Love My Stepbrother.

Love My Stepbrother.
Chap 105


__ADS_3

Tujuh orang remaja telah duduk di kantin. Kemudian datanglah tiga seniornya bergabung dengan mereka. Bima, Leo bercanda bersama Gio, ketiganya terlihat begitu dekat. Candaan demi candaan terus mereka lontarkan membuat semua yang ada dimeja sana tertawa kecuali Senja. Sedangkan Gibran hanya senyum-senyum.


Nasya menghampiri, dia mencoba membuat Senja panas hati. Menunjukkan foto Bintang yang mengantarkan Diana semalam. Tak hanya itu, temannya juga berkata jika sekarang Bintang sedang menyuapi si mahasiswi baru itu didalam kelas. Senja menelan ludahnya, dia berusaha bersikap biasa saja menahan diri agar tidak terpancing oleh geng lampir.


“Heh! Lu sehari aja bisa nggak sih jangan ganggu orang? Suara lu itu nggak enak didenger jadi tolong diem aja, nggak usah banyak ngomong!!” omel Thalia. Telinganya terasa ingin pecah saat mendengarkan ocehan dari Nasya.


“Babu nggak usah ikut campur, ini urusan gue sama bocah tengil. Oh iya, lu kalo udah jatuh miskin nggak usah sok-sokan ke kampus pakai mobil, mending jual aja buat kehidupan lu, THALIA!”


“Cih..!! Sejak kapan gue jatuh miskin?”


“Kita lihat lu kerja di cafe, pasti lu butuh duit banget kan buat bayar semua hutang. Udahlah ngaku aja nggak usah malu, biasanya juga malu-maluin," seru teman Nasya dengan senyuman miring.


Senja menggebrak meja sangat keras membuat seluruh mahasiswa/i yang ada di sana langsung melihat ke arahnya. Dia meminta agar Nasya serta teman-temannya diam tidak berbicara, mengusap wajahnya dengan kasar lalu pergi meninggalkan yang lain. Theo bangkit dari duduknya, berlari mengejar sang sahabat dan diikuti oleh Daffa CS.


Setelah berhasil mengejar, Senja meminta kunci motor kepada Theo. Dia pergi menggunakan kendaraan temannya tanpa berkata-kata. “Kemana dia?” tanya Seon. Para cowok begitu khawatir dengan sahabat perempuan. Mereka pun pergi juga menyusul, lebih tepatnya mencari keberadaan Senja.


“Cewek semalam pacar kamu Bin? Udah berapa lama kalian pacaran?” tanya Diana.


“Oh iya dia pacar aku, cukup lama sih. Udah jangan banyak bicara cepat abisin makannya.”


Diana tersenyum, dalam hati dia bersorak. Bintang lebih memprioritaskan dirinya daripada pacarnya sendiri. Dia juga bisa melihat raut wajah marah dari Senja. Teman-teman dikelas banyak yang memperhatikan, mereka berbisik-bisik mengatakan jika Bintang bukanlah cowok setia. Beberapa mahasiswa padahal sangat suka akan pasangan couple BinSen.

__ADS_1


“Gila serem banget tadi Senja marah. Emang ya si Nasya itu biang kerok, nggak bisa lihat orang lain hidup tenang.”


“Kayaknya Senja sama temen-temennya nggak bakal masuk hari ini, mereka pergi ngejar sahabatnya.”


“Suasana hati tuh cewek lagi nggak baik, udah lihat pacarnya sama orang lain terus diganggu sama Nasya CS.”


Bintang mendengar perkataan teman-teman kelasnya. Dia izin pergi pada Diana untuk mencari Senja. Akan tetapi perempuan itu dengan mudahnya berhasil menghentikan langkah Bintang. Di sisi lain, Senja berteriak sekencang mungkin. Dia berjongkok sembari menutup muka. “Bintangg lu jahat! Lu nggak peka akan perasaan gue. Kalo udah bosan lu bisa bilang bukan malah kayak gini! Gue sakit lihat lu sama dia, tahu nggak! Gue benar-benar sakit.”


“Kenapa? Kenapa harus ada orang lain muncul dalam hubungan gue sama dia. Gue udah percaya sama lu, gue bukan sekedar suka tapi gue cinta, BINTANG!!”


“Sen,” panggil Daffa.


Gadis itu menoleh, melihat jika teman dan seniornya datang menyusul. Sembilan remaja tersebut sudah mendengar teriakan Senja, Gibran dan Theo terdiam. Hati mereka berdua terasa sakit saat tahu orang yang disuka serta dicintainya sedih seperti itu. Theo mengepalkan tangan, dia menaiki motornya kembali dan pergi tanpa pamit.


“Kalo lu nggak bisa buat Senja bahagia gue bakal ambil lagi dia! Gue udah percaya sama lu, tapi apa? Cih!!”


“Maksud lu apa hah? Gue nggak nyakitin Senja,” seru Bintang sambil membangunkan Diana. Perempuan itu melihat noda darah dari sudut bibir Bintang dan langsung mengelapnya.


Theo tak menjawab dia keluar dari kelas dengan wajah yang masih kesal. Kembali pada Senja dkk, dia sedang dihibur oleh dua teman konyolnya yaitu Bima dan Leo. Gio bertanya siapa perempuan yang bersama Bintang itu, tapi mereka tidak ada yang tahu hanya menggelengkan kepala.


Lalu Senja menjawab jika itu adalah Diana, sahabat kecilnya Bintang. Dia tidak tahu jelasnya karena sang kekasih hanya memperkenalkan seperti itu malam kemarin. Matahari sudah mulai tenggelam. Mereka memutuskan pulang, Thalia dan Gio pamit untuk ke cafe. Dan Gibran pulang bersama Daffa, sisanya hanya saling pandang. Tidak tahu harus kemana mereka pergi, jika ke basecamp masih sore menurutnya.

__ADS_1


Pram dan Seon mengajak Bima, Leo pergi kerumahnya. Bermain game sampai malam tiba lalu setelah itu kumpul bersama anak-anak geng motor.


“Gue antar lu pulang ya Sen,” ujar Daffa.


“Nggak usah Daf, gue bisa balik sendiri.”


“Sendiri gimana? Lu nggak bawa motor, mau balik jalan kaki hah? Udah mulai gelap juga gue nggak mau lu kenapa-kenapa. Jangan banyak protes, pulang bareng gue!”


“Makasih," jawabnya. Senja naik ke mobil Gibran, Daffa menyuruhnya karena dia tahu jika gadis itu masih butuh menenangkan diri. Jika naik motor dengannya takut terjatuh, oleh sebab itu memintanya bersama sang senior.


Didalam mobil terasa hening, tak ada satu suara pun yang keluar dari mulut Senja dan Gibran. Padahal seniornya itu ingin sekali berbicara tapi tidak enak. Beberapa saat kemudian mereka sampai, Senja tersenyum berterimakasih.


Laura yang melihat anaknya pulang dengan cowok lain pun merasa heran. Pagi tadi Senja berangkat bersama Bintang tapi pulangnya malah bersama orang lain. Saat makan malam, Laura bertanya dan respon putrinya itu hanya tersenyum lalu terdiam.


Sang Ibu menggelengkan kepala pada Laura memintanya untuk tidak bertanya-tanya lagi. Dia tahu cucunya tersebut tengah tidak baik-baik saja.


“Gue pengen banget deh ngomong kasar sama Bintang, tapi dia bos gue sekarang,” bisik Thalia pada Gio.


“Bisa-bisanya dia ketawa lebar, padahal pacarnya lagi sedih. Si ceweknya juga gatel banget, dari pagi gue lihat nggak pernah jauh dari Bintang.”


“Hooh, pen gue lempar nih gelas ke arah mereka,” seru Thalia.

__ADS_1


Diana melihat dua karyawan Bintang yang mengoceh sambil melihat ke arahnya langsung mengadu. Saat Bintang melihat Thalia dan Gio, keduanya segera mengalihkan pandangan.


__ADS_2