LELAKI IMPIAN

LELAKI IMPIAN
DRAMA MINUM OBAT !


__ADS_3

Tepat pukul 08.00 Nandin membuka matanya. Bulir bulir di pandangan nya cukup mengganggu pandangan nya sebelum kembali dapat menatap dan menyadari ruangan itu. Kepalanya yang masih sangat pusing tidak mampu untuk mengangkat tubuh nya. Hanya bisa memalingkan wajah ke arah kanan dan kiri. Mendapati seseorang sedang memegangi tangan nya dan tertidur membuat Nandin terheran. "Mengapa Aditya disini." Lirih nya dalam hati.


Sampai pada akhirnya lelaki yang tertidur itupun terbangun. Menyadari gadis yang ditunggui nya membuka mata ia langsung bergegas berlari keluar pintu kamar itu dan memanggil Dokter.


Dokter dan perawat yang sedang berjaga memasuki ruangan itu. Men check keadaan gadis itu memastikan semuanya berjalan lancar. "Okay semua Ok." Ucap Dokter itu sebari men chek nadi dan detak jantung gadis itu.


"Ok istirahat lagi ya biar pusing nya berkurang. Nanti saya resep kan obat nya untuk diminum pukul 09.00." Lanjut dokter itu sebari melihat jam di tangan kiri nya.


"Terimakasih Dok." Jawab Aditya.


Dokter itu mengangguk dan meninggalkan kamar rawat Nandin diikuti suster.


Nandin menatap Aditya begitupula Aditya yang tersenyum lalu mengacak rambut nya dengan tangan kanan nya.


Senyuman Aditya membuat Nandin terpaku. Nandin tahu arti senyuman Aditya padanya. Senyuman yang bahkan tidak Nandin temukan di lelaki manapun. Aditya terlampau jujur pada setiap tindakan nya. "Masih pusing ya." Bibirnya terbuka mengucapkan kata kata yang membuat Nandin fokus pada si pemilik bibir itu.


Nandin membalas nya dengan mengangguk kan kepala nya sedikit.


Tama bangun dari tidur nya. Mendapati kakak nya sudah siuman ia langsung berlari. "Kak kakak udah bangun. Maafin adek kak." Tama memegang tangan kakak nya dan menangis.


Aditya menepuk-nepuk pundak Tama. Nandin tampak nya tak kuat mengangkat tubuh dan kepalanya tetapi kuat mengangkat tangan nya. Plak suara tangan Nandin memukul kepala Tama yang sedang merengkuh kan badan di samping ranjangnya itu. "Aw sakit kak." Tama meringis memegangi kepalanya.


"Dek coba cerita kenapa bisa terjadi begini." Aditya bertanya sebari mengulum senyumnya.


Sedangkan Nandin memanyunkan bibir nya kesal.


"Maaf kak adek kira kakak maling. Soalnya kakak mindik mindik bongkar barang subuh subuh, kan adek takut." Tama mengucapkan kata kata sebari berusaha mengingat yang terjadi atas insiden yang mengakibatkan kakak nya berbaring di ranjang Rumah Sakit ini.


Untuk kedua kalinya Nandin kembali memukul kepala adiknya itu. Yang membuat Tama mundur memindahkan posisinya. "Ya maaf kak." Tama meringis mendapati kakak nya tidak berucap.


Aditya melirik Nandin yang berprilaku lucu terhadap Tama membuat nya tersenyum. Seorang suster masuk ke ruangan itu memberikan makanan dan juga obat yang harus diminum Nandin lalu kembali keluar.

__ADS_1


"Dit boleh minta tolong enggak." Ucap gadis itu.


"Tentu, apa Din?." Aditya mendekati Nandin.


"Aku ingin bersandar bisa tolong bantu tidak kepalaku masih pusing dan berat."


Aditya menaikan kedua alis nya lalu mengatupkan bibir nya dan mengangguk. Ia mengambil posisi dengan membungkuk berniat memegangi belakang kepala Nandin duluan tetapi tanpa di duga Nandin mengalungkan tangan nya pada leher lelaki itu membuat Aditya menurunkan padangan nya tepat di depan mata gadis itu begitupun tatapan Nandin. "Dit aku berat ya?." Nandin berucap karena Aditya tertegun menatapnya.


"Ouh tidak Din." Aditya menjawab lalu kemudian menarik tubuh Nandin dan memposisikan nya duduk bersandar.


Nandin melepas tangan nya dari leher Aditya dan Aditya memegangi tangan gadis itu lalu meletakan nya di atas pangkuan nya. Aditya lagi lagi memamerkan senyuman nya.


"Heh anak nakal kamu pulang gih, bawain baju ganti buat kakak ya sama..." Ucapan Nandin pada Tama berhenti sekaligus langsung melirik Aditya yang tepat berada di sampingnya.


"Sama apa kak. Celana dalam beruang mu." Ucap Tama memanyunkan bibir nya.


Mendapati jawaban Tama yang polos dan jujur membuat Nandin mengernyitkan kening nya, karena malu di dengar Aditya.


Aditya yang mendengar kata kata Tama. Langsung mengalihkan pandangan nya dan menggaruk kepalanya padahal tidak gatal.


"Lah terus aku sama siapa?." Nandin melirik kedua lelaki itu.


"Aku naik gojek saja sekalian mau mandi kak dan izin ke sekolah. Kak Adit memang gak kerja?." Ucap Tama melirik Aditya.


"Aku bisa izin. Aku disini ajah jagain kak Nandin, kamu makan dulu segala gala nanti kita tukaran lagi gimana?." Aditya menjawab dengan bijak sekaligus menawarkan kesepakatan yang bijaksana.


"Okay deal. Makasih ya kak." Jawab Tama.


"Aku pulang dulu yah kak." Tama izin pada Nandin lalu mencium punggung tangan kakak nya yang terpasang selang infus, juga mencium punggung tangan Aditya.


Tama berjalan menuju pintu keluar ruangan rawat Nandin, lalu kembali membalik badan nya. "Kak Adit tolong suapi kakak ya sama kasih obat nya."

__ADS_1


Aditya tersenyum. "Ok."


Nandin yang menyadari kekonyolan adiknya langsung memerah pipinya.


Tama pun melanjutkan jalan nya dan keluar dari ruangan itu.


"Dit gak usah didengerin ya, Tama memang konyol." Ucap Nandin.


"Tidak apa-apa aku tidak masalah kok." Jawab Aditya.


Aditya mengambil jatah makan Nandin dari Rumah Sakit sebelum meminum obatnya. Membuka plastik penutup dari nasi dan sayur bayam nya lalu mengulas telur putih juga dan dengan sigap menyuapi Nandin. Mau tidak mau Nandin membuka mulut nya menerima suapan demi suapan dari Aditya.


Sampai pada tahap giliran meminum obat Nandin melirik Aditya yang menyodorkan 3 butir obat dengan tiga bentuk berbeda. "Dit aku bingung."


"Kenapa?." Aditya menatap Nandin.


"Aku bisa meminum yang kapsul tapi tidak dengan yang bulat besar dan panjang besar ini." Nandin menunjuk obat yang ada di telapak tangan Aditya ia mengambil yang kapsul lalu meminum nya.


Aditya mengangguk lalu keluar sebentar dan kembali dengan membawa dua sendok makan. Tanpa banyak kata Aditya menaruh obat bulat di atas sendok lalu meremukkan nya dengan punggung sendok satu lagi dan memberinya air sedikit dan memberikan pada Nandin.


Nandin tersenyum lalu membuka mulut nya. "Dit pahit banget." Ucap Nandin setelah satu obat hasil temukan Aditya meluncur di mulutnya.


"Kalo yang manis itu permen Bey." Jawab Aditya yang kemudian meremukkan obat satu lagi berbentuk panjang tablet.


Untuk kedua kalinya Nandin membuka mulut nya. Sayang, belum sempat Aditya mengambil gelas minum Nandin obat itu sudah keluar lagi dari mulut gadis itu."Dit pahit banget." Air mata berlinang di kelopak mata Nandin.


Aditya yang melihat wajah gadis itu langsung mengambil tisu dan membersihkan nya.


Aditya dengan sigap mengambil obat lagi dan meremukan dengan bersamaan. "Kamu pegang hidung kamu lalu langsung tekan dan aku akan kasih kamu air putih okay?."


Nandin mengangguk dan kembali membuka mulutnya. Yaaaaa Obat itu meluncur dengan baik ke tenggorokan nya.

__ADS_1


"Makasih ya." Nandin menatap Aditya.


Aditya membalas senyum dan membersihkan bekas minum obat Nandin.


__ADS_2