang datang bertamu.
''Aku takut, takut jika orangtuamu tidak merestui kita,'' ucap Nandin, masih dalam posisi berdiri disana.
''Tenang saja, aku sudah punya senjata bagus. Dan pasti kita akan mengantongi izin Mama dan Ayah,'' jawab Aditya meyakinkan!
Aditya langsung menuju lantai dua dimana orangtuanya berada, Nandin semakin mengeratkan pegangannya pada tangan Aditya. Mereka menapaki anak tangga yang melingkar di tengah rumah itu. Ruangan tengahnya saja bisa dipakai main basket, Nandin baru menyadari betapa luasnya rumah orangtua Aditya, karena dulu dia kesana dalam keadaan emosi melanda sehingga tidak memperhatikan sekitarnya.
Kedua Asisten yang membukakan pintu tadi menatap Aditya yang menggenggam tangan Nandin tanpa dilepas, dan berbisik membicarakan kecantikan pacar Tuan Mudanya itu.
Aditya tiba dilantai dua rumahnya, orangtuanya sedang duduk menonton televisi. ''Ma, Yah . Adit dateng!" Aditya membuka pembicaraan , membuat orangtuanya yang sedang menonton tv menengok ke arah sumber suara.
Aditya lalu melangkah mendekat kursi lalu duduk bersama Nandin, tanpa melepaskan genggaman tangan mereka. ''Ada apa kamu kemari?'' tanya pak Sakseno, langsung to the point.
Sikapnya yang dingin itu, langsung disenggol oleh nyonya Keira istrinya.
''Meminta izin pada Mama dan Ayah, untuk menikahi Nandin!'' jawab aditya, juga langsung pada intinya!
''Bagaimana, jika ayah tidak mengizinkan?'' gertak pak Sakseno!
''Aku akan menjual semua saham PT.HOPE dengan harga dibawah pasar,'' jawab Aditya, langsung membuat wajah pak Sakseno merah padam . Gertakan itu mampu membuat pak Sakseno tidak berkata-kata, mengingat begitu ia sangat mencintai perusahaannya.
Dan kini perusahaan itu sudah atas nama Aditya, sebagai penerus generasi Sakseno.
Nandin heran melihat Aditya yang masih bisa tersenyum sinis pada ayahnya, apakah gertakan ini yang disebutnya senjata, Nandin mengeleng-gelengkan kepalanya pasti.
''Ok, ayah restui kalian.'' jawaban pak Sakseno sukses membuat Aditya terkejut, betapa mudahnya mendapat restu ayahnya itu.
__ADS_1
Nandin mengalihkan pandangannya pada pak Sakseno, belum kelar ia dengan rasa kagetnya melihat tingkah Aditya, kini ia kaget dengan jawaban calon mertuanya itu.
''Benarkah ayah? ayah seriuskan?'' Aditya begitu antusias! Kebahagiaannya tidak terbendung.
Aditya langsung memeluk gadis disampingnya. Nyonya Keira juga sangat senang melihat kebahagiaan putra semata wayangnya itu.
Pak Sakseno langsung berlalu dan memasuki kamarnya. Aditya melihat ayahnya yang pergi berlalu begitu saja, Aditya tahu betul itu menandakan ayahnya kalah dalam pertarungan. ''Ma, ayah ngerestuin adit Ma,'' ucap Aditya dengan bahagia pada ibunya.
''Ia sayang, mama juga tahu, Mama berharap kamu akan bahagia dengan Nandin.'' Aditya berdiri lalu memeluk erat ibunya itu.
Nandin pun menangis terharu, karena tidak menyangka akan selancar ini.
Aditya dan Nandin pun mengobrol dengan ibunya cukup lama, sampai akhirnya ia pamit pulang. Nandin tidak lupa menyalami calon ibu mertuanya itu. ''Sayang, jaga Adit baik-baik ya, adit sayang banget sama kamu dari dulu,'' ucap seorang ibu yang akan melepas anaknya untuk wanita lain.
Mendengar ucapan ibu kekasihnya itu, Nandin mengerti bahwa ibunya Aditya ternyata baik. Sampai jam pulangpun Nandin dan Aditya tidak bertemu lagi dengan pak Sakseno karena ia dikamarnya.
***
***
Ibu Aditya memasuki kamarnya, melihat suaminya duduk didepan meja rias miliknya.''Sudah pulang Mah, Aditya dan gadis itu,'' tanya pak Sakseno.
''Sudah, kenapa tidak keluar lagi. Tadi anak-anak mau izin pulang'' jawab Keira.
''Kalau bukan karena ancamanmu minta pisah kamar, aku tidak akan merestui Aditya.'' lanjut pak Sakseno.
***Dua jam sebelumnya Nyonya Keira sudah tahu bahwa tamu yang datang Aditya dan Nandin. Lalu keira mengancam suaminya untuk merestui hubungan mereka, jika tidak ia akan minta pisah kamar. Dan itu membuat pak Sakseno mengiyakan. Keira tidak tahan dengan sikap keras kepala kedua lelaki kesayangannya itu.***,
''Jangan begitu. Lagian tadi juga ayah takutkan dengan ancaman Aditya menjual saham perusahaan.'' bela Keira.
Ucapan istrinya membuat pak Sakseno diam. Ia bangkit dan menuju pintu keluar kamarnya, ''Anak dan ibu sama-sama tukang ancam,'' ujar pak Sakseno, sebari membuka pintu kamarnya.
Keira hanya tersenyum melihat suaminya tidak berktik.
HAI GUYS AKU NGADAIN GIVE AWAY LOH DENGAN BANYAK HADIAH.. CUS KEPOIN DI INSTAGRAMKU
ANDINI_818
__ADS_1
** SIAPAPUN DAN DIMANAPUN KALIAN BISA DAPAT LOH, JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YANG MENSUPPORT AUTHOR YA, I LOVE YOU :***