LELAKI IMPIAN

LELAKI IMPIAN
TIDAK MEREDA :'(!


__ADS_3

Satu hari berlalu selain cairan infus dan sedikit minum, tidak adalagi yang masuk kedalam tubuh Nandin. Bibir putih nya kian terlihat sangat pucat! Dia hanya membuka mata sesekali, dan membalikan tubuhnya.


Hanya Suster dan Dokter yang bolak balik ke ruangannya, orangtua Aditya maupun Riko sudah kembali ke rumah masing-masing, sedangkan Aditya tidak berani memasuki ruangan Nandin, dan Riko ia memasuki ruangan kerjanya untuk beristirahat disana, kebetulan Riko memang sedang tidak mengambil pekerjaan apapun karena tadinya akan pergi berangkat ke Australia melanjutkan pendidikannya.


Dokter tampan itu menelungkup kan wajahnya, guna mengistirahatkan pikiran dan raganya, yang sedari semalam berada di depan ruangan Nandin juga.


Dokter Riko terus memantau perkembangan Nandin lewat Suster-suster yang merawat gadis itu tanpa sepengetahuan Aditya.


Kini semua orang sudah pulang, termasuk orang tua Aditya yang terlihat kecewa pada anaknya itu, Supir datang mengantarkan pakaian ganti untuk Aditya!


Dengan wajah lesu akhirnya Aditya pun membersihkan diri, wajah tampan nya kian kelihatan berseri setelah di bersihkan, dan seketika perutnya memanggil ingin diisi amunisi, mengingat dari kemarin ia belum makan sesuatu apapun!


Sehingga kantin rumah sakit menjadi sasarannya!


Sekembalinya dari kantin, Aditya melihat Tama keluar dari ruangan istrinya berada!


"Tam," panggil Aditya.


Tama menoleh begitu suara tidak asing itu memanggilnya "Iya kak," jawabnya.


"Kamu enggak berangkat ke sekolah, kamu enggak boloskan?" tanya Aditya, dengan khawatir, mengingat adik iparnya itu akan segera ujian akhir.


"Aku khawatir sama kak Nandin, begitu mendapat kabar dari mama Keira," jelas Tama.


Aditya mengangguk, perasaan bersalahnya masih terlintas di wajahnya. Tama memahami itu.


"Tidak apa-apa kak, mungkin belum diberikan kepercayaan, semoga cepat diganti dan Kakak sama kak Nandin di berikan kekuatan," Tama menguatkan kakak iparnya,


Aditya tersenyum mendengar petuah dari adik iparnya itu."Makasih ya dek."


Tama pun mengangguk," Kak, adek pulang ya, kak Nandin sepertinya tidur, tadi habis minum obat." Tama menjelaskan keadaan didalam ruangan kakaknya itu.


"Hati-hati ya!" Lanjut Aditya.


Tama pun pergi, menjauh dari pandangan Aditya.

__ADS_1


Aditya berjalan kedepan pintu ruangan Nandin, dan sejenak berdiri menatap gadis didalam sana yang terlentang tertidur pulas, melihat keadaan itupun ia memberanikan diri masuk!


Ia menggeser pintu dengan hati-hati, berusaha menahan suaranya agar tidak mengganggu tidur gadis itu.


Ia berjalan lalu mendudukan dirinya di atas kursi, matanya sontak menatap wajah perempuan didepannya. Air matanya meleleh begitu saja, entah apa yang akan ia lakukan lagi terhadap gadis itu, ia mengingkari janji untuk tidak melukainya.


Tangannya menyentuh lembut rambut istrinya, "Maafkan aku sayang, aku benar-benar minta maaf. Aku melukai mu terlalu banyak," Lirih Aditya dalam hati.


Suara tangisnya tertahan, air mata membasahi wajah tampan nya itu.


Nandin terbangun dari tidurnya, melihat laki-laki disampingnya. Aditya terperangah karena membangunkan istrinya. Tapi Nandin tidak bergeming.


Ia berusaha bangun dari tidurnya, ia sekuat tenaga membuat dirinya berubah posisi menjadi duduk, Aditya berniat membantu, namun Nandin memberikan sikap penolakannya.


Aditya pun menahan dirinya, ia takut membuat Nandin histeris lagi seperti kemarin.


Nandin pun memundurkan tubuhnya, sehingga menyandar pada ujung ranjangnya.


Keduanya terdiam, Aditya akhirnya memberanikan diri membuka mulutnya.


"Udah ngerasa baikan?" tanya Aditya.


"Apa kamu baik-baik saja?" akhirnya Nandin membuka suara.


Aditya menaikan alisnya, merasa senang Nandin mau bicara padanya,"Hem?" hanya ucapan itu yang mengutarakan perasaannya, untuk memastikan pendengarannya.


"Apa kamu baik-baik saja, dengan sikap egois mu? melukaiku? melukai anakku?" lanjut Nandin.


Seketika raut wajah Aditya berubah, mendengar ucapan Nandin yang sontak meluluh lantahkan perasaannya.


Aditya bangkit dari duduknya, pindah ke atas ranjang dan menatap Nandin. "Marah lah, marahi aku sepuas hatimu. Berteriak lah karena aku menyakiti hati dan raga mu, tapi kamu harus tau aku tidak berniat melukai anak kita sampai harus kehilangannya."


"aku tidak mau berbicara denganmu," jawab Nandin lalu memalingkan wajahnya.


"Harus bagaimana agar kamu paham?" lanjut Aditya.

__ADS_1


"Aku mohon, keluarlah," jawab Nandin.


Aditya tampak kecewa pada pemikiran Nandin, dan ia berdiri lalu keluar dari ruangan itu.


Tidak ada tangisan lagi, namun dalam diam luka hati itu semakin menyayat, apa yang mereka lihat seperti semua pesakitan.


Aditya berjalan menuju bagian administrasi rumah sakit, ia membayar biyaya perawatan istrinya. Ia sudah dengar istrinya bisa pulang besok pagi, sehingga ia melunasinya hari ini.


Aditya menelpon Bu Sari untuk datang menemani Nandin di rumah sakit, karena ia harus pulang berganti pakaian dan pergi ke luar negri karena ada pekerjaan mendadak.


Aditya sampai di rumah, ia melihat Bu Sari yang tengah menyiapkan sup untuk dibawa ke rumah sakit. "Den, baju nya sudah disiapkan dikamar juga kopernya. Tapi kalau berkas-berkas belum , karena bibi gak tau," ucap Bu Sari.


"Baik bu, terimakasih," ucap Aditya. Memang Nandin lah yang biasa menyediakan perlengkapannya itu.


Saat menaiki kamarnya Aditya melihat Rani dan Yuni Asisten rumah tangganya yang lain keluar dari ruangan samping kamarnya. "Ran, Yun sedang apa kalian?" tanya Aditya melihat mereka keluar membawa penyedot debu. Mengingat ruangan itu memang tidak terpakai.


Rani dan Yuni sedikit kaget karena jarang sekali Tuan mudanya itu memanggil nama mereka, kecuali Bu Sari. "Ini Den, dari Minggu lalu, Non Nandin menyuruh kami membersihkan ruangan ini untuk kamar..." ucapan Rani tergantung saat menerangkan.


"Untuk?" tanya Aditya kembali.


"Maaf Den, untuk kamar calon Dede bayi nya katanya," jawab Rani, merasa tidak enak mengungkit luka Tuan mudanya yang baru saja kehilangan anaknya itu.


Aditya mengangguk pelan, "Kenapa saya bisa tidak tahu kalian membersihkan ini?."


"Non Nandin menyuruh kami ketika Aden pergi kerja agar tidak mengganggu," jelas Yuni.


Aditya mengangguk pelan, memikirkan istrinya yang pengertian itu, karena ia memang tidak suka jika ada yang naik kelantai dua jika dia sedang disana, sehingga Nandin selalu menyuruh Asisten rumah tangga bebenah jika tidak ada Aditya di rumah.


"Yasudah, makasih ya!" ucap Aditya.


"Baik Den," ucap Rani dan Yuni, lalu mereka turun.


Aditya memegang handle pintu kamar nya, namun langkahnya tertahan, ia kembali melangkahkan kakinya, memasuki ruangan disebelah kamarnya itu.


Ia menghirup nafas lalu mengeluarkannya sangat panjang, ia berjalan ke tengah ruangan itu, chat abu-abu yang belum tersentuh itu, mengingatkannya pada pikiran istrinya yang mungkin akan merombaknya sesuai harapan jika anak mereka lahir.

__ADS_1


Lalu Aditya berjalan ke arah jendela, ruangan itu luas dan tidak ada barang sama sekali didalamnya. Aditya berdiri di depan jendela, menatap kebawah dari ruangan itu, taman rumahnya terlihat luas dari sana. "Harusnya Ayah dan kamu bisa bermain disana, bisa tertawa di ruangan ini, Ayah bersalah bahkan belum pernah memberikan apapun padamu," batin Aditya.


Suasana hatinya seperti tembok di ruangan itu, Abu-abu. tidak ada yang bisa mengutarakan warna perasaan yang dikeluarkannya, semuanya kelabu.


__ADS_2