Love My Stepbrother.

Love My Stepbrother.
Chap 102


__ADS_3

Hari hari terus berjalan. Pertandingan antara Kavindra dengan Senja dkk pun telah selesai, mereka melakukan hal tersebut hanya untuk bersenang-senang belaka. Bahkan sekarang, dua geng itu sering berkumpul bersama menjadi satu. Basecamp pun bertambah ramai, banyak dari teman Kavindra yang mulai merasa nyaman.


Satu bulan berlalu, cafe milik Bintang mulai berjalan. Dia begitu sibuk akan usahanya, bahkan lupa untuk menjaga kesehatan. Tugas kuliah yang cukup banyak membuat dirinya begadang terus-menerus. Namun, untungnya ada teman-teman dia yang selalu menjaga dan mensupport. Senja selalu memperhatikan kesehatan sang kekasih, gadis itu tak lupa memberikan vitamin.


Usai kuliah, Bima mengajak semua temannya berkumpul bersama. Saat yang lain sudah berdatangan, Senja justru masih dalam perjalanan karena gadis itu harus pulang terlebih dulu. Ketika sudah sampai di tempat yang ditentukan Bima, Senja pun memarkirkan motornya dulu diparkiran. Dan tak sengaja dia menabrak seseorang saat dilihat ternyata itu adalah Nasya juga Melissa. Satu bulan ini dua perempuan tersebut tidak mengusik kehidupannya.


Senja melanjutkan langkahnya dan tak memperdulikan kedua orang itu. Namun, perkataan dari Nasya mampu membuat ketua geng motor tersebut menghentikan langkah. Dia membalikkan badan, berjalan mendekat lalu merangkul mereka. Dari kejauhan Daffa melihat sahabatnya tengah bersama Nasya-Melissa. Dia memberitahu Bintang serta yang lain, awalnya mereka semua hanya duduk memperhatikan, tapi tiba-tiba saja Senja mendapatkan satu tamparan yang membuat Bintang bangkit dari kursi.


Entah apa yang ketiga gadis itu bahas, para cowok tidak paham. Intinya yang mereka lihat adalah saat sahabat perempuannya ditampar. Bintang langsung menarik tangan Senja menjauh dari Nasya dan Melissa. Setelah itu di bawalah sang kekasih pergi.


“Gue yakin pasti cewek sialan itu udah pernah tidur sama teman-teman cowoknya. Punya teman isinya batang semua kek nggak ada yang sesama jenis aja atau emang para cewek pada nggak mau nemenin,” sindir Nasya.


Senja mulai terpancing, sejak tadi dirinya selalu sabar menghadapi sikap seniornya tersebut. Dia mengambil begitu saja minuman yang dibawa seseorang dan kebetulan lewat di dekatnya lalu menumpahkan minuman itu ke wajah Nasya. “Jaga mulut lu! Se—nakal-nakalnya gue nggak pernah melakukan seperti yang lu pikirin. Gue masih punya harga diri dan mereka para cowok tahu caranya menghormati seorang perempuan.”


“Dan iya, gue temenan sama banyak cowok emang salah? Menurut gue lebih baik sama mereka daripada lu yang isinya pada munafik semua,” lanjut Senja dengan senyuman sinisnya.


Nasya terdiam mendengar perkataan dari juniornya itu, Melissa yang sudah merasa malu pun mengajak sang saudara pergi. Senja menghela napas kasar, moodnya mulai jelek. Wajah cantiknya juga berubah murung. Bima mencoba menghibur lagi gadis itu dengan tingkah konyolnya. Awalnya gagal tapi saat Leo menabrak sebuah tiang gadis itu tertawa sekaligus mengejek. Karena asik mengobrol dia sampai tak memperhatikan sekitar, tadinya Pram akan memberitahu namun dilarang oleh Daffa.


Leo mengelus kening mulusnya, dia mengaduh kesakitan. Disela-sela perkumpulan itu, Senja tak sengaja melihat Daniel bersama istrinya. Dia langsung teringat kepada Sea dirumah. Ingin sekali Senja menghajar lelaki brengsek tersebut mau bagaimanapun juga Sea keluarganya, adik dari Laura. Kebetulan meja Daniel tak jauh dari tempat dirinya berada, Senja langsung berkata-kata menyindir seolah sedang bercanda dengan teman-temannya.

__ADS_1


Istri Daniel merasa terganggu akan perkumpulan anak remaja itu, dia protes kepada suaminya dan meminta Daniel untuk menegur Senja dkk.


“Hay! Om Daniel apa kabar? Kok akhir-akhir ini jarang kerumah lagi ketemu sama Tante aku?” sapa Senja, dia sengaja berbicara terlebih dahulu sebelum sosok pria di dekatnya. Lalu Bintang, Daffa dan yang lainnya juga ikut menyapa membuat wanita disamping Daniel mengerutkan kening heran.


“Kamu kenal sama mereka Mas?” tanyanya. Si suami menggelengkan kepala atas jawaban dari pertanyaan sang istri.


“Kalo kamu nggak kenal kenapa mereka tahu nama kamu, nyapa pula.”


“Ya aku nggak tahu, beneran nggak kenal sama mereka semua.”


“Om, nikah kapan nih? Udah tiga bulan loh hehe...” seru Senja.


Daniel menelan ludahnya, dia tahu apa yang dimaksud oleh anak tiri Laura itu. Istrinya menjawab ucapan Senja berkata jika mereka sudah menikah, tapi gadis remaja tersebut hanya mengangguk sambil tersenyum. Tidak ingin mendengar lebih banyak ocehan dari anak-anak remaja itu Daniel pun bangkit dari duduknya lalu mengajak sang istri pergi. Padahal pesanan mereka sudah sampai, dia meninggalkan beberapa lembar uang membayar pesanannya.


“Kakak,” ucap seorang gadis kecil pada Senja.


“Hai, kamu yang malam itu kan? Makasih ya jepit rambutnya nih kakak masih pakai loh,” jawabnya dengan ramah dan senyuman hangat. Gadis kecil itu merasa senang karena Senja masih mengingatnya padahal sudah sebulan lalu ditambah pertemuan mereka berdua hanya sebentar.


“Boleh aku minta foto lagi nggak?”

__ADS_1


“Tapi kakak nggak secantik kayak malam itu,” ujar Senja.


“Halah! Ngomong gitu biar dibilang 'Kakak tetap cantik kok' dasar," ledek Theo.


Senja mencubit sahabatnya pelan. Lalu setelah itu melakukan foto bersama dengan gadis kecil tersebut. Ibu dari si gadis mengucapkan terimakasih karena telah memperbolehkan putrinya berfoto. Bintang melihat jam yang melingkar di tangannya, ternyata waktu sudah menunjuk setengah lima.


“Balik yuk, kasian juga Thalia di cafe sendirian.”


“Ya udah. Gue juga udah gerah pen cepet-cepet ketemu air. Mandi lengket semua nih badan,” sahut Bima.


“Nanti malam aku nggak datang dulu ke tempat kamu ya Bin. Soalnya ada acara sama Om Biru,” seru Senja.


“Iya sayang,” jawabnya lembut sembari mengacak pelan rambut sang kekasih.


“Guys! Sudah waktunya kita mencari pasangan, nggak bosen apa liatin dua makhluk bucin ini? Gue pen ngerasain diribetin sama cewek, mau tahu gimana susahnya jadi seorang cowok saat udah punya pawang,” ucap Leo dan diangguki oleh Bima serta Seon.


“Nanti ngeluh pas udah punya, ini lah, itu lah,” sindir Daffa.


“Nah bener, kalo gue sih berharapnya dapat cewek kayak Senja. Nggak banyak mau, no ribet, apalagi manja” seru Theo.

__ADS_1


“Move on woy! Udah ada pawangnya tuh cewek,” ledek Leo.


“Kalo boleh jujur sebenarnya gue masih suka dan cinta sama lu Sen, tapi kayaknya itu nggak akan mungkin lu gue dapatin. Terlihat kalo lu lebih bahagia dan udah merasa nyaman sama Bintang,” batin Theo. Pram mengibaskan tangannya didepan wajah. “Hayoh ngelamunin apa....?”


__ADS_2