
Laura tersenyum, lalu kembali mengelus lembut punggung sang suami. Kembali ke sekolah, Senja sibuk mencari jalan keluar. Dia terus berusaha sejak sore hari agar bisa pergi dari gudang. Perasaannya benar-benar kesal kepada Resti CS, dia berjanji akan membalas perbuatan mereka semua.
Biru yang melihat tingkah lucu teman-teman Senja tersenyum. Dirinya merasa senang bisa mengerjai keempat cowok penakut itu. Dengan suara beratnya, Biru meminta Bintang dkk untuk berbalik badan menghadap padanya. Mereka berempat kembali menelan ludah, dengan rasa takut dan kaki bergetar semuanya pun membalikkan badan sambil memejamkan mata.
Daffa menghitung mundur untuk mereka membuka mata bersama. Setelah hitungan terakhir terucap, Biru dengan sengaja menyalakan cahaya ponselnya didepan wajah. Saat para remaja tersebut membuka mata mereka semua langsung berteriak kencang. Leo yang benar-benar ketakutan sejak awal lari terbirit-birit duluan meninggalkan Bima, Bintang dan Daffa.
Biru yang melihat Leo tidak bisa menahan tawanya lagi. Ketika ketiga teman Senja akan ikut berlari, mereka mendengar tawaan Biru dan Langkahnya pun terhenti. “Tunggu guys! Kayak kenal nih suara,” seru Bima. Setelah mundur beberapa langkah dan melihat Biru, mereka menghela napas lega. Ingin rasanya Bima memukul lelaki didepannya, namun dia tidak punya keberanian.
Leo yang sudah lari jauh kini berada dekat gudang. Dia tidak sadar telah meninggalkan ketiga temannya. Cowok itu terus melangkah dan tak sengaja mendengar suara perempuan dari gudang. Jelas saja pikirannya mulai kacau kembali, dia mengira suara tersebut berasal dari makhluk halus kuntilanak. Air matanya Leo mulai mengalir, dirinya menangis ketakutan. Senja mendengar suara tangisan sang sahabat, dia langsung menggedor pintu meminta dibukakan.
“Manusia apa setan?” tanya Leo.
Senja terdiam, dia ingat jika Leo sangat takut akan hantu. Karena tak ingin berlama-lama berada didalam gudang maka gadis itu menjawab jika dirinya manusia. Leo melihat kunci yang tergantung, dia lalu membukakan pintu gudang dan keluarlah Senja dengan tampilan acak-acakan. Seketika sahabatnya itu memeluk gadis didepannya.
“Woy lu nangis?” tanya Senja, dia menahan tawanya melihat raut wajah Leo.
“Diem lu! Yo cari yang lain,” jawabnya.
“Cemen lu ah! Segitu doang pake nangis. Ya udah ayo, kalo lu peluk gue terus kapan susul yang lain.”
Leo melepaskan pelukannya. Dia memandang wajah Senja untuk memastikan jika perempuan didepannya benar-benar sang sahabat. Biru yang masih tertawa menyuruh ketiga orang tersebut mencari Leo yang kabur. “Om sih bikin kita kaget aja, sekarang tugas kita jadi harus cari dua orang kan!” omel Bintang.
__ADS_1
“Lah nyalahin, siapa suruh jadi cowok penakut.”
Ketiga cowok itu terkekeh, mereka berjalan bersama mencari Senja dan Leo. Biru bertanya mengapa mereka semua datang kesekolah, padahal dirinya tidak memberitahu siapapun. Lalu Bintang menjelaskan bahwa dia dan yang lain mengira-ngira Senja masih disekolah, Biru hanya mengangguk.
“Om Biru ke sini pakai apa? Didepan nggak ada motor atau mobil milik Om,” tanya Bima.
“Motor Om ada didepan sekolah, emangnya kalian nggak lihat? Motor segitu gedenya masa nggak kelihatan sih?”
“Lah orang kita datang aja nggak ada kendaraan satupun.”
“Seriusan kamu Daf?”
Daffa serta kedua temannya mengangguk bersamaan. Biru mengerutkan keningnya heran, jika yang dibilang mereka benar tidak ada motornya didepan lalu kemana motor itu? “Apa jangan-jangan...., motor Om Biru dicuri orang?” ungkap Bima.
“Kok Om nggak ada panik-paniknya sih motor hilang?” seru Daffa.
“Orang kaya, bisa beli lagi,” jawab Bima. Keempat tertawa, lupa jika Biru adalah seorang pengusaha sukses. Namun bagi Daffa motor yang hilang itu begitu berarti baginya jika semua terjadi padanya. Tidak ada yang tahu bahwa Daffa sebenarnya berasal dari keluarga sederhana, keempat temannya pun tidak tahu akan hal itu. Semua murid banyak mengira jika Daffa anak orang kaya, gayanya yang keren membuat semua berpikiran demikian.
Sudah hampir setengah jam mereka mencari dua remaja yang hilang. Sampai akhirnya kedua orang itu berhasil ditemukan, Biru langsung memeluk Senja setelah melihatnya. Lelaki berusia 34 tahun tersebut mengomel, sedangkan si gadis malah menggeleng-gelengkan kepalanya. Bima yang melihat Leo lagi meninju pinggangnya, cowok itu juga ikut mengomel seperti Biru.
Mereka semua keluar dari sekolahan, benar saja setelah berada di depan gerbang, motor Biru yang terparkir tidak ada di tempatnya. “Ayo pulang, biar Om yang bawa motornya,” ujar Biru menggandeng lengan Senja.
__ADS_1
“Om nggak bawa motor kah?”
“Bawa.”
“Mana? Terus kenapa Om mau pulang sama aku? Bukannya bawa motor,” serunya melihat kanan kiri. Namun gadis itu tidak menemukan kendaraan milik Biru.
Sang Om hanya menggeleng tidak berkata. Malam semakin larut, semua memutuskan untuk segera pulang. Sesampainya dirumah, Pak Arya yang belum memejamkan matanya berlari kearah sang putri. Laura melihat kepulangan Senja wajahnya langsung berubah, harapannya tidak terkabul. Lalu dia berpura-pura khawatir, mengelus lembut rambut Senja. Ingin rasanya dia menepis tangan si wanita licik tersebut, tapi di sana berada sang Papa.
Pak Arya mengucapkan terimakasih kepada Biru. Setelah itu Senja pamit ke kamarnya, dia tidak suka jika harus berdekatan dengan Laura yang selalu bersikap baik didepan Papanya, begitu juga Biru, dia izin untuk pulang.
“Syukur ya mas, Senja ketemu aku khawatir sama gadis itu. Apa nggak sebaiknya kamu larang dia untuk bergabung dengan geng motornya dan bermain sama banyak cowok?” ujarnya. Laura sengaja berkata demikian agar rencananya menyingkirkan Senja lebih mudah sebab tidak ada lagi yang menjaga.
Si suami terdiam memikirkan perkataan istrinya. Dia sebenarnya tidak tega jika harus menyuruh Senja menjauhi teman-teman cowoknya. Hanya Bintang dkk lah yang selalu menghibur dan membuat sang putri bahagia. Ditambah anaknya itu tidak pandai bergaul dengan perempuan lain.
“Nanti deh mas bicarakan lagi sama Senja.”
“Iya mas, ini semua kan demi kebaikan anak kita sendiri. Lagipula seorang gadis bermain dengan banyak cowok itu bahaya. Kalo terjadi sesuatu yang nggak mas inginkan gimana?”
“Semoga lelaki peyot ini mau dengerin gue!” gumam Laura sembari tersenyum kecil.
Di dalam kamar Senja merebahkan badannya, dia menatap langit-langit kamar. Kehadiran Laura dalam keluarganya membuat dia menjadi tidak betah berada lama dirumah. Dirinya berniat pergi dan tinggal dengan Ara atau Biru, tapi dia juga tidak ingin membiarkan Papanya itu dimanfaatkan oleh si wanita licik. “Argghh, gue harus cepat-cepat bongkar niat tuh wanita. Banyak lelaki muda yang pantas kenapa dia harus milih bokap gue sih! Kalo bukan karena harta dia pasti ogah,” gumamnya.
__ADS_1
“Tunggu aja Laura, gue nggak akan biarin lu tinggal lebih lama di sini.”