
Semua yang terjadi di masa lalu mulai terbuka satu persatu mulai teringat satu per satu, Bukan perihal waktu tetapi ini tentang sakit yang lagi lagi memburu.
Jika saja kamu bukan orang nya
Jika saja kamu bukan pelakunya
bisa kah aku berdamai
dengan raga mau pun hati?.
Hari sudah berganti hanya tidur lah yang membuat Lupa sejenak akan luka yang menganga.
"Kak, kakak gak kerja," Tama mengetok pintu kamar Nandin
"Enggak de, gak enak badan," saut Nandin dari dalam kamar nya
Menyadari dia harus tetap bangun untuk menyiapkan sarapan, dengan terpaksa Nandin pun bangun dari tempat tidur nya.
Membuka kulkas memastikan ada apa saja di dalam lemari pendingin itu yang bisa di masak.
Nandin menghidangkan makanan seadanya di atas meja makan, goreng telur buncis di pakaikan kecap, sungguh sederhana tapi membuat siapapun yang melihatnya tergoda.
"Wah kak enak nih, mantaf," Ujar Tama sebari langsung mengambil nasi.
"Iya dek hanya ada ini kakak belum sempat belanja kan," jawab Nandin
"kakak enggak makan?," Tama berucap
"enggak dek kakak masak buat kamu ajah,"Lanjut Nandin
Tama pun memakan makanan nya dengan lahap.
Tama mencari kakak nya , karena sedari pagi Nandin tidak menyauti panggilan Tama.
Menyadari kamar kakak nya terkunci dari dalam Tama cemas bukan main, dia mendobrak dengan sekuat tenaga meskipun dia masih belum sepenuhnya pulih.
"Kakak, kakak kenapa kak," Tama berteriak menyadari kakak nya tergeletak di lantai
Tama cemas bukan main, 119 menjadi nomor yang dia hubungi tanpa pikir panjang.
Ambulance datang, membuat Tama semakin ketakutan , teringat Ayah nya yang juga pernah menggunakan Ambulance, di dalam mobil orang sakit itu Tama tak melepaskan genggaman nya pada tangan kakak nya, pilu sekali memikirkan yang tidak tidak
Setiba nya di Rumah sakit Nandin dimasukan ke ruang UGD, di sana ada Dokter Riko pula yang juga sangat kaget saat melihat Tama dan orang yang berbaring yang akan di masukan ke ruang UGD, tanpa banyak tanya Dokter Riko langsung membawa Nandin untuk pemeriksaan sedangkan Tama duduk di ruang tunggu.
"Tam," Ucap dokter Riko membuyarkan lamunan Tama.
__ADS_1
"Mas gimana kakak," Tama langsung bertanya dengan nada terburu buru.
"Tenang dek, kakak baik baik ajah cuman dia kaya nya kurang nutrisi dan badan nya lemas," jawab Dokter Riko
"Kakak gak makan dari kemarin Mas,dia bahkan gak keluar kamar selain masakin aku sarapan tadi pagi," ucap Tama
Jawaban Tama membuat Dokter Riko diam dan mengepalkan tangan karena merasa bersalah.
"Kak aku boleh nemuin kakak enggak," Lanjut Tama
"Iya boleh, tentu saja," Jawab Dokter Riko
Tama memasuki kamar tempat kakak nya berada, Selang infus yang menjalar di tangan nya membuat Tama menangis terisak, dia membayangkan juga perasaan kakak nya saat dia dirawat di Rumah Sakit saat kecelakaan.
"Kak, maafin adek gak perhatian sama kakak Sampe kakak jadi begini," Ucap Tama lirih sebari memegang tangan kakak nya.
Tidak ada jawaban Nandin masih lemas dan belum bangun.
Dokter Riko menyarankan Tama untuk istirahat juga, karena tamat masih belum pulih seutuhnya.
Tetesan hangat yang menetes di tangan nya membuat Nandin terbangun , gerakan jari nya membuat Riko langsung terhentak.
"Din, kamu bangun?," Tanya Dokter Riko dan langsung chek keadaan Nandin.
"Hem fine," Jawab Nandin lirih, kata Fine meskipun dikatakan baik tapi orang-orang akan menganggap nya dia sedang tidak baik-baik saja.
"Aku baik baik ajah Mas," Tambah Nandin.
"Kamu makan ya,Tama bilang kamu belum makan," Ucap Dokter Riko
Nandin terdiam tidak menyahuti seorang Perawat datang mendorong troli makanan pasien, Dokter Riko dengan cekatan membantu.
"Dok, saya kira Dokter sudah pulang bukan nya selesai praktek?," Tanya Perawat.
"Saya sedang jaga keluarga,"Jawab Dokter Riko singkat.
Nandin hanya menatap Perawat dan Dokter Riko bergantian.
"Oh begitu, saya kira bukan family Dok maaf," Ucap Perawat itu.
Dokter Riko hanya membalas senyum sedikit, lalu Perawat itu keluar.
"Ayo makan," Tanpa menunggu jawaban Nandin, Dokter Riko sudah langsung menaikan tempat tidur Nandin dengan posisi duduk.
Saat Dokter Riko menaikan posisi ranjang, rahang nya tepat di depan mata Nandin, dia tidak bisa mengalihkan pandangan terpaku lalu memejamkan mata nya, sampai pada posisi duduk Dokter Riko sadar Nandin memejamkan mata nya Dia menatap nya sebentar lalu ...
__ADS_1
"Dia memang menggoda dan manis," Lirih Dokter Riko saat menatap Nandin memejamkan mata nya.
"Hei buka mata jangan tidur lagi," Ucap Dokter Riko membuat Nandin malu malu saat membuka mata.
Dokter Riko mengambil alih semua yang harus dilakukan, Nandin hanya duduk terdiam di atas ranjang nya, melihat Dokter Riko duduk di depan nya membuka semua makanan yang tertutup plastik craft dan mulai menyendoki makanan itu lalu menyuapinya.
Pipi merah merona yang tampak, jelas sekali karena Nandin malu atau tersipu.
"Aku saja Mas," Ucap Nandin karena malu.
"Tangan mu saja di infus, aku saja," Jawab Riko tanpa ekspresi.
Nandin salah tingkah, bingung sekali selain memainkan kuku nya dan menerima suapan demi suapan dari tangan Dokter Riko.
"Mas sudah ya," Lirih Nandin.
"Loh kenapa kan baru sedikit," Jawab Dokter Riko.
"Gak enak mas," Jawab Nandin matanya sampai berkaca kaca.
"Tuh kan gak enak, makan nya jangan sakit kamu gak cantik kalo sakit," Dokter Riko mengucapkan nya dengan tatapan manis yang mampu membuat siapa saja jatuh hati terkecuali Nandin yang menyikapi nya biasa biasa saja.
Dokter Riko memberikan minum kepada Nandin, gelas nya tetap dokter Riko pegang walau Nandin juga sebenarnya bisa memegang sendiri.
Pintu kamar terdengar tergeser, tatapan Nandin dan Dokter Riko bersamaan mengarah kesana.
Orang tak terduga datang menatap Nandin dan Riko tak wajar, mereka beradu tatapan, yang menjadi titik fokus adalah tangan Riko yang memegangi gelas tapi terdapat tangan Nandin dalam genggam nya.
"Adit," Ucap Dokter Riko dan segera menyadari apa yang menjadi titik fokus Aditya.
"Hei," Ucap Aditya lirih
Semua menjadi canggung, ditambah Nandin yang tak bergeming.
"Aku khawatir denger kamu masuk Rumah sakit," Lanjut Aditya
Nandin tidak menjawab dan sedikit menarik nafas nya, seperti tidak nyaman.
"Aku mau ngomong sama kamu Din," Aditya melanjutkan
"Nandin masih lemas Dit," Jawab Dokter Riko
"Gue gak bisa bunda lagi Rik, Lo tau kan apa yang terjadi kalo kenyataan dan pernyataan ditunda gue gak punya kesempatan," Ucap Aditya dengan nada cukup tinggi
" Ok aku bakal denger," Ucap Nandin membuat Riko dan Aditya menatap nya bersamaan.
__ADS_1
Menyadari apa yang di ucapkan Nandin, Dokter Riko menarik nafas dalam dalam dan izin keluar.
Di lihat dari gerak gerik nya Dokter Riko berat meninggalkan Nandin dan aditya berdua, terlihat dari caranya setengah tertahan saat akan membuka pintu lalu dia tetap keluar dan menutup pintu nya kembali.