
Jam pulang kerja sudah tiba aku memutus kan cepat pulang karena takut Tama membutuh kan sesuatu.
Setiba nya di depan rumah aku kaget karena ada mobil dokter Riko terparkir di depan rumah.
"Assalamualaikum," sapa ku sebari mengetuk pintu sekali karena posisi pintu terbuka
..
"walaikumsalam ,"jawab Tama dan Dokter Riko bebarengan.
"Hai Din, baru pulang," sapa Dokter Riko
"iya Dok, saya buatkan minum ya,"lanjut ku karena meja masih kosong
"tidak apa apa Din, merepotkan"jawab Dokter Riko.
"tidak apa apa Dok"jawab ku
Aku lalu kebelakang untuk membuatkan minuman untuk Dokter Riko, saat aku kembali Tama sudah tidak ada di ruang tamu.
"Silahkan Dok, Tama kemana ya,"ucap ku sebari menaruh minuman di atas meja
"Di bilang mau istirahat tadi,"jawab Dokter Riko
"oh begitu Dok,"jawab ku
Aku sedikit canggung berbicara berdua dengan Dokter Riko, dia juga sepertinya baru pulang kerja karena aku sudah terbiasa dengan gaya Dokter Riko saat di rumah sakit dan rumah.
Wangi parfum nya bisa menembus hidung , segar, Dokter Riko juga tipikal lelaki yang cukup sopan bagiku,
"Din," dokter Riko membuka pertanyaan
"iya Dok,"jawab ku memutar pandangan kepadanya
"Tolong panggil saja mas Riko, lagian kan kita ini pasangan dan bukan di rumah sakit" kata dokter Riko
Aku tertegun mendengar kata pasangan dari mulut Dokter Riko, aku pun sedikit salah tingkah bahkan aku sampai meminum minuman yang aku sediakan untuk Dokter Riko.
"Din," kata Dokter Riko
__ADS_1
"iya Dok,eh Mas Riko,maaf saya masih canggung tentang kata pasangan meskipun kita hanya pasangan kontrak ,"Jawa ku
"iya Din maaf sebelum nya tentang itu,tapi kamu membuat teh untuk siapa?," tanya Dokter Riko
"Astagfirulloh,"aku menyadari bahwa ini benar benar diluar dugaan bagaimana aku bisa meminum minuman yang ku buat kan untuk Dokter Riko.
Aku meminta maaf pada dokter Riko atas tragedi teh ini ,dan Dokter Riko hanya tertawa .
Aku menawarkan diri untuk membuat lagi, tetapi Dokter Riko menolak nya,sungguh aku merasa tidak nyaman.
Hujan tiba tiba turun terdengar menyeruak, angin dingin pun mulai membuat badan ku sedikit kedinginan.
Aku memegang siku siku ku dengan jari tangan ku,menandakan ini memang mulai sangat dingin apalagi pintu rumah terbuka.
Sungguh ini posisi yang canggung, dan tiba tiba... deg
"Din, boleh aku bilang sesuatu?,"ucap Dokter rikoy
"Iya silahkan mas,"jawab ku
"besok kita akan bertemu nenek ku,bisa kah kita melakukan adegan seperti bepegangan tangan?,"ucap Dokter riko
"Din,sapa Dokter Riko membuyarkan lamunan ku
"iya Dok, maaf saya ..
Belum selesai aku bicara dokter Riko memegang tangan ku, mata ku replek menatap nya, astaga mata nya sungguh menghipnotis ku bagaimana bisa jantungku bahkan seperti ingin berhenti
"Besok kita akan melakukan nya seperti ini ok Din,?,"lanjut Dokter Riko
"Ooooh iya mas Riko,"jawab ku gelagapan
Hujan masih gerimis Dokter Riko pamitan untuk pulang ,aku pun mengantar dokter Riko ke depan pagar sekalian akan pergi ke warung untuk membeli deterjen untuk mencuci, Dokter Riko menawarkan untuk bersama naik mobil nya .
"Din,kamu mau kemana?," tanya dokter Riko
"warung depan Dok,"jawab ku
"mari bareng nanti aku bisa anter lagi kesini ko, hujan inih,"kata Dokter Riko
__ADS_1
Aku canggung menjawab sudah terlalu sering aku menolak apa apa yang dia tawarkan sungguh bingung, tapi pikir ku ini hanya ke warung depan barangkali memang tidak merepotkan lagian gerimis pikirku.
"baik dok,terimakasih,"jawab ku sebari mengikuti Dokter Riko dan menaiki mobil nya
Warung yang ku tempuh sebenarnya tidak terlalu jauh ,karena itu kami juga kembali dengan cepat, sebelum turun aku memberikan sebuah minuman kepada dokter Riko untuk berterimakasih dan maaf atas minuman nya yang ku minum tadi.
"Mas ini untuk mas,"sebari aku menyodorkan minuman dingin uang ku beli tadi di warung
"terimakasih Din"jawab Dokter Riko sebari mengambil minuman yang ku ulurkan
Aku sadar ternyata hujan sangat besar, bunyi petir sungguh mengganggu karena aku takut sekali.
Dokter Riko melarang ku turun karena aku tidak pakai payung, suasana di dalam mobil sebenarnya nya AC tapi sungguh dadaku sesak seperti kepanasan ,ku lirik dokter Riko tersenyum melihat minuman pemberian ku.
Hujan tak kunjung berhenti, angin yang bertambah besar, air yang bertambah banyak sungguh seharus nya membuat dingin bukan sebalik nya..
"Din, "tanya Dokter Riko
"Ya mas, aku membalik badan ku ke kanan untuk mendengar lebih teliti karena suara hujan yang sedikit mengganggu pendengaran...
"biarkan aku menjadi seseorang yang berarti untukmu..
Ucapan Dokter Riko berhenti dan aku tak sempat menjawab, Dokter Riko mendekat bibir nya Sudah menempel di bibir ku dalam hitungan detik ,ketika aku sadar dan replek ingin menarik kepalaku Dokter Riko meletakan tangan nya di belakang kepalaku,sungguh ini posisi yang tidak bisa ku hindari meski ku berusaha mendorong dadanya, tapi apalah daya seorang perempuan, hujan di luar seperti beriak aku hanya bisa membuka mataku dan melihat mata dokter Riko terpejam, aku melihat ujung mata nya mengeluarkan air mata , aku pun tidak bergerak lagi karna seketika terdiam melihat kejadian itu lalu dokter Riko membuka mata dan giliran ku yang memejamkan mata, aku merasa bibir kami terlepas perlahan aku merasakan sapuaan lembut bibir dokter riko.
Aku sungguh salah tingkah, aku ingin berlari setelah kejadian ini tapi diluar masih hujan besar, ku lirik dokter Riko pun seperti salah tingkah dan memegang setir mobil nya.
Aku memegang bibir ku sendiri, aku bahkan terpaku ini nyata atau tidak, sungguh ini membuat kami canggung.
"Din, maafkan aku," Dokter Riko buka suara
"hemmm,"jawab ku hanya segitu aku bahkan tak tahu apa yang harus aku katakan ini diluar dugaan ku terhadap dokter Riko
"Din,aku serius tentang ucapan ku tadi berikan aku kesempatan ,"Lanjut Dokter Riko
Aku masih mencerna semua kejadian yang baru ku alami sungguh ini membuat ku seperti ingin berhenti bernapas dan memberhentikan detak jantungku.
"Mas kita bahas nanti ya, aku belum bisa memikirkan apapun"jawab ku
Untung lah hujan berhenti di waktu yang tepat , aku keluar mobil tanpa mengucapkan apapun kepada Dokter Riko,
__ADS_1
sungguh posisi ini benar benar membuat ku tidak bisa berpikir dan mencerna ucapan dengan baik, bahkan di depan dokter Riko tadi aku tidak bisa menjawab karena permainan kata di dalam mulut ku seperti terhalangi sesuatu, lidah ku kelu