
Di sekolahan, Pram menarik lengan Senja. Dibawanya sang kekasih ke tempat yang sepi, dia ingin membicarakan soal hubungan mereka. Senja yang memang sedang tidak baik mood-nya langsung mengomel, gadis itu tidak ingin membahas masalah cinta.
“Sorry, Pram. Kayaknya hubungan kita sampai di sini aja. Gue juga nggak suka sama lu.”
Perkataan Senja barusan membuat Pram terdiam. Dia tidak menyangka bahwa gadis di depannya tak membalas cinta tulusnya. Pram mengira jika Senja benar-benar mencintai dirinya seperti dia mencintai gadis itu.
“Gue bukan cewek baik dan lu nggak cocok sama gue. Lebih baik lu cari cewek lain aja yang benar-benar suka dan cinta dengan tulus sama lu.”
“Sen, jangan karena masalah kemarin kamu jadi kayak gini. Hubungan kita jangan dibawa ke permasalahan yang kemarin, kalo kamu nggak mau diganggu dulu dan ingin sendiri, bilang. Nggak sampai harus memutuskan hubungan.”
“Bukan karena masalah kemarin, emang gue nya aja yang nggak suka sama lu. Gue udah salah karena nerima lu, padahal saat itu gue cuman kasian aja.”
“Jadi, kamu nerima aku karena ngerasa kasian? Bukan atas dasar cinta? Aku kira kamu tulus, ternyata....”
Senja mengangguk lalu pergi meninggalkan Pram yang masih berdiri. Cowok itu tidak menyangka jika cintanya hanya bertepuk sebelah tangan. Namun, walau begitu Pram tetap mencintai Senja. Hanya gadis tersebut yang mampu membuatnya jatuh cinta.
Di kedai, saat semua orang tengah sibuk dengan tugasnya masing-masing, tiba-tiba saja ada seseorang yang melempar sebuah kantong plastik besar berwarna hitam. Dan saat dibuka oleh Biru dia terkejut karena di dalamnya terdapat banyak tikus. Sontak aja hal itu membuat para pelanggan serta pelayan berhamburan karena merasa geli sekaligus jijik. “Bagus! Ini bayaran kalian berdua,” ujar seseorang dari kejauhan.
Kembali ke sekolah. Keempat cowok tampan tengah memperhatikan gadis cantik di depannya. Terlihat Senja yang meniup-niup pulpennya, Bima mengira jika gadis itu tengah gabut. Lama-kelamaan pulpen yang sedari tadi ditiup tiba-tiba saja tersedot, mulut Senja pun penuh dengan tinta. Bima dan Leo tertawa terbahak-bahak melihat teman perempuannya seperti itu. Sedangkan keduanya teman lainnya memberikan air serta tissue.
“Pecat jadi teman Sen mereka berdua,” ujar Daffa.
“Kalo dipecat jadi teman berarti kita berdua bisa kali nyalonin diri jadi pacar?” jawab Leo. Bintang memukulnya pelan dan Daffa hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja. Memang benar kata Leo, siapa sih yang tidak suka juga tertarik kepada Senja, gadis cantik, anak orang kaya, bisa segalanya kecuali bermake-up. Jika bukan karena menghargai persahabatan pasti mereka berempat sudah bersaing untuk mendapatkan hati dari teman perempuannya.
__ADS_1
“Sen, Senja. Lihat deh bukannya ini nyokap tiri lu?” ucap Daffa. Dia baru saja membuka handphonenya untuk melihat akun media sosial gengnya. Dan sudah disuguhkan oleh postingan mesra Laura bersama kekasihnya.
“Lu semua sibuk nggak malam ini?” tanya Senja.
“Kenapa emang? Kita mah nggak ada kesibukan sama sekali. Orang kerjaannya cuman makan, main, tidur. Gitu aja terus,” jawab Bima.
“Gue mau ngerjain atuh cewek ular. Kalian nanti bantu gue, sekalian mau jebak dia. Nanti lu pada nyari tempat yang sekiranya bagus, okay!”
“Hotel?” seru Bintang spontan.
“Lu mau ngerjain kayak gimana anjir? Sampai hotel segala,” ucap Bima. Senja, Leo dan kedua teman lainnya tersenyum bersama. Sedangkan Bima malah mengerutkan keningnya.
“Tapi gue nggak ikut ya, Sen. Nunggu hasil dari kalian aja,” sambung Daffa.
Bintang melirik ke meja Pram. Lalu menyenggol lengan Senja sambil memberi kode agar sahabatnya itu menemani sang kekasih. Senja menghela napas kasar dan berbisik jika dirinya baru saja memutuskan hubungan. Jelas hal itu membuat Bintang kaget, belum sampai seminggu namun kisah cinta mereka sudah berakhir. Ada sedikit rasa senang dalam hatinya, namun ada rasa kasian juga terhadap Pram.
Seluruh murid yang sedang asik berbincang juga bercanda ria langsung pergi keluar menuju sumber suara. Mereka semua berkumpul di lapangan lalu guru memberikan sebuah pengumuman untuk para muridnya.
Leo yang mendengar pengumuman tersebut terlihat begitu girang, pasalnya sekolah akan mengadakan pentas seni. Seperti drama, menari, menyanyi dan pentas lainnya. Para anggota osis yang diperintahkan untuk mencatat pun langsung menjalankan tugasnya.
“Kelas ini mau ngadain apa dalam acara pentas seni nanti?” tanya salah satu anggota osis.
“Nggak ada,” jawab Senja singkat.
__ADS_1
“Enak aja nggak ada, tolong catat ya. Kelas gue mau nampilin drama,” seru Leo.
“Okay kita tulis ya, setelah ini nggak boleh ada yang membatalkan. Kalo ada maka akan diberikan hukuman satu kelas sama guru killer.”
Senja, Bintang dan para murid lainnya menatap kearah Leo semua. Lalu salah satu teman kelas bertanya siapa yang akan bermain dalam drama tersebut. Leo pun menunjuk Senja, Bintang, Bima, Daffa dan Pram juga beberapa siswa lainnya. “Terus lu ikut serta nggak?” tanya Senja.
“Oh jelas dong...., nggak!” jawab Leo tertawa. Dia hanya ingin menikmati pentas seni itu dengan melihat para sahabatnya bermain drama. Bintang meremas sobekan kertas dan melemparkannya kepada Leo lalu teman kelas lainnya pun ikut melempar sembari menyoraki.
“Orang kayak gini kita jadiin tumbal kelas aja,” ungkap Daffa.
Sekolah telah usai. Senja sampai di rumahnya melihat Pak Arya yang akan menandatangani surat rumah untuk diberikan kepada Laura. Jelas saja Senja tidak rela, dia mengambil surat itu. “Pah! Sadar dong, Laura belum lama jadi istri Papa. Sekarang mau mengatasnamakan rumah ini dengan nama dia? Laura bukan cewek bener Pah, dia itu cuman mau harta yang Papa miliki aja.”
“Maksud kamu apa Senja? Mama Laura itu baik makanya Papa mau memberikan rumah ini padanya. Dia sudah menjadi istri yang berbakti, Mama Laura juga selalu berbuat baik kan sama kamu?” ucap Pak Arya.
“Papa salah besar menilai wanita ular ini baik. Dia itu selama ini menjalin hubungan dengan lelaki lain dibelakang Papa!”
Plak! Pak Arya menampar pipi putrinya. Laura tersenyum tipis melihat keributan antara anak dan Papa itu. Pertama kalinya Pak Arya memukul Senja. “Pah...,” ucapnya sambil memegangi pipinya.
“Maaf sayang Papa nggak sengaja tadi,” seru sang Papa. Dia baru sadar telah menampar putrinya dengan keras. Saat akan memeluk Senja, gadis itu pun menghindar berlari menuju kamarnya. Ingin rasanya dia memberitahu Biru tentang kejadian tadi tapi di urungkan. Diruang tamu, Laura tengah menenangkan suaminya. “Sudah mas. Aku nggak papa kok Senja bilang kayak gitu. Jangan terlalu kasar sama dia takutnya nanti malah makin nggak keterima aku sama anak kamu.”
“Maaf, tapi apa yang Senja katakan semuanya bohong kan? Kamu nggak selingkuh dibelakang mas?”
“Nggak dong mas, masa udah punya suami kayak kamu aku masih nyari pria lain,” ucapnya dengan manis.
__ADS_1