
Setelah menggoda Silla sedikit Biru melanjutkan perjalanannya. Tidak lama kemudian keduanya sampai, ibu Silla langsung menyambut mereka dengan ramah. Perempuan tua tersebut begitu senang saat melihat Biru, dia juga begitu setuju jika anaknya menikah dengan pemuda yang tampan itu.
Biru menghela napasnya, penuh percaya diri segera menyampaikan niatnya untuk melamar Silla. Begitu tahu pemuda tersebut ingin menikahi putrinya ibu Silla pun mengangguk setuju. Sang anak hanya tersenyum, tidak disangka ibunya merestui. Begitu pun dengan Biru, kini masa lajangnya akan segera berakhir.
Beberapa minggu berlalu..., surat undangan pernikahan Biru dengan Silla sudah tersebar. Mereka berdua dibantu oleh Senja dkk, gadis itu begitu senang mengetahui Omnya akan berumah tangga. Hari pernikahan pun tiba, semua orang memuji ketampanan Biru, lelaki itu begitu menawan serta gagah mengenakan jas. Sedangkan Senja bersama Nadia dan juga Ara membantu persiapan Silla didalam kamar. Tak henti-hentinya ketiga perempuan itu memuji sang mempelai wanita.
Saat Silla dibawa turun kebawah oleh ketiga wanita cantik, mata para tamu langsung tertuju pada mereka berempat. Begitu juga Biru, dia menelan ludahnya melihat sang calon istri yang sangat cantik. Arka tersenyum melirik sahabatnya lalu menyenggol lengan Biru membuat lelaki tersebut salah tingkah. Pram, Bintang dan yang lainnya merasa kagum akan kecantikan Senja, ini kesekian kalinya mereka semua melihat sahabat perempuan satu-satunya yang tomboy feminim serta anggun.
Karena kedua pengantin telah datang maka acara ijab kabul pun akan segera dimulai. Arka menepuk pundak Biru sembari menyuruhnya menghela napas. Dia menyemangati sang sahabat agar tidak gugup saat mengucapkan ijab kabul. Tidak lama kemudian mereka berdua sudah sah menjadi sepasang suami istri, Senja yang berada dekat dengan Omnya menangis terharu. Ara mengelus pundaknya sambil tersenyum.
“Akhirnya Om kamu nikah juga, semoga mereka langgeng sampai akhir hayatnya.”
“Iya Tante, Senja terharu,” jawabnya sembari terus mengusap air mata dengan tissue.
Pak Arya bersama Laura mengucapkan selamat kepada Biru. Echa yang datang ke acara pernikahan sang mantan tersenyum manis, dia menggandeng tangan suaminya lalu memeluk Silla.
“Selamat ya, kalian pasangan yang serasi semoga sakinah mawadah warahmah.”
Silla yang tidak tahu siapa Echa pun hanya terdiam namun sembari tersenyum. Tak lama datanglah tamu yang tidak di undang, dia adalah Sasa berjalan dengan langkah anggun menghampiri pengantin. Dia memeluk Silla mengucapkan selamat, Ara dan Nadia yang melihatnya merasa heran namun tidak mereka pedulikan karena hari ini adalah hari paling berharga untuk Biru.
__ADS_1
“Sini kalian semua, ayo kumpul kita poto bersama,” ucap Galang. Dia memanggil keluarga yang lainnya untuk berkumpul. Laura awalnya hanya diam dirinya merasa tidak pantas berada bersama keluarga besar suaminya. Pak Arya yang masih mencintai wanita ular tersebut menarik lengannya, walau dirinya masih merasa kecewa akan kelakuan sang istri.
Laura menelan ludah, perasaannya sedikit demi sedikit mulai berubah terhadap Pak Arya. Beberapa minggu lalu sikapnya begitu ramah dan baik pada sang suami serta putri tirinya. Setelah semua terbongkar, wanita itu seperti merenungkan semua kesalahannya. Terkadang setiap malam dia selalu menangis hal itulah yang membuat Pak Arya mau menerimanya.
Acara poto bersama telah selesai, pesta pun masih berlanjut. Kali ini semua orang di minta untuk berdansa, Bintang dan Pram sama-sama melirik ke arah Senja.
“Hay! Mau dansa bareng gue?” ujar seorang lelaki dari samping Senja.
Gadis itu sontak terkejut, dia menyipitkan matanya melihat siapa lelaki tersebut. Pram dan Bintang saling pandang mereka berdua penasaran akan sosok lelaki yang mengajak Senja berdansa. Karena tidak ada jawaban dari Senja, maka lelaki itu langsung menuntunnya. Daffa, Leo serta Bima yang baru menyadari itu ikut terkejut, ketiganya bertanya kepada kedua sahabatnya.
15 menit berlalu, iringan musik dansa telah berakhir. Malam semakin larut para tamu pun sudah mulai sepi. Pak Arya dengan istrinya berpamitan kepada Biru, dia menitipkan Senja yang masih ingin berada di pesta. Usai berdansa dengan Senja lelaki yang tidak gadis itu ketahui hilang begitu saja.
Sesampainya di parkiran, Bintang, Daffa dan Leo yang penasaran Bima berbisik apa kepada Biru langsung bertanya. Ternyata dia mengatakan untuk Om Senja segera membuatkan dirinya seorang bayi. Leo memukul Bima karena gemas, bisa-bisanya temannya itu berkata demikian.
Di keesokan hari, Silla bangun lebih awal dibandingkan suaminya. Saat akan beranjak dari kasur, lelaki itu menarik tangannya dan Silla pun kembali ke dekapannya. Biru berbisik lembut membuat sang istri merasa geli, dia berusaha keluar dari dekapan suaminya karena sudah merasa gerah dan akan pergi mandi.
“Bareng sama aku yuk,” ujar Biru tersenyum menggoda istrinya.
“Nggak ah malu! Kamu mandi sendiri aja.”
“Kok yang semalam nggak malu sih?” ucapnya membuat Silla terdiam. Dia tidak berkata-kata dan langsung berlari menuju kamar mandi.
__ADS_1
Baru saja akan membuka bajunya pintu kamar mandi terbuka lebar. Ternyata itu Biru, dia tersenyum memandangi istrinya. Pipi Silla terlihat merah dia mengusir sang suami untuk keluar.
“Ih kamu ngapain di situ, sana pergi nanti aja kamu mandinya abis aku.”
“Kalo aku mau di sini liatin kamu mandi gimana?” tanya Biru.
“Biru, sana keluar. Malu tahu nggak!”
Sang suami tidak menghiraukan perkataan istrinya. Dirinya malah menutup pintu dan melangkah menuju Silla. Tanpa berbicara apapun Biru langsung mencium bibir sang istri dengan lembut, awalnya Silla ingin menolak namun lama kelamaan dirinya juga membalas ciuman tersebut.
Di tempat lain, Pram kini sudah berada di rumah Senja. Setiap hari mereka berdua selalu pergi ke sekolah bersama. Laura juga menyambut kedatangan Pram dengan sangat ramah, tak hanya itu wanita tersebut selalu memberikan kotak makanan untuk Senja. Saat mereka akan berangkat, suara klakson mobil terdengar dari luar gerbang. Merasa berisik Senja pun tidak jadi menaiki motornya dan pergi memeriksa.
“Ngapain sih pagi-pagi berisik! Lu, Sea? Ada apa ke sini bukannya hidup lu udah enak ya sama mantan pacar kakak lu?!”
“Gue ke sini cuman mau ngasih tahu ke Laura kalo nyokap lagi sakit dan minta dia datang. Kalo bukan perintah darinya gue juga ogah kali menginjakkan kaki ke sini!”
“Mana Mama tiri lu?” sambungnya dengan jutek.
Senja menyunggingkan bibirnya berjalan masuk memanggil sang Mama. Mendapat kabar jika sang ibu sakit Laura pun pamit pada suaminya.
“Laura! Mendingan lu ikut bareng gue aja biar cepet sampainya. Kalo naik mobil bakal lama nyampe,” seru Senja dengan cuek.
__ADS_1