LELAKI IMPIAN

LELAKI IMPIAN
HARI PERNIKAHAN!


__ADS_3

Setelah semua persiapan yang dilalui dan semua rintangan yang dilewati. Akhirnya Aditya dan Nandin sampai ke puncak kebahagiaan. Dimana keduanya akan mengikat janji suci.


Nandin turun langsung bersama calon mertuanya itu mengurus semua keperluan pernikahannya. Dan ibu Nandin hanya dikabari saat pernikahan ini akan terlaksana, mengingat pernikahan juga terbilang cukup cepat.


Tama tak berhenti bersyukur atas kebahagiaan kakaknya, yang akhirnya bersatu dengan lelaki pujaannya!


Sedangkan Dokter Riko, termangu di ruangan rumahnya. Menatap undangan pernikahan bernuansa putih tulang yang dibaluti pita berwarna emas, tanda kebahagiaan yang didekorasi seempurna.


Nama perempuan yang dicintainya, bersanding dengan nama sepupunya di atas undangan itu! Juga terdapat foto keduanya yang saling tersenyum bahagia!


Tangannya meremas lututnya, air mata sudah tidak tertahan lagi. Kini tangannya berpindah meremas rambutnya, dengan tertunduk tangisan Dokter lelaki itu terdengar sangat pilu.


"Rik, jadi ikut ke pernikahan Aditya kan?" tanya ibu Dokter Riko. Membuat lelaki itu menengadahkan wajahnya!


"Iya Ma sebentar, aku ambil jas dulu." jawab Dokter Riko, yang masih mengenakan kemeja putih dan duduk di ruang tamu.


Ibu Dokter Riko sangat mengerti perasaan putranya itu, ditambah setelah acara pernikahannya Dokter Riko tinggal masing-masing dengan Seila.


Entah apa yang sedang terjadi dengan pasangan baru suami istri itu.


***


***


Tama tidak berhenti menatap saudarinya yang cantik, dan mengenakan kebaya berwarna putih tulang. Duduk bersanding di samping Aditya.


Tangan gadis itu gemetar, tamu undangan sudah hadir dan memenuhi Aula hotel tersebut.


Aditya duduk disamping calon istrinya itu, juga disamping ayah nya.


Rasa grogi nya terlihat dari bagaimana dia memandang semua tamu yang hadir. Dan Nandin yang mengatupkan tangannya, berusaha menahan rasa groginya.


""Bagaimana, sudah bisa dimulai? Ada yang ditunggu lagi?" tanya penghulu.


"Sepertinya bisa dimulai." jawab pak Sakseno.

__ADS_1


Aditya tanpa aba-aba menegakan punggungnya, meraih tangan Tama selalu wali nikah kakaknya.


Tama diberitahu aba-aba untuk memulai dan dia sudah mengerti.


Tetapi sebelumnya Tama mengambil mic dan mengucapkan beberapa kalimat.


"Sebelumnya saya mengucapkan terimakasih, kepada semua para undangan yang hadir. Hari ini adalah hari yang sangat berarti untuk saya, dimana saya bisa mengantarkan kakak saya ke hari bahagianya. Kakak saya ini seorang figur yang hebat, dia penuh pengertian, dia tidak suka mengeluh, dan saya selalu berharap ia akan bersanding dengan lelaki yang bisa memahaminya. Hati ini saya akan menitipkan kakak saya pada lelaki pilihannya, kak Aditya tolong jaga kak Nandin dengan segenap hati kak Adit. Tegur ia dengan baik jika salah, jangan sakiti Perasaannya. Jika kak Aditya goyah dengan pikiran, jangan sakiti dia, bilang pada saya, saya akan membawanya pulang. Kini saya berikan tanggung jawab kepada kak Aditya untuk menjaga kakak saya," Tama meletakan mic itu dengan masih menggenggamnya. Tangannya menghapus air mata yang keluar dari ujung matanya.


Nandin tak kuat menahan air mata yang menetes, tidak menyangka adiknya mampu mengatakan kata-kata puitis dipernikahan kakak nya.


Aditya mengangguk, dan juga terharu akan ucapan calon adik iparnya itu.


Ucapan Tama juga menarik perhatian semua tamu. Membuat mereka terharu dan tidak sedikit yang meneteskan air mata, termasuk ibunya, Dokter Riko, juga mamanya.


Akhirnya Tama menjabat tangan Aditya, yang akan mengambil tanggung jawab mempersunting kakak ya. Tanpa aba-aba Tama langsung mengucap ijab "Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan kakak saya Nandini Binti Heriawan dengan maskawin duapuluh dua ribu dollar Amerika dibayar kontan"


Dengan pasti dan satu tarikan nafas Aditya mengucapkan dengan pasti. "Saya terima nikah dan kawinnya Nandini Binti Heriawan dengan maskawin tersebut dibayar kontan"


"SAH" Saksi mengucap serentak, dan para tamu undangan mengucap hamdalah.


Setelah melantunkan do'a, Nandin menyambut uluran tangan lelaki yang kini sah menjadi suaminya, laku menciumnya.


Kecupan halal pertama mendarat di kening gadis itu. Senyum pun terukir diwajah keduanya.


Wajah semua tamu undangan ikut sumringah, dan semua tamu dipersilahkan untuk menyantap makanan yang ada di pesta itu. Sedangkan kedua mempelai masuk kedalam ruangan VVIP hotel untuk berganti pakaian, karena acara di lakukan serentak langsung resepsi.


***


***


Acara resepsi pun dimulai. MC pun mengumumkan bahwa kedua mempelai kembali memasuki aula hotel itu. Di iringi lagu romantis yang menggambarkan kebahagiaan kedua mempelai, Nandin dan Aditya menapaki karpet merah menuju singgasananya.


Tatanan rambut Nandin yang diubah bak putri didalam dongeng, juga mahkota yang menghiasi kepalanya, menambah kesan cantik natural gadis itu.


Tatapan semua tamu undangan kini tertuju pada kedua mempelai itu. Gaun yang indah bak putri raja memang sangat cocok dipakai oleh Nandin, dengan kesan mewah yang dipadukan dengan wajah nya yang teduh.

__ADS_1


Aditya merasa sangat beruntung, mendapat pasangan yang membuat iri siapapun yang melihatnya. Gadis yang dipinangnya sungguh berhati baik dan berwajah cantik.


Tamu pun begantian menyalami kedua mempelai yang sedang berbahagia itu. Tidak terkecuali Dokter Riko. "Hai, selamat bahagia ya bro," ucap Dokter Riko kepada sepupunya itu.


"Thanks ya bro, dimana Seila?" tanya Aditya, melihat Riko datang sendiri menghampiri nya.


Dokter Riko hanya membalasnya dengan senyuman, dan memilih lanjut menyalami Nandin. "Selamat berbahagia ya," ucap dokter Riko. Dan menatap gadis itu dengan seksama, lalu melangkahkan kakinya berlalu.


Dokter Riko tidak makan atau apapun, dia memilih langsung pulang setelah setor wajah pada mempelai.


Nandin sepertinya kewalahan, menerima tamu yang menyalaminya. Juga berfoto, betisnya tegang, wajahnya terlihat lelah,"Sayang, cape?" tanya Aditya.


Nandin mengangguk, dan menggenggam tangan suaminya itu.


"Kamu belum makan kan, apa kita istirahat dulu?" lanjut Aditya.


Nandin lagi-lagi mengangguk. Tanpa aba-aba Aditya mengangkat tubuh gadis itu, padahal gaunnya saja sudah mencapai 8kg.


Nandin kaget bukan kepalang, "Sayang, mau ngapain aku malu." Nandin mengaitkan tangannya dipundak suaminya itu.


"Ayo kita istirahat, jiwa suamimu ini sudah meronta-ronta." jawab Aditya.


Aditya menggendong Nandin melewati semua tamu undangan," Dit, mau kemana?" tanya pak Sakseno.


"Mau pulang ke rumah Pa, istriku sepertinya kelelahan." jawab Aditya pasti, membuat semua tamu undangan tertawa mendengarnya.


"Bukannya kamu bilang mau makan, kok malah ke kamar?" Nandin berusaha menyembunyikan wajahnya dalam gendongan lelaki yang baru saja menjadi suaminya itu.


"Iya istirahat dalam pelukanku." jawab Aditya pasti.


Aditya memasuki lift VVIP menuju lobby utama hotel itu, dan mobil pernikahan mereka sudah terparkir disana.


Aditya dengan pasti membuka dengan susah payah mobil mewah itu dengan posisi menggendong istrinya.


Setelah memasukan Nandin ke dalam mobil. Aditya mengendarai mobil itu tanpa supir.

__ADS_1


Aditya menatap wanita yang hari ini menjadi putri raja, wanita itu benar-benar miliknya. Untuk hari ini dan selamanya.


__ADS_2