
Sea dirumah terlihat depresi, wanita itu benar-benar tidak menyangka jika dirinya hanya dimanfaatkan oleh Daniel sang kekasih. Semua yang dia miliki telah diberikan pada cowoknya tersebut. Namun, balasan dari Daniel adalah sebuah pengkhianatan. Setiap hari dia selalu mengurung diri dan menangis, Laura sudah membujuk akan tetapi adiknya itu tetap tidak mau keluar kamar.
Tanpa kakaknya ketahui, Sea ternyata tengah mengandung anak mantan kekasihnya tersebut. Wanita itu berniat bunuh diri tapi tiba-tiba pintu kamar terbuka, nampak Laura berdiri diambang pintu, ketika melihat adiknya siap gantung diri dia cepat-cepat berlari mendekat. Menampar pipi sang adik dengan keras lalu memeluknya.
Si ibu yang sudah sehat pun turut datang melihat anak kandungnya. Dia merasa kasian akan keadaan Sea sekarang, seketika itu juga hatinya menangis. Hal buruk yang pernah Sea perbuat kepadanya tiba-tiba sirna. Di lain tempat, Echa beserta keluarganya terlihat bahagia. Mereka berempat datang ke makam Bu Tania dan Pak Rangga untuk memperkenalkan anggota baru.
“Ca, pulang yuk. Udah sore kasian Rena nya,” ucap Bara mengajak sang istri pulang sambil melihat ke arah bayi yang digendong Echa.
Sebelum pulang kerumah mereka terlebih dulu mampir ke kedai Biru. Kebetulan di sana ada Nadia, Arka dan juga anaknya. Silla merasa gemas pada dua bayi tersebut, dia mengelus perutnya tidak sabar untuk lahiran. Galang menggoda sang istri, berkata apakah Ara menginginkan seorang bayi atau tidak.
“Dua cukup Galang, enak aja mau nambah.”
“Aku maunya banyak biar rumah nggak sepi,” ungkap Galang sembari tertawa kecil. Biru dan Arka meledek, sedangkan Ara malah mencubit perut suaminya.
“Shena mau adek nggak?” sambung Galang pada putrinya. Dengan cepat gadis kecil tersebut pun menganggukkan kepalanya, Ara menatap tajam sang suami.
Setelah bercanda ria dan berbincang-bincang, satu persatu mereka berpamitan pulang. Kini menyisakan sang pemilik kedai dengan istrinya. Biru mendekatkan telinga pada perut Silla, mengelus lembut dan mengajak bayi dalam kandungannya berbicara. Sore berganti malam, Bintang datang kerumah Senja membuat Laura terkejut. Cowok itu menyapanya dengan ramah. “Malam Tante, Senja nya ada?”
“Tunggu bentar ya, Tante panggilkan dulu.”
Bintang mengangguk dia menunggu diluar rumah sambil bermain ponsel. Tak lama keluarlah Senja, gadis tersebut izin pergi pada sang Mama dan memintanya untuk tidak menunggu lagi. “Ya sudah hati-hati kalian berdua. Jaga Senja, Bintang.”
“Baik Tante, oh iya salam buat Pak Arya.”
__ADS_1
Gibran, Gio dan Thalia tengah menunggu kedatangan Senja dkk. Mereka berniat untuk balapan, namun ketika semuanya sudah berkumpul, Thalia justru mengajak para junior itu berpesta bersama. Dia menjelaskan jika tidak berminat bersaing, masalah tabrak menabrak pun Gibran sudah meminta maaf. Bintang berdehem saat kekasihnya terus dilirik oleh seniornya tersebut. Dia menarik tubuh Senja dan menyimpan tangannya di pinggang si pacar.
“Kenapa?” tanya Senja pelan. Bintang menggeleng, Seon bersama Pram tersenyum bersamaan melihat sikap sahabatnya itu yang cemburu.
“Kalian udah lama kah sahabatan-nya?”
“Lama banget, saking lamanya sampe dikira saudara. Iya nggak Leo, duh enak banget nih makanan boleh nambah nggak sih?” ujar Bima. Senja merasa malu dengan tingkah Bima, Leo dan Theo, ketiga orang itu terlihat seperti manusia yang tidak diberi makan sebulan.
“Pram, Seon lu berdua nggak ikutan kayak mereka kah?” tanya Bintang.
“Sorry Bin kita berdua lihat doang juga udah kenyang,” jawab Seon.
Gio melongo ketika makanan bagiannya ikut dilahan oleh ketiga sahabat Senja. Merasa tak percaya jika makanan sebanyak itu habis oleh tiga orang, dia menelan ludah lalu terdengar suara perut. Senja sembunyi dipunggung Bintang sambil berbisik-bisik.
“Ah santai aja, kita temenan berarti sekarang?” seru Thalia.
Senja mengangkat kedua bahunya dan para teman menatap kearahnya. Gibran memperhatikan dia menyimpulkan jika semua keputusan ada di tangan gadis didepannya. Beberapa saat tak ada suara satu pun yang keluar dari mulut mereka, sampai Pram menunjukkan kembang api di atas langit sana. Senja berkata pelan memuji kecantikan kembang api tersebut.
Setelah melihat pemandangan itu mereka semua berpamitan. Karena jam masih menunjukkan pukul 21.00 maka Senja berniat mampir dulu ke rumah Bu Ana. Dia ingin mengucapkan terimakasih telah mengizinkan Bintang kembali dan berkuliah di tempat yang sama. Sesampainya di sana, Senja mengetuk pintu depan sambil mengucapkan salam. Tak lama Mama Bintang keluar, nampak wajah wanita itu terlihat pucat membuat kedua remaja tersebut cemas.
“Mama kenapa?” tanya sang anak. Padahal sebelum dirinya pergi keadaan sang Mama masih terlihat segar dan sehat. Mengapa setelah dia pulang wajah Mamanya itu berubah pucat. Bintang yang khawatir pun meminta Bu Ana pergi kerumah sakit. Namun, wanita itu menolaknya dan berkata bahwa dirinya baik-baik saja.
“Benar kata Bintang Tan, kita periksa aja ke rumah sakit,” lanjut Senja.
__ADS_1
“Tante nggak papa sayang, tumben jam segini udah balik. Ayo masuk nggak baik bicara diluar sambil berdiri.”
“Mah...”
Bu Ana terdiam menghentikan langkahnya. Dia masih menghadap ke depan membelakangi Bintang dan Senja. Tanpa keduanya ketahui wanita tua tersebut menitikkan air mata. “Ayo-ayo masuk ajak Senja nya Bin.”
“Kamu mau minum apa nak Senja?”
“Nggak usah Tante, ngerepotin.”
“Udah nggak papa. Kalian tunggu dulu ya,” ucapnya. Di dapur sana Bu Ana kembali menangis sambil membuatkan minuman. Sedangkan diruang tamu Senja melirik sang pacar yang terlihat sedih. Gadis itu menggenggam lengannya dan tersenyum manis.
Usai membuatkan minum mereka bertiga mengobrol bersama. Ketika ditanya kenapa Bu Ana justru mengalihkan pembicaraan, dia malah memuji kecantikan Senja yang makin hari tambah menawan. Entah apa yang Mamanya rahasiakan, Bintang menjadi penasaran. Satu jam sudah berada di sana, Senja pamit pulang. Gadis itu bercerita jika Laura selalu menunggu kepulangannya membuat dia tidak tega.
“Hati-hati ya, abis antar Senja langsung pulang Bintang.”
“Iya Mah, ya udah aku pergi dulu Mama tidur aja udah malam.”
Beberapa menit kemudian keduanya sampai, didepan gerbang sekali lagi Senja menyemangati pacarnya dan menyuruh untuk tidak khawatir. Cowok itu mengulas senyum dan mengelus lembut lengan Senja lalu mengacak rambutnya. Sebelum masuk kedalam gadis tercintanya tersebut berbisik.
“I love you!”
Laura heran dengan Senja yang berlari sambil senyum-senyum, setelahnya dia pun ikut masuk. Sebel pergi ke kamar Laura terlebih dulu mengecek keadaan adiknya, Sea. Wanita itu sudah terlihat lebih tenang, kini tengah tertidur pulas.
__ADS_1
“Syukur deh,” ujarnya sambil menghela napas. Pintu kamar ditutup ternyata Sea belum tertidur. Dia bangkit dari ranjang dan berusaha membuka jendela.