LELAKI IMPIAN

LELAKI IMPIAN
SENJA_PILU !


__ADS_3

BUDAYAKAN LIKE, DAN KOMEN YUK GUYS. AGAR AUTHOR SEMANGAT. SALAM CINTA DARIKU ANDINI_818


Dokter Riko membuka pintu mobilnya dengan susah payah karena sedang menggendong Nandin. Lalu Nandin di sandarkan di jok depannya samping kemudi.


Aditya keluar dari rumah, dengan penuh emosi dia berteriak. "Berani lu bawa Nandin keluar dari rumah gue, kita bukan lagi saudara" Ucap Aditya dengan posisi berhadapan dengan Riko yang baru saja menaruh Nandin.


"Saat lu berani usik hubungan gue, kita emang udah bukan saudara lagi Dit." Ucap Dokter Riko, kemudian memasangkan seat belt pada Nandin dan menutup pintu mobilnya.


Aditya melirik Nandin yang sepertinya shock dan gemetar karena ulah mereka, airmata mengalir membasahi pipi gadis itu, ia diam penuh luka. Aditya tidak tahu apalagi yang harus dilakukannya, selain menatapnya diposisi ini.


Dokter Riko mengemudikan kendaraannya, sedangkan Aditya masih dalam posisinya berdiri. Melihat gadis yang dicintainya dibawa lelaki lain.


Nandin melihat Aditya dari pantulan kaca spion mobil yang dikemudikan Dokter Riko. Semakin jauh sampai tak terlihat ia tetap diam.


"Mau pulang ke mana sayang? Ucap Dokter Riko


"Ke rumahku saja." Jawab Nandin datar.


Nandin hanya menjawab sealakadarnya dan hanya menyandarkan diri di jok mobil, juga mengalihkan pandangan nya keluar jendela.


Sikap yang Riko ambil semata-mata hanya karena cemburu, dan belum sial kehilangan gadis itu, juga tidak bisa jujur padanya tentang apa yang terjadi.


Mobil Dokter Riko berhenti di depan rumah Nandin, ia kembali menggendong gadis itu untuk memasuki rumahnya.


"Assalamualaikum Dek?" Ucap Dokter Riko di depan pintu rumah Nandin!


"Walaikumsalam" Suara dari dalam rumah terdengar menjawab salamnya.


Tama membuka pintu dan kaget melihat Dokter Riko menggendong kakak nya. "Mas Riko" Ucap Tama.


Dokter Riko hanya tersenyum lalu Tama membuka pintu lebar-lebar dan mempersilahkan Dokter Riko masuk.


Tama menunjukan kamar kakak nya dan di ikuti Dokter Riko, ia merebahkan Nandin di atas kasurnya.


Nandin langsung memejamkan matanya begitu tubuhnya menyentuh kasur itu. "Pusing ya?"


Nandin hanya membalas dengan anggukan.


"Makan dulu ya, abis ituh minum obat"


Dokter Riko mengerti bahwa obat-obatan Nandin juga koper pakaiannya masih di rumah Aditya, kemudian ia merogoh telpon nya dan menelpon staf rumah sakit untuk mengirimkan obat baru.


Seolah mengerti yang terjadi Tama izin keluar kamar. "Mas, adek di ruang tamu ya"


"Iya Dek, Makasih ya?" Ucap Dokter Riko


"Sama-sama Mas"


Dokter Riko duduk di ujung kasur meraih tangan gadis itu yang terkulai lemas, menciumnya dengan lembut, lalu air matanya tak bisa terbendung saat ia menenggelamkan wajahnya ditangan gadis itu.


Menyadari yang terjadi, karena tangannya yang basah Nandin terbangun. "Mas Riko, mas kenapa?"

__ADS_1


"Tidak," Jawab Dokter Riko sebari tersenyum.


Nandin merasa bersalah kepada Dokter Riko atas tindakannya. Disisi lain Dokter Riko mengutuk dirinya!


"Aku sudah telpon rumah sakit buat ngirim obat kamu, nanti mereka anter kesini" Ucap Dokter Riko.


"Terimakasih Mas, maaf merepotkan" Jawab Nandin.


"Istirahatlah aku akan pulang, kalau ada apa-apa langsung kabari aku, jangan orang lain" Ucap dokter Riko.


Nandin mengerti maksud Dokter Riko, untuk menghubunginya jika sesuatu terjadi, dan bukan Aditya.


"Aku pulang dulu ya, kamu baik-baik okay" Dokter Riko membungkuk lalu mengecup kening gadis itu.


Nandin diam membisu!


Dia berdiri lalu keluar dari kamar Nandin, tanpa menengok sama sekali. Langkahnya seperti tidak bertenaga.


Nandin memperhatikan Dokter Riko yang keluar dari kamarnya, sampai hilang dari pandangannya!


Dokter Riko menemui Tama yang sedang menonton televisi. "Tam jaga kakak baik-baik ya." Ucap Dokter Riko lirih.


Tama membelalakkan mata melihat gaya cara bicara Dokter Riko.


"Mas pamit ya, assalamualaikum"


"Walaikumsalam" Jawab Tama, sebari melihat Dokter Riko berjalan dengan gontai, Tama melihat dari balik kaca rumahnya, Dokter Riko sempat berbalik melihat ke arah kamar Nandin lalu melanjutkan kembali langkahnya.


***


"Sudah sampai rumah?"


"Sudah Dit," balas Nandin.


"Riko masih disana?"


"Tidak, sudah pulang"


Handphone Nandin kali ini berdering, panggilan dari Aditya masuk ke handphonenya.


*Nandin pun mengangkat panggilan itu."Hallo" Ucap Nandin.


"Hem,"Jawab Aditya hanya berdehem.


"Kenapa?" tanya Nandin.


"Maafkan aku, maaf tidak mempertahankan mu tadi" Suara Aditya getir, tampak nya ia menangis*.


Lelaki menangis bukan karena dia lemah, ia terkadang tidak mampu lagi mengutarakan rasa yang membuncah, kebahagiaan ataupun kesedihannya.


"*Tidak apa-apa Dit, aku mengerti posisimu"

__ADS_1


"Aku cemburu sebenarnya, aku tadi diam karena marah, aku tidak rela Riko menggendongmu" Jawab Aditya.


Nandin menahan tawa di balik telponnya, karena bahagia!


"kamu luar biasa Dit!"


"Kamu ngejek aku ya?" Ucap Aditya*.


"Aku tidak bercanda saat mengatakan kau terlihat luar biasa. Kamu bisa menahan rasa cemburu dan amarahmu" Ucap Nandin.


Aditya merasa di atas angin begitu gadis itu memujinya, walau dibalik telponnya. Benarkah? Sebenarnya aku lebih keren dari itu, nanti kamu akan tahu," Jawab Aditya.


"Baiklah aku tunggu ke kerenan mu itu ya?" Nandin membalas dengan nada menantang*.


"*Tentu saja, dengan senang hati" Jawab Aditya.


"Kamu istirahat gih, nanti aku hubungi lagi okeh, setelah kamu istirahat" Ucap Aditya.


"Kamu juga ya Dit, maaf membuat kamu lelah akan hari ini, padahal kamu baru saja pulang" Jawab Nandin.


"Alasan itu karena aku mencintaimu" Aditya begitu pede atas ucapannya*.


"*Aku merasakannya" Jawab Nandin takkalah pede.


"Seeyou dear" ucap Aditya.


"seeyou" Jawab Nandin*.


Telpon pun tertutup.


***


Dokter Riko mampir ke sebuah komplek pemakaman. Dia bersimpuh, lututnya menyentuh tanah tepat di samping pusara, pusara yang sering ia kunjungi tanpa sepengatahuan Nandin. Pusara ayah gadis itu.


Sebuah bucket bunga yang ia beli dipintu masuk pemakaman, ia taruh di atas pusara itu. "Ayah, semenjak aku memutuskan memanggilmu ayah, aku sudah berjanji akan menjaga anak gadismu," Isakan tangis Dokter Riko memotong perkataannya di ikuti airmata yang terus mengalir di pipinya.


Ia berusaha menghapus air matanya. "Tapi mungkin aku tidak bisa menjaganya lagi. Sungguh, aku takut sekali ayah. Aku takut kehilangan putrimu" Ucap Dokter Riko di samping pusara itu.


Dokter Riko mematung menatap pusara itu, terlalu dingin untuk berpikir, untuk bergerak.


"Anak gadismu menawarkan kepadaku, lalu ku hancurkan. Aku merasa bersalah atas perbuatanku." Lanjut Dokter Riko, setelah lama terdiam.


"Aku sekarang tidak mampu menatap matanya, kalau saja aku bisa aku ingin melarikan diri saat ini. Aku pernah menjanjikan kebahagiaan untuknya, tetapi aku yang mengingkarinya setelah menyakitinya lebih dulu," Lanjut Dokter Riko, ia mengeluarkan semua perasaannya yang terpendam, tetapi tidak mengatakan penyebabnya.


Hari semakin sore, warna keemasan di langit sudah terlihat. Dokter Riko memberikan Do'a lalu bangkit dari posisinya, tidak lupa pamit dan berjanji untuk datang kembali ketempat itu.


Langkahnya lebih terjaga dibanding tadi, Ia sudah mulai cukup kuat. Perasaanya terobati sedikit karena mencurahkan semuanya kepada ayah gadis yang dicintainya.


Dengan mengemudikan mobilnya, tatapnya masih saja kosong, membayangkan apa yang akan terjadi jika gadis itu mengetahuinya. Kekesalan, kekecewaan tampak di gurat wajahnya yang lesu.


***JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE YA GUYS UNTUK MENDUKUNG AUTHOR SELALU BERKARYA.

__ADS_1


KRITIK DAN SARAN SANGAT DITERIMA DISINI. ILOVEYOU💙😘***


__ADS_2