LELAKI IMPIAN

LELAKI IMPIAN
KESUNGGUHAN RINDU.


__ADS_3

Matahari mulai berani menampakan dirinya, sinarnya memasuki sela sela jendela mengetuk kelopak mata yang masih tertutup dan bersahabat dengan mimpi.


Angin sejuk begitu membuka jendela di pagi hari, adalah sejuk yang menenangkan diri beserta sel sel di dalam tubuh, segala kebaikan di hirupan oksigen pertama yang di terima tubuh.


Nandin mengikat rambut nya, setelah bangun tidur dan membuka jendela. Mata coklat nya yang tersorot sinar matahari pagi membuat bola matanya tampak bersinar, bibir kering nya di pagi hari sedikit ciut pucat natural tapi tidak mengurangi keindahan nya. Di raih nya benda persegi yang sedari malam tidak dia sentuh itu, mengambil posisi duduk di ujung tempat tidur dekat dengan meja kecil di samping ranjang nya, tidak ada pesan masuk sama sekali, tetapi chat dari orang yang dia dia tunggu tidak kunjung ada, akhirnya di klik lah chat dengan nama kontak Doctor Love yaitu kekasih nya, tapi hanya kekecewaan yang di dapat nya, pemilik chat itu terdapat keterangan baru saja online 15 menit yang lalu tetapi tidak menghubungi nya, akhirnya Nandin meletakan kembali HP nya dan bergegas pergi ke dapur menyiapkan makanan untuk dia dan Tama.


"Dek lagi apa kamu." Nandin mengejutkan Tama yang sedang asik mengotak ngatik HP nya.


"Enggak, kakak jangan lupa makan, minum vitamin buat daya tahan tubuh juga." Jawab Tama.


"Sejak kapan kamu perhatian banget sama kakak mu ini." Nandin menaikan alis nya memberi tatapan tajam pada adiknya itu.


Mendapati kakak nya seperti mengintrogasi membuat Tama salah tingkah. "Ayolah kak masak, adek laper." ucap Tama sebari berjalan melewati kakak nya.


"Oh adiku laper toh." Nandin mengejek adik nya.


Nandin menghabiskan waktu nya hari demi hari hanya menyelesaikan pekerjaan freelance nya. Dari sana lah mendapat penghiburan dari masalah hatinya. Setiap pagi tak lupa Nandin selalu mengirimkan pesan kepada Dokter Riko, mengingatkan makan nya, minum nya, obatnya, dan tak lupa mengungkapkan rasa rindunya, walau tidak pernah di balas oleh Dokter Riko.


Sesekali Aditya datang berkunjung mengirimkan kue bikinan ibu Dokter Riko untuk Tama dan Nandin. Nandin belum bisa berkunjung ke rumah Dokter Riko karena pekerjaan freelance nya yang sedang banyak. Dia sudah tekad sekali tidak akan menyusahkan orang untuk biyaya hidup dan sekolah adiknya.


Suara telpon berdering di meja ruang tamu. Menarik perhatian Nandin yang sedang fokus pada layar laptopnya itu, dilihatnya kontak yang terpampang di Hp nya MAMA Mas Riko, Nandin langsung bergegas mengangkat nya. "Assalamualaikum Mah."


Tidak lama jawaban dari balik panggilan nya terdengar. "Walaikumsalam sayang, kamu sudah lama tidak mengabari Mama kamu sehat nak?" bak seorang ibu yang mengkhawatirkan anaknya.


"Alhamdulillah baik Ma. Maaf Ma Nandin agak sibuk sedikit, belum sempat datang berkunjung. Mama dan Ayah sehat?."


"Oh begitu, Syukurlah, bagaimana dengan Tama?."


"Dia juga baik-baik saja Ma Alhamdulillah."

__ADS_1


"Nak kamu bisa datang tidak besok, Mama rindu sekali jangan lupa ajak Tama ya?."


Merasa tidak enak terlalu lama tidak berkunjung setelah Dokter Riko berada di luar negri akhirnya Nandin mengiyakan. "In Syaa Alloh Ma, akan Nandin usahakan"


"Syukurlah, jaga kesehatan ya sayang?"


Ucapan Ibu dokter Riko menyentuh perasaan Nandin, tangis nya tak bisa terbendung dan terdengar dibalik telepon oleh ibu Dokter Riko. "Sayang kamu kenapa?" Lanjut ibu Dokter Riko.


Nandin tidak bisa menyembunyikan lagi perasaan nya. "Ma, Nandin rindu Mas Riko, rindu sekali"


"Sayang, Mama juga rindu pada Riko, datang lah besok agar mama juga terobati rindu pada mu dan Tama ya"


"Baik ma."


"Assalamualaikum"


"Walaikumsalam." Nandin menutup telpon nya, menelungkup kan wajah nya ke meja, menahan rindu yang bahkan tidak jelas dan tidak pernah terbalas, tanpa tahu penyebab nya apa. Pikiran jelek nya mulai menerpa, apakah Riko tidak serius padanya, doktrinan kata kata itu sungguh menusuk perasaan nya.


Tama menjawab dengan antusias."Beneran kak, horeeeee."


Nandin hanya mengangguk.


Hari yang ditunggu oleh Tama tiba, Tama memang begitu antusias jika menyangkut ibu Dokter Riko. Dia merasa punya orangtua dan merasa di sayangi, karena itulah Nandin juga nyaman bersama keluarga itu.


Sebelum berangkat Nandin tampak mengirimkan pesan dulu kepada Dokter Riko, berusaha menyampaika rasa rindunya lewat pesan nya itu. Bahkan di perjalanan menuju rumah orangtua kekasih nya itu ia sesekali terus menatap layar HP nya memastikan dan mengharap kan ada balasan.


Setibanya di rumah orangtua Dokter Riko Nandin dan Tama langsung di sambut. "Sayang, selamat datang."


Nandin tersenyum gembira mendapat sambutan hangat dari ibu kekasih nya yang sudah ia anggap orangtuanya.

__ADS_1


Tama menyalami Ibu dan Ayah Dokter Riko.


Perasaan Nandin mulai memberikan respon pada keadaan yang sedang di hadapinya.


Duduk di ruang tamu yang pernah ia duduki dengan Dokter Riko juga.


"Tam, kamu mau coba main game?" Ucap Ayah Dokter Riko pada Tama.


Tama melirik kakak nya, karena sejauh ini ia tidak di izinkan mengenal mainan yang menguras waktu itu. Dan Nandin memberikan pengecualian hari ini. Tama senang sekali.


"Baik, tapi aku belum pernah." Jawab Tama jujur.


"Ayo Ayah ajari, ke ruang keluarga yuk." Tama di ajak ke ruang keluarga dengan Tv berukuran besar yang dilengkapi alat main Game lengkap terbaru.


Tama bahagia sekali mendapat perlakuan khusus dari Ayah Dokter Riko.


Sedangkan di ruang tamu dua wanita sedang mencoba saling memahami perasaan mereka yang mudah rapuh.


"Sayang, kamu baik baik saja kan?." Ibu Dokter Riko memegangi tangan Nandin.


Nandin mengangguk, memperlihatkan senyumnya yang manis tetapi ternyata getir. Air matanya meleleh tak tertahan.


"Sayang, Mama tahu kamu merindukan Riko." pelukan dari ibu kekasih nya itupun diberikan. Nandin menangis diperlukan wanita paruh baya itu. "Ma, Nandin sungguh merindukan Mas Riko, Nandin tidak tahu kenapa Mas Riko mengabaikan aku selama ini, bahkan aku merasa ini bukan Mas Riko."


"Mama tahu apa yang Nandin rasa, berikan Riko waktu sedikit lagi ya."


Nandin mengangguk, walau tak mengerti arti dari kata yang di lontarkan ibu kekasih nya itu.


Wanita memang mudah rapuh, dan wajarlah yang satu wanita yang merindukan anaknya, dan yang satu adalah wanita yang mencintai putranya si wanita itu.

__ADS_1


Tidak ada manusia yang mampu menyembunyikan rindu, obat rindu adalah pertemuan. Jika tidak ada pertemuan obat nya adalah kabar. Tetapi jika kabar juga tak kunjung datang. Wajar jika air mata adalah pembuktian, bukti bahwa itu benar benar rindu yang menyakitkan.


__ADS_2