Love My Stepbrother.

Love My Stepbrother.
Chap 37


__ADS_3

Pada jam istirahat, geng Senja berkumpul disalah satu ruangan. Dimana mereka semua akan mengetes Pram dalam berbicara tiga bahasa. Dalam hati dia merasa gugup, mencoba tenang dan menghela napas kasar. Bintang tersenyum padanya, Pram semakin deg-degan walau dia sudah belajar sebelumnya.


Tidak sampai 15 menit semuanya telah selesai, Senja mengangguk-angguk kepala dan sedikit tersenyum, dia tak menyangka jika Pram begitu fasih dan lancar. Senja juga yakin jika cinta Pram kepadanya benar-benar tulus, karena dapat dilihat dari perjuangannya selama ini.


Di kediaman Pak Arya, Sea dan Laura tengah menonton bersama sembari menikmati makanan ringan, kakak beradik itu tertawa senang. Tak lama kemudian suara bel pintu berbunyi, Laura bangkit dari duduknya dan ternyata yang datang ialah Daniel.


Mereka berdua melepas rindu dengan ciuman. Setelahnya masuk menghampiri Sea diruang televisi. Tanpa mereka bertiga sadari, di setiap sudut rumah telah Senja pasang cctv. Gadis itu sengaja melakukannya karena ingin melihat tingkah si Mama tiri saat sang Papa tidak ada dirumah.


Saat Laura sedang mengambil minuman untuk kekasihnya, Sea yang serius menonton didekati oleh Daniel. Lelaki itu berbisik membuat Sea merasa geli. Entah apa yang Daniel katakan kepada adik kekasihnya sampai membuat Sea mengangguk serta tersenyum manis. Menyadari kedatangan Laura kedua orang tersebut langsung berjauhan.


“Mas Biru, eh Pak. Aduh saya bingung harus panggil apa, maaf.”


Biru terkekeh, baru kali ini ada yang memanggilnya dengan sebutan mas. “Terserah kamu saja mau manggil saya apa. Tapi sepertinya umur kita tidak jauh beda.”


“Ya udah saya panggil Pak aja deh, kan bos.”


“Mas juga boleh,” ujarnya. Dia tersenyum memperlihatkan kemanisannya sampai membuat Silla menjadi salah tingkah. Para karyawan yang sedang beres-beres pun tersenyum melihat dua orang yang tengah bercengkrama. Salah satu dari mereka menggoda Biru, mengatakan jika keduanya terlihat sanga cocok.


Kembali ke sekolah, saat jam-jam terakhir. Segerombolan geng motor datang membuat rusuh. Mereka semua berasal dari sekolah lain, kedatangannya ke sana untuk mencari seorang gadis yang bernama Senja. Bintang dan ketiga teman lainnya mengerutkan kening, pasalnya mereka tidak tahu dengan geng motor itu.

__ADS_1


“Gue Senja! Ada apa?” ujarnya dengan wajah datar. Siswa lain hanya melihat dari atas, mereka juga penasaran apa yang terjadi dibawah sana. Beberapa siswa berharap ada sebuah keributan antar geng Senja dengan geng motor itu. Supaya pembelajaran dihentikan dan mereka bisa cepat pulang.


“Malam ini datang ke tempat yang tertulis di sana,” jawabnya melemparkan sebuah kertas. Dia menyunggingkan bibirnya dan meminta Senja untuk memungut kertas tersebut. Guru-guru hanya melihat saja, mereka tidak mengusir anak-anak dari sekolah lain itu. Pasalnya seragam yang dikenakan berasal dari sekolah kalangan atas.


Pak kepsek tahu siapa pemilik sekolah dari anak-anak tersebut, oleh karena itu dia tidak menyuruh para guru melerai. Dia percaya kepada Senja dkk, gadis tersebut pasti tidak akan berkelahi disekolah.


“Ingat! Jangan lupa datang, gue tunggu nanti malam.”


“Oh iya satu lagi, katanya anak orang kaya dan terpandang. Murid paling pintar dan bisa segalanya, kenapa masuk ke sekolah kayak gini? Lebih bagus sekolah kita, pasilitas lengkap, lapangan luas juga bersih,” sambungnya sebelum meninggalkan SMA GARUDA.


Senja menyeringai menjawab ucapan lelaki tersebut. “Iya kah? Mahal, pasilitas lengkap, lapangan luas? Keren!”


“Tapi nggak pernah juara dalam ajang olimpiade, nggak mau sombong ya, sekolah gue ini udah banyak mendapatkan penghargaan dari para siswanya. Kita bersekolah untuk mencari ilmu bukan untuk gengsi,” sambungnya. Lelaki itu serta antek-anteknya terdiam, mereka tidak berbicara lagi dan langsung pergi meninggalkan Senja.


Entah acara apa yang akan diadakannya, intinya Senja lah yang menjadi perwakilan sekolah bersama Bintang, Pram, Bima, dan kedua teman lainnya. Saat akan kembali ke kelas, Pak kepsek memanggil, menyuruh kelima muridnya masuk.


“Ada apa ya Pak? Maaf atas kegaduhan tadi,” ujar Senja sopan.


“Tidak apa, ngomong-ngomong apa kalian berlima akan datang ke tempat anak-anak SMA LENTERA? Bapak berharap kalian tidak pergi,” jawabnya.

__ADS_1


“Kenapa Pak? Apa alasannya?”


“Kalian tahu sendiri bagaimana SMA itu. Anak-anak di sana selalu memandang rendah murid dari sekolah kalangan bawah.”


“Jadi? Apa Bapak takut kalo kita direndahkan di sana? Menurut saya sekolah kita ini termasuk sekolah elit, menghasilkan siswa dan siswi yang berprestasi. Mempunyai etika dan sopan santun, ya walau ada beberapa anak yang nakal seperti kami. Hehe...” ungkap Senja.


“Sen bisa nggak serius?” seru Bintang.


“Lah emang bener kan ya Pak, kita berlima ini nakalnya minta ampun.”


“Iya iya, walau sering membuat beberapa guru kesal akan tingkah kalian, tapi kamu dan ke-empat temanmu selalu membawa kemenangan pada sekolah kita.”


“Nggak hanya kita Pak, masih ada anak murid lain yang selalu membawa kemenangan,” ucapnya serius. Memang siswa yang selalu diingat dan dipandang adalah geng Senja, oleh karena itu mereka berlima menjadi siswa terpopuler, banyak yang kagum akan kecerdasan kelimanya. Namun bukan hanya mereka saja yang ikut mengharumkan nama sekolah, masih ada banyak siswa lain. Senja tidak ingin membuat para guru bertindak seperti pilih kasih pada anak muridnya.


Perbincangan selesai, mereka izin pamit ke kelas karena bel pulang telah berbunyi. Dalam perjalanan pulang, Senja, Bintang dan Daffa tak sengaja menyenggol seorang pria sampai terjatuh. Ketiganya pun membantu berdiri, mereka meminta maaf menundukkan kepalanya dengan sopan. Si Pria bukannya memaafkan dia malah meminta ganti rugi. Kakinya berdarah karena tergores aspal. “Loh Pak kok banyak banget. Itu kan kakinya cuman tergores dikit, nggak buntung!” ucap Senja tak terima.


“Mau kalian saya laporkan? Cuman 2 juta doang.”


“Doang? Hey Pak! Kita anak sekolah mana ada uang sebanyak itu, 2 juta uang yang banyak bagi kami anak sekolahan, uang saku aja nggak nyampe segitu. Bapak mau memeras kami ya?” seru Daffa.

__ADS_1


“Kita udah minta maaf Pak, lagipula itu nggak parah lukanya. Kayaknya bapak ini sengaja ya?” sambung Bintang.


“Ck! Saya cuman ada lima ratus ribu, nggak ada lagi. Apa itu cukup?” ucap Senja. Dia tidak ingin berlama-lama membuat keributan dipinggir jalan. Saat uang tersebut akan diambil, Bintang menghentikannya dan menyuruh Senja untuk memasukkan kembali kedalam saku.


__ADS_2