
Nandin berjalan menuju ranjang, merebahkan dirinya disamping Aditya. Ia menatap wajah suaminya itu dengan seksama, hingga tiba-tiba rasa bersalah datang lagi menghantuinya.
Gadis itupun membalikan tubuhnya membelakangi Aditya. Namun Aditya terbangun dan memeluk Nandin dari belakang.
"Sudah di ambil handphone nya?" tanya Aditya.
"Sudah, aku kira kamu tidur." jawab Nandin, dalam pelukan Aditya.
"Bagaimana bisa aku tidur,ketika istriku tidak ada di sampingku."
"Bukankah harusnya kamu mengantarku tadi." jawab Nandin.
Aditya berpikir apakah Nandin marah karena tidak di antar pergi mengambil Handphone nya. "Sayang, kamu marah?"
Nandin tidak menjawab pertanyaan Aditya. Ia berusaha menutup matanya, tapi pikirannya bergriliya kemana-mana.
***
***
Dokter Riko memasuki kamarnya, merebahkan dirinya di atas kasur. Lalu membanting semua bantal yang ada di ranjang itu. Berteriak sekuat-kuatnya. "Bodoh kamu Riko, bagaimana bisa kamu tidak bisa menahan diri." Teriak Riko pada dirinya sendiri.
Ia menelungkup kan badannya, lalu memukul kasur tak bersalah itu. Memarahi dirinya yang tidak terkontrol, dan menyisakan penyesalan.
***
***
Pagi tak terasa sudah menyapa, mata Nandin pengap karena tidak tidur semalaman. "Sayang, matamu kenapa?" tanya Aditya.
"Haruskah aku bilang, aku tidak enak badan." jawaban Nandin ketus.
"Ayo turun, cari makanan hangat. Biar badan kamu enakan." lanjut Aditya.
__ADS_1
Nandin mengangguk, lalu mengekor suaminya untuk cuci muka, sebelum turun untuk sarapan!
Nandin menundukan kepalanya, sedangkan Aditya memegangi tangan istrinya itu sampai tiba dilantai bawah.
Langkah Aditya terhenti, Nandin pun mengangkat wajahnya karena merasa ia belum sampai di dalam restoran.
Lelaki yang berada dihadapan Aditya dan dirinya, membuat Nandin bergetar. Melihat sorot mata Aditya yang seakan-akan mencengkeram.
"Kenapa Lo disini?" tanya Aditya.
"Gue liburan." jawab Riko.
"Bukannya Lo bilang mau ke Australia kenapa nyasar di Britania?" mata Aditya seakan memiliki bara api di dalamnya.
"Gue udah jelasinkan, ke Nandin semalem." lanjut Riko.
Aditya mengerutkan dahinya, menatap istrinya yang diam mematung. Pegangan tangannya ia lepaskan. "Semalam kamu ketemu Riko? dan kamu gak bilang ke aku?" tanya Aditya dengan sorot mata kecewa.
"Sayang bukan begitu. Aku bisa jelasin." jawab Nandin.
Air mata Nandin tampak akan tumpah, namun ia berusaha keras menahannya.
Melihat suaminya pergi dengan keadaan seperti itu, kini Nandin membalikan tubuhnya berhadapan dengan Riko. "Harusnya kamu tidak usah bilang, bahwa kita bertemu tadi malam." ucap Nandin.
Dokter Riko menatap wajah Nandin yang tidak pernah berbohong. "Kenapa? aku kira kamu sudah bilang pada Aditya." jawab Riko.
"Tidak semua keadaan harus aku ceritakan, apa menurutmu kejadian semalam pantas aku ceritakan pada suamiku? berhentilah menjadi pengganggu dalam hubungan kami. Aku sebenarnya membenci diriku sendiri, tapi sekarang aku membencimu." lanjut Nandin, seraya membalikan tubuhnya dan memasuki lift menuju kamarnya.
Dokter Riko mematung, melihat tubuh gadis itu yang semakin menjauh. Hatinya dibuat hancur berkali lipat, semalam ia hanya membayangkan bagaimana Nandin membencinya. Tapi hari ini, Nandin benar-benar melontarkan kata-kata itu padanya.
Nandin memasuki kamarnya. Ia mendapati suaminya berdiri di ujung kaca yang menghampar langsung ke pemandangan laut.
Dengan hati-hati Nandin mendekati suaminya."Sayang?." ucap Nandin.
__ADS_1
"Haruskah kamu tidak jujur. Bukankah dalam hubungan kita harus selalu bercerita. Kamu tahu kenapa aku mencintaimu, karena kamu selalu melibatkan aku didalamnya." ucap Aditya.
"Maafkan aku, aku kira itu tidak penting dan tidak perlu diceritakan." Jawab Nandin.
"Bagaimana itu tidak penting Din, apa jangan-jangan kamu pergi ke sini karena memang sudah janjian dengan si Riko sial**n itu." Teriak Aditya.
Mendengar ucapan suaminya, membuat Nandin berpikir dua kali. "Dit." lirih Nandin, melihat sikap Aditya yang tidak terkontrol.
Aditya menyadari teriakannya, yang membuat istrinya itu bergetar.
"Karena ini aku tidak bercerita, karena tidak semua harus ku ceritakan. Aku ingin menjaga hatimu, kamu selalu cemburu pada Riko. Sedangkan aku tidak melakukan apapun. Untuk semua tuduhan mu aku sama sekali tidak mengerti, aku pergi kesini hanya untuk berlibur, aku sama sekali tidak tahu Riko disini." Nandin mengucapkan jawabannya, dengan sendat-sendat.
Ia pun berlari kedalam kamar mandi, dan menyalakan kran airnya. Tangisnya membuncah didalam sana.
Aditya memegang kepalanya yang sakit. Ia berniat berlari mengikuti istrinya, namun keegoisan dalam dirinya menahan itu.
Nandin benar-benar tidak menyangka Aditya akan mengucapkan kata-kata itu.
***
***
Dokter Riko melanjutkan sarapannya, dengan pikiran yang amat kacau. Kesalahan apa yang ia lakukan sebelumnya, sampai terus melakukan kesalahan lagi dan lagi.
Aditya rubuh, kakinya lemas setelah membuat istrinya menangis, ia sangat merasa bersalah karena telah membentak istrinya itu.
Ia sudah berjanji, tidak akan membuatnya menangis. Hatinya hancur sehancur hancurnya, karena tidak bisa menahan diri.
Lelaki memang tidak bisa menahan diri dalam dua hal.
Pertama ketika orang yang dicintainya tersakiti.
Kedua ketika ia yang menyakiti orang uang dicintainya.
__ADS_1
Lumrah memang, dibalik kepribadiannya yang kuat, seorang laki-laki juga sama memiliki hati. yang kemungkinan akan tumbang jika resolusi sakitnya melebihi ambang batas.