LELAKI IMPIAN

LELAKI IMPIAN
SINDROM TAMPAN!


__ADS_3

Aditya bergegas mandi, setelah menerima maaf dari Nandin tubuhnya langsung normal merasakan cape nya penerbangan dari Macau. Air dari shower menyirami rambut hitamnya, kulit kepalanya ia kibaskan dengan tangan, dalam kucuran air dia terlihat tersenyum simpul, membuyarkan semua kesakitan yang ia tahan selama ini.


Nandin yang mulai terlelap terganggu dengan suara deringan ponsel Aditya, yang ia tinggalkan di atas meja riasnya. Nandin pun dengan terpaksa mengangkat tubuhnya.


Ia meraih benda persegi panjang itu, dan mengangkat panggilan itu, "Hallo, dengan siapa?" ucap Nandin, melihat tidak ada nama dipanggilan itu.


"Hallo, Aditya nya ada, saya Lisa."


"Aditya nya sedang mandi, ada yang mau disampaikan?" tanya Nandin.


Aditya tiba-tiba keluar dari kamar mandi dan menghampiri istrinya yang sedang menelpon. "Ada telpon dari Lisa," ucap Nandin lalu menyerahkan ponsel itu ke Aditya.


Begitu mendengar ucapan istrinya, Aditya membelalakkan mata, dan langsung mengambil ponsel itu. "Hallo," ucap Aditya irit.


"Dit, kamu dengan siapa? perempuan!" kata Lisa.


"Istriku," jawab Aditya simple.


"Apa kamu sudah pulang ke Indonesia? bukankah masih beberapa hari lagi? atau kamu pulang karena mengkhawatirkan istrimu?."


"Sorry, gue lagi sama istri gue! Baru nyampe Indonesia banget nih."


Aditya langsung mematikan telpon itu. Nandin menaikan kedua alisnya. "Siapa sih?" tanya nya.


"Kawan lama," jawab Aditya sebari mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.


Ia membuka gorden kamarnya yang langsung terpampang ke halaman depan, rumah lantai duanya itu memang memiliki view yang bagus, yang langsung memperlihatkan gedung-gedung pencakar langit. Jika malam tiba, cahayanya menenangkan. Dan karena ini siang hari, cahaya matahari lah yang masuk menembus kaca besarnya itu, tubuh bagian bawahnya yang hanya di lilit handuk putih, dan dia yang sedang mengeringkan rambut, membuat nya semakin indah karena sorotan cahaya matahari.


Nandin menyipitkan matanya, bukan karena silau tapi melihat bentuk tubuh suaminya yang bak model kelas kakap. "Sayang," ucap Nandin.


Aditya yang mendengar kata-kata itu keluar dari mulut istrinya, rasanya seperti sudah lama tidak mendengar ucapan itu. "Iya, kenapa sayang?" Aditya menanggapi.


"Bisakah jangan membuka gorden terlalu lebar, aku tidak tahan."


Aditya mengira Nandin silau karena cahaya matahari yang terik. Ia pun menutup kembali gorden itu lalu menurunkan suhu AC dikamarnya.


Aditya melangkahkan kakinya mendekat ke istrinya, dengan membungkuk dan membuat Nandin menyandarkan dirinya ke kepala ranjang. "Sayang, kenapa sih?" ucap Nandin, matanya curi-curi pandang pada bentuk roti sobek di perut suaminya.

__ADS_1


"Aku melindungi mu agar tidak silau," jawab Aditya.


Posisi mereka yang hanya berjarak beberapa centimeter itu, membuat Nandin celingukan. "Siapa yang silau?" lirihnya.


"Bukannya kamu bilang tadi tidak tahan, karena silau kaca kan?."


Nandin menatap mata suaminya, laku mengedipkan nya beberapa kali dengan durasi cepat. "Apa?" tanya nya bingung.


Aditya juga menaikan Alisnya karena bingung, lalu ia melirik bagian bawah tubuhnya, diikuti mata Nandin yang melirik nya juga. "Atau jangan-jangan..." Aditya sengaja menggantung ucapannya.


Nandin yang tersadar suaminya sedang menggodanya langsung mendorong suaminya menjauh dan menarik selimut untuk menutupi bagian tubuh nya. "Apasih," Nandin berteriak di balik selimut itu


Aditya tersenyum dan terus menggoda istrinya, "apa kamu mau megang kotak-kotak diperut ku?" Aditya menawarkan tubuh indahnya.


Nandin tiba-tiba membuka selimutnya. "Benarkah, bolehkah?" ucapnya sebari terperanjat.


Aditya tersenyum memperlihatkan barisan gigi nya yang rapih. Lalu mengernyitkan dahinya melihat sikap lucu istrinya itu.


Menyadari itu Nandin merasa canggung dan malu, ",Ah kenapa juga aku harus bangun dan bertanya begini," lirih Nandin dalam hati.


Hal itu membuat nya kembali menarik selimutnya. "Aku tidak berkata apa-apa."


"Tidak, tidak. Aku tidak bicara apapun sungguh!" Nandin masih dalam pertahanan nya.


***


***


Tama keluar dari kamar dan duduk di meja makan, menandakan ia ingin mengisi amunisi. Rani dan Yuni canggung menghampiri anak laki-laki itu. "Den, mau makan?" tanya Yuni.


Tama mengangguk pelan. "Mau nasi goreng," jawab Tama.


Rani dan Yuni pun mengiyakan dan segera membuat makanan untuk Tama. Tama duduk di meja makan dengan membaca buku. "Apa aku tampan jika duduk seperti ini sambil membaca buku?"tanya Tama dalam hati pada dirinya sendiri.


Tama seperti terkena sindrom ketampanan, akibat dipuji oleh kedua asisten rumah tangga.


***

__ADS_1


***


Dokter Riko menghabiskan waktunya di Rumah Sakit, karena ia harus mengurus semua profosal yang diperlukan, guna untuk pemindahan saham Rumah Sakit ayahnya atas nama dirinya.


Ketampanan dan Kecerdasan Dokter muda ini, sudah tersebar sampai ke setiap sudah Rumah Sakit ini. Semua wanita yang masih Single pun memasukan nama Dokter Riko pada daftar calon suami idaman mereka.


Namun tidak sedikit juga yang tahu, bahwa Dokter Riko memang belum membuka hati untuk orang lain, selain Nandin.


Selama mereka bekerja di Rumah Sakit ini, memang hanya Nandin lah yang terlihat diperlakukan sangat manis oleh Dokter Riko, sehingga membuat semua Suster iri dan cemburu dibuatnya.


***


***


Aditya selesai menggoda istrinya, yang berakhir dengan cumbuan manis di kening, pipi lalu bibir istrinya itu. Mengingat lelahnya perjalanan, Aditya pun hanya selesai ditahap pemanasan itu tanpa melanjutkan ke adegan yang memicu adrenalin tubuhnya. "Aku mau tidur ya, lain kali kita tempur?" kata Aditya.


Nandin tersenyum menyeringai, "Dasar," jawabnya.


Aditya pun mengambil celana pendek dan kaos putih, lalu melempar handuk yang ia kenakan tadi, dan langsung berbaring di atas ranjang, sebelum menutup matanya, ia membuka lebar-lebar tangannya, dan Nandin langsung mengerti untuk tidur di atas lengan suaminya itu, Aditya pun langsung memeluk istrinya yang membenamkan wajahnya di dadanya. "Ah nyaman sekali," lirihnya.


Nandin tersenyum simpul.


***


***


Rani kembali kedepan untuk memberikan nasi goreng untuk Tama. "ini Den nasi gorengnya."


Tama mengangguk dan mengambil sendok laku menyiapkan sendok berisi nasi goreng ke mulutnya. Ini untuk pertama kalinya Tama mengunyah cukup lama untuk makanan yang ia masukan kemulut nya, membuat Rani penasaran. "Kenapa Den, kepedesan, atau keasinan?" tanya Rani.


"Enak," jawab Tama simple.


Rani pun mengangguk, lalu menuangkan minum untuk Tama. Tama pun langsung meminumnya dengan tangan dan dagu sedikit di angkat, membuat air yang baru ia masukan ke mulutnya, terlihat jelas melintasi kerongkongannya. Hal itu membuat Rani menaikan kedua alisnya, dan pamit kebelakang, karena melihat tingkah aneh Tama.


Tama menyeringai dan melanjutkan makannya dengan gaya biasa begitu Rani pergi. "Pasti dia melihat rahang ku yang membuatnya beristighfar karena aku tampak sangat tampan," Tama mengucapkan itu pada dirinya sendiri.


Sindrom Tampan, benar-benar melekat padanya.

__ADS_1


Hallo semuanya mohon bantuan like dan komennya ya, author usahain up setiap hari. Aku mencintaimu 💜💜💜💜💜💜💜💜💜


__ADS_2