LELAKI IMPIAN

LELAKI IMPIAN
CINCIN LAMARAN?


__ADS_3

Jangan lupa dukung Author, dengan cara Like, komen dan juga vote ya guys. i love you.


Andini_818


Kendaraan yang ditumpangi Aditya kini berhenti di depan mall Senay. Aditya turun duluan, tidak lupa ia mengambil kacamata hitam miliknya, yang ditaruh di pintu mobilnya. Sedangkan pak Gun memarkirkan mobilnya.


Aditya turun dengan mengenakan baju pasien rumah sakit, tidak lupa memakai kacamata yang ia ambil dari mobilnya.


Rupanya wajahnya yang tampan masih mampu menghipnotis setiap pasang mata, khususnya perempuan.


Pak Gun menghampiri Aditya, yang sedang memainkan gadgetnya. "Pak, jadi tujuannya kemana?" tanya pak Gun begitu berhadapan dengan Aditya.


"Aku sudah searching, disini ada toko bernama CIN JEWELRY. Saya mau ke toko itu"


Pak Gun yang mendengar ucapan Aditya pun, langsung mengangguk. Karena pak Gun sudah tahu letaknya, Aditya hanya mengekor saja.


Sesampainya di depan toko perhiasan bernama CIN JEWELRY, Aditya langsung menghampiri perhiasan-perhiasan indah, yang di halangi kaca itu. Jangankan kotoran, tapak tangan pun sampai tidak terlihat saking bersihnya.


Aditya mengetuk bagian atas kaca itu dengan terlunjuknya, berjalan mengitari mencari benda yang ia cari.


"Selamat siang Pak, ada yang bisa saya bantu," Sapa seorang pegawai toko ituh. Wanita dengan tinggi sekitar 165 cm berperawakan bersih. Maklum lah mall ini adalah mall dengan bintang 5, yang kemungkinan hanya dikunjungi orang-orang berduit.


"Siang, saya mau cari ring, untuk perempuan." Jelas Aditya!


"Apa bapak sudah pesan, atau baru mau pesan?"


Aditya mengerutkan keningnya. Dia tidak tahu kalau cin-cin saja harus dipesan di toko ini. Pantas semua desainnya tidak ada yang terlihat sama.


"Tidak! Saya belum memesan, apakah tidak ada yang bisa langsung saya beli?"


"Oh, ada Pak! Tapi karena jumlahnya yang limited kemungkinan harganya akan jauh lebih tinggi, dibanding dengan bapak memesan dahulu atau disebut pre-order." Jelas pegawai itu ramah.


"Bisa tunjukan kepada saya?" pinta Aditya.


"Baik Pak, tunggu sebentar."


Pegawai itu membuka satu kotak kaca dengan kunci, tidak lupa tangannya memakai sarung tangan. SEdangkan sambil menunggu, Aditya melirik semua perhiasan di depannya, yang sudah berlebel nama, pertanda semuanya milik orang lain.

__ADS_1


Pegawai itu menaruh satu kotak perhiasan cincin, di dalam kotak hitam yang ia taruh hanya ada 7 cincin saja. "Ini pak cin-cin nya, kami sekarang hanya ada persediaan ini saja" jelas pegawai itu.


"Pak, memang cin-cin buat siapa, bukankah nyonya ulang tahun masih lama," celetuk pak Gun.


Aditya langsung menatap pak Gun. "Ini bukan untuk mami, tapi untuk calon mami dari anak-anak ku," Jelas Aditya!


Pak Gun membelalakan matanya. Juga si mba penjaga yang tersipu mendengar penuturan Aditya.


Kata-kata Aditya mampu membuat iri wanita lainnya. Dan membuat mereka berharap wanita yang dimaksud adalah dirinya.


"Mba, apa beda dari ketujuh cin-cin ini?" Aditya bertanya, karena tidak mengerti hal yang menarik bagi wanita. Ditambah ketujuh cincin ini terlihat sama.


"Tidak ada yang berbeda, karena ini didesain khusus oleh bos saya, ia sengaja memakai simbol mawar pada ketujuh cincin ini."


"Mawar, pantas saja aku melihat mutiaranya seperti berbentuk bunga" Lirih Aditya!


"Iya betul, bos saya merekomendasikan ini kepada seseorang yang ingin melamar kekasihnya, karena mawar melambangkan keberanian seseorang dan berkeinginan kuat menjaga pasangannya." Pegawai itu sepertinya, dilatih dengan propesional sehingga dapat menjelaskan secara rinci.


Mendengar penjelasan itu, Aditya menatap sebuah cincin didepannya. Cincin paling sederhana diantara ke tujuh cincin itu.


"Saya ingin yang ini." Tunjuk Aditya, cincin dengan mutiara kecil berbentuk mawar menjadi pilihannya.


"Baik, akan saya siapkan." Pegawai itu langsung membuat nota untuk Aditya.


"Baik Pak, jumlahnya dua puluh empat juta tujuh ratus ribu rupiah (24.700.000), pembayaran bisa cash, credit, juga debit," Jelas pegawai itu.


"Bayar lunas" Aditya mengeluarkan kartu gold prioritas nya.


Tanpa aba-aba pegawai itu langsung melakukan pembayarannya secara lancar, dan mengembalikan kartu milik Aditya. Dengan ramah ia mengucapkan terimakasih.


Aditya pun meninggalkan toko perhiasan itu. Pak Gun bahkan tidak berkomentar samasekali sedari tadi. Menatap bos muda nya ini, dengan mudah mengeluarkan uang. Yang membuat pak Gun penasaran, siapa wanita yang dimaksud calon mami dari anak-anak nya. Kata-kata calon mami itu, terngiang-ngiang ditelinga pak Gun.


Karena dia harus melaporkan apapun pada Tuan dan Nyonya besar, perihal yang dilakukan bos mudanya.


Aditya dengan pede sekali berdiri di depan lobby luar mall itu, sedangkan pak Gun mengambil mobil yang ia parkir.


Masih dengan mengenakan kacamata nya, juga baju pasien. Tetap saja tatap gadis-gadis yang melihatnya menjadikan dia objek peremajaan mata.

__ADS_1


Ditambah lirikan beberapa gadis, selain tertuju pada wajah tampan Aditya. Juga tertuju pada paper bag kecil yang dipegang lelaki itu. Paper bag yang terkenal, yang pasti diidamkan para perempuan yang mengerti merk dan trend.


Hal itu membuat Aditya risih dan merinding, di otaknya hanya ada Nandin. Perempuan apa adanya yang bahkan tidak peduli status sosial nya.


Pak Gun memberhentikan mobilnya tepat di depan Aditya berdiri, hanya dengan beberapa langkah Aditya langsung memasuki mobilnya.


hampir saja beberapa gadis histeris, dan berusaha mencari tahu siapa lelaki tampan, yang berdiri dihadapan mereka.


"Pak, sekarang kita pergi kemana?" Tanya pak Gun.


"Rumah sakit Platinum, pak" jawab Aditya.


"Apa bapak tidak masuk kerja hari ini?" Lanjut pak Gun.


"Tidak! Saya ada urusan. Bisakan pak Gun mengerjakannya untuk saya?" Bujuk Aditya, yang tidak mampu ditahan pak Gun.


"Siap, sedia pak" jawab tegas, pak Gun.


Akhirnya Aditya sampai di depan rumah sakit. ia turun dan tidak lupa pamit pada pak Gun. Yang harus segera menyediakan materi untuk rapat nya di mall tadi.


Baru Aditya melangkahkan kakinya kedalam lobby rumah sakit, suara seseorang membuatnya terkejut. "Aditya?"


Aditya hanya terpaku. "Mamah" jawab Aditya, sorot matanya berubah menjadi merah.


Aditya tidak menyangka, bisa bertemu ibu Nandin di rumah sakit.


Ibu Nandin, adalah wanita lain yang menangis akibat ulahnya. Bayangannya akan kecelakaan yang menewaskan Ayah Nandin terngiang lagi.


Rasa bersalahnya pada ibu Nandin kiat menyergap, Karenanya Nandin menjadi menderita.


Ia harus kehilangan ayahnya, juga ditelantarkan ibunya. Jika bukan karenanya, Nandin tidak akan melewati hal sekejam ini dalam hidupnya.


Aditya merasa ingin berlari, tapi tatap ibu Nandin semakin tajam.


Ikuti kisah selanjutnya ya Kakak. kiw cus


**Jangan lupa ya di like,komen,juga vote guys. Sharanghe

__ADS_1


Andini_818**.


__ADS_2