
Bel pulang telah berbunyi, Senja, Pram dan Bintang menunggu keempat temannya diparkiran. Bima dkk ternyata tengah membantu ibu kantin beres-beres, namun walau sudah membantu mereka semua akan tetap membayar di keesokan harinya. Beberapa menit kemudian keempat orang itu datang dengan wajah lemas serta baju yang acak-acakan. Sama-sama membuang napas, tanpa berbicara langsung menaiki motor dan melaju meninggalkan Senja.
“Kucel amat tuh anak. Kira-kira disuruh apa ya sama ibu kantin?”
“Kasian tahu mereka,” seru Pram.
“Nggak ada yang namanya kasian ke mereka mah. Si tukang jahil dan raja ghibah sekali-kali emang harus dikasih pelajaran. Lagian salah siapa berani nantang gue,” jawab Senja tersenyum.
Pram hanya mengangguk, lalu mereka pun menyusul keempat temannya. Ketika lampu jalan berwarna merah, ada sebuah sepeda motor yang terus melaju. Seorang anak kecil yang mengejar balon pun tidak melihat sekeliling. Bintang berlari turun dari motornya menjatuhkan helm ke jalan. Hampir saja kedua orang itu tertabrak namun untungnya dia segera menghindar. Walau sedikit luka di siku, Bintang berhasil menyelamatkan anak kecil tersebut.
Pengendara sepeda motor terjatuh menabrakkan diri. Kakinya tertindih oleh kendaraannya, orang-orang yang berjalan pun segera menghampiri membantu. Setelah memarkirkan motornya ke pinggir, Senja dan yang lain mengecek keadaan Bintang. Raut wajah gadis itu terlihat khawatir dia terus bertanya dan melihat-lihat seluruh tubuh sahabatnya.
“Udah Sen, si Bintang nggak papa kok. Luka kecil buat dia mah nggak ada apa-apa nya. Iya kan Bin?” ujar Daffa.
“Tetep aja yang namanya luka pasti sakit. Sini tangan lu,” jawab Senja menarik tangan Bintang dan memeriksanya.
Dia meniup luka yang ada di siku dengan lembut. Bintang memperhatikan gadis itu dan tersenyum senang. Tidak disangka jika Senja seperhatian itu kepadanya. “Sadar Bin, pasti dia perhatian seperti ini karena emang lu udah dianggap saudaranya. Jadi nggak usah baper,” gumamnya.
“Andai lu tahu kalo gue udah jatuh cinta, semoga lu bisa peka dengan apa yang gue lakuin selama lu menjalin hubungan sama Cantika,” ucap Senja dalam hati.
Ibu si anak berlari menuju anaknya dia mengucapkan terimakasih kepada Bintang karena telah menyelamatkan sang putra. Beberapa warga memperingati si ibu untuk menjaga anak kecil agar tidak berlarian sembarang. Setelah itu mereka ber-enam kembali melanjutkan perjalanan, untuk korban kecelakaan tadi sudah para warga bawa ke rumah sakit terdekat. Sesampainya di basecamp, para anak-anak menyambut kedatangan Bintang kembali dengan suka cita. Pintu basecamp selalu terbuka bagi cowok itu walau sudah bersikap bodo amat kepada mereka.
Pukul 17.00, para anak remaja itu masih saja berkumpul. Mereka tidak sadar jika hari akan berganti petang. Untungnya Laura menelpon Senja membuat gadis itu memutuskan untuk pulang. Lama kelamaan semuanya berpamitan menyisakan beberapa remaja yang memang tinggal di basecamp.
“Abis mandi turun buat makan ya...” Laura berteriak lalu melanjutkan aktivitasnya.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian Senja telah selesai dengan ritual sorenya. Badannya terasa segar setelah diguyur oleh air dingin. Sambil menunggu sang Mama menyiapkan makanan dia pun memainkan ponsel. Grup yang tadinya sepi kini menjadi ramai, ditengah percakapan itu Daffa menanyakan tentang suprise yang akan Bintang berikan saat berkumpul nanti.
“Simpan handphonenya, makan dulu abis itu baru main lagi,” ucap sang Mama sibuk merapikan piring.
“Hm...”
“Sayang besok Papa sama Mama kamu akan pergi ke Singapore. Nenek butuh pengobatan utama di sana, kita nggak bakal lama kok paling seminggu atau paling lambat sampai dua minggu. Nanti kamu di sini sama Sea jaga rumah,” seru Pak Arya.
“Aku? Ditinggal berdua sama makhluk halus Sea? Nggak salah Pah?”
“Ya udah nanti biar Papa telpon Tante Silla aja buat jaga kamu.”
“Eh nggak usah. Kasian Om Biru dirumahnya nggak ada temen. Senja nggak papa kok berdua sama Sea, pulang nanti jangan terkejut aja kalo misalkan makhluk itu udah nggak ada lagi dirumah,” jawabnya.
Suara seorang cowok yang dia kenal terdengar membacakan sebuah puisi. Ingin rasanya gadis itu tertawa akan pembacaan yang menurutnya lucu. Namun, ketika suara itu berubah barulah Senja mendengarkan dengan serius.
Kehadiranmu bagaikan sesosok hantu yang selalu membayangi pikiranku...
Walau hati ini bertaut pada orang lain namun yang tertulis di sana tetaplah dirimu...
Ini adalah kedua kalinya aku untuk menyatakan perasaan.
Tidak peduli kamu akan menerimaku atau terus menganggap sebagai teman.
Senja hafal betul siapa orang kedua yang membacakan puisi. Dia menelan ludah tak percaya jika lelaki itu peka terhadap perasaannya. Dari depan muncullah Bintang dengan membawa setangkai bunga mawar, dia berjalan mendekati gadis itu lalu tersenyum manis. Bagi Senja ini lah satu-satunya penyataan cinta paling romantis yang pernah dia rasakan. Suasana berbeda dari apa yang pernah Pram lakukan dulu.
__ADS_1
Tidak disangka saja jika Bintang cowok yang dingin dan kaku itu bisa seromantis ini. Senja membalas senyuman cowok didepannya, dia menerima bunga tersebut dan mengangguk. Bima, Leo serta lainnya bersorak karena cinta Bintang diterima. Daffa yang tidak ikut datang pun mendapatkan kabar jika dua sahabatnya telah menjalin hubungan. Dia merasa senang akhirnya Bintang tidak lagi bertepuk sebelah tangan.
Setelah itu mereka semua kembali berkumpul mengadakan acara kecil, seperti barbeque bersama. Senja terlihat canggung ketika duduk bersebelahan dengan Bintang, gadis tersebut terus saja diam tidak berkata-kata seperti biasa. Pram yang hadir dalam perkumpulan itu menggoda kakaknya, dia tak henti membuat Senja bersemu merah.
“Sekarang judulnya bukan lagi mencintai saudara tiri ya?” ucap Bima.
“Bukan dong, judulnya dari teman menjadi mantan,” jawab Leo.
Bima memukul pelan sahabatnya, Leo terkekeh menggaruk kepala yang tidak gatal. “Salah ya? Ehehe....”
“Cintaku sudah tidak bertepuk sebelah tangan, baru cocok. Hahaha, becanda Bin,” lanjut Bima.
Candaan demi candaan terus mereka lontarkan untuk mencairkan suasana. Pukul 22.00, ketika mereka semua akan membubarkan diri. Dimulailah keromantisan sepasang kekasih itu. Bintang menawarkan diri untuk mengantarkan Senja pulang namun gadis tersebut menolak. Perdebatan itu cukup lama, bahkan teman-temannya pun menyempatkan diri menonton drama baru tersebut.
Bima, Leo dan Seon kembali duduk. Mereka bertiga menopang dagu masing-masing sambil menyeruput kopi yang tersisa menyaksikan perdebatan kecil antara Senja dan Bintang.
“Bersambung..., lanjut besok bapak-ibu.”
“Bubar-bubar! Episode selanjutnya kita lanjut esok hari. Sekarang udah malam waktunya pulang, cuci kaki lalu tidur ya anak-anak,” lanjut Bima.
“Bintang tuh anak hutan nggak usah diantar segala, dia bisa jaga diri. Mendingan juga lu nganterin gue balik,” seru Leo.
“Nggak!” jawabnya singkat lalu pergi menggandeng lengan Senja menuju motor. Cowok itu memakaikan helm pada kekasihnya membuat anak-anak di sana terdiam melihatnya.
“Bucin!” ucap mereka semua serentak.
__ADS_1