Love My Stepbrother.

Love My Stepbrother.
Chap 80


__ADS_3

Diam-diam Senja mengirimkan pesan pada geng motornya. Tak lupa gadis itu juga mengirim DM ke akun geng motor Aldo, meminta mereka semua untuk datang kesekolah Nusa Bangsa. Jika dua anggota geng tersebut disatukan maka jumlah mereka akan tambah banyak. Senja yakin bisa mengalahkan para penyandera yang jumlahnya hanya 12 orang.


Tak butuh waktu lama, teman-teman Senja yang bersekolah di tempat lain memutuskan bolos sedangkan sisanya yang nganggur segera bergegas menuju lokasi. Para polisi bingung akan kedatangan geng motor dengan jumlah banyak itu. Senja melambaikan tangannya dari salah satu kelas lalu menunjuk arah kanan tempat dirinya masuk.


Bintang bingung mengapa gengnya datang ke sekolah, dia melirik Senja dengan tatapan tajam. Helaan napas dia hembuskan dengan kasar, kekasihnya tersebut sangat keras kepala.


Para penjahat masih pokus berjaga mereka semua belum mengetahui kehadiran para anak remaja yang jumlahnya melebihi mereka. Di aula, Bima tidak bisa diam. Dia bersikap aneh membuat Daffa dan Seon bingung. Setelah ditanya ternyata dia tengah sakit perut dan ingin buang air besar.


“Bim lu bisa serius dikit nggak?”


“Nggak baik kalo mau berak ditahan-tahan. Ayo Daf bantu ngomong ke mereka ini udah diujung banget.”


Sebuah suara kecil keluar dari pantat Bima. Lalu bau-bau aroma kenikmatan pun menyeruak di setiap sudut. Leo yang tengah menenangkan adiknya langsung menutup hidung, dia tidak tahan akan bau tersebut. Seorang guru yang kebetulan duduk dibelakang Bima menegurnya.


“Tai lu keluar nggak Bim, cepirit lu ya?” bisik Seon. Dia berusaha untuk tidak tertawa.


“Daf ayo dong, gue nggak berani nih,” ujarnya dengan raut wajah memohon. Daffa menghela napas melihat dengan tatapan kasian temannya yang sudah tidak tertahankan lagi.


“Bang! Boleh izin ke toilet nggak? Temen saya mau baung air besar,” ucap Daffa.


Dua orang penjahat menatapnya, dia bertanya siapa teman yang Daffa maksud. Lalu cowok itu pun langsung menunjuk ke arah Bima. Awaknya tidak diizinkan seorang pun keluar dari aula, namun karena banyaknya orang yang meminta untuk diperbolehkan maka Bima diajak pergi. Lagipula para penjahat juga merasa terganggu dengan bau itu.

__ADS_1


Ketika melewati kelas yang dihuni oleh Senja dkk, gadis tersebut heran akan dibawa kemana temannya itu. “Badan mereka besar-besar. Lu semua ikuti apa yang gue perintah tadi. Sekarang Bintang, lu dan dua lainnya ikut gue ikuti Bima. Sisanya jalani tugas masing-masing, untuk hari ini kita semua bersama bukan musuh karena ketua kalian juga ada di dalam sana.”


Semua mengangguk, satu persatu membawa kayu untuk jaga-jaga. Mereka mengendap-endap dibawah agar tidak kelihatan di jendela. Senja mengernyitkan dahi saat dia sampai di toilet, raut wajahnya seketika berubah.


“Si Bima emang kampret, bisa-bisanya dia boker dalam keadaan genting.”


Ketika orang jahat sedang menunggu Bima keluar, Senja dan Bintang langsung menyerangnya. Dua pukulan mendarat di pipi lembut gadis itu, karena masih merasa kewalahan akan kekuatan lelaki tersebut maka tiga orang lainnya ikut membantu.


“Sialan! Ternyata dia kuat juga ya, sakit bener nih pipi.”


“Makanya hati-hati,” ucap Bintang sembari mengelus pipi kekasihnya. Bima mematung melihat kemesraan dua temannya di hadapan dia.


Pram yang tidak terlalu jago dalam berkelahi harus bonyok. Namun dia terus berusaha bangkit menghadapi satu lelaki berbadan besar. Leo, Daffa, Seon, Aldo dan Lea berdiri bersamaan ketika melihat teman-temannya datang menerobos masuk. Mereka ikut membantu sedangkan murid dan guru mundur kebelakang karena takut terkena perkelahian tersebut.


“Lu harus hati-hati Sen, soalnya ada beberapa orang yang bawa pisau sama pistol. Tadi aja udah di letuskan satu peluru. Untungnya bukan ke arah gue dan yang lain,” ucap Bima.


Biru yang tengah menjaga kedai utama ditelpon oleh Paris. Dia memberitahu jika Senja, Pram serta teman-teman lainnya sedang berada disekolah yang terkena sandera. Buru-buru Biru pamit izin pada istrinya, Ara yang berada di sana dengan Shena ikut cemas apalagi mendengar nama Pram. 15 menit kemudian sampailah di tempat yang dikirimkan Paris. Bertanya pada polisi yang berjaga tentang keadaan keponakannya.


“Mohon tenang Pak, kami sedang berusaha bernegosiasi dengan ketua mereka. Ini hampir berhasil jadi tolong bersabar.”


Biru berdengus kesal, Paris datang menghampiri dan mengajak teman sekolahnya itu pergi ke samping. Dua orang lelaki dewasa tersebut memanjat dinding tinggi tempat masuknya Senja dkk. Setibanya didalam sana keadaan sudah sangat kacau, beberapa anak remaja terbaring dilantai wajah mereka penuh memar akibat pukulan keras. Mata Biru tertuju pada cowok yang mengenakan sweater hitam, setelah dihampiri ternyata itu Pram.

__ADS_1


Di sisi lain, ketua penyandera masih berada diruang pengumuman sambil memantau para polisi, dia tidak sadar jika seluruh anak buahnya telah tumbang dan diikat oleh sanderanya sendiri. Seon bersama Leo memimpin seluruh murid serta guru keluar, sedangkan sisanya yang masih bertahan membantu teman-teman yang pingsan. Senja panik ketika Omnya datang, dia menelan ludah saat mata mereka saling bertatapan.


“Ris, lu bawa Nugraha keluar dari sini.”


“Iya,” jawab Paris mengangguk dan mulai membopong tubuh Pram.


“Om kok ada di sini sih?” tanya Senja gugup. Kayu yang dirinya pegang langsung dibuang, ada rasa takut saat melihat mata Biru.


“Kamu nggak papa? Om khawatir saat tahu kamu sama Nugraha di tempat ini. Ayo kita keluar,” ucapnya. Senja mengira jika Biru akan marah padanya namun ternyata lelaki dewasa tersebut mengkhawatirkan keadaannya.


“Bintang, Daffa, Bima ayo kalian keluar, buang kayu-kayu itu. Bantu teman-teman kamu juga,” lanjutnya.


“Tapi Om masih ada satu orang penjahat lagi diruang pengumuman. Dia harus ditangkap juga,” seru Senja.


“Biar polisi yang urus sisanya. Mereka udah mulai masuk dan membawa para penjahat, lebih baik kamu bantu teman-teman yang lain untuk diobati.”


Senja melihat ke sekeliling, banyak anak geng motornya yang memar biru, wajahnya bonyok. Dia tertegun melihat itu semua dan merasa bersalah telah melibatkan mereka. Bintang menggandeng lengan kekasihnya sambil menganggukkan kepala. Sesampainya diluar, terlihat para murid tengah memeluk orang tuanya masing-masing.


“Adik lu nggak papa kan?” tanya Senja.


“Dia aman kok Sen, tuh lagi lihat si Aldo di ambulans,” jawabnya.

__ADS_1


__ADS_2