
BUDAYAKAN LIKE DAN KOMEN YA GUYS UNTUK MENDUKUNG PARA Author berkreasi.
Selang 30 menit dari bandara Aditya menghentikan mobil yang ditumpanginya di depan sebuah halte bus. Dia membuka pintu belakang mobil begitu supirnya berhasil menginjak rem.
Seorang gadis yang dikenalnya memang sedang ada disana terduduk lemas, kepalanya menatap ke bawah, disampingnya terdapat koper. Gadis itu tersorot sinar matahari yang membuat mata coklatnya semakin terang, tiupan angin membuat rambutnya yang terurai sangat indah dipandang.
"Din" Teriak Aditya begitu melihat gadis itu.
Mendengar seseorang memanggilnya Nandin mengangkat kepalanya. "Aditya" Ucap Nandin kaget.
Aditya berjalan cepat dan dalam hitungan detik ia sudah berada di hadapan Nandin. ia membuka jas hitam yang dikenakannya untuk menutupi badan gadis itu karena panas, padahal badannya yang kokoh pun sudah mampu menghalangi sorotan matahari yang kini menyoroti punggungnya.
"Kamu kenapa bisa disini?" Tanya Nandin mendongakkan kepalanya menatap Aditya.
"Ayo masuk ke mobil." Aditya tidak menjelaskan, hanya wajahnya yang merah membuat Nandin tahu bahwa Aditya marah.
Nandin memasuki mobil Aditya, sedangkan kopernya dimasukan di bagasi oleh supir Aditya. Mobil pun melaju. "Pak, tujuan sekarang kemana?" Tanya Supirnya pada Aditya.
"Rumah saya."Jawab Aditya, dengan pandangan lurus ke depan tanpa melirik Nandin yang sedang meliriknya karena kaget.
"Dit, apa sebaiknya aku langsung pulang saja?" Ucap Nandin begitu mendengar Aditya memiliki tujuan lain.
"Tidak ada yang lebih baik selain rumahku." Jawab Aditya ketus.
Nandin tidak pernah melihat raut wajah Aditya begitu marah seperti ini, karena ia berpikir Aditya mungkin kecapean jadi Nandin diam saja.
Mobil berhenti di rumah mewah milik Aditya. Bu Sari keluar dengan dua asisten rumah tangga lainnya. Membawa masuk koper milik Aditya dan Nandin begitu supir mengeluarkannya.
Aditya membuka pintu mobil dan memapah Nandin keluar menuju rumahnya. Bu Sari yang menatap tidak mengira bahwa Nandin dan Aditya pulang bersama.
"Bu tolong siapin kamar buat Nandin." Ucap Aditya.
"Baik Den," Jawab bu Sari segera mengajak salah satu asisten rumah tangga untuk menyiapkan kamar untuk istirahat Nandin.
Aditya memapah Nandin memasuki rumahnya dan mendudukkannya di kursi. "Dit aku pulang saja ya?" Ucap Nandin.
"Aku gak mau bertengkar sekarang sayang, tolong mengerti" Jawab Aditya dengan wajah datar.
Nandin mengira benar-benar ada yang salah dengan Aditya. Aditya merebahkan dirinya di atas sofa dengan kepala yang mendongak ke langit-langit rumah. Nandin menatap laki-laki itu dengan seksama.
Bu Sari keluar setelah membereskan salah satu kamar di lantai satu sejajar dengan ruang tamu yang sekarang Nandin berada. "Den, kamarnya sudah siap" Ucap Bu Sari.
__ADS_1
"Oh iya Bu, makasih ya" Jawab Aditya.
Aditya bangun dari rebahannya di atas sofa, memegang tangan gadis itu lalu mengajaknya ke kamar yang sudah di rapihkan Bu Sari. Tanpa debat Nandin menuruti Aditya saja.
"Istirahat disini ya." Ucap Aditya mendudukan Nandin di atas kasur ber alaskan sprai putih bersih dengan badcover senada.
"Kamu marah sama aku." Nandin berucap sebari memegang tangan Aditya begitu Aditya akan melangkahkan kakinya.
Aditya menarik nafas, memegang kepalanya dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanan nya dipegangi Nandin. Lalu ia mengambil posisi dengan satu kaki lututnya bertumpu pada lantai. "Sayang, kamu tahu kan gimana aku sayang sama kamu?"
Nandin membelalakkan matanya mendengar Aditya tiba-tiba membuka pembicaraan.
"Aku tidak tahan ada yang melukaimu atau memperlakukanmu semacam itu," Lanjut Aditya.
"Kenapa? tolong jelaskan." Jawab Nandin.
"Riko keterlaluan, aku tahu posisi dia masih kekasihmu,dan kamu pasti akan memaafkannya. Tapi tidak pantas jika dia lupa menjemputmu" Jawab Aditya dengan wajah yang semakin merah karena menahan emosi.
"Aku tidak apa-apa, percayalah" Nandin memegang pipi kanan Aditya, berusaha meyakinkan Aditya agar tidak membenci sepupunya.
"Aku khawatir, Sungguh" Aditya berucap lirih, lalu memegangi tangan gadis itu yang sedang menyentuh pipinya.
"Kamu istirahat dulu ya, aku ganti baju dulu. Nanti aku suruh supir jemput Tama. Mulai sekarang kamu tinggal disini sampai sembuh, kita hadapi apapun berdua, aku tidak akan lagi mengalah pada Riko." Aditya melanjutkan ucapannya dengan berapi-api.
Aditya keluar kamar Nandin begitu gadis itu merebahkan diri di atas kasurnya.
***
Aditya merogoh kantong celananya dan mengeluarkan handphone nya, segera ia mengklik nama Tama di daftar kontaknya.
"*Hallo, Tam"
"Iya kak, gimana kak ada kak Nandin" Suara Tama panik.
"Iya kakak ada di rumah kak Adit. kamu kesini ya bawa baju sekolah, semua baju kamu dan juga kakak*" Jawab Aditya.
"Maksud kakak?"
"*kak Nandin ada di rumah kakak, kalian tinggal disini sampai kak Nandin pulih, nanti supir kakak jemput kesitu ya"
"Iya kak" Jawab Tama karena bingung*.
__ADS_1
Panggilan pun dimatikan. Aditya masih dalam posisi berdiri di ruang tamunya. Masih menatap layar handphone nya, mencari nama kontak sepupunya. Riko brother nama itu pun tertera begitu Aditya mengklik panggil.
Suara telpon berdering menandakan sudah di aktipkan karena tadi pagi telpon Riko tidak bisa dihubungi, Aditya berusaha menghubunginya kembali.
"Hallo" Suara dibalik telpon terdengar.
"*Kamu dimana?" **Jawab Aditya.
Suara di balik telpon tidak terdengar menjawab***.
"Lu udah keterlaluan Rik" Lanjut Aditya.
"Maksud kamu apa?" Akhirnya Riko membuka suara.
"*Kamu dimana? gue nanya dari tadi"
"gue di.. di .. di rumah temen*" Jawab Riko gelagapan.
"Lu di rumah temen? lu lupa Nandin hari ini keluar dari rumah sakit?" Aditya berbicara dengan nada tinggi.
"Astaga gue lupa Dit, gue langsung ke rumah sakit sekarang" Jawab Riko langsung setelah sadar yang di ucapkan Aditya.
"*Lupa? lu lupa? Nandin kepanasan akibat nungguin tadi dan hampir pingsan di halte depan rumah sakit. Dia nelponin lu terus tapi handphone ku mati. bukan karena dia gak nungguin lu di dalem rumah sakit, tapi karena handphone ku mati dia inisiatif buat pulang sendiri" *Jawaban Aditya tanpa ampun menyerang Riko yang semakin merasa bersalah**.
Aditya mematikan telponnya begitu mengeluarkan semua unek-uneknya.
Aditya naik ke lantai dua ke kamarnya dan langsung mandi, membawa semua kekesalannya pada seupunya itu.
***
Riko melirik jam yang sudah menunjukan pukul empat sore, juga melihat layar handphone nya dengan wallpaper gadis yang dicintainya sedang tersenyum.
Wajahnya langsung merah padam dengan nafas yang memburu akibat amarah. Saat melirik gadis yang berada di sampingnya dengan tertutup kain selimut yang sama. Ia seranjang dengan gadis itu.
Riko berusaha mengingat kejadian demi kejadian yang membuatnya berakhir di ranjang itu dengan seorang gadis yang membuatnya melupakan jadwal menjemput Nandin.
"Ko, aku minta maaf" Ucap gadis itu kepada Riko, iamenutupi setengah badannya dengan selimut putih.
**Penasaran enggak siapa gadis itu? dan apa yang dilakukan Dokter Riko? ikuti terus kelanjutannya dan berikan dukungan untuk Author ya.
JANGAN LUPA
__ADS_1
LIKE, KOMEN , VOTE juga ya guys..
ILOVEYOU ANDINI_818**