LELAKI IMPIAN

LELAKI IMPIAN
IZIN DARI NANDIN !


__ADS_3

Riko memutuskan menemui Seila di apartemennya. Raga yang menuju pada Seila tidak diiringi hatinya.


Riko menekan bel apartemen Seila! Apartemen elit yang dilengkapi segala pasilitas nya. Layar monitor dibalik pintunya bisa mengetahui siapa yang datang.


Seila membukakan pintu, Riko yang mematung menatap ruangan apartemen Seila membuatnya menyesal mendatangi tempat itu dulu. "Andai aku tidak pernah kesini, andai aku tidak melakukan kesalahan. Aku tidak harus menikahi orang lain." Ucap Riko dalam hati.


"Ada apa, Rik?'' tanya Seila, yang melihat Riko dengan tatapan kosongnya.


Membuat Riko tersadar.


"Ayo masuk," Ajak Seila!


Dengan berat hati Riko tetap melangkahkan kakinya memasuki apartemen Seila. Lalu duduk di kursi panjang mewah, menghadap ke layar televisi yang terpasang tepat di dinding didepannya.


Riko mengambil nafas panjang. "Aku memutuskan bertanggung jawab, Aku tak seharusnya melampiaskan kemarahan ku padamu. Maafkan aku," Riko menjelaskan kedatangannya.


Mendengar penuturan Riko, Seila tampah sangat antusias sekali. Diluar dugaan Riko, karena sebelumnya bahkan dia berencana pergi ke Australia.


"Aku akan menikahimu tanpa resepsi, kita akan menikah secara agama saja." lanjut Riko.


Seila tertegun mendengar pernyataan Riko. "Tapi Rik," ucap Seila.


Riko menatap dengan pasti pada perempuan itu. Tatapan tanpa suara tetapi mengisyaratkan banyak kata.


Melihat Riko menatapnya seperti itu Seila mengerti. "Baiklah Rik, kapan kita akan melaksanakan pernikahan kita?" tanya Seila kemudian.


"Lusa," Riko menjawab dengan tegas, tanpa embel-embel.


"Lusa?"


Riko berdiri dari tempatnya duduk, "Kamu siapkan apa yang mau kamu persiapkan, aku harus menyiapkan diri dan hatiku," ujar Riko, lalu kemudian keluar dari apartemen Seila.


Langkahnya tetap tegak, tetapi pandangannya kosong. Saat mengendarai mobilnya pun Riko sama sekali tidak bisa berkonsentrasi.


***


***


Nandin bersiap-siap sebelum dijemput Aditya. Beberapa kali berkaca didepan meja riasnya, memastikan wajahnya tidak aneh, karena memakai lipstik merah dan sedikit perona pipi.

__ADS_1


***


***


Suara ketukan pintu membuat Tama memaksakan diri beranjak dari depan televisi. "Mas Riko," ucap Tama begitu melihat tamu yang datang.


"Hai Tam, kamu sedang apa?," tanya Riko.


"Sedang lihat tv Mas, mau ketemu kak Nandin ya?" Tama langsung pada intinya, karena ia sudah hapal. Para lelaki yang datang pasti berurusan kakaknya.


Riko langsung mengangguk, begitu Tama mengerti maksud kedatangannya.


Tama berlalu dan memanggil kakaknya. "Kak, ada mas Riko di depan," ucap Tama begitu sampai di kamar kakaknya yang tidak di tutup pintunya.


Nandin menatap Tama dengan tatapan tajam. "Riko?" tanya Nandin. Memastikan adiknya tak asal bicara, mengingat orang yang akan ia temui adalah Aditya.


Dengan suasana hati yang aneh, Nandin tetap melangkahkan kakinya ke ruang tamu. Dan ternyata memang benar Riko sedang duduk disana. Wajahnya ditekuk juga kedua tangannya yang di rekatkan.


"Mas Riko, ada apa?" tanya Nandin, lalu duduk di samping Riko,tetapi berbeda kursi.


Riko menatap Nandin, tanpa berkedip. Menyadari gadis itu sangat cantik padahal dengan sedikit polesan.


"Mas?" ucapan Nandin membuyarkan tatapan Riko.


"Iya, katakan saja. Aku soalnya mau pergi,"


Dokter Riko menahan ucapannya, ia sebenarnya ingin sekali protektif. Dan ingin sekali bertanya kemana gadis itu akan pergi, tetapi batin Riko sudah tahu dengan siapa dia akan pergi.


"Aku tidak tahu penting atau tidak ini untuk dikatakan, tapi aku harap kamu percaya akan alasannya. Aku akan menikah dengan Seila lusa! Aku akan bertanggung jawab atas kesalahan itu." Riko berhenti berucap, pelupuk matanya panas.


"Aku benar-benar berat mengambil keputusan ini. Aku belum bisa melupakanmu, Aku juga tidak bisa memperjuangkan mu," Kini ucapannya diikuti aliran air mata yang mengalir dikedua pipinya.


Nandin bahkan tidak berucap. Ia juga tidak bisa menyalahkan Riko atas tindakannya, mengingat ia juga bermain hati dengan Aditya. Air mata gadis itu ikut keluar dari pelupuk matanya. Melihat lelaki yang pernah dicintainya, harus berkorban sebegitu jauh.


"Din, jika kamu minta aku untuk tidak menikahi Seila, aku akan kabur dari sini bahkan negara ini sekalipun. Mari pergi bersama," lanjut Dokter Riko.


Nandin membelalakkan matanya, tangannya kini berusaha menghapus air mata yang keluar. Lalu menarik nafas panjang. "Mas! Aku mohon, jangan berkata seperti itu. Jangan jadikan aku alasan untuk kabur dari tanggung jawab mu." ucap Nandin, meyakinkan Riko.


Riko menatap Nandin, "Apa karena Aditya?" tanya Riko.

__ADS_1


"Tidak, jangan salahkan oranglain. Sebagai orang dewasa Mas harus bisa menentukan keputusan mana yang baik dan tidak." Nada Nandin tegas,


Riko kini terisak dengan tangisnya, sebagai laki-laki ia tidak malu bercucuran air mata! Meskipun didepan wanita yang dicintainya.


"Apa kamu ingin aku menikahi Seila?" Riko bertanya kembali pada Nandin.


"Nikahilah, dia juga pasti sedang rapuh atas kesalahan ini. Ini adalah kesalahan kalian berdua,"


"Datanglah saat aku ijab kabul lusa, jika tidak aku akan anggap kamu menahan ku dan masih mencintaiku." Riko kini mengancam.


"Boleh aku jujur satu hal Mas?" ucap nandiny, sebari memainkan kukunya yang lentik dengan gusar.


"Apa?" Riko menunggu.


"Semenjak kamu pergi, hatiku sudah berubah. Aditya menempatkan diri didalamnya. Aku sadari aku juga salah, Hati manusia mudah berubah. Untuk itu aku meyakinkanmu hatimu perlahan akan berubah atas rasa tanggung jawab itu." Nandin menjelaskan panjang lebar.


"Bagaimana jika hati Aditya juga berubah?" jawaban Riko membuat Nandin membatu, pikirannya mulai diracuni atas ucapan mantan kekasihnya itu.


"Bagaimana jika akhirnya Aditya menyakitimu, bagaimana jika Aditya pergi meninggalkanmu? Menurutmu aku bisa ambil keputusan saat hal itu terjadi,l jika aku sudah bersama orang lain?" Riko membela alasannya.


"Jika hal itu terjadi, jangan membantuku. Jangan korbankan apapun lagi demi aku. Aku tidak mau siapapun tersakiti! Kamu ataupun Aditya." Nandin menjawab membuat Riko tidak berkata-kata.


Riko berusaha menenangkan dirinya. menarik nafas dan mengaturnya. Sikap keras kepala Nandin memang tidak ada tandingannya.


Dokter Riko memandang ke arah luar rumah gadis itu, memikirkan bagaimana bisa gadis muda seperti Nandin, tidak memikirkan luka apapun yang akan dihadapinya.


"Aku pulang dulu ya," Riko bangkit dari duduknya, tanpa menoleh ia mantaf melangkah kan kakinya.


Dengan pasti, Riko mengendarai mobilnya. Air mata nya sungguh tidak terbendung lagi. Ia sadar setelah bertemu Nandin, kesempatannya sungguh sudah sirna, bahkan jika saja gadis itu bilang iya satu kali saja, Riko akan membawanya pergi. Dan Takan mempedulikan apapun lagi.


***


Nandin merebahkan punggungnya bersandar pada kursi, pikirannya sedikit terganggu padahal ia akan pergi. Beberapa menit kemudian Aditya masuk kerumahnya tanpa mengetuk, karena pintu terbuka. "Assalamualaikum, Sayang!" ucap lelaki dengan rahang indah itu.


"Eh, walaikumsalam," Nandin langsung membenahi posisi duduknya.


Menyadari mata gadis itu sembab Aditya langsung duduk di sampingnya. "Sayang, kamu nangis?" Aditya panik,


Nandin malah melempar senyum picik, karena melihat Aditya yang khawatir.

__ADS_1


Ada give away dari author loh. cek di info di Instagram ku ya Andini_818.. cuss banyak hadiahnya loh


Jangan lupa like komen juga ya guys, dukungan kalian sungguh berarti bagiku. Iloveyou 💕💙Andini_818


__ADS_2