
Kedatangan Gibran bersama dua teman lainnya membuat semua terdiam. Tiga senior itu mengajak Senja CS pergi, Bintang langsung menggandeng lengan kekasihnya mengikuti langkah seniornya. Sedangkan Dua saudara kembar yang berada dikelas tengah saling tatap. Sepertinya mereka berdua akan saling bermusuhan.
Senja terhenti dari langkahnya. Dia menghela napasnya kasar, memegang kedua pinggang dan menatap orang yang ada didepan. “Kalian duluan aja, gue ada perlu sebentar.”
“Jangan ada yang ngikutin gue! Termasuk kamu Bin,” sambungnya sebelum benar-benar pergi. Daffa mengangkat kedua bahunya saat Bintang melirik. Tak ingin membuat Senja marah maka semuanya pun menurut untuk tidak mengikuti gadis tersebut.
Suasana didalam kelas Melissa masih hening karena dua saudara itu. Para mahasiswa yang ada di sana hanya saling pandang dan memperhatikan. Tak lama Senja datang ke kelas tersebut. “Ada apa ini? Tatap-tatapan doang nggak mau saling tarik rambut gitu? Kayaknya seru, iya nggak kakak-kakak senior!”
“Woohh....!” sorak para mahasiswa yang ada didalam.
“Gue kayaknya nggak pernah nyari masalah sama kalian berdua, makasih berita untuk pagi ini, sangat membuat gue kagum. Nanti cari berita tentang gue dan saudara tiri gue lagi ya, pasti rame kalo disebar. Semangat!” Senja tersenyum pada Melissa dan Nasya. Gadis itu menyunggingkan bibir, matanya begitu tajam menatap dua saudara kembar tersebut.
__ADS_1
Dia keluar dari dalam kelas, dicap sebagai anak haram tentunya membuat gadis itu sedih. Namun, dia tak ingin orang lain tahu dan drinya harus tetap bersikap biasa, tegar dan menahan air mata. Senja mendongakkan kepalanya ke atas sebelum berjalan lebih dekat pada teman-temannya. “Maaf lama, ngapain nih? Oh iya Daf, udah ada kabar dari geng sebelah?”
“Kemarin mereka chat,” jawabnya.
“Dah lama nih nggak balapan. Btw kapan? Kok lu berdua nggak ngasih tahu kita," seru Bima.
“Tanya tuh anak,” jawab Daffa menunjukkan pada sahabat perempuannya. Semua orang langsung menatap pada Senja, dan gadis itu malah tersenyum. Tak menjelaskan malah mengalihkan pembicaraan juga mengambil makanan yang akan Leo santap. Berbicara tentang geng motor membuat Thalia ikut mengobrol. Dia menceritakan kejadian semalam pada mereka semua. Memberitahu ciri-ciri geng tersebut, bukannya terkejut Senja dkk malah memasang wajah biasa.
Ketika sedang asik mengobrol datanglah dua orang menghampiri, Bima dan Leo terkejut melihat keberadaan Cantika. Farid yang masih menjalin hubungan dengan mantan Bintang itu memanggil Gio kakak. Melihat reaksi Senja dkk seperti itu Thalia pun menjelaskan jika cowok di samping Cantika merupakan adik sahabatnya.
“Ya, baik," jawab Bintang dan Senja secara bersamaan.
__ADS_1
“Oh bagus deh.”
Bintang berdiri, dia ingin mengajak Senja pergi. Seperti tak ingin melihat wajah mantan pacarnya lagi. Namun, sang kekasih menggelengkan kepala. Dia melihat makanan ringan yang begitu banyak di depan matanya. Menandakan bahwa gadis itu menginginkan snacks tersebut. Gio diberi isyarat oleh Thalia untuk menyuruh adik serta kekasihnya pergi. Senja sengaja menyuapi Bintang dengan romantis didepan Cantika. Hal tersebut berhasil mengusir dua manusia yang tak punya malu itu.
“Woy! Gib. Diem mulu kenapa lu? Ada masalah bilang ke gue,” tegur Gio. Gibran menggeleng, dia izin pergi duluan dengan beralasan ingin ke toilet. Ternyata sedari tadi dirinya tengah memikirkan untuk pergi dari rumah Bintang. Gibran tidak mau terus menerus menumpang tidur, makan dan lain-lain.
Ditempat lain, Echa datang berkunjung kerumah Daffa. Wanita itu tahu jika Sasa sendirian tak memiliki teman mengobrol. Kedatangannya disambut baik, bahkan bayi yang Echa gendong langsung diambil alih. Sambil bercanda wanita itu bercerita jika dirinya pun ingin segera menikah. Mempunyai keluarga seperti Biru, Arka dan yang lainnya. Namun, dia sadar sudah tak ada lagi lelaki yang mau menerimanya.
Echa mengelus pundak Sasa dengan lembut.“Aku yakin masih ada sosok laki-laki yang mau menerima kamu, Sa.”
“Ekhem!”
__ADS_1
Dua wanita itu menoleh bersamaan, melihat Paris yang berdiri menatap keduanya. Lelaki tersebut menyapa Echa dan Sasa dengan ramah, berbasa-basi sebentar lalu memberitahu tujuan utama dirinya datang. Sasa tertegun saat Paris berkata bahwa dirinya ingin melamar, sungguh tak diduga-duga olehnya. Sejak kemarin dia sangat kepikiran, usia yang sudah tak muda lagi namun masih belum berkeluarga, menikah. Sasa terdiam sejenak sampai Echa menyenggol lengannya meminta jawaban untuk lamaran Paris barusan.
“Apa alasan kamu mau sama aku, Ris?”