
Setelah perjalanan jauh, akhirnya Nandin dan Aditya sampai ditujuan. Nandin langsung merenggangkan badannya begitu turun dari mobil.
Aditya langsung berlari ke arah gadis itu, menegang tangannya dan segera berjalan memasuki rumah. "Bu,makanannya udah siap? tanya Aditya.
"Sudah Den, mau makan sekarang?" jawab Bu Sari. Memperhatikan tuan mudanya itu menggenggam tangan gadis yang tidak dilepasnya.
"Iya Bu! Kekasihku sudah lapar sepertinya," lanjut Aditya.
Aditya langsung melangkahkan kakinya menuju ruangan makan, Nandin duduk di samping kursi Aditya, tetapi wajahnya yang cemberut, membuat selera makan Aditya turun.
Bu Sari langsung pergi bersama Asisten lainnya, berhubung Aditya tidak suka jika makannya ada yang mengganggu, atau ada orang yang hilir mudik didepannya. Dia akan marah jika itu terjadi, karena menurutnya tidak sopan.
"Sayang kamu kenapa?" Aditya kini bertanya, karena tidak kuat melihat gadis kesayangannya tampak marah.
"Gak kenapa-kenapa," jawab Nandin, ketus!
Aditya sudah paham posisi seperti ini, Aditya menarik nafas lalu menghembuskan nya. "Nandin. sayang, kamu kenapa kok cemberut sih," Aditya berbicara halus pada kekasihnya itu.
"Kamu tadi bilang Bu Sari kalau aku sudah lapar, aku kan malu," Jelas Nandin!
"Sayang, jangan marah karena hal sepele ya. Gak baik depan makanan,"Aditya menasehati.
Nandin malah berurai air mata, karena merasa dimarahi Aditya, selera makan Aditya pun hilang. Sebelumnya tidak ada yang berani mengganggu makan Aditya, tapi kali ini berbeda. Ia harus lebih perhatian karena yang dihadapinya, adalah hidup dan mati. Bahkan akan membuatnya lupa pada makanan jika gadis itu kenapa-kenapa.
Aditya beranjak dari duduknya, berlalu meninggalkan Nandin. Nandin tampak memperhatikan kekasihnya pergi dari ruangan itu.
Tidak lama,Bu Sari masuk ke dalam ruangan makan. Karena melihat Aditya sudah keluar dari sana.
"Non, belum makan. Kenapa? masakan bibi gak enak ya?"tanya Bu Sari, melihat keadaan cukup kacau, karena Nandin belum menyelesaikan tangisannya.
"Tidak bu, aku suka. Tapi Aditya marah tadi karena sesuatu," jawab Nandin.
Bu sari tampak memperhatikan,
"Non, maaf sebelumnya. Den Asitya sebenernya tidak pernah makan bersama orang lain, itu hanya dikecualikan untuk non saja, Den Adit tidak suka gaduh saat makan," Bu Sari tampak menjelaskan dengan hati-hati.
Nandin merasa tidak nyaman setelah mendengar penjelasan Bu Sari. Dan memutuskan tidak makan untuk mencari Aditya.
Nandin tahu dimana Aditya berada, Nandin pun menapaki anak tangga menuju ruangan fitnes di lantai besment. Benar saja Aditya ada disana, menengadahkan kepalanya ke sandaran kursi di ruangan itu.
Nandin mendekati Aditya yang sedang menatap langit-langit, "Kamu marah?" tanya Nandin sebari memainkan kukunya.
__ADS_1
"Sudah makan?" Aditya malah bertanya balik,
"Aku tidak jadi makan, aku sudah dengar semuanya dari Bu Sari," jawab Nandin!
"Makanlah, aku tidak bisa makan dengan melihat wajah masam seseorang, aku lebih baik makan sendiri," Aditya berbicara dengan posisi masih menengadahkan kepalanya, tanpa melihat lawan bicaranya.
Nandin memandang kekasihnya itu, walau Aditya acuh.
"Aku padahal tidak pernah bisa makan sendiri, enam tahun terakhir aku selalu makan berdua dengan Tama. Kami gaduh bahkan berebut menu sederhana di atas meja," Nandin larut dalam ceritanya.
Nandin memikirkan hal yang cukup jauh dalam bayangannya. Bagaimana kalau Aditya suatu hari nanti tidak akan pernah makan bersama dengannya, jika mereka sudah menikah. Hal itu membuat batinnya sakit.
"Dit, kamu mungkin memang harus makan sendiri agar tenang, tidak seharusnya aku juga datang kemari hanya untuk sekedar makan. Aku bisa makan dengan Tama di rumah. Aku tidak perlu khawatir akan gaduh dengan adiku di meja makan," Nandin bangkit dari duduknya, lalu pergi meninggalkan ruangan.
Aditya merasa ego nya keterlaluan, bahkan harus membiarkan gadisnya pergi karena masalah di meja makan. Kebiasaan yang sudah di anutnya itu, kini membuat luka di hati seseorang.
Nandin menyabet tas kecilnya di atas kursi, dan masih memakai baju bekas dari acara pernikahan Dokter Riko. Nandin baru sadar ternyata diluar sudah gelap, dan dia bahkan belum memakan apapun sedari pagi.
Nandin pulang menggunakan Taxi, sebenarnya gadis itu tidak suka,karena merasa itu adalah pemborosan. Ditambah macet yang menyesakan.
***
***
"Kenapa kamu?" Nandin heran melihat adiknya begitu bersemangat.
"Adek sudah bisa masak telur buncis, rasanya mirip bikinan kakak, mau cicip?" tawar Tama.
Nandin langsung menuju meja makan, dan benar saja Adiknya memasak menu favorit mereka.
"Yakin ini kamu yang masak?" Nandin setengah tidak percaya, sebari memasukan satu suap masakan adiknya itu ke mulutnya.
Kunyahan Nandin tertahan, karena rasanya benar-benar sama seperti buatannya.
Nandin berjalan menuju Magicom dan mengambil nasi dari dalam sana, masih dengan memakai bajunya tanpa berganti pakaian, Nandin langsung makan. Karena tidak kuat juga masyarakat didalam perutnya meminta jatah mereka.
"Kakak, adek kan suruh kakak cobain bukan di makan," Teriak Tama! karena kakak nya mengambil setengah porsi masakannya.
"Kan itu masih banyak, kita berbagi saja. Kakak kan juga suka berbagi masakan kakak, buat kamu" Nandin membela diri.
***
__ADS_1
Aditya masuk kedalam rumah Nandin, karena mendapati pintunya tidak terkunci. Aditya melihat Nandin dan Tama yang sedang berebut makanan di meja makan.
Aditya merasa sangat kasihan kepada Nandin, karena harus makan berdua selama enam tahun ini akibat ulahnya. Aditya merasa bersalah akan sikapnya di rumahnya tadi.
"Kak Adit," Tama melihat Aditya yang sedang memperhatikan mereka.
"Iya dek, kakak mau ketemu kak Nandin," jawab Aditya.
"Bukannya dari tadi kalian bersama?" Tama heran,
Nandin hanya mematung saja, dan menyuapkan makanan kedalam mulutnya.
Tama mengambil nasi dan pergi keruangan tv, meninggalkan kakaknya dan Aditya.
"Sayang, kamu kenapa gak bilang aku kalau mau pulang. Selalu begitu,"
Nandin menggeleng pelan,
"Aku khawatir karena kamu bahkan tidak makan kata Bu Sari," lanjut Aditya.
"Tidak apa-apa. Aku juga lebih senang makan di rumahku, aku juga senang makan bersama Tama. Aku juga sama kaya kamu, aku ingin makan dengan seperti biasanya,"
Mendengar jawaban Nandin membuat Aditya diam. Dan membiarkan gadis itu menghabiskan makanannya.
Nandin pun hanya diam, sampai setelah mencuci bekas makannya. Gadis itu langsung mandi dan berganti pakaian.
Setelah selesai Nandin kembali ke ruangan makan. Dan Aditya masih tertegun disana. juga masih memakai celana hitam dan kemeja putihnya yang digulung se sikut.
"Kamu masih disini," tanya Nandin, Nandin mengagetkan Aditya karena ia menggulung rambutnya dengan handuk.
"Kamu cantik kalau rambutnya digulung begitu," ucap Aditya.
"Ia, jika langsung dikeringkan pakai pengering, rambutku bisa rontok," jawab Nandin ketus.
"Sini duduk, aku mau bicara sesuatu. Aku mau cerita ke kamu," Aditya menarik tangan Nandin, dan menyuruhnya duduk di sampingnya.
Nandin menuruti dan langsung duduk di tempat yang di tunjuk Aditya.
Guys give away akan di umumkan tanggal 29 jangan lupa, cus segera ikutan.
info lengkap ada di Instagram ku. ANDINI_818
__ADS_1