
Bara, Sasa, Heru and Galang.
Balapan dimulai, semua yang ikut telah berbaris di tempatnya masing-masing. Sebuah kain telah dilemparkan oleh perempuan ditengah, Biru, Bima dkk melihat balapan tersebut dengan seksama. 30 menit kemudian, nampak motor Senja dan Aldo yang saling berdampingan. Mereka berlomba untuk sampai ke garis akhir.
Orang-orang yang menonton begitu serius memperhatikan siapa yang akan menjadi juara dalam balapan malam ini. Terlihat Aldo yang ingin berbuat curang akan tetapi dapat Senja hadapi. Gadis itu memelankan motornya, dengan begitu Aldo lah yang jatuh karena ulahnya sendiri. Awalnya Biru begitu khawatir saat tahu Senja akan dicelakai oleh musuhnya, namun siapa sangka gadis itu terlalu pintar dan sudah biasa mengalami kejadian seperti tadi.
Berbeda dengan Bintang dan yang lain, mereka begitu santai menonton pertandingan. Sampai pada akhirnya Senja lah yang memenangkan balapan liar tersebut. Anak geng Aldo berlarian membantu ketuanya yang jatuh. “Nggak nyangka gadis nakal ini bisa sejago tadi.”
“Om kemana aja, makanya jangan meragukan skill Senja dalam bermotor,” jawabnya percaya diri. Kini tinggal teman-temannya yang lain balapan, gadis itu duduk menonton bersama Biru. Selagi menunggu semuanya selesai, Senja sedikit curhat kepada Omnya tentang sang Papa dan Laura yang akan melangsungkan pernikahan minggu depan.
“Kamu seriusan Pak Arya akan menikah minggu depan? Sama cewek centil itu?” ujar Biru terkejut. Senja menganggukkan kepalanya, dia mengeluarkan unek-uneknya kepada Biru soal Laura.
“Kita ikuti aja permainan cewek itu, setelah dia sah menjadi istri Papa kamu. Jangan lupa buat kerjain dia,” serunya tersenyum.
“Wah boleh juga tuh Om, lumayan buat hiburan saat dirumah. Biar dia nggak betah juga, Om Biru emang pintar.”
“Oh jelas dong pintar,” jawabnya.
“Ish menyesal aku bilang Om pintar,” ucap gadis itu. Cukup lama keduanya mengobrol, Bintang dan yang lain pun telah selesai. Karena malam semakin larut, Biru mengajak semuanya untuk langsung pulang kerumah. Tidak ada yang berani membantah perkataannya, mereka menurut dan menaiki motornya masing-masing lalu berpisah.
Sesampainya dirumah, Biru menyuruh Senja untuk berjalan pelan tidak mengeluarkan suara sedikitpun agar tak membuat Pak Arya bangun. Gadis itu mengangguk paham, setelah berhasil masuk ke kamar, Senja menuju jendelanya. Mengibaskan tangan pada Biru.
...••~••...
Hari terus berjalan, pernikahan antara Pak Arya dan Laura pun sedang berlangsung disebuah gedung mewah. Banyak rekan kerja Papa Senja yang datang ke acara tersebut, tak sedikit juga yang membicarakan soal pernikahan itu. Laura mendengar orang-orang tengah menggosipkan dirinya, tapi dia tetap tenang tidak ingin membuat kegaduhan. Senja serta keempat temannya duduk bersama sembari menikmati hidangan. Mereka berlima juga ikut bergosip, tak lama Biru, Ara, dan yang lainnya datang.
__ADS_1
“Gosip terus!” seru Nadia.
Kelima remaja tersebut terkekeh, mereka mempersilahkan semuanya untuk duduk bersama. Shena yang melihat Bintang langsung menghampirinya. “Kak Bintang ganteng banget,” ujar gadis kecil itu. Dia memberikan senyuman manisnya pada Bintang.
“Halo Shena, kamu juga cantik banget hari ini.”
“Shena nggak puji kak Bima sama kakak lainnya? Kok cuman kak Bintang doang sih yang dibilang ganteng,” seru Bima dengan ramah.
“Kakak juga ganteng, tapi menurut Shena kak Bintang yang nomor satu.”
Leo, Daffa mengelus punggung Bima. Mereka tertawa kecil melihat sahabatnya yang memasang wajah murung. Saat sedang asik berbincang, Laura datang dan duduk disamping Senja. Wanita itu mencoba akrab dengan teman-teman anak tirinya serta teman Biru. Pak Arya yang melihat istrinya berkumpul bersama keluarganya ikut senang. Dia tidak tahu saja didalam hati orang-orang itu mereka merasakan malas mendengar Laura yang banyak bicara.
Acara telah usai, Laura mengeluh lelah pada suaminya. Pak Arya pun memijit kaki sang istri dengan penuh perhatian. Senja yang tak sengaja melihat pemandangan itu menyunggingkan bibirnya.
“Gue yakin kalo dia nggak bakal mijitin balik Papa,” ucapnya dalam hati.
“Wah sialan tuh cewek! Untung gue lihat, kalo nggak bahaya nih.”
Gadis itu turun menyapa Laura dengan ramah. Tak lama turun juga Pak Arya sambil merapihkan dasinya.
“Halo Laura,” sapanya sambil melirik ke arah roti yang di siapkan ibu tirinya tersebut.
“Mama dong manggilnya sayang, nggak sopan bilang kayak gitu,” tegur Pak Arya.
Senja memasang wajah malas, dia memaksakan untuk tersenyum dan memanggil Laura dengan sebutan Mama.
“Mama udah buatin kita sarapan ya?”
__ADS_1
“Iya Senja, ayo sarapan bareng sebelum pergi sekolah. Aku udah siapin roti buat kamu, spesial.”
“Pah, bolehkan suapin Mama Laura roti milik Senja?” ucapnya sambil mempertegas kata Mama.
Pak Arya mengangguk senang, dia mempersilahkan anaknya itu untuk menyuapi roti kepada sang istri. Sedangkan Laura sendiri menelan ludahnya, dia melihat anak tirinya itu tersenyum miring. Senja mulai mengambil roti yang telah Laura siapkan untuknya. Berjalan menuju sang Mama menyodorkan roti tersebut ke mulut.
“Pah, lihat deh masa Mama Laura nggak mau sih Senja suapin,” ungkapnya mengadu dengan wajah cemberut.
“Bocah sialan, kalo begini malah senjata makan tuan dong. Didepan laki-laki tua ini gue harus bersikap baik sama anaknya. Baru juga kemarin nikah jangan sampai berbuat kesalahan,” gumamnya. Dengan ragu-ragu dia membuka mulutnya dan Senja memasuki roti sambil tersenyum.
“Ayo habisin Mah rotinya. Senja minum susu doang juga kenyang, sayang kalo misalkan roti ini nggak habis.”
“Nah begini yang Papa suka. Kalian berdua akur, semoga terus begini ya, jangan bertengkar.”
Laura mengangguk, dia terus mengunyah roti yang disuapi Senja. Setelah itu anak tirinya pamit pergi kesekolah dan dia juga pamit pada sang suami ke toilet. Didalam kamar mandi, perutnya terasa sangat sakit, menggerutu, mengeluarkan kata kasar kepada Senja. Dia benar-benar sial dan gagal membuat Senja sakit perut dipagi hari.
Pak Arya bingung dengan Laura yang selalu bulak balik kamar mandi. “Sayang kamu nggak papa?”
“Nggak kok mas, kalo mau ke kantor pergi aja, nanti telat loh,” jawabnya memegang perut.
“Yakin nggak papa? Kayaknya kamu sakit, mau mas antar kerumah sakit.”
“Nggak perlu nanti juga sembuh. Ayo mas aku antar ke depan.”
Senja yang sengaja menunggu Papanya pergi pun sembunyi di salah satu mobil. Setelah tahu sang Papa berangkat dirinya keluar, masuk kedalam rumah menyapa kembali Laura. “Senjata makan tuan ya? Kasian banget mau ngerjain gue malah kena sendiri. Mamam tuh roti campur obat sakit perut,” ledeknya.
“Heh anak sialan! Awas aja ya gue balas lu nanti.”
__ADS_1
Laura kembali memegang perutnya, Senja tertawa sembari mengacungkan jari tengahnya kepada wanita itu. “Urus aja dulu tuh perut, baru bikin rencana lagi. Bye gue cabut sekolah. Dadah MAHMUD!!”