
Aditya menatap gadis disampingnya, gadis itu terlelap tidur dalam keadaan baju basah kuyup. Hanya ditutupi jas miliknya yang juga ikut basah. Lalu ia fokus kembali ke kemudi!
Mobilnya memasuki gerbang tinggi dan terparkir sempurna di depan rumah dengan teras tak kalah mewah, Aditya membawa gadis itu ke rumahnya. Dengan pasti ia turun dari mobilnya baru setelahnya membuka pintu di mobil di arah satunya, Aditya memandangi gadis itu begitu ia membuka pintu mobilnya.
''Kamu benar-benar menarik'' Lirih Aditya, Tangan nya menyentuh dahinya sebelum ia mantaf menggendong gadis itu turun dari mobilnya, namun ia terkejut mendapati tubuh gadis itu panas. ''Kamu demam, sayang?'' Ujar Aditya, menepuk pipi Nandin.
Tanpa aba-aba Aditya langsung mengangkat Nandin keluar dari mobilnya, ia menapaki dua anak tangga untuk sampai di teras rumahnya. Bu Sari tampak membuka pintu begitu Aditya melangkahkan kakinya diteras itu dengan menggendong Nandin. ''Den, non Nandin kenapa?'' Bu Sari bertanya dengan khawatir''
''Tolong hubungi Dokter, jangan Riko'' Tegas Aditya pada Bu Sari begitu memasuki rumahnya.
''Ambilkan air hangat ke kamar saya'' Aditya memerintahkan dua asisten rumah tangga lainnya yang mengekor bu Sari, lalu ia menapaki tangga dan naik ke kamarnya.
Bu Sari langsung melaksanakan perintah Aditya, ia menghubungi Dokter keluarga Aditya sesuai perintah! Setelah itu ia naik ke kamar Aditya.
. Kini lelaki itu menggunakan kamarnya untuk istirahat gadis yang dicintainya itu,tidak menggunakan ruang tamu. Aditya membaringkan gadis itu dikasurnya.''Aku sudah memperingatkanmu,aku tidak mau kamu terluka. Kamu tidak mendengarkan, bukan?'' Lirih Aditya ditelinga gadis itu.
Bu Sari memasuki kamar Aditya.'' Den, apa sebaiknya cepat diganti baju non Nandin?'' Ujar bu Sari,
''Astaga, tolong diganti Bu, saya juga mau ganti baju dulu'' Jawab Aditya, menyadari ia dan Nandin dalam keadaan basah kuyup! Aditya masuk kedalam kamar walk-in closet miliknya, sedangkan kesempatan itu digunakan bu Sari untuk mengganti pakaian Nandin.
Aditya menengokan wajahnya dari balik pintu walk-in closetnya.''Bu, ibu saja yang gantikan bajunya, jangan orang lain ya, nanti dia malu'' Senyum menyeringai terpancar di wajah lelaki pemilik wajah tampan itu.
Bu Sari hanya mengangguk dan tersenyum, melihat kelakuan anak yang di asuhnya sedari kecil itu.
Dua asisten rumah tangga bernama Rani dan Yuni memasuki kamar Aditya. Membawa sebaskom air panas.''Ran tolong ambilkan baju tidur den Aditya'' Perintah bu Sari.
''Baik bu'' Jawab Rani dan langsung meninggalkan ruangan itu.
''Yun, kamu masak bubur,'' Ujar bu Sari pada Yuni, yang langsung di iyakan, oleh gadis itu''
Setelah kamar Aditya hanya tersisa bu Sari dan Nandin, Rani datang memberikan baju tidur milik Aditya.
Bu sari mengucapkan terimakasih, pantas saja! Aditya mendapat sikap itu dari bu Sari yang sopan dan menghargai orang lain.
Bu sari menyuruh Rani untuk membantu Yuni yang sedang memasak bubur. Kemudian bu Sari melancarkan aksinya melucuti baju gadis kesayangan anak asuhnya itu, dan menggantinya dengan baju tidur yang kering, juga membubuhkan minyak angin pada perutnya.
***
Aditya keluar dari ruangan gantinya, memakai baju tidur. Dia melirik ke arah kasurnya yang lebar, hanya ada gadis kesayangannya tertidur pulas. Juga tidak ada bu Sari, dia berjalan mendekati gadis itu. Betapa terkejutnya dia melihat Nandin tidur mengenakan baju tidur yang sama dengan yang ia pakai.
Mengingat kembali bahwa ia tinggal sendiri, memang tidak ada baju perempuan yang bisa dikenakan oleh Nandin selain bajunya. Hal itu membuatnya tersipu menulum senyum. Dia merasa senang melihat Nandin memakai baju miliknya.
Bu sari kembali ke kamar Aditya, bersama seorang Dokter, Aditya menyunggingkan senyumnya. Senang mengetahui bahwa bu Sari memanggil Dokter yang tepat, tepatnya bukan Riko.
Dokter melakukan general chek-up pada gadis itu, dan setelahnya hanya memberikan 0bat-obatan dan tidak perlu memasanginya infusan. ''Saya buatkan resep obat demamnya ya, tidak perlu di infus tampaknya hanya demam karena kedinginan'' Ujar Dokter itu, diteruskan dengan pemberian obat-obata,
__ADS_1
Bu Sari saja yang mengiyakan ucapan Dokter itu, sedangkan Aditya hanya menatap gadis kesayangannya yang masih tertidur pulas. Merasa senang mendengarnya baik-baik saja.
Bu Sari keluar bersama Dokter itu, sebelum melangkahkan kakinya Bu sari tampak melirik Aditya begitupun Aditya. Bu Sari merasa lucu karena tidak menyangka Aditya mengenakan pakaian yang sama.
Aditya menaikan alisnya, bu Sari hanya membalasnya dengan senyuman kecil.
***
Nandin terbangun dari tidurnya, ia sadar tidak berada di rymahnya begitu terbangun dan melihat langit-langit ruangan dengan lampu cristal yang cantik. Seorang lelaki duduk di sampingnya.''Sudah bangun, tuan putri?'' dengan melipat lengan.
''Aku dimana?'' Jawab Nandin, pikirnya sudah takut. Ditambah menyadari bajunya sudah diganti.
"Aku dimana?'' Menjerit!
''Dirumahku, hei memang kamu pikir dimana?'' Aditya heran.
Nandin melirik semua area ruangan itu, merasa sebelumnya bukan ini yang pernah ia pakai sebelumnya untuk istirahat.
Menyadari kegundahan pada gadis itu, Aditya menjelaskan. ''Ini kamarku, bukan ruang tamu''
Nandin mengangguk mulai mengerti.''Lalu, siapa yang mengganti bajuku?'' Nandin menelototi Aditya,
Aditya tertawa terbahak-bahak melihat kekhawatiran di wajah gadis itu.''Itu bu Sari, apa mau aku?'' Goda Aditya!
''Dit, aku dulu pernah kemari saat kamu bertengkar dengan Mas Riko,'' Pandangan Nandin jauh ke bayangan itu.
''Lalu?''
''Aku tidak tahu, kamarmu seluas ini'' Lanjut Nandin, membuat Aditya mengulum senyumnya melihat tingkah polos gadis itu.
Aditya menyentuh rambut gadis didepannya, yang masih berbaring diatas kasur.''Mau minum yang hangat?'' Tawarnya!
''Coklat panas, jangan sampai expreso! Aku tidak mau kejadian pahit" Jawabnya.
Ucapan Nandin langsung di iyakan Aditya, ia hanya meraih gagang telpon di meja samping tempat tidurnya, lalu memesan dua gelas coklat panas.
''Kamu pesan delivery?'' Tanya Nandin, begitu Aditya menutup gagang telponnya. ia langsung merubah posisinya menjadi duduk.
''Tidak, aku suruh bu Sari membawakannya''
''Luar biasa, kamar mewah dengan service pribadi'' Nandin dengan polos menyauti ucapan Aditya!
''Kamu juga bisa kok tinggal ditempat seperti ini dengan mudah'' Jawab Aditya,
''Benarkah, bagaimana caranya?'' Nandin antusias!
__ADS_1
''Menikah denganku.'' Jawab Aditya pasti.
Nandin melongo mendengar jawaban Aditya. ''Mudah apanya, aku kira serius'' Rajuk Nandin kecewa.
''Aku serius, ini mudah. Yang susah cukup aku mendapatkanmu.'' Aditya menatap penuh kepastian.
Suara ketukan pintu, membuat keduanya langsung tidak fokus. Bu Sari masuk kedalam kamar memberikan dua gelas coklat panas.
''Terimakasih Bu'' Ucap Aditya, begitu mengambil dua gelas itu dari nampan yang dibawa bu Sari.
''Sama-sama Den, nanti sebelum tidur bibi antar bubur kesini ya? untuk non Nandin sebelum minum obat'' Ucap bu Sari.
''Terimakasih Bu,'' Ucap Nandin, begitu namanya disebut.
Bu Sari tersenyum, dan meninggalkan kamar Aditya,
''Wah, coklat panas'' Nandin mengambil satu gelas dari tangan Aditya.
Ia langsung meminumnya, tanpa ditiup sama sekali.''Panas'' Jeritnya! lidahnya terbakar karena langsung meminum coklat panas itu.
Aditya kaget, ia menaruh gelas coklatnya dan mengambil gelas nandin juga, lalu menaruhnya di atas meja. ''Kan masih panas,'' Aditya memegangi dagu gadis itu yang sedang menjulurkan lidahnya.
Nandin menatap lelaki yang sedang cemas melihatnya, tanpa aba-aba ia menarik wajah Aditya dan mencium bibirnya. Aditya yang tidak menduganya pun hanya terdiam dibuatnya. Tapi, tampaknya Aditya juga membalas perbuatan gadis itu.
Aditya menarik selimut badcovernya itu, menutupi punggungnya dan juga tubuh Nandin, untuk antisipasi takut-takut ada yang masuk kekamarnya mendadak.
Nandin menyenderkan tubuhnya di kasur itu dengan posisi duduk, dan tampaknya ciuman itu berlangsung lama karena Aditya rupanya sangat tergoda. Nandin membangunkan macan tidur sepertinya, ia diterkam dan dilumat habis.
Aditya kemudian membuka selimut yang menutupi mereka, ia menarik diri dari ciuman yang dilakukannya.
ia melirik gelas coklat di samping ranjangnya, mengambilnya lalu berjalan menuju kursi dipojok kamarnya itu.
Nandin heran melihat sikap Aditya, yang baru saja ganas menciumnya. ''Dit, kenapa?'' Tanya Nandin, heran!
''Aku sedang mengendalikan aura panas di dalam jiwaku'' Aditya menatap Nandin, dan langsung menggigit bibirnya,
''Bisakah aku membantu?'' Tanya Nandin polos. Aditya menggeleng.
Nandin keheranan apa yang sebenarnya sedang dikendalikan lelaki itu.
GIMANA KAK, EPISODENYA? YUK, LIKE, KOMEN, VOTE. UNTUK MEMBANTU AUTHOR MEMPERBAIKI KARYANYA.
*DUKUNGAN DARI KALIAN SANGAT BERARTI... ILOVEYOU:***
ANDINI_818***
__ADS_1