LELAKI IMPIAN

LELAKI IMPIAN
Berat bagi Aditya!


__ADS_3

Hari berganti Nandin sudah bisa pulang ke rumah nya. Dokter Riko rupanya sengaja mengambil cuti untuk mengantar wanita yang membuat tidur nya nyenyak akibat memikirkan nya.


Dokter Riko mengurus semua pembayaran rumah sakit sebelum Nandin pulang, sebelum nya Dokter Riko sudah menjelaskan bahwa biyaya rumah sakit ditanggung nya karena ia merasa bersalah akibat kejadian ini.


"Din kamu sudah boleh pulang," Aditya menghampirinya ketika Nandin sedang di papah oleh Dokter Riko dan Tama.


Seketika Nandin menatap tapi tak berucap, melihat wajah Aditya membuat nya terngiang kejadian itu, dalam hitungan detik dari diamnya Nandin lemas untunglah ditahan Dokter Riko.


Nandin membenamkan diri ke pelukan Dokter Riko, memegangi kemeja yang dikenakan nya seperti memberi isyarat untuk cepat membawa nya pergi dari sana.


Pemandangan yang langsung membuat hati Aditya shock, tapi masih bisa menahan diri


"Dit, sorry gue bawa Nandin balik dulu, dia kaya nyah lelah," Dokter Riko membuka suara lalu memapah Nandin yang masih membenamkan diri di pelukan nya.


Aditya tidak menjawab hanya melihat Nandin dan Riko juga Tama pergi keluar lobby.


Perasaan nya tetap sakit padahal nyata nya ia sudah 6 tahun mencoba merelakan karena rasa bersalah nya, nyata nya tetap tak bisa perasaan nya tetap sama dan untuk orang yang sama.


Kenyataan pahit nya adalah karena dia dilindungi lelaki lain dan tidak lain adalah sepupunya.


Perasaan memang apa guna nya jika di pendam, tetapi mengingat alasan nya wajar bukan vila mengandalkan hati.


Tidak ada orang yang baik baik saja saat kehidupan nya disentuh oleh luka. Tidak ada manusia yang baik baik saja ketika luka lama nya tergores, perih? sudah pasti!


Sesampai nya di rumah Nandin , Dokter Riko kembali memapah Nandin tapi tidak dibantu Tama karena Tama membawa tas baju baju Nandin.


" Makasih ya mas," Ucap Nandin setelah duduk di kursi ruang tamu nya.


"Iya sama sama ," Jawab Dokter Riko singkat.


"Kak aku mau mandi dulu ya," Ucap Tama yang langsung pergi dan sudah membawa anduk di lengan nya.


Nandin hanya mengangguk, !


"Kamu belum makan ya?," Lanjut dokter Riko teringat pagi ini langsung pulang tanpa makan dulu di Rumah Sakit.

__ADS_1


"Iya enggak apa apa nanti Tama yang masak," Jawab Nandin.


"Tama kasian dari kemarin dia belum istirahat, kalau beli makanan junk food gak bagus buat kamu, aku saja yang masak ya?," lanjut Dokter Riko.


Tanpa menunggu persetujuan Nandin, Dokter Riko langsung pergi ke dapur yang bersih Nandin yang memang los terlihat langsung dari ruang tamu.


"Masak apa ya coba kita lihat," Dokter Riko berbicara sendiri sebari membuka kulkas di dapur Nandin.


Nandin hanya menatap dari ruang tamu karena kepala nya terasa berat.


"Wah ada buncis dan telor," Teriak Dokter Riko begitu antusias saat menemukan bahan makanan itu dikulkas Nandin.


Nandin hanya melihat Dokter Riko dengan tatapan heran.


Dokter Riko mulai mencari sesuatu ke arah bumbu bumbu yang ada di di rak bumbu samping kulkas, dan menemukan penyedap rasa juga kecap, ia menggulung kemeja nyah sampai siku lalu memakai celemek masak Nandin yang memang tergantung dekat oven, mata Nandin sampai tak berkedip saat Dokter Riko mulai mencuci lalu memotong buncis nya dengan model sering panjang.


Wangi rumah pun sudah tercium wangi masakan saat dokter Riko mulai memasukan telur ke panggangan lalu memberi nya cabe merah dan bawang putih karena dari dapur ke ruang tamu hanya berjarak beberapa meter saja dan tidak ada penyekat.


Tatapan nya fokus ke masakan nya tanpa menyadari Nandin yang bahkan tidak berkedip karena terkesima karena Dokter Riko ternyata lihai memasak.


"Mas Riko bisa masak?," Ucap Tama saat melihat seorang laki laki pemilik postur Tegal dan roti sobek ituh sedang memasak di dapur kami yang kecil.


"Sudah siap," Dokter Riko antusias sekali saat masakan nya sudah dihidangkan di atas meja.


"Ayo makan tuan putri," ucap Dokter Riko setelah masak dan menghampiri Nandin lalu mengulurkan tangan nya mengajak nya untuk makan.


Replek Nandin juga menjulurkan tangan nya tanpa basa basi seperti biasanya.


"Dek ayo makan," Tidak lupa Dokter Riko juga memanggil Tama untuk makan bersama.


"Kamu kenapa," Ucap Dokter Riko saat melihat Nandin dengan ekspresi menganga saat sudah duduk dimeja makan.


"Aku kaya mimpi tau Mas, ada orang laki laki di rumah ku yang masak buat aku aku teringat Ayah mas, biasanya dia yang suka masakin kami ini," Jawab Nandin.


"Kalo gitu gimana kalo aku jadi pengganti ayah kamu saja," Celetuk Dokter Riko.

__ADS_1


Membuat Nandin menengok tapi tak berbicara.


"Setujuuuuuuu," Jawab Tama dengan antusian.


" Mas ada ada ajah, ayo makan," Lanjut Nandin mencairkan suasana yang kaku.


" Aku serius kamu boleh menikur kan nya kok," Ucapan dokter Riko yang membuat Nandin menganga untuk kesekian kali.


Suasana tiba tiba hening, tidak ada percakapan karena ucapan dokter Riko yg membuat down suasana.


" Ahs udah nanti saja ayo kita makan," Tama tiba tiba berucap karena merasa canggung juga sepertinya.


Mereka ber tiga makan tanpa bicara, hanya suara sendok saja yang menyentuh piring dan suara mulut yabg sedang mengunyah makanan


" Rasanya mirip masakan Ayah," Tama berucap lalu mengelap air matanya yang akan menetes, dia pura pura kelikipan tapi Nandin cepat menyadari nya.


"Sudah sudah ayo makan, makanan nya memang nikmat sekali bilang terima kasih sama mas Riko," Ucap Nandin mengelus punggung Tama.


Dokter Riko hanya tersenyum sedikit melihat Nandin dan Aditama yang sama sama terharu karena masakan nya.


"Din boleh gak kapan kapan kita bikin kue disini, biyaya nyah kamu punya oven bagus," Dokter Tama memecahkan suasana.


"Wah Mas bisa bikin kue?," Nandin bertanya dengan semangat.


"Lumayan sedikit suka lihat mama bikin kadang bantu," Jawab Dokter Riko.


" Wah ayo kapan kapan kita bikin ya," Nandin menjawab dengan suara yang senang riang sekali


"Serius boleh?," Dokter Riko kembali bertanya seakan akan menemukan harta Karun.


Nandin mengangguk sebari tersenyum, dan Dokter Riko juga memberikan balasan senyum yang sangat manis.


"Wey inget ada anak dibawah umur," Tama memecahkan pemandangan dimana Nandin Dan Riko saling melempar senyum dan bertatap.


Seketika Nandin dan Dokter Riko langsung tertawa mendengar celetukan Tama yang memang terdengar sangat menggelitik.

__ADS_1


"Haha apa sih dek," Jawab dokter Riko.


Pemandangan yang menarik perhatian adalah pipi Nandin yang merah merona, apa itu malu atau Cinta?...


__ADS_2