LELAKI IMPIAN

LELAKI IMPIAN
DOKTER RIKO SAKIT.


__ADS_3

Hari berikutnya berlalu dengan cepat. Nandin menghabiskan waktu dengan membuka website website penerima freelance untuk mendapat pendapatan demi menjalani hidupnya, tanpa keluar dari rumah.


Nandin menerima WA di Hp nya berisi pesan dari ibu dokter Riko.


"Sayang, Riko sakit semalam pingsan dia sekarang di Rumah Sakit, jangan panik ya" Isi WA ibu dokter Riko.


Sekita 5 menit pasca membaca WA itu tiba tiba terdengar suara ketukan pintu dibalik pintu kamar nya.


"Kak ada tamu. Harus kah aku suruh masuk atau ku suruh pulang?" Ucap Tama berteriak.


Nandin tampak menutup laptop nya, jantung nya masih berdebar debat akibat masih shock membaca WA dari ibu Dokter Riko. "Siapa?"


"Kak Aditya".


"Oh." Nandin bercampur aduk perasaan nya.


Dengan mengumpulkan semua pikiran yang masih mengganggu nya, tanpa sempat membalas WA ibu Dokter Riko Nandin pun keluar menemui Aditya.


Aditya tampak memperlihatkan senyum simpul nya saat melihat Nandin.


"Hai?"


"Hai."


Nandin yang membalas singkat membuat Aditya semakin merindukan gadis itu, gadis berambut lurus agak pirang dan sikap nya yang menenangkan.


"Aku kesini ingin menyampaikan pesan dari Riko"


Mendengar Aditya berbicara tentang Dokter Riko membuat Nandin fokus dengan mata bertanya.


"Din, Riko menghawatirkan mu, karena kqmu tidak membalas pesan nya dari semalam. Tadi pagi dia pingsan dan di bawa ke Rumah Sakit, aku kesini menyampaikan pesan itu saja"


Nandin tampak gemetar dan air matanya meleleh, tangan nya menggenggam lutut nya sendiri.


"Lalu bagaimana keadaan Mas Riko"


"Apa kamu se cemas itu Din?"


Nandin mengerutkan kening mendengar pertanyaan Aditya, sudah jelas ia khawatir sekali pikiran nya sedang berkecamuk.


"Jadi kamu mau ke Rumah Sakit?"


Nandin hanya langsung mengangguk, mengambil tas dan langsung pergi dengan Aditya ke Rumah Sakit tempat Riko di rawat.


Sesampai nya di Rumah Sakit, Nandin langsung tergesa gesa ingin segera ke kamar Dokter Riko berada tanpa mempedulikan Aditya. Mendapati kekasih nya terbaring lemas di atas kasur ia langsung berlari.


Kemudian memegangi tangan kekasih nya yang terdapat selang selang infus menusuk kulit tangan nya. Membuat gadis itu tak mampu menahan tangis nya


"Maaf maaf maaf kan aku Mas"


Mendapati kekasih nya menangis sebari memegangi tangan nya Dokter Riko terbangun.


"Hei sayang kamu kenapa nangis"

__ADS_1


Gadis itu hanya menggelengkan kepalanya dan tidak berhenti menangis.


"Aku tidak apa-apa hanya sedikit pusing saja"


"Kok pusing harus sampai di rawat kata Mama kamu pingsan"


"Sudah jangan nangis ya sini sini aku mau cerita sesuatu"


"Cerita apa kamu nya kaya gini"


"Ya udah sini dulu"


Riko memegangi tangan Nandin yang masih saja mengeluarkan air mata. Menyadari pemandangan itu Aditya keluar tanpa pamit.


Nandin duduk di samping ranjang Dokter Riko, menundukkan kepalanya melihat tangan kekasih nya yang di aliri selang membuat hati nya sakit sekali. Dokter Riko membenahi posisi nya menjadi duduk dan menyandarkan tubuh nya dibantu Nandin.


"Jangan nangis lagi ya, kamu gak cantik loh kalo nangis kaya gini"


"Maaf ya aku marah keterlaluan sampai gk bales pesan pesan Mas"


"Gak apa-apa mas hanya khawatir kenapa semalam kamu tiba tiba diam"


"Aku gak mau mas bahas sesuatu yang bikin mas sakit hati, jangan tanya lagi tentang apapun ya aku belajar buat sayang sama mas aja"


"Hei siapa ini yang lagi ngomong uh soswiet banget" Dokter Riko memajukan wajah nya menggoda Nandin yang sedang jujur dengan perkataan nya.


"Ah mas aku kan lagi serius," Gadis itu sedikit merajuk.


"Jangan nangis lagi ya mas enggak apa-apa kok"


"Dokter juga gak boleh sakit ya kasian pasien yang rindu sama Dokter Riko Mahardika"


"Kok pasien sih yang rindu, sayang enggak"


"Enggak" Jawab Nandin, membuat Dokter Riko balik merajuk.


"Enggak kelewat" Nandin mengucapkan nya dengan sangat manis.


"Mas Mama kemana" Nandin bertanya menyadari ibu dan ayah Dokter Riko tidak ada di kamar nya.


"Mama pulang dulu sayang aku suruh istirahat kasian jagain aku dari pagi"


"Ya udah aku jagain mas juga ya Sampe besok ok?"


Dokter Riko memegangi tangan kekasih nya memberi pengertian.


"Sayang, aku tahu niat mu baik sekali tapi sayang jangan bobo disini ya kan sayang juga baru pulih"


"Kok begitu terus nanti siapa yang jagain kamu" Nandin merajuk sedih.


"Aku sama Aditya sayang enggak apa apa ok"


Dengan berat hati Nandin mengiyakan ucapan kekasih nya dan izin pulang.

__ADS_1


"Sayang aku ada lupa sesuatu," Nandin membalik badan nya ketika izin akan pulang lalu mengecup kening kekasih nya penuh rasa sayang.


Dokter Riko tersenyum tiada henti saat bibir wanita nya itu menempel cukup lama dikening nya, lalu dengan pasti tangan nya memegang kedua lengan atas kekasih nya dan menatap nya dalam dalam lalu mengecup sebentar bibir gadis itu, Nandin pun membalas senyum manis nya.


"Cepat sembuh ya Batman ku"


"Kok Batman?"


"Itu panggilan sayang ku padamu, meskipun sedang sakit kamu masih memikirkan orang lain bagi ku kamu superhero, aku beri nama Batman Riko"


"Haruskah aku memanggil mu Catwoman?"


"Dengan senang hati" Nandin mengedipkan sebelah matanya.


Berat sepertinya untuk keduanya menghentikan percakapan, tapi Nandin tetap harus pulang dan melangkahkan kaki nya ke luar ruangan itu.


Seorang lelaki duduk di ruang tunggu dan menyapanya saat melirik ke arah nya. Aditya menunggu sedari tadi.


"Hei sudah mau pulang"


"Hei, sudah"


"Ayo aku antar"


"Tidak apa-apa aku pulang sendiri saja"


"Aku disuruh Riko untuk menjemput dan mengantar mu jangan rewel"


Nandin tidak berucap lagi dan mengikuti langkah Aditya yang memaksa mengantarkan nya pulang.


Di perjalanan pulang Nandin dan Aditya tidak berbicara hanya suara musik di mobil yang memutar lagu yang terdengar.


lirik yang terdengar membuat canggung.


***sampai kita tua, sampai jadi debu***


"Kamu kok tadi gak masuk" Nandin membuka percakapan.


"Takut ganggu" Jawab Aditya.


Jawaban Aditya membuat Nandin berhenti bertanya, hanya saja musik di mobil tetap terdengar. Sampai mereka sampai di depan rumah Nandin.


"Terimakasih ya"


"Sama sama"


Sebelum turun dari mobil Nandin menghentikan tangan nya untuk membuka pintu lalu berbalik,


"Dit, tolong jaga Riko ya, maaf harus merepotkan mu"


Aditya tampak menatap Nandin yang mengucap kan kata kata itu.


"Iya, lagian Riko juga sepupuku pasti bakal aku jagain" Aditya tampak menjawab sangat ketus.

__ADS_1


Rasa cemburu yang membakar dada Aditya walau dari ucapan saja, tidak mampu disembunyikan nya, ditambah perlakuan Nandin yang istimewa terhadap Dokter Riko sedari siang tadi.


Nandin pun hanya berdiri memikirkan ucapan ucapan Canggung nya yang takut melukai aditya, selagi menatap mobil Aditya pergi melaju dari penglihatan nya.


__ADS_2