Love My Stepbrother.

Love My Stepbrother.
Chap 89


__ADS_3

Beberapa minggu kemudian, Senja dkk sudah mulai aktif belajar. Dia bersama kelima temannya berada dikelas yang sama, di sana mereka menjadi mahasiswa paling menonjol dari yang lainnya. Setiap hari ada saja bahan bicaraan tentang keenam remaja tersebut. Para senior juga seringkali datang menghampiri Senja dkk guna berkenalan dan mengajaknya berteman. Bukannya tidak mau mempunyai teman baru, namun gadis itu telah merasa nyaman dengan sahabat cowoknya.


Beberapa kali menolak ajakan orang lain, dia memilih berkumpul dibasecame. Nasya, Melissa serta antek-anteknya selalu memperhatikan gerak-gerik gadis itu, tatapan tak suka begitu terlihat dari matanya, entah salah apa yang telah Senja perbuat.


“Lu belum ada kabar dari Bintang? Tumben banget tuh anak nggak nelpon, kenapa ya??”


Senja menggeleng, raut wajahnya selalu terlihat lusu. Dia terus memikirkan kekasihnya yang berada di luar negeri. Minggu kemarin dia bersama teman-temannya datang kerumah Bu Ana menanyakan kabar Bintang, wanita itu menjawab jika putranya sangat sibuk dan baik-baik saja. Walau sudah mengetahui keadaan sang kekasih dari Mamanya gadis tersebut masih terlihat gelisah.


“Nggak perlu khawatir terus, lu percaya aja sama dia Sen. Coba ganti ekspresi muka lu tiap hari ditekuk mulu, ngeselin.”


“Daripada mikirin si Bintang mending jajanin gue, yok kantin,” seru Leo.


Seon merangkul pundak Pram dan Daffa, sedangkan Leo merangkul Senja juga Bima. Mereka berenam pergi ke kantin dan berpapasan dengan Gibran CS. Thalia yang memang ingin berteman pun menyapa keenamnya. Gadis itu selalu tersenyum ramah kepada Senja. Sayangnya senyuman ramah tersebut tidak pernah sama sekali di balas.


Nasya berjalan sambil membawa segelas minuman, dia mendekat ke arah Senja yang tengah berdiri menunggu Daffa memesan. Dengan sengaja gadis itu menumpahkan minumannya. Pram dkk yang menunggu melihat kejadian tersebut, mereka segera bangkit dari duduk dan menghampiri sang sahabat.


Senja berdecak sambil membersihkan bajunya. Sedangkan Melissa CS tersenyum dari kejauhan dan Nasya pergi begitu saja tanpa meminta maaf sedikit pun. “Sen lu nggak papa?” tanya Bima. Sahabatnya itu tak menjawab dia justru mengambil gelas yang dibawa Daffa. Lalu berjalan menuju tempat Nasya berada, tanpa ba-bi-bu dia langsung membalasnya. Kejadian tak terduga tersebut tentu membuat orang-orang terdiam dan heboh.


“Impas!” ujarnya singkat.


Nasya menjambak rambut Senja dengan keras, ketika akan menampar sebuah tangan menghentikannya. Betapa terkejut Senja saat melihat dua lelaki yang dirinya kenal. Bintang dan Theo berada di sana membuat teman-temannya heran sekaligus senang. Gibran, Gio serta Thalia hanya terdiam melihat pertengkaran antara senior-junior itu. Ketiganya duduk santai sembari menikmati makanannya.


“Lepasin tangan lu!” titah Bintang. Wajahnya datar, dingin dan sorot mata tajam menatap pada Nasya. Melissa segera melepaskan tangan kembarannya dari rambut Senja. Beberapa gadis itu menelan ludahnya ditatap tajam oleh dua lelaki tampan.

__ADS_1


Senja masih terbengong akan kehadiran sahabat kecil serta sang kekasih. Dia tak percaya kedua lelaki tersebut berada di kampusnya. “Kok kalian ada di sini sih? Bukannya...”


“Kaget ya? Aku sama Theo kuliah di sini sekarang bareng kalian, kemarin Mama nelpon dan bilang kalo kamu kangen.”


“Kata siapa coba, orang biasa aja nggak ada kangen-kangenan. Terus kalian nggak jadi kuliah di luar negeri dong?”


Bintang mengelus mesra rambut pacarnya, dia dan Theo hanya mengangguk menjawab pertanyaan dari Senja. Lalu melihat ke arah baju yang dikenakan sang kekasih, membuka jaketnya meminta Senja berganti pakaian. Di tempat lain, Melissa berdecak karena gagal membully. Kemarahannya tersebut dilihat oleh Thalia dan Gibran.


Flashback


Setelah kedatangan Senja dkk kerumah, Bu Ana berpikir ulang. Lalu menelpon anaknya dan menyampaikan rasa cemas Senja, tanpa diduga wanita tua tersebut meminta sang putra kembali ke Indonesia dan berkuliah bersama teman-teman. Mendengar perkataan seperti itu jelas membuat Bintang senang, esok hari dia segera mengurus kepulangannya.


Ketika di bandara tak sengaja bertemu dengan Theo. Cowok tersebut juga sama, dia membatalkan kuliahnya diluar negeri dan memutuskan balik kepada Senja. Mereka pun pulang bersamaan, didalam pesawat Theo menceritakan tentang perasaan dirinya dan sudah mengikhlaskan sahabat kecilnya. Bintang berterimakasih karena Theo mau merelakan cinta pertama dia pada orang lain.


“Iya santai aja, gue cinta dan sayang sama Senja. Pukul kalo misalkan dia nangis gara-gara gue.”


“Percaya gue sama lu,” ucap Theo.


......................


Kembali pada Melissa CS, Thalia tertawa melihat kekesalan rivalnya. Dia mengejek mengatakan jika Senja dkk bukanlah orang-orang yang gampang dibully seperti mahasiswa lain. Gibran sama sekali tak mengeluarkan suaranya, dia melihat adu mulut antara sang teman dengan si mantan. Gio yang baru datang memberikan info pada kedua temannya tentang Bintang dan Theo. Setelah mengetahui salah satu dari dua cowok tersebut kekasih Senja seketika Gibran terbatuk. Thalia pun merogoh ponselnya dan kembali melihat akun instagram milik Daffa. Kepalanya mengangguk-angguk kecil.


Di toilet Senja telah selesai membersihkan noda yang ada dibajunya. Dalam hati merasa senang karena Bintang telah kembali. Namun, raut wajah masih terlihat kesal masalah sang kekasih yang tidak memberinya kabar beberapa minggu lalu. Kini circle mereka telah lengkap lagi ditambah adanya Theo persahabatan ketujuh remaja tersebut menjadi lebih menyenangkan.

__ADS_1


“Lain kali nggak usah make-up aja, tahu nggak tadi aku lihat ada cowok yang terus merhatiin kamu,” ujar Bintang. Lucu melihat Senja yang sudah mulai merias wajah, padahal tanpa polesan make-up saja gadis itu masih terlihat cantik.


“Siapa? Kenapa nggak kamu pukul terus bilang 'Dia punya gue!' gitu.”


“Buset ya kali si Bintang mukul seniornya. Apalagi tuh cowok banyak fans,” seru Daffa. Teman-teman yang lain seketika langsung mengerti siapa cowok tersebut. Tak lain tak bukan dia adalah Gibran, memang sejak awal cowok itu selalu memperhatikan Senja.


“Besok malam jadikan ngajak mereka balapan?” tanya Bima. Bintang mengernyitkan dahi melirik ke arah Bima lalu menatap sang kekasih. Senja menggaruk kepalanya dan tersenyum kikuk.


“Sama siapa?”


“Senior kita, Gibran Alexandre Chris.”


“Ada masalah apa emangnya sampe ngajak balapan segala? Gue lihat sih kayaknya tuh cowok nggak sembarangan, batalin aja lah.”


“Aelah Bin santai aja kali,” seru Leo.


Bintang tak menanggapi dia malah menggoda gadis didepannya. Menarik lengan Senja menjauh dari para sahabat. Dia membawa sang kekasih ke taman kampus, sepanjang perjalanan lelaki itu terus menggenggam tangannya. Wajah tampan yang dimiliki Bintang membuat para mahasiswi terpesona, kini selain Gibran dan Gio, ketujuh cowok teman Senja pun ikut menjadi incaran para kaum hawa.


“Gila, isinya cowok-cowok ganteng semua. Nggak dapat Gibran sabi kali sama junior-junior itu,” ungkap salah satu senior.


“Padahal yang paling ganteng cowok tadi tapi kayaknya pacaran deh sama tuh cewek," lanjut lainnya.


“Masih ada kan enam lagi.”

__ADS_1


__ADS_2