
KEESOKAN harinya, Aditya memutuskan mendatangi rumah Riko, karena merasa hubungan kekeluargaan mereka sedikit renggang.
Aditya dipersilahkan masuk begitu ketukan pertama di pintu rumah Riko, asisten rumah tangga membukakan pintu.
"Den Adit, silahkan masuk," ucap asisten rumah tangga itu.
"Iya, riko ada di rumah?" tanya Aditya.
"Ada Den, tapi tidak keluar kamar dari kemarin," jelasnya!
Suara pintu lain di ruangan itu terdengar terbuka, Ibu Dokter Riko datang," Dit, ayo masuk nak," ucapnya lirih, karena baru keluar dari rumah sakit.
"Tante sudah pulang," tanya Aditya, dan menyalami tante nya itu.
'"iya kemarin malam, cobalah kamu bujuk Riko untuk makan. Dari kemarin dia sama sekali tidak makan," pinta tantenya!
Aditya mengangguk dan langsung menuju kamar Riko, pintunya yang tidak dikunci membuat ruangan itu terbuka ,begitu Aditya memegang handle pintu.
Aditya sedikit terkejut melihat Riko yang tidur menyamping,dengan mata terbuka. Menghadap foto besar yang terpampang dikamarnya, foto Nandin.
"Rik," ucap Aditya, membuat Riko terbangun dari posisinya.
"Hem," jawab Riko lirih.
Sebenarnya Aditya sedikit risih karena Riko masih menyimpan foto Nandin, apalagi dengan sebesar ini. Tapi kedatangannya hari ini untuk mensupport sepupunya itu.
"Gue denger Lo mau nikah?," lanjut Aditya.
Riko mengangguk pelan. " Lo cinta sama dia?" tanya Aditya lagi.
"Lo tau kan cinta gue buat siapa, jangan nanya hal yang tidak menarik" Riko ketus.
Menghadapi sikap Riko yang masih panas, Aditya menarik nafas dalam-dalam.
"Ko, gue tahu Lo belum bisa Nerima semua ini, gue juga ngerti Lo belum bisa melepas Nandin kan,?" Aditya menebak isi pikiran Riko.
Riko menatap Aditya.
"Ko, kemarin gue bawa Nandin ke rumah, bertemu Mama dan Ayah. Mereka memberikan izin untuku menikahi Nandin." Jelas Aditya.
Riko menatap Aditya tajam, hatinya sedikit panas tetapi pikirannya mulai tenang, sehingga dia dapat membendung emosinya.
"Benarkah, om Sakseno dan Tante Keira merestui hubungan kalian?" ucap Riko.
Aditya mengangguk. "gue Dateng kesini bukan sebagai pacar Nandin, tapi sebagai sepupu Rik," Aditya menepuk pundak sepupunya itu.
"Dit, gue percaya lo bisa jaga Nandin, jangan sampai Lo kehilangan dia lagi. Besok gue nikah sama Seila, tapi kemarin gue bilang ke Nandin buat Dateng ke pernikahan gue," Riko mulai berbicara sebagai sepupu.
__ADS_1
"iya gue tahu, Nandin cerita kemarin. besok gue juga pasti Dateng sama dia," jelas Aditya!
Riko terlihat sangat prustasi, sikapnya yang lesu juga keadaannya yang mengkhawatirkan.
***
***
Matahari kembali menyingsing, lebih cerah dari biasanya keluarga Seila tampak sudah bersiap dan hadir di Aula sebuah hotel ternama untuk menyaksikan ijab kabul putrinya itu, tetapi hanya keluarga inti saja yang hadir. Juga keluarga Riko yang mengenakan pakaian seragam serimbit.
Juga hadir pak Sakseno dan nyonya Keira, mereka tidak mau melewatkan pernikahan ponakannya itu.
"Pak apa bisa dimulai sekarang ijab kabulnya?" tanya penghulu.
Riko masih melirik semua anggota keluarga yang hadir, tetapi tidak menemukan yang ia cari.
"Rik kamu cari siapa?" Tanya Seila pada calon suaminya itu,
"Nandin ku," jawab Riko pasti!
"Rik, kamu sadar kita akan menikah," ucap Seila dengan memegang satu tangan Riko.
"Aku tidak mencintaimu," jawaban Riko menusuk jantung Seila.
Tidak lama, pintu aula itu terbuka, Aditya datang mengenakan batik dan celana hitam juga sepatu mengkilap. Disebelahnya seorang wanita cantik, dengan kebaya berwarna peach juga riasan yang membuat wajahnya semakin cantik, siapa lagi kalau bukan Nandin.
Riko tidak berhenti menatap gadis itu, sebuah perasaan ingin berlari kembali muncul dibenaknya.
Nandin duduk di barisan depan disamping ibu Riko, sedangkan ayahnya Riko duduk di meja saksi bersama penghulu juga ayah Seila.
"Bagaimana, sudah bisa dimulai?" tanya penghulu kesekian kali.
"Ya bisa pak," kini ayah Riko yang menjawab. Mengetahui siapa yang ditunggu putranya, kini sudah datang.
Ayah Seila saja yang kini tidak terlihat hadir di ruangan itu, sehingga yang menikah kannya adalah wali hakim.
Upacara ijab kabul pun di mulai.
Tangan Riko kini siap menerima hak nya sebagai suami Seila. "Saya nikahkan dan kawinkan Seila putri dengan Riko Mahardika dengan maskawin uang sepuluh ribu dollar amerika dibayar kontan,"
"Saya terima nikah dan kawinnya Nandin Heriawan," Riko tersadar karena salah pengucapan.
Keluarga yang hadir pun saling bisik, Nandin menjadi pusat perhatian saat itu juga. Ibu Riko menitikan airmatanya, sedangkan Aditya melirik kekasihnya itu.
Bagaimana bisa Riko salah menyebut nama, sedangkan pelafalan sudah dicontohkan.
Saat itu juga Seila, menahan amarahnya. Raut wajahnya berubah menjadi merah padam. Tangannya meremas ujung kebaya putih yang dikenakannya.
__ADS_1
Nandin memandang Riko dengan lekat, Riko juga sebaliknya. Nandin menganggukkan kepalanya ke arah Riko, saat itu juga hati Riko perih, Nandin benar-benar melepasnya.
Lalu penghulu mengulang kata-katanya,
Riko memegang tangan yang menyalaminya dengan dua tangan. "Saya terima nikah dan kawinnya Seila putri dengan maskawin uang sepuluh ribu dollar Amerika dibayar kontan,"
"Sah" ucap para saksi yang hadir.
Semua keluarga yang hadir pun mengaminkan juga memanjatkan doa.
Nandin lega akhirnya Riko menikahi Seila, ia mengira Riko akan berbuat macam-macam.
Seila menyalami tangan Riko, tetapi Riko tidak mencium Seila seperti akad nikah pada umumnya.
Tiba lah pada acara terakhir dimana semua tamu yang hadir menyalami kedua mempelai. Nandin mendekat bersama Aditya bebarengan pada pengantin.
"Selamat ya Rik," ucap Aditya, sebari menyalami sepupunya itu, lalu menyalami Seila.
"Selamat ya mas,semoga mas menjadi suami yang bertanggung jawab," Nandin menyalami Riko, dan mengucapkan kiasan kata.
Riko tidak berkata-kata begitu menerima uluran tangan Nandin, tubuhnya lemas dan tiba-tiba ambruk.
Nandin yang berada didepannya langsung berteriak, dan membuat semua yang hadir meliriknya. Aditya langsung bergegas menggendong sepupunya itu, dibantu oleh keluarga lainnya yang ikut panik.
Seila tampak biasa-biasa saja, padahal Nandin dan yang lainnya terlihat sangat cemas akan keadaan Riko.
Nandin pun ikut ke rumah sakit bersama Aditya, Riko langsung mendapat kamar rawat sendiri karena koneksinya di rumah sakit itu.
Suasana pernikahan itu dibumbui suasana yang sedih,
Di rumah sakit, ibu Dokter Riko dan ayahnya datang belakangan. Nandin langsung memeluk ibu Dokter Riko menenangkan nya.
"Apa kata Dokter Din?" tanya wanita paruh baya itu.
"Mas Riko kecapean Ma, kurang istirahat,"
"Mama sudah menduga, Riko bahkan tidak tidur dan makan sudah dua hari, mama sangat khawatir," ucap ibu Riko.
Mendengar kekhawatiran ibu dokter Riko, Nandin sangat sedih dan merasa ingin menemani wanita itu.
Nandin pun meminta izin pada Aditya, untunglah Aditya mengerti posisinya. Dan mengizinkan Nandin menemani tantenya itu!
***Aku lagi ada give away Loh guys....
segera ikuti ya, dengan cara Like dan komen yang menarik.
info lengkap di Instagram ku. ANDINI_818***
__ADS_1