
Lelah bukan hanya saat kita melakukan aktifitas yang berat, tapi bisa juga karena perasaan yang menyisakan tanya yang sesak, beban nya lebih tinggi dari perkiraan mu.
Kata kata Aditya yang menggantung men doktrin pikiran Nandin untuk selalu memikirkan hal itu, sepenggal dan penggal lain nya menyisakan banyak sekali pertanyaan.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Aditya, meyakinkan pertanyaan nya sebari menekuk kaki nya ke lantai sehingga lutut nya sejajar dengan lutut Nandin.
Nandin sekali lagi mengangguk, meyakin kan Aditya akan pertanyaan nya, karena untuk menjelaskan Nandin juga tidak tahu pasti apa yang mengganggu pikiran nya. Aditya kemudian mengajak Nandin untuk makan karena sedari pagi ia juga belum menyentuh asupan sama sekali.
Setiba nya di kantin Rumah Sakit, Nandin hanya terdiam langsung menarik kursi untuk tempat duduk nya. "Ada yang mau kamu makan?" tanya Aditya.
"Mie ayam." Nandin menjawab singkat namun pasti melihat di depan nya ada daptar menu yang tersedia di kantin itu.
"Ok." jawab Aditya.
Aditya tidak berhenti memandangi wajah gadis yang duduk di depan nya, sedangkan Nandin hanya memainkan sumpit dengan jari tangan nya, tatapan kosong tanpa arti.
"Din, kamu kepikiran apa?"
"Aku enggak tahu perasaan ku tidak enak sama sekali, entah kenapa"
Pelayan kantin datang menghampiri menyajikan 2 mangkok mie ayam.
"Yasudah makan dulu saja, jangan sampai perut mu kosong."
Nandin menyantap mie ayam itu dengan tenaga yang seperti dipaksakan, biasanya gadis itu begitu antusias jika memakan makanan favoritnya itu. Rasa gundah di hati mu berhasil membunuh nafsu makan nya.
Aditya tampak sudah menyelesaikan makan nya. "Yuk udah kan makan nya" ucap Nandin.
"Loh kamu kan belum habis."
"Aku gak enak perasaan terus nih."
Aditya menatap gadis itu lekat lekat, melihat kekhawatiran di wajah nya, membuat Aditya juga sedikit cemas.
Nandin tetap dalam perasaan gundah nya yang tidak tahu akibat apa, rasa khawatir nya mendorong nya untuk pergi ke ruangan rawat Dokter Riko berada. "Sayang." Ucap gadis itu lantang.
"hemm." Dokter Riko berdehem seraya mengangkat kedua alis nya dan menatap gadis itu yang memperhatikan nya di depan pintu masuk.
"Kamu sudah bangun? maaf ya tadi aku makan ke kantin sama Aditya." Jawab Nandin.
__ADS_1
"Iya tidak apa-apa kamu juga belum makan kan? tanya Dokter Riko.
Nandin hanya menggelengkan kepalanya, menatap mata kekasih nya yang sayu namun tetap tampan saat melontarkan senyum tampan nya.
"Aku mau keluar," Ucap Dokter Riko.
"Memang mau kemana?,Tanya Nandin.
"Apa Dokter memperoleh kan nya?"
Dokter Riko kemudian mengangguk, meyakin kan Nandin. Setelah mendapat persetujuan Nandin pun meminta bantuan Aditya untuk memindahkan Riko ke kursi roda.
Setelah 3 hari di Rumah Sakit akhir nya Dokter Riko bisa menghirup udara segar selain di kamar rawatnya. Angin yang menyapu kecil rambut poni Nandin membuat Dokter Riko tersenyum menikmati keindahan itu.
Burung merpati yang terbang beriringan menarik perhatian Nandin. Sambil menunjuk burung itu. "Sayang aku mau kita seperti merpati itu".
"Kenapa?"
"Merpati adalah simbol kesetiaan, mereka hanya memiliki satu pasangan seumur hidupnya, menurutku mereka sweet sekali.
Dokter Riko menyentuh tangan Nandin yang menunjuk burung-burung itu, memperlihatkan senyumnya kepada gadis itu. "Lalu bagaimana jika salah satu dari mereka belum bersatu tapi salah satu dari mereka mati?"
Nandin fokus mendengarkan ucapan demi ucapan dokter Riko.
"Entahlah," Nandin memalingkan wajah nya dari pertanyaan dokter Riko yang ia juga tidak tahu jawaban nya.
Semilir angin yang menyentuh kulit mereka mampu membuat keduanya memejamkan mata bersamaan dengan tangan sambil menggenggam, senyum tersungging.
"Sayang besok aku akan pergi ke luar negri."
Nandin terdiam mendengar penuturan dari mulut kekasihnya, memastikan bahwa ia tidak salah dengar. "Kok mendadak?" Lirih Nandin dengan penuh tanda tanya.
"Tidak sayang, memang itu jadwalku aku ada pekerjaan pertemuan Dokter"
"Berapa lama?"
"Belum ditentukan, se selesainya pekerjaan disana"
Nandin menatap lekat kekasih nya, rasa tidak ingin nya sebenarnya tinggi tapi apalah daya itu resiko dan tanggung jawab kekasih nya sebagai pelayan masyarakat, demi memberikan pelayanan terbaiknya.
__ADS_1
"Tapi apa tidak bisa izin kan kamu sedang sakit?"
Dokter Riko menggeleng, meyakinkan Nandin bahwa hal ini tidak bisa di tunda.
"Sore ini aku akan pulang aku ingin tidur di Rumah, sekalian beres-beres untuk pergi besok"
Nandin tersenyum mengiyakan semua ucapan Dokter Riko.
Kepulangan Dokter Riko tak luput dari bantuan Aditya juga yang membantu juga mengantarkan Riko ke Rumah nya.
Tidak ada percakapan selama di dalam mobil hanya dentuman musik yang cukup keras menemani perjalanan mereka. Sesampainya di kediaman Dokter Riko tampak Ayah dan Ibu nya yang menyambut di depan pintu.
"Sayang kamu ikut juga?" Ucap ibu Dokter Riko begitu melihat Nandin.
"Iya Ma," Jawab Nandin sebari tersenyum hangat dan menyalami mereka.
Nandin yang membopong Dokter Riko masuk ke dalam rumah nya, dan Aditya yang mengeluarkan barang-barang Riko dari mobilnya, semua anggota masuk ke dalam rumah dan ada beberapa asisten rumah tangga yang menghampiri Aditya untuk mengambil barang-barang Riko.
"Ma aku mau langsung istirahat ya?," Ucap Riko pada ibunya.
"Aku anter ya,"Nandin kemudian menawarkan diri tetapi tidak dijawab oleh Dokter Riko.
Ibu nya hanya mengiyakan dan menyuruh Nandin menemani Riko dulu. dan menyuruh Aditya beristirahat juga karena selama Riko di rawat Aditya lah yang menemani Riko di Rumah Sakit.
Aditya memilih istirahat di ruang tamu seraya mengobrol dengan Om Mahardika yang tidak lain adalah Ayah Dokter Riko.
Setelah masuk ke dalam kamar Dokter Riko, Nandin kaget mematung melihat dinding Dokter Riko terdapat poto nya sedang tersenyum memakai baju pasien. "Sayang itu Poto ku?"
"Hemm" jawab Dokter Riko yang membaringkan diri di atas kasur nya.
Pipi Nandin memerah, lalu ia menghampiri Poto nya dan memperhatikan nya."Sayang kapan kamu ambil Poto ini?"
"Kamu bisa enggak langsung pulang ajah, nanti di antar Aditya" Jawab Dokter Riko.
Mendengar ucapan dari kekasih nya Nandin langsung berbalik memastikan ucapan yang baru saja di dengar nya.
"Aku nungguin kamu ajah disini ya?" jawab Nandin.
"gak usah, kamu balik ajah aku mau istirahat lagian besok aku mau pergi gak ada waktu buat ngurusin hal hal lain, mepet soalnya aku juga butuh istirahat lebih" Jawab Dokter Riko.
__ADS_1
Nandin mematung mencerna ucapan demi ucapan yang di lontarkan Dokter Riko kepadanya, "ini bukan Riko nya, ini bukan lelakinya" hati Nandin berucap lirih.
Melihat tingkah Dokter Riko yang tiba tiba begitu ketus membuat Nandin merasakan hangat di pelupuk mata nya, ia langsung keluar kamar Dokter Riko dan berlari ke arah ruangan tamu dimana ada Aditya dan ibu Dokter Riko juga Ayah nya.