
Suara bunyi bunyian yang mengganggu pendengaran Tama mau tidak mau membuat nya membuka kelopak mata nya yang berat dan masih terpejam. Ia menggerakkan badan nya dari tidur nya lalu dengan paksa mengibaskan selimut yang menutupi tubuh nya. Melangkahkan kaki menuju sumber bunyi. Dan seketika pikiran nya kembali jernih setelah melirik jam dinding yang masih menunjukan pukul 04.30. "Siapa yang sedang mengobrak abrik rumah ku?" Lirih Tama dalam hati, dan memicingkan matanya.
Pikiran Tama yang sudah negatif pun membuat nya melangkah pelan pelan dan mengambil tongkat bisbol yang ada di ruang tamu. Dengan berjalan memindik dia terus memikirkan hal negatif. Tama berteriak dan mengayunkan tongkat bisbol nya. "Siapa kau?" Tongkat bisbol itu mengayun dan menghasilkan bunyi dug membentur kepala seseorang yang dipukul Tama.
Seseorang itu membalikan diri setelah kepalanya dipukul, tidak mengucap apapun selain memegangi kepalanya yang tiba tiba mengeluarkan darah melewati hidung nya lalu badan nya terjatuh ke lantai. Tama begitu shock dan kaget mendapati orang itu pingsan di depan nya. "Kakak, kak bangun kak." Suara Tama yang emosi tadi berubah menjadi suara ke khawatiran. Seseorang yang ia pukul adalah Kakak nya karena Nandin memakai topi dan baju gombrang Tama tidak bisa membedakan kakak nya ditambah jam yang masih menunjukan jam pagi sekali.
Tama mengangkat tubuh kakak nya ke atas kursi. Bingung harus melakukan apa akhirnya Tama menelpon Aditya. Beberapa kali Tama memanggilnya sampai akhirnya telpon nya tersambung. "Kak hallo kak Adit, tolong kak, kak Nandin pingsan." Suara Tama masih dengan gentar.
"Suara dibalik telpon itu tidak kalah kaget. "Kenapa? ada apa?." Suara Aditya terlampau lebih kaget dari Tama. Suara telpon itu kemudian langsung mati begitu saja. Mendapati telpon nya mati Tama berpikir kemungkinan Aditya masih pulas tertidur.
Tama mengambil Lap dan membasahi nya dengan air. Lalu mengelap darah di kening dan wajah kakak nya sambil menggoyang goyangkan tubuh kakak nya sambil menangis.
Tidak lama kemudian suara ketukan pintu membuyarkan tangisan Tama. Dia berjalan membuka kunci dan menarik pegangan pintu. "kak Adit, aku kira kakak masih tidur." Jawab Tama terisak.
Mendapati Tama yang menangis sesenggukan membuat pikiran Aditya makin negatif. "Mana kakak?."
"Ituh kak."
Melihat gadis itu tergeletak di atas kursi membuat Aditya berhambur mendekati nya. Melihat darah yang mengalir di kepalanya membuat Aditya panik dan tidak sempat bertanya apapun. "Ayo kita ke Rumah Sakit." Aditya mengangkat tubuh gadis itu dan menidurkan nya dikursi tengah mobilnya dibantu Tama. Tanpa pikir panjang mobil nya melaju dengan cepat. Dikarenakan jam masih pagi sekali jalanan cukup lenggang membuat Aditya lebih leluasa menancap gas nya.
Dikursi tengah Tama melanjutkan tangisan nya yang makin meraung membuat Aditya panik. "Kak bangun kak." Tama terus berbicara dan memegangi kepala kakak nya yang ditahan lap untuk menghentikan darah yang mengalir.
Tidak butuh waktu lama, Aditya sudah berhasil berhenti di depan Rumah Sakit. Suster yang berjaga di bagian depan pun langsung menjadi sasaran Aditya meminta bantuan tanggap darurat setelah ia keluar dan membanting pintu mobilnya. "Sus tolong ada yang terluka parah."
Karena suasana Rumah Sakit tidak ramai. Ucapan Aditya pun menjadi prioritas.
__ADS_1
Beberapa suster mengambil mendorong brankar untuk menjemput Nandin yang masih berada di mobil Aditya. Dan dengan gesit Aditya menggendongnya dan memindahkan nya ke atas brankar itu. Kemudian para suster mendorong nya dengan jalan cepat dan masuk ke ruangan UGD. Tama dan Aditya yang ijin mendorong brankar tidak bisa ikut masuk ke ruangan UGD karena itu udah SOP setiap Rumah Sakit agar tidak mengganggu pengecekan pasien untuk menghindari shock dari keluarga yang kemungkinan mengganggu fokus dokter dan perawat dalam memberi tindakan pertama.
"Dek." Aditya menepuk pundak Tama dan mengajak nya duduk di ruang tunggu.
Tama melirik Aditya. "Kak Adit, kak Nandin akan baik-baik ajah kan?."
Aditya yang mendapat pertanyaan Tama berusaha menenangkan padahal pikiran nya juga sangat berkecamuk memikirkan keadaan gadis itu. "Iya kita berdo'a ya." Ucap Aditya menenabgkan Tama.
Setelah beberapa lama akhirnya Seorang Dokter dan perawat keluar dari ruangan UGD, Aditya langsung berdiri dan menghampiri Dokter itu di ikuti Tama. "Dok gimana keadaan pasien?." Aditya langsung to the point.
"Syukurlah darah nya sudah berhenti saya sudah menjahit nya, tapi pasien harus banyak istirahat karena kehilangan cukup banyak darah."
"Syukurlah Dok."
"Tapi untunglah luka nya tidak terlalu lebar sepertinya pukulan benda tumpul bukan benda tajam." Ucap Dokter itu.
"Oh begitu. Maaf saya berargument begitu. Saya kira itu akibat pukulan karena pukulan nya tepat di atas kepala."
Aditya menganggukkan kepalanya. Dan Dokter itu pergi melangkah kan kaki setelah menyelesaikan pekerjaan nya.
Aditya mulai berpikir. Jatuh dengan gaya apa yang mengakibatkan luka di atas kepala. Dia langsung bertanya pada Tama. "Dek kakak jatuh dimana?."
Tama mengernyitkan kepalanya dan menggigit bibirnya. "Aku kira ada orang yang masuk ke rumah kami kak. Terus aku ambil tomat bisbol dan mukul orang itu."
"Kapan Tam? terus apa kalian enggak apa apa?."
__ADS_1
Tama menatap Aditya dalam dalam. Aditya menatap Tama dengan khawatir.
Setelah beberapa saat saling menatap. Aditya mengerti dan memegangi atas kepalanya dengan canggung memperlihatkan pada Tama lalu mengangkat alis nya, menandakan iya atau bukan.
Tama mengangguk dan menepuk wajah nya.
Aditya mengulum senyumnya. Tanpa bertanya lagi pada Tama. Adik mantan kekasihnya itu sepertinya masih shock.
Lalu Tama dan Aditya masuk ke ruangan Nandin berada. Gadis itu belum juga siuman. Tama seebasalah menatap kakak nya yang terbaring di atas kasur pasien.
Suster masuk ke dalam ruangan UGD. "Pak maaf pasien mau dipindahkan ke ruangan rawat jalan." Ucap suster yang tadi menangani Nandin.
Aditya mengangguk dan membantu suster itu. Lalu mengikuti suster itu ke ruangan lain yang dituju di ikuti Tama dengan langkah gontai dan masih memakai baju tidurnya.
Setelah berada di ruangan lain. Suster itu izin keluar karena telah menyelesaikan pekerjaan nya. Tidak lupa ucapan terimakasih terlontar dari mulut Aditya.
"Dek istirahat gih." Aditya menunjuk sofa panjang di ujung ruangan ruangan itu.
"Tapi kak."
Belum sempat Tama melanjutkan ucapan nya Aditya menjawab. "Biar kakak yang jaga kak Nandin ya."
Tama melangkahkan kaki nya dan merebahkan diri di atas sofa itu. Karena jam masih menunjukan pukul 05.59 masih cukup pagi untuk terbangun. Aditya tidak berhenti menatap gadis yang terbaring di depan nya. Dengan tangan canggung memberanikan diri memegangi tangan gadis itu yang tertusuk jarum dan selang yang mengaliri cairan infus ke tubuh nya.
Tanpa ucapan. Tatapan Aditya sudah mengandung banyak sekali arti. Jika saja manusia lebih pintar menerka bahwa sikap lebih baik daripada ucapan. Kemungkinan salah paham tidak akan pernah terjadi.
__ADS_1
Tatapan manusia itu mengandung arti. Mengartikan sikap dan isi hatinya. Tatapan Aditya sekarang mengandung banyak cinta dan perasaan yang tidak mampu di ungkapkan.