
Tama datang, anak remaja itu kini akan tinggal di rumah mewah milik Aditya dan juga kakaknya. Sebenarnya Tama memutuskan tinggal sendiri di rumahnya, tapi bagaimana mungkin, Nandin pasti akan sedih.
Bujukan Aditya memang selalu meluluh lantahkan siapapun.
"Hai dek," Sapa Aditya, begitu Tama datang menggeret kopernya.
"Hai kak, kak Nandin kemana?" tanya Tama, melihat kakak iparnya itu hanya turun sendirian dari lantai dua.
"Kak Nandin tidur."Jawab Aditya.
Pandangan Tama tertuju pada kakak iparnya itu.
"Jangan mikir macem-macem, kak Nandin tadi ketiduran diruang kerja kakak, dia masih mengantuk sepertinya." Jelas Aditya,mengerti maksud tatapan adik ipar nya itu.
Tama pun mengangguk.
"Ran, Yun. Tolong anter Den Tama ke kamarnya." Titah Aditya pada kedua asistennya yang masih muda itu.
"Baik tuan muda." jawab kedua asistennya itu, dan Rani langsung membantu Tama membawakan kopernya.
"Tidak apa-apa, saya bisa sendiri. Terimakasih!" jawab Tama, dan menarik kopernya sendiri.
Rani dan Yuni pun mengantar adik ipar Aditya ituh ke kamarnya. "Ini Den kamarnya," ucap Rani.
"Den mau saya anter makanan ke kamar? atau mau disiapkan di meja makan?" kini Yuni mengajukan pertanyaan.
"Terimakasih ya. Saya nanti keluar kalau mau makan, mau istirahat dulu." jawab Tama!
Rani dan Yuni pun mengundurkan diri dari kamar Tama, meninggalkan anak remaja itu.
Tama memperhatikan setiap sudut kamar barunya, interior bak hotel bintang lima ituh, membuatnya merindukan rumah.
"Ran, astaga Tuhan memang adil. Setelah tuan muda menemukan jodohnya, Tuhan hadirkan pangeran yang tak kalah tampan dirumah ini." ucap Yuni, sebari tangannya menyentuh dada, dan pandangannya memandang jauh.
"Hus, maksudmu den Tama?"
"Ya iyalah, masa mang Asep." jawab Yuni.
Ketampanan dan juga sopan santun Tama memang membuat orang segan padanya, didikan Nandin ternyata membuahkan hasil yang indah.
Aditya sibuk dengan laptopnya, kembali menyelesaikan pekerjaannya. Nandin bangun dari tidurnya, dan tidak mendapati suaminya dikamar.
__ADS_1
Ia menapaki anak tangga menuju lantai satu. Tama juga baru membuka pintu kamarnya. Nandin langsung berlari dan berhambur ke pelukan adik kesayangannya itu.
"Dek, kamu sudah datang?" Nandin seperti berpisah lama, padahal baru dua hari ia tidak bertemu adiknya itu.
"Iya kak, ih adek malu tahu." ucap Tama, memegang rambutnya,
"Malu sama siapa?" tanya Nandin.
Nandin melirik orang-orang yang ada disana, Rani dan Yuni sedang menyiapkan makan.
"Ran, Yun. Liat den Aditya?" tanya Nandin.
"Iya Non, tadi di ruang kerjanya." jawab Yuni.
Nandin pun mengangguk. Sebenarnya jika nyonya Keira tahu mungkin ia akan marah, karena sudah memperingatkan para pegawai untuk memanggil Aditya dan menantunya itu, dengan sebutan tuan muda dan nyonya muda.
Tetapi Nandin tidak menyukainya. Rasanya terlalu bagaimana gituh, di usianya yang masih muda. Sebutan Non saja sebenarnya sudah membuatnya sedikit tidak nyaman.
Nandin berjalan menuju ruangan kerja suaminya, ternyata Aditya tertidur di atas meja kerjanya dengan wajah menelungkup.
Nandin mengusap kepala suaminya dan replek Aditya memegangi tangan istrinya itu. Dan mengangkat wajahnya "Aku mengganggu tidurmu ya?" tanya Nandin, balik menatap suaminya itu.
"Tidak, aku bahkan suka saat kamu membuatku terjaga. Malam lama sekali ya sayang?" jawab Aditya.
"Ayo kita makan," Nandin mengajak suaminya keluar dari ruangan kerja.
Kini Nandin, Aditya dan Tama berada di meja makan yang sama. Sebelumnya Nandin sudah memperingatkan Tama, bahwa Aditya tidak menyukai keributan saat makan.
Disela-sela makan, Aditya memperhatikan Tama dan Nandin. Yang hanya fokus pada piring nasi mereka. Aditya merasa Nandin dan Tama, tahu kebiasaannya.
"Sayang, Dek. Biasa saja, kakak juga gak terlalu suka makan sangat senyap. Berbeda dengan kalian, kakak hanya gak bisa makan dengan orang lain, bukan dengan orang tersayang." ucap Aditya.
Kata-kata kakak iparnya itu, membuat Tama tersenyum lalu menganggukan kepalanya.
Selesai makan, Nandin,Aditya dan Tama. Berkumpul di ruang keluarga untuk menonton tv. Sampai tak terasa waktu berlalu.
"Kak, adek tidur ya. Besok kan sekolah!" ucap Tama, dengan wajah yang kusut, mungkin memang sudah mengantuk.
"Jangan lupa sholat dulu," ucap Nandin.
Tama mengiyakan dan berlalu.
__ADS_1
"Sayang, sholat yuk" Ajak Nandin pada suaminya.
Aditya pun mengiyakan.
Nandin dan Aditya naik ke kamarnya, dan melaksanakan shalat berjamaah. Tidak lupa berdo'a setelah shalat mereka, kecupan Nandin pada tangan suaminya pun dibalas dengan kecupan dikening Nandin.
Setelah membenahi sejadah dan mukena yang dikenakannya. Nandin berganti pakaian dengan lingerie super seksi.
Aditya tidak menyangka, apa yang dikenakan istrinya. Menjadi sesuatu yang membuatnya tergugah.
Mereka berdua naik ke atas kasur dan menutup setengah badannya dengan selimut, lalu menyandarkan tubuhnya di kasur, dan menyalakan televisi.
Adegan manis yang sedang diputar kebetulan film drakor yang menyuguhkan ciuman mesra. Suasana itu membuat Aditya kalang kabut, ia mau tapi malu.
"Aduh panas sekali." ucap Aditya dan mengurangi angka pendingin ruangannya itu.
Nandin tahu suaminya itu sedang menahan sesuatu yang sudah menyeruak di dalam dirinya.
Tanpa aba-aba, Nandin mendekat ke arah suaminya. Menyandarkan kepalanya di bahunya. Aditya kembali mendapatkan kepercayaan dirinya.
Tanpa izin pula kecupan bibirnya langsung berbalik menyerang Nandin,membuat kepala Nandin semakin tersandar kebelakang.
Lama kelamaan badannya terus merosot dan akhirnya terlentang, Aditya menarik selimut yang tadinya setengah badan, kini menutupi tubuh mereka.
Satu demi satu yang dikenakan istrinya itu sudah ia hempaskan dari tempatnya. Juga semua yang ia kenakan.
Pertempuran malam ini benar-benar tidak di sia-siakan Aditya. Suara sedikit tangis terdengar malam itu. Aditya tahu istrinya sedikit kesakitan saat menuntaskan kewajibannya, tapi Aditya tidak memberi ampun malam itu.
Malam yang panas pun semakin panas dibalik selimut tebal itu, pendingin ruangan tidak lagi bisa menahan keringat yang bercucuran.
"Terimakasih! Sayang!" Suara bisikan mesra, terdengar dari mulut Aditya di telinga Nandin. Kecupan pun meluncur di kening gadis itu.
Aditya memeluk istrinya yang menggemaskan, Nandin tidak banyak bicara. Dekapan suami ya sudah cukup sangat nyaman!
Hingga tanpa kata, tidurnya semakin lelap di dada suaminya. Aditya pun mendekap istrinya yang berada di pelukannya.
Kedua insan suami istri itu, kini sedang terbuai kebahagiaan. Aditya tidak menyangka benar-benar mendapatkan hari yang spesial ini. Istrinya ternyata sangat luar biasa.
Melihat istrinya yang tertidur kelelahan menerima pertempuran itu, Aditya menjadi tidak tega jika harus menggas kembali aksinya.
"Nandin ku, sayangku, istriku. I love you." Aditya kembali mengecup kening istrinya, tidak berhenti bersyukur karena memilikinya.
__ADS_1
Akhirnya ia juga tertidur pulas.
Siapa yang tidak bahagia dengan malam pertama yang penuh cinta?