
Mulai hari ini Nandin tidak bekerja di kantor Aditya atau dimanapun selain ia masih sakit dia juga tidak berniat kembali kesana.
"Assalamualaikum,"
Suara seseorang terdengar didepan rumah Nandin sebari suara ketukan pintu, Nandin pun bergegas ke depan menghampiri sumber suara tanpa menyuruh Tama yang sedang asik menonton TV.
"Wa.. walaikumsalam eh Mama," Nandin membuka pintu lalu menjawab salam tersebut dan langsung menyalami orang yang didapati bertamu ke rumah nya.
"Sayang Mama khawatir sekali sama kamu, kamu udah baikan," Ucap Mama Dokter Riko.
"Alhamdulillah mah," Silahkan masuk mah ucap Nandin.
Menyadari ada tamu Tama langsung berdiri dan mematikan televisi nya lalu menyalami Mama Dokter Riko, ini adalah pertemuan kedua Tama Dengan ibu Dokter Riko setelah di rumah sakit dulu.
"Hai Tama sayang udah baikan luka nya," Ucap ibu Dokter Riko ramah saat tama menghampiri dan menyalaminya.
"Alhamdulillah Tante, sudah baikan," Ucap Tama menjawab.
"Jangan panggil Tante panggil ajah Mama sama kaya kak Nandin dan mas Riko ya," Ucap ibu Dokter Riko.
Tama hanya mengangguk dan tersenyum lalu mereka semua duduk di ruang tamu.
Nandin menawarkan minuman barangkali ibu Dokter Riko ingin teh atau kopi padahal di depan nya sudah ada minuman air putih kemasan , tapi ternyata ia hanya menginginkan air putih di depan nya itu.
"Mama ko tahu rumah Nandin?," Nandin membuka pertanyaan.
"Mama datang sama Riko sayang, mama paksa dia buat antar mama," jawab ibu Dokter Riko.
Seseorang datang mengucapkan salam yang tidak lain adalah Dokter Riko, lalu dijawab oleh semua yang ada di ruangan itu.
" sayang maaf Mama tadi maksa banget mau kesini," Ucap Dokter Riko.
"Iya enggak apa apa," jawab Nandin.
Menyadari Dokter Riko sedang menjalankan akting nya membuat Nandin mengubur pikiran dan perasaan nya dalam dalam, ini hanya akting ini hanya pura pura.
"Sayang, cepet banget jadian nya," Celetuk Tama.
Membuat Nandin dan Dokter Riko menatapnya bersamaan seperti geram.
"alah anak kecil gak boleh tau," Ucap ibu dokter Riko ternyata tidak curiga.
__ADS_1
Membuat perasaan Nandin terkontrol emosinya.
"Sayang kata Riko di rumah kamu ada oven mama boleh enggak bikin kue disini mama sudah bawa bahan bahan nya," Lanjut ibu dokter Riko sebari menunjuk barang bawaan nya.
"tapi ma oven nya sudah lama tidak dipakai Nandin tidak bisa bikin kue juga," Jawab Nandin menyadari memang ibu nya Dokter Riko serius akan membuat kue di rumah nya.
"Tidak apa apa sayang nanti mama dan Riko yang bikin kamu lihatin saja," Jawab ibu Dokter Riko.
Nandin hanya mengangguk menyadari sebentar lagi akan ada pertunjukan dari seorang Riko dan ibunya.
"Mama langsung ke dapur kamu ajah ya sayang, kalo kamu pusing duduk ajah disini," lanjut ibu dokter Riko sebari berjalan ke dapur di antar Tama.
"Aku minta maaf ya gak sempet ngabarin, tadi mama buru buru soalnya," Bisik Dokter Riko pada Nandin.
"Enggak apa apa mas namanya juga pacar pura pura harus siap dalam keadaan darurat," Jawab Nandin datar sebari berdiri ingin menyusul ibu Dokter Riko dan Tama ke dapur.
menyadari sikap Nandin yang sedikit aneh, Dokter Riko berpikir kenapa Nandin marah.
"Kamu kenapa," replek Dokter Riko memegangi tangan Nandin sebelum berjalan meninggalkan nya.
"Aku enggak papa," Jawab Nandin lagi lagi datar.
"Yang bener ajah," jawab Nandin mengerutkan kening nya.
Nandin pun berlalu, dan membuat Dokter Riko makin bingung.
Ibu dokter Riko langsung mengeluarkan semua bahan yang dibawa nya dari rumah, Nandin membantu.
"Ma Nandin mau bantu, tapi Nandin belum bisa," Ucap Nandin.
"Aya sudah Nandin pecah kan telur nya saja 8 buah pisah kan putih dan kuning nya," jawab mama dokter Riko.
Dokter Riko berdiri lalu menawarkan bantuan pada Nandin, tapi Nandin tidak menjawab membuat Dokter Riko salah tingkah.
"Sayang kamu punya mixer enggak?," tanya ibu dokter Riko pada Tama.
"Ada sudah lama tidak dipakai sebentar aku ambil di dapur belakang," jawab Tama.
Nandin yang sibuk memecahkan telur pun sedikit sedikit melirik Dokter Riko yang sedang menggulung kemeja putih yang dikenakan nya di gulung sampai sikut lalu mengenakan celemek yang kemarin ia pakai.
Ibu dokter Riko juga fokus pada bahan bahan yang sedang ditimbang nya , lalu Dokter Riko mulai membantu nya dengan menempatkan tiap bahan bahan nya dengan lihai.
__ADS_1
"Ini ma mixer nya," Tama datang membawa mixer dari belakang.
"terimakasih sayang," jawab ibu Dokter Riko.
Menyadari Nandin yang bahkan tidak berucap membuat Dokter Riko lebih peka, tidak mungkin jika Nandin diam karena sibuk memecah kan telur pikirnya pasti ada yang tidak beres.
Saat ibu Dokter Riko sedang sibuk mulai memasukan bahan bahan dibantu Tama dokter Riko mendekat, berdiri dibelakang Nandin lalu membantu nya memecah kan telur Nandin salah tingkah karena posisinya di apit tangan dokter Riko dari kiri dan kanan, Nandin risih karena malu takut Tama dan ibunya menyadari.
"Kamu kenapa kok diem terus," Ucap Dokter Riko berbisik sebari memecahkan 1 telur ke dalam wadah dengan pasti tanpa memecahkan kuning telur nya.
"Enggak apa apa," jawab Nandin yang berdiri kaku juga memecahkan satu telur ke dalam wadah.
Dokter Riko membuang cangkang telur ke tempat sampah samping Nandin lalu makin mendekat kan bibir nya ke telinga gadis itu.
Tangan nya memegang ujung meja dan masih dengan posisi berdiri di belakang Nandin.
"Apa aku membuat mu kesal," Bisikan yang semakin dekat di ucapkan dokter Riko membuat Nandin bergidik
"Jangan dekat dekat sana, malu nanti dilihat mama dan Tama," ucap Nandin menjawab pertanyaan Dokter Riko.
"Biarkan saja kamu kan pacar ku," jawab dokter Riko.
"Iya pacar pura pura," jawab Nandin ketus.
"Aku maunya pacar beneran," balas dokter Riko.
Membuat Nandin mendongak ke belakang nya, tepat di depan dada Dokter Riko yang sedang berdiri di belakang nya membuat kedua mata mereka bertemu.
"Aku serius," Lanjut Dokter Riko.
Mata Nandin berkaca kaca dan pipinya merah merekah, menahan senyum malu malunya.
"Jangan di jawab sekarang tidak apa apa nanti saja, tapi kamu jangan ngambek terus ya cantik nya hilang," bisik dokter Riko memajukan posisi wajah nya tepat pipinya berada di depan wajah Nandin yang sedari tadi mendongak.
"Sayang telur nya sudah," Tanya ibu Dokter Riko membuat Nandin dan Riko salah tingkah menyadari posisi mereka berdiri.
"Iya mah sudah," Nandin buru buru menjawab dan memberikan telur nya.
Semua adonan sudah siap lalu Dokter Riko memasukan semua adonan yang sudah siap ke dalam oven, dengan visual nya yang tampan membuat siapa saja jatuh hati menatap seorang lelaki tampan sedang memanggang kue.
pemandangan yang di dambakan siapapun dalam keluarga yang hangat, kebahagiaan itu lah yang sedang dirasakan mereka.
__ADS_1