Love My Stepbrother.

Love My Stepbrother.
Chap 95


__ADS_3

Gibran menghela napasnya kasar sambil berjalan kaki di kegelapan malam. Berhenti di salah satu warung untuk istirahat, mengusap wajahnya dengan kasar memikirkan kemana dirinya akan pergi. Ingin menelpon kedua sahabatnya namun dia urungkan karena tidak mau merepotkan mereka. Setelah berhenti sejenak Gibran pun melanjutkan langkahnya yang tidak ada tujuan.


Satu jam setengah dia berjalan, jam juga telah menunjukkan pukul 01.00 wib. Ketika dirinya sedang duduk dipinggir jalan, suara seorang lelaki memanggil. Gibran menoleh melihat ke belakang, ternyata itu Seon dan Pram. Dua lelaki tersebut tak sengaja melihat kakak seniornya yang tengah sendirian. Mereka memarkirkan motor lalu turun dan menghampiri Gibran. Setelah bercerita sedikit, dua teman Senja itu mengajaknya kerumah Bintang.


“Kita kerumah Bintang lagi deh Pram,” ucap Seon.


“Ya udah, ayo kak.”


Gibran menggeleng, dia tidak mau merepotkan siapapun. Dua juniornya tersebut terus memaksa membuat dia yang awalnya menolak menjadi menerima ajakan itu. Sebenarnya Seon dan Pram akan pulang kerumah, tapi perjalanan mereka harus terhenti saat melihat Gibran seorang diri duduk dipinggir jalan. Beberapa saat kemudian ketiganya sampai didepan rumah Bintang, sang tuan rumah yang kebetulan belum tertidur melihat kedatangan dua temannya bersama si kakak senior.


Seon menjelaskan apa yang menimpa Gibran, dengan senang hati kekasih Senja tersebut menerimanya tinggal bersama. “Gue sama Pram cabut ya Bin.”


“Iya hati-hati lu berdua. Sampaikan salam gue ke Senja kalo dah sampe Pram, lu pasti balik kerumah Pak Arya kan?”


“Okey siap!”


Setelah kepergian Seon dan Pram kini tinggallah Bintang dengan kakak seniornya. Mereka berdua terlihat canggung, namun si tuan rumah langsung mempersilakan masuk. Di dalam sana, Bintang menunjukkan kamar tamu yang akan Gibran tempati.


“Gue nggak nyangka ternyata mereka orangnya baik-baik. Besok gue harus cari tempat tinggal biar nggak ngerepotin dia,” gumamnya. Gibran merebahkan tubuhnya, memejamkan mata lalu tertidur pulas.


Di keesokan hari, Alarm membangunkannya namun dia belum juga membuka mata. Bintang datang mengetuk pintu, 5 menit berlalu sang tuan rumah pun kembali ke bawah membantu Daffa dan Sasa membiarkan Gibran yang tertidur nyenyak. Suara dering telepon akhirnya membuat Gibran terbangun, setelah dilihat nama yang tertera dia langsung menjauhkan ponselnya.

__ADS_1


“Astaga! Kok gue pules banget sih, udah numpang bangun siang lagi. Ah sial!”


Buru-buru dia bangkit dari ranjang, pergi ke kamar mandi dan tak lama kemudian turun menemui Bintang. Nampak orang-orang semalam sudah berkumpul sarapan, suara perempuan memanggilnya membuat Gibran berbalik badan. Dia diajak Sasa ke meja makan, di sana dirinya terus diam merasa tak enak hati. Bintang begitu baik, memberikan piring dan mengambilkan nasi untuknya.


“Thanks,” ucap Gibran dengan canggung.


Selesai sarapan, Sasa memerintahkan Daffa untuk pergi kuliah begitu juga Bintang. Wanita itu menasihati para remaja yang tengah duduk-duduk santai. Dia juga berkata akan mengurus rumah Bintang serta acara untuk malam nanti. Daffa tersenyum menatap sahabatnya, memegang pundak Bintang dan menganggukkan kepala. Suara beberapa motor terdengar dari luar, Senja, Bima dan lainnya datang. Ketika melihat Gibran gadis itu terkejut, mengangkat sebelas alis lalu menyenggol lengan Daffa.


“Nanti aja," bisiknya.


......................


Di kampus, tanpa sepengetahuan Melissa kembarannya itu telah menyebarkan berita tentang Gibran yang semalam. Berita itu pun sampai ditelinga Thalia, dia terkejut dan mencari keberadaan Gio untuk memberitahunya. Banyak mahasiswi yang membicarakan idolanya tersebut, pasalnya Ayah Gibran merupakan orang baik, rendah hati dan mempunyai image bagus di universitas. Mereka kecewa dengan sikap Gibran yang melawan Ayahnya dan memilih pergi dari rumah.


“Tenang aja lagipula dan semua udah di urus sama bokap dia. Ini tuh kesempatan kita buat jatuhin reputasi Gibran, bakal menguntungkan juga buat lu Mel.”


“Awas aja kalo pertunangan gue tambah gagal gara-gara lu,” ucapnya. Melissa pergi meninggalkan si kembaran dengan marah. Dia tak habis pikir atas rencana adiknya tersebut yang pastinya akan membuat Gibran tambah benci kepada dirinya.


Senja dkk sampai dikampus, kedatangannya bersama Gibran membuat beberapa orang terkejut. Tak disangka baru beberapa hari kuliah para anak-anak itu sudah berteman baik dengan si idola kampus. Thalia dan Gio yang melihat langsung menghampirinya. Seon pamit pada tiga seniornya, dia bersama keenam teman bergegas masuk ke kelas. Senja melihat ke sekeliling seperti mencari seseorang.


“Theo dimana? Gue belum lihat dia, apa nggak masuk?”

__ADS_1


“Cie yang kangen sama gue, kenapa nyariin?” ujar seseorang dari belakang.


Senja menyunggingkan bibir, menyimpan ransel dan tak menjawab ucapan sahabat kecilnya. Theo terus menggoda, Bintang hanya diam dia sama sekali tak menghentikan gombalan Theo kepada kekasihnya. Walau teman-teman lain sudah memanas-manasi dirinya. Dengan gerakan cepat Senja menjambak rambut Theo memintanya berhenti menggombal. Keributan itu membuat orang-orang memperhatikan mereka.


Theo meringis kesakitan, dia memegangi kepala sambil memanyunkan bibir. “Untung cewek, kalo cowok udah gue Jambak balik.”


“Ngomong apa hah?!” tanya Senja dengan mata melotot.


“Tikus peliharaan gue mati semalam.”


“Oh! Nggak nanya.” Bima, Leo dan Seon tertawa dengan tanggapan Senja. Theo menghela napas mencoba sabar menghadapi gadis didepannya.


“Bintang, aku boleh minta tolong nggak?”


“Apa?”


“Tolong ambilkan hatiku yang jatuh di hatimu,” jawabnya dengan wajah memerah. Bima bersama Leo berpura-pura muntah, sedangkan Bintang sendiri tersenyum mendengar perkataan kekasihnya. Senja nampak malu, dia tak bisa diam dan terus memukul-mukul Daffa yang ada disampingnya.


“Gini nih kalo anak hutan gombal, malah dianya yang salting,” sindir Daffa. Senja bersembunyi dibalik badan sahabatnya sambil berbisik jika dia malu.


Bintang menarik lengan pacarnya, mereka duduk bersampingan. Senja menelan ludah ketika dirinya ditatap begitu dekat. Wajah Bintang maju perlahan mendekati wajah si kekasih. Seketika itu juga keenam temannya langsung saling menutupi mata. Sedangkan mahasiswa lain yang berada dikelas terlihat senyum-senyum sendiri. Mereka menunggu apa yang akan Bintang lakukan pada Senja, namun ternyata cowok itu hanya mengambil benda yang ada di rambut sang kekasih.

__ADS_1


“Udah belum?” tanya Leo sedikit membuka jari tangan yang menutupi wajah.


Mereka mengira jika Bintang akan mencium Senja di depannya. Satu persatu membuka mata dan senyum-senyum tidak jelas. “Aduh bisa jantungan ini, Bintang benar-benar bikin gue gila. Kirain tadi mau....," pikir Senja malu.


__ADS_2