
Di sisi lain, Echa bersama kedua anaknya sedang menunggu kepulangan Bara. Sudah puluhan kali menelpon namun tak ada jawaban. Bayinya pun selalu menangis membuat Echa kewalahan, dia benar-benar membutuhkan Bara untuk membantu.Thalia mengobati luka lebam pada wajah pria dewasa tersebut, gadis remaja itu memperhatikan begitu serius sampai tak mengedipkan mata.
Dia terpesona akan ketampanan Bara, Gibran bersama Gio hanya melihat apa yang sahabatnya lakukan. Sesekali kedua cowok itu menegur menyadarkan Thalia agar tak menyukai bapak-bapak dengan candaan. Waktu terus berjalan, malam pun semakin larut. Bintang kembali kerumah dan terkejut mendapatkan Bara berada didalam rumahnya.
Gibran mengangkat alisnya bertanya apakah Bintang mengenali pria dewasa itu. Dia pun mengangguk lalu merogoh ponselnya menghubungi Senja. Bintang meminta kekasihnya untuk memberitahu Echa jika Bara tengah ada dirumahnya dengan keadaan yang kurang baik.
“Bin, kata Tante Echa tolong rawat dulu dirumah kamu. Dia nggak bisa pergi karena udah malam banget. Bayinya belum tidur,” ucap Senja dari sambungan telepon. Bintang mengerti, dia pun meminta bantuan pada Gibran untuk membawa Bara ke kamar tamu.
Pukul 23.55, kedua sahabat Gibran izin pulang. Tadinya Gio ingin ikut menginap namun khawatir dengan Thalia yang pulang seorang diri. Setelah berpamitan mereka berdua bergegas menuju mobilnya masing-masing dan meninggalkan pekarangan rumah juniornya tersebut. Lagi dan lagi perjalanan keduanya tak berjalan mulus, selalu saja ada halangan. Kini di depan mereka terdapat beberapa anak geng motor, Thalia sedikit kesal karena dirinya sudah sangat mengantuk. Gadis itu turun dari mobilnya, berjalan mendekat ke salah satu motor yang paling depan. Gio melihat sahabatnya turun langsung buru-buru menghampiri, dia takut terjadi sesuatu kepada Thalia.
“Emangnya nih jalan punya bapak lu hah! Ngapain ngumpul ditengah jalan, ganggu orang aja. Sana minggir!”
Satu persatu membuka helmnya, Thalia terkejut ternyata orang-orang itu adalah sekumpulan remaja yang ada di cafe. Masih dengan wajah kesal dan juteknya dia sekali lagi menyuruh mereka semua untuk meminggirkan kendaraannya. Kavindra hanya terdiam memandang gadis didepan, dia tersenyum sedikit melihat Thalia yang menurutnya menarik.
Gio yang sadar sahabatnya terus-menerus ditatap oleh Kavindra langsung menarik tangannya, mengajaknya segera pergi dari tempat itu.
Kesal perkataannya tak ditanggapi, Thalia melemparkan sepatunya. Dia terus mengomel namun Gio berhasil membawanya kembali masuk kedalam mobil, si sahabat ingin turun lagi mengambil sebelah sepatunya tapi dicegah. Sepeninggalan dua sahabat Gibran, sepatu yang tergelatak dijalan itu diambil oleh Kavindra.
Besoknya Senja pergi kerumah Echa menggunakan mobil. Mengantarkan sang Tante menemui suaminya dikediaman Bintang. “Oh iya Tan, Om Biru anaknya udah lahir kemarin malam.”
“Iya kah? Nanti Tante kerumah sakit deh buat lihat,” jawabnya.
__ADS_1
“Ngomong-ngomong nama bayinya siapa Tan, lucu. Terus yang satunya udah masuk sekolah?”
“Ini namanya Gerald, Tante kasih nama itu. Sebenarnya sih udah ada nama cuman Tante sama Om sepakat buat ganti. Dan yang ini Ghea, masih satu tahun lagi buat masuk sekolah.”
Senja mengangguk-angguk kepalanya, dia kembali pokus menyetir dan tak lama sampai di depan rumah sang kekasih. Gibran yang membukakan pintu mempersilakan mereka masuk kedalam. Echa panik saat melihat wajah suaminya yang penuh memar. Bara pun menenangkan sang istri untuk tidak khawatir karena dirinya sudah diobati oleh si tuan rumah. Dia menceritakan kejadian semalam ketika pulang dari kantor. Dugaan Thalia dan Gio ternyata benar, Bara dihadang oleh dua orang lelaki, mereka mengambil barang-barang berharga miliknya.
Echa ingin melapor karena mobil suaminya hilang, tapi Bara tak mengizinkan. Dia sudah rela jika kendaraannya tersebut diambil orang yang terpenting baginya adalah keselamatan. Setelah mengobrol sedikit, Bara pun izin pamit pada ketiga remaja itu. Dia mengucapkan terimakasih karena telah ditolong.
“Bin, gue pergi duluan ya ke kampus,” seru Gibran siap dengan ranselnya.
“Tunggu kak, gue udah masak masa lu nggak sarapan dulu.”
“Aku numpang makan boleh ya? Ehehe...”
“Gue pulang agak malaman hari ini, soalnya harus jaga toko milik Daffa.”
“Iya nggak papa, lagian rumah nggak pernah dikunci," ucap Bintang.
Bima, Leo, Seon dan lainnya telah datang menjemput sahabatnya. Mereka memberitahu Bintang jika Senja tidak ada dirumah, Bima mengira jika gadis itu telah pergi duluan ke kampus. Suara familiar terdengar oleh keenam remaja tersebut, Senja keluar dari dalam rumah, dia menyapa semuanya dengan senyuman nakal. “Good pagi wahai anak hutan, udah pada sarapan?”
“Kalo belum emangnya lu mau ngasih kita makan?” tanya Leo.
__ADS_1
“Oh tentu tidak, gue cuman nanya aja nggak ada niatan buat ngasih anak hutan makan.”
“Ya udah diem.”
Senja tertawa melihat ekspresi teman-temannya. Dia mengeluarkan beberapa roti yang dirinya bawa dari rumah. Lalu memberikan roti tersebut pada Bima CS. Bintang menatapnya, ternyata gadis itu membawa bekal namun malah menumpang sarapan dirumahnya. Tak lama suara klakson mobil terdengar dari luar gerbang, Gio dan Thalia menjemput Gibran. Keduanya tahu jika sahabatnya itu tak memiliki kendaraan lagi.
Di kampus, Nasya sedang memprovokasi para mahasiswa lain. Ketika Senja dan yang lainnya tiba, beberapa dari mereka menyindir dan menyebut Pram serta Senja anak haram. Berita itu kembali ramai setelah Nasya berkoar-koar lagi. Awalnya kakak beradik itu tak ingin menanggapi perkataan orang-orang, tapi lama kelamaan mereka merasa geram juga kesal.
“Daf bawa Senja sama Pram ke kelas,” titah Bintang.
“Nggak!” tolak Senja.
“Pagi yang buruk, padahal waktu dirumah mereka happy,” seru Gibran dari kejauhan memperhatikan.
“Pasti ulah si Nasya sama Melissa. Suka banget nyari masalah, kek hidupnya tuh nggak akan tenang kalo nggak berbuat onar.”
Melissa yang mendengar perkataan Thalia langsung membantahnya. Dia menjelaskan jika dirinya baru saja sampai di kampus. Thalia menyunggingkan bibir tak percaya,tanpa berkata lagi gadis itu mengajak pergi kedua sahabatnya. Melissa kesal, memang bukan dirinya yang kembali menyebarkan berita tersebut. “Si Nasya pasti. Kenapa sih tuh anak akhir-akhir ini selalu bertindak tanpa seizin gue. Kalo gini caranya Gibran bakal tambah jauh dan susah untuk gue dapatkan lagi.”
Melissa berjalan cepat menuju kelas mencari keberadaan kembarannya. Dia ingin memperingati Nasya agar tidak bertindak seenaknya. Sesampainya di kelas, teman-teman yang tadinya berpihak pada Melissa kini malah menjauh. Mereka dengan kompak menatap tajam ketuanya. Nasya tersenyum simpul melihat sang kakak yang tak ditemani. “Gue tahu niat jahat lu sama Mama. Nggak akan gue biarin lu dan Gibran bersatu lagi,” gumamnya.
...•••...
__ADS_1
“Jika saatnya tiba, sedih akan menjadi tawa, perih akan menjadi cerita, kenangan akan menjadi guru, rindu akan menjadi temu, kau dan aku akan menjadi kita.”